Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 3
Pernyataan Rendra semalam di depan Daniel dan kedua orang tuaku bagaikan bom waktu yang meledak tanpa peringatan. Sejak saat itu, ibuku tidak berhenti mengirimkan pesan singkat berisi deretan gaun pengantin dan lokasi gedung pernikahan.
Pagi ini, aku melangkah gusar memasuki sebuah kafe terbuka di kawasan Jakarta Selatan. Di sana, Rendra sudah duduk santai sambil memangku laptopnya. Kemeja birunya yang digulung rapi serta kacamata berbingkai tipis membuat beberapa pengunjung wanita di meja sebelah berkali-kali mencuri pandang padanya.
Aku menghempaskan diri di kursi berhadapan dengannya tanpa basa-basi.
“Rendra!” seruku setengah berbisik. “Kamu gila, ya? Calon suami?! Ibuku sekarang sudah bikin grup WhatsApp keluarga besar buat ngebahas tanggal lamaran!”
Rendra perlahan menurunkan kacamatanya, menatapku dengan ketenangan yang sungguh menyebalkan.
“Selamat pagi juga, Nadine,” sapanya tenang. “Kamu mau pesan kopi apa?”
“Aku nggak butuh kopi, aku butuh penjelasan!” balasku sambil menepuk meja pelan. “Aturan nomor satu: tidak boleh mencampuri urusan pribadi. Aturan nomor tiga: tidak boleh berlebihan. Tapi semalam kamu malah bikin pernyataan yang hampir bikin mantanku serangan jantung dan ibuku jantungan beneran!”
Rendra menutup laptopnya perlahan. Dia menatapku lurus, memperlihatkan raut wajah yang sedikit lebih serius dari biasanya.
“Mantanmu itu bersikap tidak sopan padamu,” kata Rendra datar. “Dia meremehkan pekerjaanmu, membandingkanmu, dan mencoba membuatmu merasa kecil di rumahmu sendiri.”
“Tapi kamu nggak perlu bilang kita mau nikah, Rendra!” keluhku sambil memegang pelipis. “Itu kelewatan!”
“Itu cara paling cepat untuk membungkam pria seperti dia,” jawab Rendra santai. Dia meraih cangkir kopinya lalu menyesapnya sedikit. “Lagipula, bukankah ibumu kelihatan sangat bahagia semalam?”
Aku terdiam seketika. Mengingat binar kebahagiaan di mata Ibu semalam memang membuat hatiku hangat. Namun, tetap saja, kebohongan ini rasanya sudah melenceng jauh dari jalur awal.
“Tetap saja,” gumamku pelan, menundukkan kepala. “Nanti kalau kebohongan ini terbongkar, Ibu bakal makin kecewa sama aku.”
Rendra mengamati reaksimu. Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya di atas meja, mengusap punggung tanganku yang terkepal lembut dengan ibu jarinya. Sentuhan singkat itu membuat dadaku mendadak berdesir hebat.
“Selama sebulan ini, saya tidak akan membiarkan siapa pun meremehkanmu,” bisik Rendra dengan suara baritonnya yang mantap. “Termasuk mantanmu itu. Percayakan saja sisanya padaku.”
Aku mendongak, terpaku menatap matanya. “Rendra… kamu melanggar aturan.”
“Aturan yang mana?” tanya Rendra sambil menarik tangannya kembali, bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aturan nomor empat,” bisikku pelan. “Dilarang kontak fisik kalau tidak diperlukan.”
Rendra terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang jarang sekali keluar dari bibirnya. “Tadi itu diperlukan. Untuk membuatmu berhenti panik.”
—
Tiga hari kemudian, Rendra mengajaku menghadiri pameran desain interior tahunan yang diselenggarakan oleh asosiasi perusahaannya. Tempat itu dipenuhi oleh pengusaha, arsitek, dan kalangan papan atas. Aku yang hanya mengenakan gaun hitam sederhana sempat merasa tidak percaya diri melangkah di samping Rendra.
“Rendra, aku tunggu di area katering aja ya?” bisikku canggung saat melihat rombongan pria berjas rapi menyapa Rendra. “Aku nggak paham soal konstruksi atau desain interior.”
“Tidak,” potong Rendra cepat. Dia mengulurkan siku lengannya padaku. “Gandeng lenganku. Kamu bersamaku malam ini.”
Aku menelan ludah, lalu perlahan melingkarkan tanganku di lengannya.
Saat kami berjalan mengelilingi galeri, seorang pria paruh baya berkacamata mendekati kami. Di sampingnya berdiri Daniel—mantan kekasihku—yang mengenakan setelan jas rapi. Rupanya perusahaan tempat Daniel bekerja juga menjadi sponsor di acara ini.
“Ah, Pak Rendra!” sapa pria paruh baya itu ramah. “Senang sekali Anda bisa hadir.”
“Pak Hendra, terima kasih atas undangannya,” balas Rendra ramah, menjabat tangan pria itu.
Pandangan Daniel langsung tertuju padaku dan tangan yang melingkar di lengan Rendra. Senyum sinis kembali terukir di wajahnya.
“Wah, Mas Rendra bawa Nadine juga?” potong Daniel dengan nada dibuat-buat. “Saya tidak tahu kalau acara profesional kelas atas seperti ini boleh membawa influencer lepas. Bukannya portofolio Nadine cuma konten-konten media sosial biasa, ya?”
Aku mengepalkan jemariku, merasakan sengatan malu yang menusuk dada. Namun sebelum aku sempat menarik tanganku mundur, Rendra memegang jemariku erat-erat.
Rendra menatap Daniel dengan tatapan dingin yang tajam bagai pisau.
“Konten media sosial biasa?” ulang Rendra dengan nada rendah yang amat menekan. “Mungkin bagi Anda yang tidak paham strategi digital, itu terlihat biasa. Tapi Nadine adalah salah satu penasihat komunikasi visual terbaik yang pernah bekerja sama dengan perusahaan saya.”
Daniel tersentak, wajahnya sedikit berubah. “Maksudnya, Pak Rendra?”
“Nadine yang merancang strategi branding digital untuk tiga proyek kondominium mewah saya tahun ini,” lanjut Rendra bohong dengan sangat tenang dan meyakinkan. “Kreativitas dan cara pandangnya luar biasa. Jadi, jika Anda ingin menilai kualitas seseorang, pastikan Anda paham dulu bidangnya.”
Pak Hendra, atasan Daniel, langsung tertawa canggung. “Wah, luar biasa sekali Mbak Nadine ini! Anak muda yang berbakat. Daniel, kamu harus banyak belajar dari Mbak Nadine dalam hal pemasaran modern!”
Daniel hanya bisa mengatupkan rahangnya rapat-rapt, wajahnya merah padam menahan malu.
“Mari Pak Hendra, kami permisi dulu,” pamit Rendra dingin, lalu menuntunku menjauh dari mereka.
Saat kami tiba di area sudut balkon gedung yang sepi dan berangin malam, aku melepaskan peganganku dari lengan Rendra. Aku menatapnya dengan perasaan bercampur aduk antara haru, kagum, dan bingung.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanyaku lirih. “Kamu bohong soal pekerjaan proyek kondominium itu.”
Rendra berbalik, bersandar pada pembatas balkon sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Saya tidak suka ada orang yang meremehkan kerja kerasmu. Konten dan hasil karyamu bagus, Nadine. Saya sudah lihat portofoliomu kemarin malam.”
“Kamu… lihat portofolioku?” tanyaku terkejut.
“Ya,” jawab Rendra jujur. “Dan kamu sangat berbakat. Jangan pernah biarkan pria tidak berguna seperti dia membuatmu merasa rendah diri.”
Sentuhan kata-katanya menghantam bagian terdalam dadaku. Selama dua tahun berpacaran dengan Daniel, aku tidak pernah mendapat pujian atau apresiasi sebersih ini. Air mata mendadak menggenang di pelupuk mataku.
“Rendra…” bisikku pelan. “Kamu terlalu baik buat jadi pacar sewaan.”
Rendra menatapku lama dalam hening. Angin malam berhembus pelan mempermainkan helai rambutku. Dia melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk merapikan helai rambut yang menutupi pipiku.
“Mungkin…” suara Rendra berbisik serak di dekat telingaku. “Saya memang tidak ingin cuma jadi sewaan.”
Jantungku berdegup kencang seperti maraton. Wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. Tepat saat aku merasa napasku tertahan oleh kehangatan tatapannya, ponsel Rendra di dalam saku jasnya bergetar nyaring.
Rendra menghentikan gerakannya. Dia menarik napas pendek, lalu merogoh ponselnya.
“Sebentar,” gumam Rendra pelan, melangkah sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.
Aku berdiri mematung di balkon, memegang dadaku yang berdebar gila-gilaan. Namun rasa hangat di dadaku mendadak sirna saat aku menoleh ke arah dalam aula kaca.
Di seberang ruangan katering, aku melihat Rendra berjalan menghampiri seorang wanita bertubuh tinggi, elegan, dengan gaun merah mewah. Wanita itu tersenyum lebar saat melihat Rendra, lalu tanpa ragu melingkarkan tangannya di lengan Rendra secara akrab. Rendra tidak menolaknya.
Mataku membelalak. Dadaku mendadak terasa sesak dan nyeri yang tak beralasan.
Siapa wanita itu? Dan kenapa hatiku harus merasa sehancur ini melihatnya?
-BERSAMBUNG-