Pacar Palsu yang Terlalu Serius - Bab 1
Lampu kristal di *ballroom* hotel berbintang lima itu menyinari gaun pesta yang tampak begitu sempurna. Suara denting gelas dan alunan musik biola memenuhi ruangan, menandakan pesta pernikahan sepupuku sedang berlangsung dengan sangat meriah. Namun bagiku, tempat ini tak ubahnya seperti arena eksekusi.
Aku melirik cemas ke arah ibuku yang sedang berjalan mendekat bersama Tante Siska. Langkah kaki Ibu yang mantap dan tatapan matanya yang penuh selidik membuat cangkir minuman di tanganku bergetar halus.
“Nadine!” panggil Ibu dengan suara setengah berbisik tetapi terdengar seperti dentuman meriam di telingaku. “Kamu berdiri di sini sendirian dari tadi? Mana pacar kamu yang katanya mau dijemput di depan?”
“Eh… itu, Bu…” suaraku tertahan. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku.
“Jangan bilang kamu bohong lagi ya, Nadine,” potong Tante Siska sambil tersenyum miring, senyuman khas yang selalu kupahami sebagai nada meremehkan. “Masa sepupumu Arini sudah nikah sama manajer bank, kamu masih sendiri aja? Enam bulan lalu katanya udah putus sama yang itu, kan?”
“Aku nggak bohong, Tante!” sahutku refleks, rasa gengsi yang membumbung tinggi mendadak menguasai seluruh akal sehatku. “Pacar aku ada, kok! Dia… dia cuma lagi telepon sebentar di sana!”
“Oh ya? Mana orangnya?” tantang Ibu sambil bersedekap, matanya memicing menuntut bukti nyata. “Coba panggil ke sini. Ibu mau lihat langsung.”
Panik menyapu seluruh kepalaku. Pandanganku menyapu ruangan dengan liar, mencari celah atau seseorang—siapa saja—yang bisa dijadikan alasan untuk kabur. Tepat di sebelah kanan meja katering, hanya berjarak dua langkah dari tempatku berdiri, seorang pria tinggi berjas hitam elegan sedang berdiri membelakangiku.
Tanpa berpikir panjang, aku melangkah cepat, meraih lengan pria asing itu, dan menggandengnya erat.
“Ini pacar aku, Bu! Tante!” seruku dengan senyuman paling lebar dan dipaksakan yang pernah kuukir dalam hidupku. “Mengenalkan… ini pacarku!”
Pria itu perlahan berbalik.
Mataku membelalak seketika. Pria di hadapanku memiliki rahang tegas, rambut tersisir rapi, dan sepasang mata tajam yang menatapku dengan dingin tanpa ekspresi. Tatapannya seolah sanggup membekukan seluruh isi ruangan dalam sekejap. Dia menatap tanganku yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap wajahku dengan alis terangkat sebelah.
“Kamu…” gumam pria itu pelan dengan suara bariton yang dalam dan tenang. “Siapa?”
Sebelum aku sempat menutupi mulutnya atau menginjak kakinya, Ibuku sudah melangkah maju dan menangkap tangan kiri pria itu, menyalaminya dengan antusias luar biasa.
“Duh, tampan dan gagah sekali!” seru Ibu, wajahnya mendadak berbinar cerah. “Jadi kamu pacarnya Nadine? Akhirnya kamu datang juga! Nadine ini sering cerita, tapi nggak pernah mau kasih lihat foto kamu!”
Pria itu mengedipkan matanya sekali. Tatapannya berganti dari Ibuku ke arahku yang sedang memohon dengan mimik wajah setengah menangis.
“Cerita apa saja dia tentang saya, Tante?” tanya pria itu datar, suaranya sangat tenang tanpa kepanikan sedikit pun.
“Banyak!” jawab Tante Siska menyela, ikut memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Katanya kamu sibuk banget. Kamu kerja di mana, Mas?”
“Saya Rendra,” jawabnya singkat. “Saya mengelola perusahaan desain interior dan konstruksi.”
“Aduh, pengusaha toh!” Ibu makin histeris gembira, memukul pelan bahuku. “Kamu pintar ya pilih pacar sekarang, Nadine! Kenapa nggak ditaruh di meja keluarga saja dari tadi, Rendra?”
“Nadine yang minta saya tunggu di luar tadi, Tante,” balas Rendra. Pandangan matanya kembali tertuju padaku, ada kilat geli yang tersembunyi sangat rapat di balik wajah dinginnya. “Katanya dia mau kasih kejutan buat keluarga.”
“Kejutan yang luar biasa!” senyum Ibu mengembang lebar. “Nanti minggu depan kamu wajib datang ke rumah ya untuk makan malam keluarga. Tidak ada alasan!”
“Tentu, Tante. Kalau Nadine mengizinkan, saya pasti datang,” sahut Rendra sopan.
“Pasti diizinkan! Ya kan, Nadine?” cecar Ibu menyenggol pinggulku.
Aku hanya bisa tersenyum kaku sambil mengangguk pelan seperti robot kehabisan baterai. “Iya, Bu… pasti…”
Setelah Ibu dan Tante Siska akhirnya berpamitan untuk menyapa tamu lain, aku langsung menarik lengan baju Rendra dengan kuat, menyeretnya menjauh dari kerumunan menuju lorong sunyi di dekat toilet VIP hotel.
Begitu sampai di lorong yang sepi, aku melepaskan genggamanku dan membungkuk dalam-dalam di depannya.
“Maaf! Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf, Mas!” seruku setengah berbisik dengan nada panik luar biasa. “Aku tahu ini gila, tapi tadi aku kepepet banget! Ibuku dan tanteku benar-benar bikin aku terdesak!”
Rendra berdiri tegak di depanku, merapikan lengan jasnya yang agak kusut akibat tarikanku. Wajahnya kembali dingin dan tak tersentuh.
“Kamu selalu menarik pria asing di pesta pernikahan untuk mengaku sebagai pacarmu?” tanyanya dingin.
“Tentu saja tidak!” sahutku cepat, menepuk dahi sendiri. “Ini pertama kalinya aku melakukan hal bodoh begini! Aku cuma panik karena mantan kekasihku dan sepupuku terus-menerus membanding-bandingkan aku. Aku nggak punya pilihan lain!”
“Setiap orang punya pilihan,” balas Rendra tenang. “Kamu bisa memilih untuk jujur kalau kamu jomblo.”
Aku meringis menahan malu. “Mas Rendra… tolonglah, aku tahu aku salah. Tolong lupakan kejadian tadi. Kalau nanti Ibuku menanyakan kamu lagi, aku bakal bilang kalau kita udah putus malam ini juga karena tidak cocok.”
Rendra mengamati wajahku selama beberapa detik dalam keheningan yang menyiksa. Dia menyandarkan bahunya ke dinding marmer lorong, melipat kedua tangannya di dada.
“Putus malam ini?” bisik Rendra pelan, mengulang kalimatku. “Lalu ibumu akan kecewa lagi?”
“Ya… mau bagaimana lagi?” desahku pasrah. “Itu risiko yang harus kuambil.”
Rendra mengetukkan jari telunjuknya di lengannya sendiri, seolah sedang memperhitungkan sesuatu di dalam kepalanya.
“Kalau aku mau membantu menyempurnakan kebohonganmu ini, apa untungnya buatku?” tanya Rendra tiba-tiba.
Aku mengernyitkan alis, menatapnya bingung. “Maksud Mas apa? Kamu mau dibayar?”
Rendra terkekeh tipis—sebuah tawa kecil yang hampir tak terdengar namun sanggup membuat tenggorokanku mendadak kering.
“Bukan uang,” jawabnya datar.
“Lalu?” tanyaku heran. “Kita bahkan tidak saling kenal!”
Rendra melangkah satu pijakan lebih dekat padaku. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang membuatku harus mendongak untuk menatap matanya.
“Namamu siapa?” tanya Rendra pelan.
“Nadine,” jawabku spontan. “Nadine Prameswari.”
“Baik, Nadine,” ucap Rendra, menganggukkan kepalanya perlahan. “Penawaran saya sederhana. Jadilah pacarku selama sebulan.”
Mataku melotot lebar seolah mau melompat keluar dari tempatnya. “Apa?! Jadilah pacarmu? Mas Rendra… kamu ini gila ya? Kamu baru saja ditembak dadakan jadi pacar palsu di pesta, dan sekarang kamu malah mengajakku pacaran palsu beneran selama sebulan?!”
“Saya tidak bercanda,” tegas Rendra, raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan main-main. “Kamu butuh pacar untuk menghindari tekanan keluargamu, dan saya butuh seseorang untuk alasan tertentu.”
“Alasan apa?” cecarku penuh curiga.
“Itu bukan urusanmu,” potong Rendra cepat dan dingin. “Urusanmu hanya tampil sebagai pacar yang meyakinkan di depan orang-orang yang perlu kita yakinkan. Hanya sebulan. Setelah itu, kita berpisah baik-baik tanpa ada dendam.”
Aku berdiri terpaku di tempatku. Otakku berputar cepat mencoba mencerna situasi gila yang sedang kuhadapi ini. Di satu sisi, ide ini benar-benar tidak masuk akal dan berbahaya. Namun di sisi lain… membayangkan wajah Ibu yang bangga dan Tante Siska yang bungkam membuat kebohongan ini terasa begitu menggiurkan.
“Hanya sebulan?” tanyaku memastikan dengan suara ragu.
“Hanya sebulan,” ulang Rendra mantap.
“Tidak ada kontak fisik yang berlebihan?” tambahku memberi syarat.
“Saya tidak tertarik menyentuhmu tanpa izin,” jawabnya datar tanpa beban.
Aku menarik napas panjang, lalu mengembaskannya perlahan. Keputusasaanku akhirnya menang melawan akal sehat.
“Deal,” ucapku sambil mengulurkan tangan. “Sebulan saja, Mas Rendra.”
Rendra menatap tanganku yang terulur, lalu menjabatnya erat dengan genggaman yang mantap dan hangat.
“Panggil saya Rendra,” bisiknya pelan saat melepaskan genggamannya. “Pacar tidak memanggil pasangannya dengan sebutan ‘Mas’ secara kaku.”
Sebelum aku sempat membalas perkataannya, ponsel di dalam tas kecilku bergetar hebat. Nama Ibu tertera jelas di layarnya.
“Halo, Bu?” jawabku gagap.
*”Nadine! Kamu di mana? Ini Rendra mana? Ibu mau ajak kalian foto keluarga bareng pengantin!”* seru Ibu dari seberang telepon dengan suara bersemangat.
Aku menatap Rendra yang kini menatapku balik dengan senyuman tipis yang tak tertebak maknanya. Sandiwara gila ini resmi dimulai malam ini.
-BERSAMBUNG-