Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 4
Pemandangan wanita bergaun merah yang memeluk lengan Rendra terasa bagai duri yang menghantam mataku. Aku berdiri membatu di tepi balkon, memegangi gelas minumanku yang mendadak terasa amat berat. Ada rasa nyeri aneh yang menjalar lurus ke dada—perasaan yang seharusnya tidak boleh ada dalam kesepakatan hubungan palsu ini.
*Aturan nomor dua: Tidak boleh cemburu.*
Kalimat dalam draf dokumen Rendra bergema keras di kepalaku. Aku menelan ludah pahit. Aku tidak punya hak untuk marah. Kami hanya bersandiwara. Tapi kenapa hatiku harus terasa serenyuk ini?
Tanpa menunggu Rendra kembali, aku berbalik dan melangkah cepat meninggalkan pameran.
—
Keesokan harinya, aku sengaja menenggelamkan diri dengan pekerjaan. Piringan hitam di kamarku berputar melantunkan musik jazz, tetapi pikiranku melayang entah ke mana. Ponselku di meja bergetar berulang kali memperlihatkan nama Rendra, namun aku memilih mengabaikannya.
Hingga pukul tiga sore, bel pintu apartemenku berbunyi nyaring.
Aku mengintip dari lubang pintu dan mendapati Rendra berdiri di sana. Kemeja kerjanya sedikit kusut dan raut wajahnya tampak cemas. Aku mendesah pelan, merapikan kaus oversized-ku sebelum membuka pintu setengah.
“Nadine,” panggil Rendra cepat begitu pintu terbuka. “Kamu mendadak hilang semalam. Telepon dan pesanku juga tidak ada yang kamu balas. Ada apa?”
Aku bersandar di daun pintu, melipat kedua tangan di dada dengan pandangan dingin. “Aku capek semalam, makanya pulang duluan. Ponselku dimatikan karena aku mau fokus kerja.”
Rendra memicingkan mata, menyadari perubahan drastis pada sikapku. “Kamu tidak pernah mematikan ponsel saat jam kerja. Jelaskan padaku, ada masalah apa?”
“Nggak ada masalah apa-apa, Rendra,” sahutku acuh tak acuh. “Lagipula, tugas sandiwaraku kan cuma di depan keluargaku. Di acara pameran semalam tugas kita udah selesai, kan?”
Rendra menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangan memegang tepi pintu, melangkah satu pijakan lebih mendekat. “Nadine, jangan begini. Kalau saya ada salah kata atau perbuatan semalam, katakan.”
“Nggak ada, Rendra! Kamu nggak salah apa-apa!” potongku dengan nada naik satu oktaf. “Kamu hebat banget malah! Kamu profesional banget menjalankan peranmu!”
Rendra terdiam sejenak. Mata tajamnya menatapku lekat-lekat, mencoba membaca setiap gejolak emosi di wajahku. Tiba-tiba, kilat pemahaman melintas di manik matanya.
“Ini soal wanita bergaun merah semalam?” tanya Rendra pelan, suaranya terdengar begitu tenang.
Jantungku melonjak kaget, namun aku berusaha keras menjaga wajah pasraharu. “Wanita merah? Mana aku tahu. Itu kan urusan pribadimu. Sesuai aturan nomor satu, aku nggak berhak ikut campur.”
“Nadine,” Rendra melangkah masuk ke dalam ambang pintu apartemenku tanpa izin, membuatku terpaksa mundur dua langkah. “Kamu cemburu?”
Tuduhan itu menghantam gengsiku tepat di dada. Aku terkekeh sumbang, memalingkan wajah. “Cemburu? Lucu banget. Buat apa aku cemburu sama pacar sewaan? Jangan percaya diri deh!”
“Lalu kenapa kamu menghindari saya sejak semalam?” cecar Rendra tajam. “Kenapa matamu tidak mau menatap mataku sekarang?”
“Karena aku kesal sama diriku sendiri!” seruku spontan, menatap langsung ke dalam matanya dengan napas memburu. “Aku kesal karena harus berpura-pura! Aku kesal karena batasannya jadi kabur! Kamu bertingkah seolah-olah perhatian sama aku, ngebela aku di depan mantan aku, tapi ternyata di belakang kamu punya kehidupan lain yang nggak aku tahu!”
Keheningan menyergap ruangan. Aku menahan napas, merutuki mulutku yang baru saja kebobolan menyampaikan isi hati yang sebenarnya.
Rendra menatapku lama tanpa bersuara. Alih-alih marah atau meledak, sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis dan amat hangat terukir di wajahnya yang biasa dingin.
“Bagus,” gumam Rendra pelan.
Aku mengernyitkan alis, membentak gusar, “Bagus apanya?! Aku lagi marah, Rendra!”
“Bagus,” ulang Rendra sambil melangkah makin rapat padaku. Jarak di antara kami kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Bau harum parfum kayu yang khas menyapu inderaku. “Berarti bukan cuma saya satu-satunya orang bodoh di dalam hubungan palsu ini.”
Kata-katanya membuat dadaku berdebar kencang tak beraturan. “M-maksud kamu apa?”
“Saya juga cemburu, Nadine,” bisik Rendra serak, menatap lurus ke dalam mataku. “Setiap kali melihat mantanmu itu menatapmu, setiap kali mendengar cerita tentang masa lalumu, saya kesal setengah mati. Saya melanggar aturan itu jauh sebelum kamu melanggarnya.”
Aku terpaku di tempat. Seluruh argumen dan amarah yang kusiapkan mendadak menguap tanpa sisa.
“Tapi wanita semalam…” sambung Rendra pelan, tangannya terangkat hendak menyentuh pipiku, “dia itu—”
*Bip! Bip! Bip!*
Ponsel di dalam saku celanaku berdering keras memecah ketegangan di antara kami. Aku tersentak mundur, merogoh ponselku dengan tangan bergetar. Nama Maya—sahabat sekaligus sepupuku—terpampang di layar.
“S-sebentar,” gagapku sambil mengangkat telepon dan menjauh sedikit dari Rendra. “Halo, May?”
*”Nadine! Kamu di mana sekarang?!”* suara Maya terdengar sangat panik dan serius dari seberang telepon.
“Aku di apartemen. Ada apa, May? Kok suaramu panik gitu?”
*”Aku baru aja dari acara pameran sama bosku dan nemu rumor heboh!”* seru Maya tanpa tedeng aling-aling. *”Aku baru tahu siapa wanita bergaun merah yang jalan sama Rendra semalam. Kamu harus hati-hati banget, Nadine!”*
Jantungku merosot ke dasar perut. Aku melirik Rendra yang masih berdiri memperhatikanku dari dekat meja makan.
“Maksudmu apa, May? Wanita itu siapa?” bisikku pelan, membalikkan badan membelakangi Rendra.
*”Wanita itu Clarissa, putri tunggal pemilik Mahesa Group sekaligus rekan bisnis utama ayahnya Rendra!”* bisik Maya cepat. *”Anak-anak kantor bilang, Rendra sama Clarissa itu dijodohkan dari bulan lalu! Perjodohan bisnis keluarga besar mereka!”*
Dunia di sekitarku seolah berhenti berputar seketika. Seluruh darah di tubuhku terasa membeku.
-BERSAMBUNG-