Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 14
Cangkir kopi di meja Nadira masih mengepulkan uap tipis saat bell di atas pintu kedai kopi itu berdenting pelan. Nadira tidak perlu menoleh ke arah pintu untuk tahu siapa yang baru saja melangkah masuk; irama langkah kaki yang mantap di atas lantai kayu itu sudah terpatri di luar kepalanya.
Ia sengaja datang sepuluh menit lebih awal, memilih meja sudut dekat rak buku, dan memesankan kopi kesukaan Galih tanpa perlu bertanya lagi.
Galih menarik kursi kayu di hadapan Nadira, menatap cangkir kopi panas yang sudah tersaji manis di mejanya. “Kamu datang duluan lagi?”
Nadira menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap pria di depannya dengan senyum tipis. “Rumahku lebih dekat dari Senopati dibanding tempatmu, Galih. Dan aku tidak suka membuang waktu.”
“Atau kamu yang memang tidak sabar ingin bertemu denganku?” goda Galih santai, melonggarkan kancing teratas kemeja kasualnya lalu menyesap kopinya.
“Jangan percaya diri,” balas Nadira cepat, meski tidak ada lagi nada defensif yang tajam dalam suaranya. “Aku cuma menyelesaikan beberapa draf berkas di tabletku sambil menunggumu.”
“Di hari Sabtu?” Galih menggeleng-gelengkan kepalanya terkekeh. “Kamu benar-benar butuh hobi baru, Counselor.”
“Mencari tempat makan siang yang enak setiap Sabtu bersama pengacara yang menyebalkan rasanya sudah cukup menyita waktu hobiku,” cetus Nadira ringan.
Galih tertawa rendah. Tidak ada lagi ketegangan. Mereka duduk berdua murni karena keduanya memilih untuk berada di sana.
Setelah menyelesaikan kopi masing-masing, mereka melangkah menyusuri lorong-lorong toko buku independen yang terletak tepat di sebelah kedai.
Di antara aroma kertas tua dan kayu pine, Galih berjalan di samping Nadira, membiarkan jemari mereka beberapa kali bersentuhan secara tak sengaja di antara rak-rak buku. Tidak ada yang menarik diri.
“Kamu membaca novel fiksi perdata?” tanya Galih saat melihat Nadira mengambil sebuah buku bersampul tebal dari rak.
“Aku membaca ulasan di sampul belakangnya,” koreksi Nadira, menengadah menatap Galih. “Ceritanya tentang dua orang pengacara yang saling membenci lalu harus berpura-pura saling menyukai.”
Galih mengangkat alisnya, menyunggingkan senyum jenaka yang membuat garis matanya menyempit. “Kuisinya terdengar familiar. Apakah berakhir bahagia atau berakhir dengan salah satu pihak menuntut ganti rugi?”
Nadira mengembalikan buku itu ke raknya dengan gerakan tenang. “Penulisnya belum menyelesaikan bab terakhirnya.”
“Mungkin karena tokoh wanitanya terlalu keras kepala untuk mengakui kalau dia sebenarnya menikmati sandiwara itu,” sahut Galih pelan, menatap Nadira dengan binar lembut.
Nadira tidak membalas dengan sindiran hukum kali ini. Ia hanya menatap Galih sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang jujur. “Mungkin.”
—
Hari menjelang sore saat mereka berjalan kembali menuju area parkir. Angin Jakarta di akhir pekan terasa lebih bersahabat dari biasanya.
Galih membukakan pintu mobil untuk Nadira. Namun, saat Galih hendak berjalan memutari kap mobil menuju kursi pengemudi, Nadira tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Galih yang menghentikan langkahnya di depan lampu utama.
“Galih,” panggil Nadira.
Galih menoleh. “Ya?”
“Aku masih mau ngobrol,” ujar Nadira lugas.
Tidak ada keraguan dalam suaranya. Tidak ada alibi tentang soto mi, promo kopi gratis, atau alasan rumah yang sepi. Nadira mengatakannya murni sebagai keinginan yang tidak perlu ia tutupi lagi.
Galih menatapnya cukup lama, tertegun sejenak sebelum sebuah senyum hangat perlahan mengembang di wajahnya. Pria itu menyandarkan sebelah tangannya di atap mobil, menatap Nadira dari jarak dekat.
“Mau cari tempat minum teh hangat di dekat taman?” tawar Galih lembut.
“Boleh,” jawab Nadira pelan, menyunggingkan senyum lega.
Di sebuah kafe terbuka di tepi taman kota, mereka duduk bertukar cerita hingga pendar lampu-lampu taman mulai menyala redup. Nadira menyadari perubahan besar dalam dirinya. Beberapa minggu lalu, ia memerlukan alasan logis yang berlapis-lapis hanya untuk mengirim satu baris pesan singkat pada pria ini. Sekarang, ia bisa mengajak Galih memperpanjang hari tanpa merasa perlu membenarkannya di depan siapa pun.
Tepat saat Nadira hendak menyesap teh chamomile-nya, ponsel di atas meja bergetar nyaring.
Layar ponsel itu menampilkan sebuah nama yang sangat familiar: **Tante Rosa**.
Nadira mendesah pelan namun jenaka, melirik Galih yang sedang menahan tawa. Nadira menggeser ikon hijau di layarnya.
“Ya, Tante Rosa?”
*”Nadira! Akhirnya diangkat juga,”* suara nyaring Tante Rosa langsung membahana dari pengeras suara ponsel yang tidak sengaja bocor. *”Tante cuma mau mengingatkan, bulan depan Tante buat acara peringatan anniversary pernikahan Tante yang ke-30 di Puncak. Kamu harus datang ya!”*
“Iya, Tante. Nanti Nadira usahakan jadwal kantor kosong,” jawab Nadira tenang.
*”Bukan cuma kamu yang harus datang, Nadira,”* potong Tante Rosa cepat, suaranya naik satu oktav penuh antusiasme. *”Galih ikut, kan? Dia harus ikut! Tante sudah pesankan kemeja batik yang seragam untuk dia!”*
Nadira terdiam sejenak.
Percakapan ini sangat identik dengan awal dari semua kerumitan ini—momen di mana rasa panik mendikte keputusannya untuk menyewa seorang pria dari aplikasi *CompanionCorp* demi menghentikan intimidasi keluarga.
Namun kali ini, tidak ada rasa panik. Tidak ada desakan untuk berbohong.
Nadira menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga, lalu menatap Galih yang sedang memperhatikannya dengan raut wajah menggoda.
“Tante Rosa mengundang kita lagi,” ujar Nadira datar pada Galih, tanpa mematikan sambungan telepon.
Galih menopang dagunya dengan satu tangan, memasang ekspresi paling jenaka yang ia punya. “‘Kita’?”
“Jangan mulai, Galih,” balas Nadira santai.
Di seberang telepon, Tante Rosa terdengar bingung. *”Nadira? Kamu lagi sama Galih sekarang?”*
Galih terkekeh pelan, lalu berbisik agar hanya terdengar oleh Nadira. “Jadi bagaiamana, Counselor? Aku masih harus menjalankan tugas sebagai pacar pura-pura untuk acara anniversary nanti?”
Nadira menatap sepasang mata cokelat gelap di hadapannya. Ia tidak memerlukan waktu untuk menyusun strategi pertahanan. Ia tidak lagi membutuhkan perisai hukum atau klausul kontrak sewaan.
Ia kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, menatap Galih lurus tanpa ragu.
“Tidak perlu pura-pura,” kata Nadira tegas dan jelas.
Galih membeku sejenak di tempat duduknya. Senyum godaannya perlahan luruh, berganti dengan tatapan dalam yang sarat akan rasa terkejut sekaligus kehangatan yang tak terbendung.
“Kamu yakin?” tanya Galih pelan, suaranya merendah.
Nadira menyilangkan kedua tangannya di atas meja, menatap pria yang selama dua tahun ini menjadi rivalnya, pacar sewaannya, dan kini menjadi orang yang paling ia inginkan berada di sisinya.
“Aku tidak suka mengulang pekerjaan yang sama dua kali, Galih,” sahut Nadira dengan nada khasnya yang tajam namun lembut. “Kontrak CompanionCorp-mu sudah ditutup. Kalau kamu mau ikut ke Bandung bulan depan, kamu datang sebagai dirimu sendiri.”
Galih menyunggingkan senyum paling leluasa yang pernah Nadira lihat. Pria itu mengangguk pelan, meraih cangkir kopinya, lalu mengangkatnya sedikit ke udara.
“Diterima tanpa kontrak apapun, Counselor.”
Nadira tertawa—sebuah tawa lepas yang hangat dan menenangkan.
—
Sore perlahan berganti malam di atas langit Jakarta.
Dulu, Nadira Calya Wirawan membutuhkan tumpukan alasan yang rasional untuk membawa seorang pria ke hadapan keluarganya. Ia membutuhkan kebohongan yang tersusun rapi hanya untuk melindungi dirinya dari ekspektasi orang lain.
Namun malam ini, saat ia dan Galih berjalan berdampingan menuju mobil di bawah pendar lampu kota, ia menyadari sesuatu. Ketika undangan itu datang kembali, ia tidak perlu lagi mencari alasan atau menyusun sandiwara baru.
Galih tidak lagi hadir sebagai sosok pacar sewaan yang terikat klausul pembayaran. Pria itu ada di sana karena ia memang ingin berada di hidup Nadira, dan Nadira tidak lagi menyimpan keraguan untuk membiarkannya tinggal.
Di antara riuh lalu lintas ibu kota, tidak ada lagi peran yang harus dimainkan. Tidak ada lagi pura-pura. Yang tersisa hanyalah dua orang yang akhirnya memilih untuk berjalan bersama—atas kemauan mereka sendiri.
TAMAT.