Pacar Palsu yang Malah Jatuh Cinta - Bab 2
Seminggu berlalu sejak kesepakatan itu dibuat.
Naya harus mengakui satu hal: Arga menjalankan perannya dengan sangat luar biasa. Bahkan, terlalu luar biasa sampai Naya sering lupa batas antara pura-pura dan kenyataan.
Siang itu di sebuah kedai kopi dekat kantor, Arga duduk di hadapan Naya. Tanpa diminta, laki-laki itu menggeser cangkir kopi ke arah Naya.
“Oat milk latte, gula satu. Benar, kan?” tanya Arga.
Naya menatap cangkirnya, lalu menatap Arga. “Kamu masih hapal?”
“Aku hapal semua yang kamu makan dan minum dari dua tahun lalu, Nay,” jawab Arga santai sambil menyesap kafenya. “Bukan cuma pesanan kopi kamu.”
“Gaya kamu kayak pacar beneran aja,” celetuk Naya sambil tersenyum tipis.
“Kan emang tuntutan peran,” balas Arga terkekeh. Namun matanya menatap Naya tanpa berkedip. “Lagian, bukannya bagus kalau detail kecil begini bikin akting kita rapi?”
Sebelum Naya sempat menjawab, suara langkah kaki mendekati meja mereka.
“Naya?”
Naya menoleh. “Eh, Rio!”
Rio, rekan satu tim Naya untuk proyek desain acara kantor bulan depan, berdiri di samping meja mereka dengan senyum lebar. Rio adalah tipikal pria ramah, percaya diri, dan mudah akrab dengan siapa saja.
“Ternyata kamu di sini,” kata Rio gembira. “Aku cariin di kantor tadi. Soal konsep dekorasi panggung kemarin, aku udah revisi. Mau dibahas sekarang?”
“Oh, boleh banget!” sahut Naya antusias. Dia hendak menggeser duduknya, namun dehaman pelan dari Arga menghentikan gerakannya.
Rio menoleh ke arah Arga. “Eh, ada temannya ya? Maaf mengganggu.”
“Bukan teman,” potong Arga cepat. Suaranya terdengar dingin, jauh dari nada santainya yang biasa. “Aku pacarnya.”
Rio sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan sambil mengulurkan tangan. “Oh, halo. Saya Rio, rekan kerjanya Naya.”
Arga menerima uluran tangan itu, membalas genggamannya cukup erat selama dua detik sebelum melepaskannya. “Arga.”
“Nay, nanti sore pulangnya bareng aku aja sekalian ya?” tawar Rio pada Naya, tidak menyadari tensi tipis di meja itu. “Biar kita bisa mampir ke vendor cetak.”
“Eh, boleh—”
“Nggak usah,” potong Arga lagi.
Naya dan Rio sama-sama menatap Arga.
“Naya pulang sama aku sore ini,” lanjut Arga dengan wajah tanpa ekspresi. “Udah janji dari kemarin.”
Naya mengerutkan dahi. Seingatnya mereka tidak punya janji apa pun sore ini. Namun menatap raut muka Arga yang mendadak keras, Naya memilih tidak membantah di depan Rio.
“Ah, begitu ya. Ya udah deh, nanti kita bahas di kantor aja besok ya, Nay,” ucap Rio santai. “Saya pamit duluan ya. Duluan, Bro.”
Arga hanya mengangguk singkat tanpa senyum.
Setelah Rio berjalan jauh keluar dari kedai kopi, Naya melipat kedua tangannya di atas meja. Dia menatap sahabatnya itu dengan pandangan menyelidik.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Naya.
“Kenapa apanya?” Arga kembali menyesap kopinya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Sikap kamu ke Rio tadi judes banget. Dan sejak kapan kita ada janji pulang bareng sore ini?”
“Aku cuma nggak mau kamu repot,” jawab Arga datar.
Naya menyandarkan badannya ke kursi. Ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman jahil.
“Jangan-jangan kamu cemburu?” goda Naya.
Gerakan tangan Arga yang hendak meletakkan cangkir mendadak berhenti. Matanya menatap Naya tajam.
“Ngapain aku cemburu?”
“Ya… karena aku dekat sama Rio?” Naya menaikkan kedua alisnya. “Ingat aturan nomor tiga, Pak Arga. Nggak boleh cemburu.”
Arga meletakkan cangkirnya agak keras ke atas piring kecil.
“Aku nggak cemburu,” kata Arga pelan namun penekanannya terasa kuat. “Aku cuma nggak suka lihat dia terlalu dekat sama kamu.”
Naya terdiam. Senyum godaannya perlahan menghilang.
“Bedanya apa, Arga?” tanyanya pelan.
Arga tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela luar kedai kopi, menolak menatap mata Naya.
Dua hari kemudian, situasi bukannya membaik justru semakin rumit.
Sore itu, Naya baru saja keluar dari gedung kantornya bersama Rio. Mereka berjalan sambil tertawa membicarakan lelucon konyol klien.
Di tempat parkir, Dimas ternyata sudah berdiri menunggu di dekat mobil Naya. Dan tak jauh dari sana, Arga juga baru tiba dengan motornya untuk menjemput Naya.
Dimas melangkah menghadang Naya dan Rio.
“Nay, aku mau bicara,” kata Dimas.
“Dimas, mau berapa kali aku bilang? Cukup,” tegas Naya.
Dimas menatap Rio, lalu menatap Arga yang baru saja turun dari motor dan melangkah mendekat.
Dimas tertawa sinis ke arah Arga. “Kasihan banget kamu, Ga.”
Arga menghentikan langkahnya di samping Naya. “Maksud kamu apa?”
“Kamu rela pura-pura jadi pacar Naya, padahal Naya sendiri santai aja jalan dan ketawa-ketawa sama cowok lain,” tunjuk Dimas pada Rio. “Kamu cuma dimanfaatin sama dia biar aku menjauh. Naya itu nggak pernah beneran punya perasaan sama kamu.”
Kata-kata itu menghantam udara dengan keras.
Naya menegang. “Dimas! Jaga mulut kamu!”
“Kenapa? Benar, kan?” sergah Dimas. “Kalian itu cuma akting. Dan kamu, Nay, kamu cuma manfaatin Arga karena tahu dia bakal selalu turuti kemauan kamu!”
Naya menoleh cepat ke arah Arga. “Ga, jangan dengar kata-kata dia. Itu nggak benar—”
Naya terhenti saat melihat ekspresi Arga. Tidak ada amarah di wajah laki-laki itu. Yang ada hanya tatapan lelah dan terluka yang teramat sangat.
“Aku pulang duluan,” kata Arga pelan.
“Ga, tunggu!” Naya menahan lengan Arga. “Arga, plis.”
Arga melepas genggaman tangan Naya dengan sangat pelan, namun terasa begitu menyakitkan.
“Rio,” panggil Arga menatap rekan kerja Naya itu. “Tolong titip Naya. Antar dia pulang sampai rumah.”
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Arga berbalik, naik ke atas motornya, dan berlalu pergi meninggalkan tempat parkir.
Malam harinya, Naya tidak bisa tidur. Bayangan tatapan mata Arga terus membayanginya.
Akhirnya, jam sembilan malam, Naya mengendarai mobilnya menuju kosan Arga. Dia tidak peduli jika ini terlalu larut. Dia harus meluruskan semuanya.
Naya menekan bel pintu apartemen Arga berkali-kali sampai pintu kayu itu terbuka.
Arga berdiri di sana dengan kaos hitam polos dan celana santai. Wajahnya tampak lesu.
“Nay? Ada apa malam-malam—”
Naya menerobos masuk tanpa menunggu diundang. Dia berbalik menghadap Arga yang baru saja menutup pintu.
“Kenapa kamu menjauh?” tanya Naya langsung. Suaranya sedikit bergetar. “Kenapa dari tadi sore pesan aku nggak dibalas? Telepon aku diputus?”
Arga menyandarkan tubuhnya di dekat pintu. Dia mengusap wajahnya kasar. “Aku cape, Nay.”
“Cape kenapa? Karena kata-kata Dimas?” cecar Naya melangkah mendekat. “Aku minta maaf kalau pura-pura jadi pacar aku bikin kamu serba salah. Tapi kamu bisa ngomong baik-baik, bukan malah ngindarin aku kayak gini!”
Arga menatap Naya. Pandangannya begitu dalam dan tajam, membuat napas Naya tertahan di tenggorokan.
“Kamu mau tahu kenapa aku menjauh?” tanya Arga, suaranya parau.
Naya menelan ludah. “Iya.”
Arga melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini begitu dekat.
“Karena aku mulai lupa kalau kita cuma pura-pura, Naya,” aku Arga jujur. Kata-kata itu keluar tanpa benteng pertahanan lagi.
Dada Naya berdegup kencang serasa mau melompat keluar.
Arga menatap mata Naya dengan tatapan paling rapuh yang pernah Naya lihat dari laki-laki itu.
“Dan aku nggak tahu gimana caranya berhenti.”
Naya mematung di tempatnya. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Dia ingin menjawab, namun tenggorokannya mendadak terasa amat kering.
-BERSAMBUNG-