Pacar Palsu yang Malah Jatuh Cinta - Bab 1

  1. Home
  2. Pacar Palsu yang Malah Jatuh Cinta
  3. Bab 1 - Aku Cuma Butuh Pacar Palsu
Next

“Naya, tolong. Satu kali ini aja,” ucap Dimas.

Naya menghentikan langkahnya di depan kafe. Dia menghela napas panjang sebelum berbalik menatap mantannya itu.

“Dimas, kita udah putus tiga bulan yang lalu,” kata Naya. Suaranya tenang, tapi tegas.

“Aku tahu aku salah. Tapi aku bisa berubah, Nay.” Dimas mencoba meraih tangan Naya.

Naya langsung menarik tangannya mundur.

“Nggak ada yang perlu diubah. Kita emang udah selesai,” balas Naya.

“Kamu cuma masih emosi, kan?” Dimas tersenyum tipis, meremehkan. “Aku kenal kamu, Nay. Kamu nggak bakal bisa cepat-cepat cari pengganti aku.”

Naya mengepalkan tangannya. Rasa kesal yang menumpuk selama tiga bulan terakhir serasa ingin meledak.

“Siapa bilang?” sahut Naya cepat.

Alis Dimas terangkat. “Maksud kamu?”

“Aku udah punya pacar baru.”

Dimas tertawa pelan. Rasa tidak percaya terpancar jelas dari wajahnya. “Jangan bohong. Siapa? Coba kenalin ke aku sekarang kalau emang ada.”

“Dia… dia lagi parkir mobil,” dalih Naya asal.

“Oke, aku tunggu,” tantang Dimas sambil melipat kedua tangannya di dada. “Kalau dalam lima menit cowok itu nggak muncul, berarti kamu cuma ngarang.”

Jantung Naya berdegup kencang. Dia merogoh ponsel di tasnya dengan jemari yang sedikit gemetaran. Hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya saat ini. Seseorang yang selalu bisa dia andalkan.

Naya mengetik pesan singkat dengan cepat.

Arga, tolongin aku. Masuk ke kafe depan kantor kamu sekarang. Anggap kamu pacar aku. Plis.

Tidak sampai sepuluh detik, ponselnya bergetar.

Hah? Pacar? Kamu kesurupan apa gimana?

Naya membalas lagi.

Ada Dimas. Dia nggak mau pergi. Tolong, Ga. Nanti aku jelasin.

Sebuah tanda centang biru berubah menjadi dibaca. Namun, tidak ada balasan lagi. Naya menggigit bibir bawahnya. Apakah Arga menolak?

“Mana pacar kamu?” tanya Dimas, menatap jam tangannya. “Udah tiga menit, Nay.”

“Sabar napas napa,” sahut Naya berpura-pura tenang, meski peluh dingin mulai keluar di tengkuknya.

Pintu kaca kafe mendadak terbuka. Lonceng di atas pintu berdenting nyaring.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang gulungan lengannya sampai ke siku melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan sebelum akhirnya mengunci ke arah Naya.

Arga.

Naya menahan napas saat Arga berjalan mendekat. Langkah kakinya santai, wajahnya tenang seperti biasa. Namun ada tatapan berbeda yang sulit diartikan di matanya.

“Maaf ya, sayang. Tadi susah banget dapat parkiran,” kata Arga tiba-tiba begitu sampai di samping Naya.

Naya mematung. Kata ‘sayang’ yang keluar dari mulut Arga terasa sangat asing, tapi efeknya berhasil membuat dada Naya berdesir.

Tanpa ragu, Arga melingkarkan tangannya di pinggang Naya. Dia menarik tubuh Naya sedikit lebih dekat ke sisinya.

“Kamu siapa?” tanya Dimas dengan nada tidak suka.

Arga menatap Dimas datar. “Harusnya aku yang tanya. Kamu siapa, berdiri dekat-dekat sama pacar aku?”

“Aku Dimas. Mantan pacar Naya.”

“Oh, mantan,” jawab Arga santai. Nada suaranya menekankan kata ‘mantan’ dengan sangat jelas. “Ada urusan apa ya sama pacar aku sekarang?”

“Aku cuma mau ngobrol sama Naya. Tapi dia malah bawa-bawa kamu buat bikin aku cemburu,” celekit Dimas.

Arga tersenyum tipis. Dia menunduk sedikit untuk menatap Naya yang masih kaku di sampingnya.

“Bikin kamu cemburu?” Arga menatap Dimas kembali. “Kayaknya kamu terlalu percaya diri. Naya nggak perlu bikin kamu cemburu. Dia cuma mau kamu paham kalau tempat kamu itu udah di masa lalu.”

Dimas mengepalkan jemarinya. “Aku nggak percaya kalian pacaran. Kapan jadiannya? Naya nggak pernah cerita ke siapa-siapa.”

Arga mengusap bahu Naya dengan lembut. Usapan yang sangat alami, seolah dia sudah terbiasa melakukannya ratusan kali.

“Memangnya semua hal tentang Naya harus izin ke kamu?” tanya Arga retoris. “Sekarang, bisa tolong tinggalkan kami? Kami mau jalan.”

Dimas menatap Naya dan Arga bergantian dengan raut wajah keras. “Ini belum selesai, Nay.”

Dimas akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kafe dengan gusar.

Begitu sosok Dimas benar-benar hilang di balik pintu kaca, Naya menghembuskan napas lega yang panjang. Tubuhnya yang tadinya tegang mendadak lemas.

“Makasih banyak, Ga. Kamu benar-benar penyelamat,” kata Naya sambil berbalik menghadapi sahabatnya itu.

Namun, Arga masih berdiri di tempatnya. Tangannya masih bertengger santai di pinggang Naya.

Naya menunduk menatap tangan Arga, lalu menatap wajah Arga lagi.

“Ga?” panggil Naya.

“Ya?”

“Tangan kamu.”

Arga menunduk. Dia baru menyadari bahwa jemarinya masih merengkuh pinggang Naya dengan erat. Dengan cepat, Arga menarik tangannya kembali dan memasukkannya ke dalam saku celana.

“Sori,” kata Arga. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada sapuan warna merah tipis di ujung telinganya. “Terbawa suasana.”

“Akting kamu hebat banget,” puji Naya mencoba mencairkan kecanggungan mendadak di antara mereka. “Kata ‘sayang’-nya dapet banget lagi.”

“Namanya juga bantu sahabat,” sahut Arga santai. “Tapi kenapa harus bohong begitu sama Dimas?”

“Dia nggak mau lepas, Ga. Dia pikir aku bakal selalu nunggu dia,” jelas Naya gusar. “Satu-satunya cara biar dia berhenti ya dengan tahu aku udah punya pacar.”

Arga menyandarkan punggungnya ke meja terdekat. “Terus sekarang gimana? Kalau dia ngeliat kamu jalan sendirian besok-besok, bohong kamu terbongkar.”

Naya menggigit bibirnya. “Makanya… aku mau minta tolong satu hal lagi.”

“Apa?”

“Bantu aku pura-pura jadi pacar aku. Cuma sebentar. Sampai Dimas benar-benar menyerah.”

Arga terkekeh pelan. “Kamu gila ya? Kita ini berteman udah empat tahun, Nay.”

“Cuma pura-pura, Arga! Kita bikin aturan,” desak Naya. “Pertama, ini cuma akting di depan orang lain. Kedua, nggak boleh ada perasaan. Ketiga, nggak boleh cemburu. Setelah Dimas pergi, kita balik jadi sahabat kayak biasa.”

Arga menatap Naya cukup lama. Pandangannya sulit ditebak.

“Nggak boleh ada perasaan?” ulang Arga.

“Iya. Kamu sanggup, kan?”

Arga menghela napas panjang lalu terkekeh pendek. “Ya sanggup-lah. Lagian siapa juga yang mau naksir kamu.”

“Ih, sialan,” umpat Naya sambil memukul pelan lengan Arga.

Ponsel Naya di atas meja mendadak bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Dimas.

Naya membuka pesan itu dan membacanya keras-keras.

“Aku tahu kamu cuma minta tolong sama Arga. Aku bakal cari tahu sejak kapan kalian dekat.”

Naya menepuk dahinya. “Kan. Dia nggak gampang percaya.”

Arga merebut ponsel dari tangan Naya, membaca pesan itu sebentar, lalu mengembalikannya.

“Terus kamu mau jawab apa?” tanya Arga.

“Nggak tahu. Aku bingung,” keluh Naya.

Arga melangkah mendekat. Dia memangkas jarak di antara mereka hingga Naya harus mendongak untuk menatap matanya.

“Kalau dia mau bukti, kasih aja,” kata Arga pelan.

Naya menatap mata Arga yang pekat. “Bukti apa?”

Arga menunduk sedikit, menyajajarkan wajahnya dengan Naya. Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Naya bisa merasakan hembusan napas Arga di pipinya.

“Kalau mau bikin dia percaya,” bisik Arga dengan suara berat yang belum pernah Naya dengar sebelumnya, “kita harus kelihatan kayak pasangan sungguhan. Dan mulai detik ini, aku nggak bakal akting setengah-setengah.”

Naya tertegun. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Tak Terduga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita