Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 2
Pagi itu, aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi kafe bernuansa kayu di sudut kota. Aku duduk di sudut ruangan yang paling privat, memangku laptop sambil menggeser-geser dokumen digital yang baru saja dikirimkan Rendra lima menit lalu.
Di hadapanku, Rendra duduk dengan kemeja putih rapi yang digulung rapi hingga siku. Wajahnya yang tenang dan tanpa emosi menatapku seolah kami sedang mendiskusikan akuisisi saham perusahaan, bukan perjanjian pacaran palsu.
“Kamu beneran bikin draf draf kontrak resmi buat hubungan palsu ini?” tanyaku heran, membelalakkan mata menatap layar laptop. “Rendra, ini cuma kebohongan sebulan, bukan proyek pembangunan jalan tol!”
“Segala sesuatu yang melibatkan dua pihak harus punya batasan yang jelas, Nadine,” balas Rendra tenang, menyesap kopi hitamnya pelan. “Supaya tidak ada salah paham, tidak ada rasa dirugikan, dan yang paling penting… tidak ada yang melewati batas.”
Aku mendengkus pasrah, menggeleng-gelengkan kepala. “Oke, mari kita baca aturan yang kamu buat.”
Aku membetulkan posisi dudukku, lalu membaca poin-poin di layar dengan nada datar.
“Poin pertama: Tidak boleh mencampuri urusan pribadi yang tidak berkaitan dengan sandiwara,” aku membacanya keras-cepat. “Setuju. Aku juga nggak berniat kepo sama kehidupan kamu.”
“Bagus,” sahut Rendra pendek.
“Poin kedua: Tidak boleh cemburu jika salah satu pihak berinteraksi dengan orang lain di luar acara keluarga,” lanjutku. Aku mendongak menatapnya. “Ini jelas. Lagipula siapa juga yang mau cemburu?”
Rendra hanya menaikkan satu alisnya tipis, tidak membalas perkataanku.
“Poin ketiga: Dilarang jatuh cinta,” bacaku lagi. Aku terkekeh geli melihat tulisan itu di dalam dokumen resmi. “Rendra, seriusan? Poin ini kocak banget. Tenang aja, kamu bukan tipeku.”
“Kriteria tipemu seperti apa?” tanya Rendra mendadak, menatap mataku lurus.
“Yang ramah, humoris, dan nggak kaku kayak papan penggilasan begini,” balasku ceplas-ceplos.
Rendra tidak tersinggung. Bibirnya justru menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Sempurna. Berarti poin ketiga aman.”
“Nah, sekarang poin terakhir…” suaraku memelan saat membaca baris paling bawah. “Poin empat: Dilarang melakukan kontak fisik berlebihan, termasuk berciuman, kecuali benar-benar diperlukan untuk meyakinkan situasi.”
Aku tertawa renyah, menutup separuh layar laptopku. “Sok penting sekali poin terakhir ini. Siapa juga yang mau mencium kamu?”
Rendra meletakkan cangkir kopinya ke tatakan porselen dengan ketukan halus. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara meja kami, lalu menatapku dengan tatapan intens yang membuat napasku mendadak tertahan.
“Kita lihat nanti,” bisik Rendra pelan.
Suara baritonnya yang tenang berkombinasi dengan tatapan mata tajam itu mendadak membuat dadaku berdesir aneh. Aku langsung kehilangan kata-kata. Tenggorokanku terasa kering seketika. Aku dengan cepat mengalihkan pandangan ke jendela kafe, berpura-pura sangat tertarik melihat dedaunan yang berguguran di luar.
—
Malam harinya, suasana rumah orang tuaku tampak begitu hangat sekaligus menegangkan. Meja makan berukuran besar di ruang tengah sudah ditata rapi dengan berbagai hidangan lezat. Ibu hilir mudik dari dapur membawa mangkuk sup, sementara Ayah duduk di kursi utama sambil membaca koran.
“Nadine, Rendra sudah di jalan belum?” seru Ibu dari arah dapur dengan nada tidak sabar. “Jangan sampai dia nyasar!”
“Sudah, Bu. Katanya lima menit lagi sampai,” balasku sambil merapikan gaun kasual warna krem yang kupakai.
*Ting tong.*
Suara bel rumah berbunyi tepat waktu. Ibu langsung berlari kecil membukakan pintu, dan aku mengikutinya dari belakang dengan jantung yang berdebar kencang.
Saat pintu terbuka, Rendra berdiri di sana. Dia mengenakan kemeja rajut warna abu-abu yang membuat penampilannya terlihat lebih santai namun tetap elegan. Di tangannya, dia membawa sebuah keranjang buah premium dan sekotak kue dari toko ternama.
“Selamat malam, Tante,” sapa Rendra sopan, memberikan senyuman tipis yang sangat menawan. “Maaf kalau saya datang agak terlambat.”
“Aduh, Rendra! Tidak terlambat sama sekali!” sambut Ibu dengan wajah berbinar-binar. “Repot-repot banget bawa buah sama kue begini. Ayo masuk, masuk!”
Rendra melangkah masuk. Saat melewati posisiku berdiri, dia sempat mengerling padaku dan berbisik sangat pelan, “Kamu kelihatan manis malam ini.”
Pipi rasanya langsung menghangat. Aku menepuk dahiku pelan, berusaha menetralkan degupan jantung yang mulai tidak wajar. *Ingat Nadine, ini cuma sandiwara! Jangan mudah baper!*
Makan malam berlangsung sangat lancar—bahkan terlalu lancar. Rendra dengan cerdas menjawab semua pertanyaan Ayah tentang bisnis, politik, dan pandangan hidupnya. Ayah yang biasanya dingin dan sulit diimpresi, malam ini terlihat sangat terkesan dan berkali-kali tertawa bersama Rendra.
Namun, kedamaian itu pecah saat bel rumah kembali berbunyi di tengah-tengah acara makan malam.
“Lho, ada tamu malam-malam begini?” gumam Ibu berdiri dari kursinya. “Bentar ya, Ibu cek dulu.”
Beberapa saat kemudian, Ibu kembali ke ruang makan dengan raut wajah yang agak canggung. Di belakangnya, seorang pria jangkung dengan kemeja kasual melangkah masuk tanpa ragu.
Mataku membelalak. Pria itu adalah Daniel—mantan kekasihku yang memutuskanku enam bulan lalu dengan alasan aku terlalu kekanak-kanakan.
“Selamat malam, Om, Tante,” sapa Daniel dengan nada sok akrab. “Maaf Daniel mengganggu. Tadi lewat daerah sini, jadi sekalian antar berkas dokumen titipan Papanya Daniel buat Om.”
“Oh, iya Daniel. Terima kasih ya,” sahut Ayah sopan namun agak kaku.
Pandangan Daniel langsung bergulir menatapku, lalu beralih menatap Rendra yang duduk di sebelahku. Daniel tersenyum sinis, mengamati penampilan Rendra dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
“Wah, lagi ada tamu ya?” tanya Daniel dengan nada menyindir. “Pantas ramai banget.”
“Ini Rendra, pacarnya Nadine,” potong Ibu cepat, seolah ingin menegaskan posisi.
Daniel terkekeh pelan, melangkah mendekati meja makan. “Oh… pacar baru, Nad? Cepat juga ya dapat gantinya. Kerja di mana, Mas?”
Aku mengepalkan jemariku di bawah meja. Rasa kesal dan trauma masa lalu saat Daniel selalu meremehkanku kembali mencuat ke permukaan.
Sebelum aku sempat membuka suara untuk membalas ejekan Daniel, sebuah tangan yang hangat dan kokoh tiba-tiba menggenggam jemariku di bawah meja.
Aku tersentak pelan dan menoleh. Rendra tidak menatapku. Dia menatap Daniel dengan raut wajah yang sangat tenang, namun pancaran matanya begitu dingin dan mengintimidasi. Jemari Rendra menyusup di antara jemariku, menggenggamnya dengan sangat erat dan protektif.
Rendra menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu meletakkan sendoknya perlahan.
“Bukan pacar baru,” kata Rendra dengan suara baritonnya yang berat dan menggema di ruang makan yang mendadak hening.
Semua orang di ruangan itu menatap Rendra dengan bingung, termasuk aku. Daniel mengernyitkan alisnya, tampak terkejut.
“Maksudnya?” tanya Daniel acuh tak acuh.
Rendra menoleh menatapku perlahan. Senyuman paling hangat dan tulus yang pernah kulihat terukir di bibirnya, sebelum dia kembali menatap Daniel dengan tatapan tegas.
“Saya bukan sekadar pacar baru,” tegas Rendra mantap. “Saya calon suaminya.”
*Deg!*
Dada rasanya mau meledak seketika. Ibu memekik kaget sambil menutupi mulutnya, Ayah melebarkan matanya terkejut, sementara Daniel berdiri mematung dengan wajah memerah menahan malu dan syok.
Di bawah meja, genggaman tangan Rendra kian makin erat, seolah menyalurkan kekuatan yang membuat seluruh duniaku mendadak berhenti berputar.
-BERSAMBUNG-