Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 5

  1. Home
  2. Pacar Palsu yang Terlalu Serius
  3. Bab 5 - Hubungan Palsu yang Terlalu Nyata
Prev
Next

Suara Maya di seberang telepon masih terus berkibar, tetapi telingaku mendadak berdengung keras. Kata ‘perjodohan’ memantul berulang kali di dalam kepalaku, meremukkan seluruh dinding pertahanan emosi yang baru saja kusembunyikan.

Aku mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menguapkan sepatah kata pun pada Maya. Ponsel di tanganku terasa amat dingin.

Aku membalikkan badan perlahan, menatap Rendra yang masih berdiri anggun di tengah ruang tamuku. Pria itu tampak begitu sempurna dengan kemeja kerjanya—pria yang selama beberapa minggu ini membuatku merasa begitu spesial, seolah aku adalah pusat dunianya.

“Nadine?” panggil Rendra pelan, keningnya berkerut melihat perubahan raut wajahku yang mendadak pucat pasi. “Siapa yang telepon? Ada masalah?”

Aku menatapnya lurus, berusaha keras menahan getaran di bibirku. “Clarissa.”

Satu nama itu terlontar dari mulutku. Dalam detik itu juga, ekspresi tenang di wajah Rendra membeku. Kilat terkejut yang tertahan melintas di matanya sebelum ia dengan cepat menguasai diri kembali.

“Kamu… tahu dari mana nama itu?” tanya Rendra pelan, suaranya naik setengah nada.

Aku terkekeh sumbang, air mata yang menyengat mulai menumpuk di pelupuk mataku. “Jadi benar? Dia Clarissa, putri rekan bisnis ayahmu?”

Rendra menghela napas panjang, melangkah mendekat. “Nadine, dengarkan saya dulu. Itu tidak seperti yang kamu bayangkan—”

“Perjodohan, kan?” potongku cepat, menyilangkan kedua tangan di dada sambil mundur menghindari langkahnya. “Keluargamu menjodohkanmu sama dia dari bulan lalu. Benar, kan?”

Rendra menghentikan langkahnya. Pria itu menunduk sebentar, mengusap leher belakangnya dengan raut wajah penuh penyesalan. “Ya. Tapi saya menolaknya, Nadine.”

“Dan kamu pakai aku buat menolaknya?!” suaraku akhirnya pecah, membentak lirih di dalam apartemen yang sunyi. “Kamu setuju buat bikin kontrak pacar palsu sama aku bukan cuma buat bantu aku di depan keluargaku, kan? Kamu butuh ‘pacar’ buat dijadikan tameng dari perjodohan keluarga kamu sendiri!”

Rendra menatapku dengan mata yang memancarkan kecemasan yang amat sangat. “Awalnya memang begitu. Saya butuh alasan konkret untuk menghentikan tekanan Ayah saya. Tapi Nadine, demi Tuhan, itu hanya alasan di hari pertama!”

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?!” seruku, air mataku akhirnya menetas jatuh membasahi pipi. “Kenapa kamu sembunyikan ini dari aku, Rendra?! Selama ini aku pikir kita berjuang sama-sama buat sandiwara konyol ini. Tapi ternyata aku cuma alat yang kamu manfaatkan!”

“Kamu bukan alat, Nadine!” bentak Rendra frustrasi, untuk pertama kalinya meluapkan emosi yang selama ini terkunci rapat di dalam dirinya. “Saya tidak pernah menganggapmu seperti itu!”

“Lalu apa?!” jeritku sambil menunjuk dadaku sendiri yang terasa amat sesak. “Semua perhatian kamu… cara kamu membela aku di depan mantan aku… sikap manis kamu di depan orang tuaku… itu semua bagian dari skenario kamu, kan?! Supaya kelihatan meyakinkan di depan keluarga kamu juga?!”

“Bukan!” tegak Rendra keras. Pria itu melangkah cepat menerobos jarak di antara kami, meraih kedua bahuku erat. “Semua perhatian itu nyata! Saya membela kamu di depan Daniel karena saya tidak tahan melihat pria itu meremehkanmu! Saya bersikap manis karena saya memang ingin berada di dekatmu!”

Aku memukul dadanya pelan, mencoba melepaskan cengkeraman tangannya di bahuku. Rasa sakit karena merasa dibodohi membakar seluruh akal sehatku.

“Bohong!” isakku menggelengkan kepala. “Kamu pengusaha, Rendra! Kamu terbiasa memperhitungkan untung rugi! Kamu bikin draf kontrak itu dari awal karena kamu sudah merencanakan semuanya!”

“Nadine, tolong dengarkan saya!” mohon Rendra dengan suara bergetar parau. Matanya yang biasa dingin kini menyuarakan keputusasaan yang luar biasa. “Saya tidak menceritakan soal perjodohan itu karena saya tidak ingin membebanimu! Masalah keluarga saya rumit, dan saya tidak mau kamu terseret lebih jauh!”

“Tapi aku sudah terseret!” balasku menatap matanya dengan pandangan terluka. “Aku sudah terseret sampai ke titik di mana aku nggak bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang nyata!”

Rendra terpaku. Tangannya yang menggenggam bahuku perlahan melonggar, lalu terlepas.

Aku mengusap air mata di pipiku dengan kasar, menarik napas panjang untuk menetralkan sesak di dada. Rasa malu dan hancur berbaur menjadi satu. Luka lama saat mantanku dulu menyebutku ‘terlalu bodoh dan kekanak-kanakan’ seolah kembali terbuka lebar.

“Kontrak kita selesai, Rendra,” kataku dengan suara datar dan sangat dingin.

“Nadine, jangan begini…” bisik Rendra pelan.

“Masa berlaku sebulan yang kamu minta sudah tidak ada artinya lagi,” sambungku tanpa mau menatap wajahnya. “Aku bakal ngomong sama ibuku kalau kita sudah putus. Kamu bisa cari alasan lain buat keluarga kamu.”

Rendra melangkah satu pijakan mendekat, jemarinya terulur hendak meraih tanganku. “Nadine, saya mohon. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

Aku mundur dua langkah, menepis tangannya secara halus namun tegas.

“Yang paling bodoh dari semua ini bukan karena aku percaya hubungan kita nyata,” ucapku pelan, menatapnya lurus dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Rendra membeku di tempatnya, menunggu kalimatku selanjutnya dengan napas tertahan.

“Tapi karena aku mulai berharap kamu juga merasakan hal yang sama,” lanjutku jujur, membiarkan pertahanan terakhirku runtuh sepenuhnya.

Rendra menatapku dengan mata membelalak terkejut. Mulutnya sedikit terbuka, seolah kalimatku menghantam jantungnya dengan sangat telak.

“Tolong keluar dari apartemenku, Rendra,” bisikku parau, menunjuk pintu keluar. “Aku mau sendiri.”

Rendra berdiri mematung selama beberapa detik dalam keheningan yang memekakkan telinga. Pria yang biasanya begitu terkontrol dan percaya diri itu kini tampak begitu rapuh dan kehilangan arah. Dia menatapku dengan pandangan penuh penyesalan mendalam, sebelum akhirnya menganggukkan kepala perlahan.

“Maafkan saya, Nadine,” bisik Rendra serak.

Pria itu berbalik dan melangkah pergi secara perlahan. Suara dentum pintu apartemen yang tertutup rapat menandai akhir dari sandiwara kami—sekaligus meninggalkan diriku yang tenggelam dalam tangis di tengah ruangan yang hampa.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Tak Terduga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita