Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 6

  1. Home
  2. Pacar Palsu yang Terlalu Serius
  3. Bab 6 - Tidak Lagi Berpura-pura
Prev
Next

Dua minggu berlalu sejak malam di apartemen itu.

Dua minggu yang sepi, tanpa dering telepon dari Rendra, tanpa pesan singkat yang menanyakan keberadaanku, dan tanpa kepura-puraan lagi. Aku telah memberitahu Ibu bahwa hubunganku dan Rendra telah berakhir secara baik-baik karena ketidakcocokan. Ibu sempat menangis kecewa, tetapi melihat raut wajahku yang muram, beliau tidak menekan lebih jauh.

Sore itu, hujan deras mengguyur Jakarta. Aku sedang duduk di sudut kafe favoritku, menatap rintik air yang membasahi kaca jendela sambil menyesap teh hangat. Laptop di hadapanku terbuka menampilkan draf portofolio proyek media sosial terbaruku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk fokus pada karier dan berhenti meratapi kebodohanku.

*Kring.*

Suara bel pintu kafe berbunyi. Aku tidak mengindahkannya, tetap menatap layar laptop. Namun, aroma parfum kayu yang amat kukenal mendadak menyeruak mendekat, menggantikan wangi kopi dan hujan di sekitarku.

Seseorang menarik kursi di hadapanku dan duduk.

Aku mendongak. Rendra duduk di sana.

Penampilannya berbeda. Tidak ada jas rapi atau kemeja licin seperti biasanya. Kemeja putihnya sedikit kusut di bagian lengan, lingkaran hitam membayang tipis di bawah matanya, dan rambutnya agak berantakan. Namun, tatapan matanya yang tertuju padaku terasa jauh lebih hangat dan hidup—tidak lagi dingin seperti dinding es.

“Boleh saya duduk di sini, Nadine?” tanya Rendra pelan dengan suara baritonnya yang agak serak.

Aku mengatupkan bibir rapat-rapt, mengalihkan pandangan kembali ke laptop. “Tempat ini umum. Siapa saja boleh duduk.”

Rendra menghela napas panjang. Dia tidak memutus pandangannya dariku sekejap pun.

“Saya sudah menyelesaikan semuanya,” kata Rendra tiba-tiba.

Jemariku yang menari di atas keyboard terhenti seketika. “Maksudmu apa?”

“Perjodohan itu,” jawab Rendra mantap. “Saya sudah bicara langsung dengan Ayah saya dan keluarga Clarissa minggu lalu. Saya membatalkan semua bentuk rencana kerja sama bisnis yang mengikat soal pernikahan.”

Aku mendongak terkejut, menatap matanya tak percaya. “Kamu membatalkannya? Rendra, itu kan proyek bisnis besar keluarga kamu!”

“Proyek bisnis bisa dicari lagi, Nadine,” balas Rendra tenang namun tegas. “Tapi kehilangan kamu adalah kesalahan terbesar yang tidak bisa saya perbaiki kalau saya tidak bertindak.”

Dada rasanya berdesir hebat. Aku menelan ludah, berusaha menjaga benteng pertahananku agar tidak runtuh begitu saja.

“Kamu tidak perlu melakukan itu buat aku,” bisikku pelan, memalingkan wajah. “Kita kan sudah tidak punya kesepakatan apa-apa.”

“Saya melakukan ini bukan untuk kesepakatan kita,” potong Rendra cepat. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengulurkan tangan di atas meja hendak meraih jemariku, namun dia menahannya di udara—menunggu izin dariku. “Saya melakukan ini untuk diri saya sendiri.”

“Kenapa?” tanyaku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Karena dua minggu tanpa kamu terasa seperti neraka, Nadine,” bisik Rendra jujur, matanya memancarkan rasa penyesalan yang mendalam. “Saya terbiasa mengendalikan segala hal dalam hidup saya. Saya buat draf kontrak, saya buat aturan, saya pasang benteng tinggi-tinggi supaya tidak ada orang yang bisa melukai saya. Tapi waktu kamu melangkah keluar dari apartemenmu malam itu… saya sadar kalau saya sudah kehilangan kendali sepenuhnya.”

Aku terdiam, menyimak setiap helaan napasnya yang berat.

“Saya takut menyusahkanmu dengan masalah keluarga saya,” lanjut Rendra pelan, jemarinya perlahan menyentuh punggung tanganku yang dingin. “Tapi saya salah. Mengabaikan perasaanmu dan menyembunyikan kebenaran adalah bentuk ketidakdewasaan saya. Saya minta maaf.”

Aku memandangi tangannya yang menggenggam jemariku hangat. Sentuhan yang merubuhkan seluruh sisa amarah yang kutimbun selama dua minggu ini.

“Kenapa baru bilang sekarang, Rendra?” tanyaku dengan suara bergetar parau.

“Karena saya butuh waktu untuk membereskan kekacauan yang saya buat,” jawab Rendra lurus. “Saya tidak mau datang kembali padamu sebagai pria yang masih terikat kebohongan atau tekanan keluarga. Saya mau datang sebagai Rendra yang utuh—pria yang berdiri di atas kakinya sendiri.”

Aku menarik napas panjang, mengusap sudut mataku yang basah dengan tangan yang lain. “Rendra… aku tidak mau berpura-pura lagi. Aku capek sandiwara.”

“Saya juga tidak mau berpura-pura,” balas Rendra mantap. “Sejak hari pertama kamu menarik lengan baju saya di pesta pernikahan itu… sejak kamu marah-marah soal aturan kontrak… saya sudah tidak pernah berpura-pura menyukaimu.”

Aku tertegun, menatap matanya yang memancarkan kejujuran murni.

“Lalu sekarang mau bagaimana?” tanyaku pelan, menahan debar jantung yang kian berpacu liar.

Rendra tersenyum tipis—sebuah senyuman paling tulus dan tampan yang pernah diukirnya di hadapanku. Dia menggenggam jemariku lebih erat.

“Kalau begitu,” kata Rendra pelan, “kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?”

Rendra menatapku lurus tanpa ragu.

“Karena sekarang aku siap menerima kalau jawabanmu mungkin bukan yang aku inginkan,” jawab Rendra jujur dan pasrah.

Keheningan yang manis menyergap meja kami di tengah derai hujan di luar kafe. Aku menatap pria di hadapanku ini—pria yang dulu begitu kaku dan teratur, kini rela menurunkan seluruh gengsi dan pertahanannya demi diriku.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Tak Terduga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita