Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 7
Denting sendok yang beradu dengan porselen mengisi keheningan singkat di antara kami. Suara hujan di luar kafe masih terdengar teratur, tetapi rasa canggung yang tebal perlahan menguap dari udara.
Aku menatap jemariku yang masih berada di dalam genggaman hangat Rendra. “Kamu beneran nekat ya, Rendra? Orang tuamu pasti marah besar.”
“Ibu saya mengomeli saya hampir dua jam,” sahut Rendra dengan senyum tipis yang amat langka. “Sementara Ayah mematikan sambungan telepon dan menolak bicara dengan saya selama tiga hari.”
“Lalu? Kamu nggak takut kehilangan posisi atau dukungan dari keluarga?” tanyaku heran, memiringkan kepala.
Rendra menggelengkan kepala perlahan. “Saya mendirikan perusahaan desain dan konstruksi itu dengan modal sendiri, Nadine. Koneksi dari Ayah memang membantu di awal, tapi saya tidak pernah menggantungkan hidup saya pada mereka. Saya tidak bisa membiarkan hidup saya diatur hanya demi mempertahankan proyek.”
Aku menatapnya dengan rasa kagum yang sulit disembunyikan. Keberaniannya membuatku merasa sangat kecil sekaligus terlindungi.
“Lalu gimana dengan Clarissa?” tanyaku ragu, menyebut nama wanita itu dengan nada hati-hati.
“Dia paham,” jawab Rendra tegas. “Clarissa wanita yang cerdas. Dia juga dijodohkan karena tekanan bisnis ayahnya. Saat saya bilang saya sudah punya wanita yang saya cintai dan tidak bisa melanjutkan rencana itu, dia justru merasa lega.”
Mendengar kata ‘wanita yang saya cintai’ keluar dengan begitu mulus dari mulut Rendra membuat mukaku mendadak terasa panas. Aku menunduk cepat, membuang muka ke arah jendela.
“Siapa wanita yang kamu maksud?” godaku pelan, berpura-pura tidak tahu.
Rendra terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang terasa amat hangat di telingaku. “Wanita gila yang berani menarik lengan baju pria asing di tengah pesta pernikahan orang lain.”
“Rendra!” seruku sambil mencubit pelan punggung tangannya, membuat tawa pria itu makin terdengar renyah.
“Nadine,” panggil Rendra dengan nada yang kembali serius. Dia menggenggam kedua tanganku erat-erat di atas meja. “Kontrak konyol itu sudah saya robek. Tidak ada lagi aturan nomor satu, dua, tiga, atau empat. Sekarang saya berdiri di sini, minta izin sama kamu secara resmi.”
“Izin untuk apa?” tanyaku dengan debar dada yang kian menjadi-jadi.
“Izin untuk mendekatimu tanpa batas,” kata Rendra menatap mataku lurus. “Izin untuk meneleponmu setiap malam tanpa alasan pekerjaan. Dan izin untuk membawamu bertemu orang tuaku nanti… bukan sebagai pacar sewaan, tapi sebagai wanita yang ingin saya jadikan masa depan saya.”
Aku terpaku. Tenggorokanku mendadak terasa tersumbat oleh perasaan haru yang membuncah. Selama bertahun-tahun, aku terbiasa merasa tidak cukup baik, terbiasa dibanding-bandingkan, dan terbiasa ditinggalkan saat aku menjadi diriku sendiri. Namun pria di hadapanku ini… menerima seluruh kekacauanku tanpa menuntutku berubah.
“Rendra,” ucapku pelan, mataku kembali berkaca-kaca. “Aku ini berantakan. Pekerjaanku belum sekokoh perusahaanmu, dan keluargaku sering bikin ribet.”
“Saya tidak mencari wanita yang sempurna, Nadine,” potong Rendra lembut. “Saya mencari kamu. Hanya kamu.”
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan bersama air mata kebahagiaan yang akhirnya menetas di pipi. Aku tersenyum lebar—senyuman paling leluasa yang pernah kuukir di depannya.
“Kalau gitu…” jawabku berbisik, “kamu harus siap-siap. Ibuku pasti bakal cerewet banget begitu tahu kita balikan.”
Rendra tersenyum lega. Matanya berbinar cerah saat dia mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya. “Saya siap menghadapi ibumu, tantemu, atau siapa pun. Kali ini, saya tidak akan lari.”
—
Tiga hari kemudian, sore yang cerah menyambut kami di pelataran rumah orang tuaku. Suasana sangat berbeda dibanding malam makan malam yang penuh ketegangan itu.
Ibu sedang menyiram tanaman di pekarangan depan saat mobil Rendra berhenti di pinggir jalan. Ketika Rendra keluar dari pintu kemudi dengan kemeja kasual yang rapi, langkah kaki Ibu mendadak terhenti.
“Lho… Rendra?” gumam Ibu kaget, menatap kami bergantian dengan mata membelalak. “Nadine… ini ada apa? Bukannya kalian sudah putus?”
Aku melangkah mendekati Ibu, menggandeng tangannya lembut. “Bu, ada yang mau Rendra omongin sama Ibu dan Ayah.”
Rendra melangkah maju, membungkuk sopan dan menjabat tangan Ibuku dengan sangat hormat. “Selamat sore, Tante. Maaf saya datang mendadak tanpa mengabari terlebih dahulu.”
Ibu menatap Rendra dari ujung kepala sampai ujung kaki, wajahnya masih menyiratkan kebingungan yang besar. “Kalian ini… bikin Ibu bingung saja. Kemarin bilang putus, sekarang datang berdua lagi. Ayo masuk dulu, Ayah ada di dalam.”
Kami bertiga melangkah menuju ruang tamu. Ayah yang sedang membaca koran di sofa langsung menurunkan kacamata bacanya begitu melihat Rendra masuk.
“Rendra?” sapa Ayah heran. “Ada apa ini?”
Rendra berdiri tegak di tengah ruang tamu, lalu menundukkan kepalanya sedikit. “Om, Tante… pertama-tama saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya atas kekacauan dan ketidakjujuran yang terjadi beberapa waktu lalu.”
Aku memegang ujung kemejaku dengan cemas, mendengarkan Rendra bicara.
“Maksudmu apa, Nak Rendra?” tanya Ayah dengan dahi berkerut tebal.
“Beberapa minggu lalu, saat saya datang ke rumah ini, saya dan Nadine sebenarnya belum lama saling mengenal,” aku Rendra jujur dengan suara yang sangat tenang dan gentle. “Saya membuat pernyataan yang terburu-buru dan menimbulkan salah paham di antara keluarga Om dan Tante.”
Ibu menutupi mulutnya dengan kedua tangan, terperanjat. “Jadi… kalian waktu itu bohong?”
“Kami panik, Bu,” potongku cepat, melangkah berdiri di samping Rendra. “Waktu di pesta pernikahan Arini, Nadine yang menarik Rendra duluan karena gengsi ditekan Tante Siska. Rendra cuma berusaha membantu Nadine.”
Ayah menyandarkan punggungnya ke sofa, menghela napas panjang sambil mengamati kami berdua. “Lalu kenapa kalian datang hari ini? Untuk jujur kalau kalian memang tidak ada hubungan apa-apa?”
“Tidak, Om,” tegas Rendra cepat. Pria itu menoleh menatapku sejenak dengan tatapan penuh kehangatan, lalu kembali menatap Ayahku. “Saya datang hari ini bukan untuk memelihara kebohongan itu. Saya datang untuk meminta izin secara jujur.”
“Izin apa?” tanya Ayah datar.
“Izin untuk mengencani putri Om dan Tante secara resmi,” jawab Rendra mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. “Tanpa kebohongan, tanpa rekayasa, dan tanpa paksaan dari siapa pun. Saya ingin memulai semuanya dari awal dengan cara yang benar.”
Ruang tamu mendadak hening. Ibu menatap Ayah dengan pandangan penuh arti, sementara Ayah diam seribu bahasa, menatap Rendra lekat-lekat selama beberapa menit yang terasa sangat menyiksa.
-TAMAT-