Pacar Palsu yang Malah Jatuh Cinta - Bab 3
- Home
- Pacar Palsu yang Malah Jatuh Cinta
- Bab 3 - Kali Ini Aku Benar-Benar Jatuh Cinta
Hening mencekam ruangan itu selama beberapa saat.
Arga menghela napas pendek saat melihat Naya yang hanya diam seribu bahasa. Senyum pahit terukir di bibirnya.
“Maaf,” kata Arga pelan. “Harusnya aku nggak ngomong gitu. Kamu pulang aja ya, udah malam.”
Arga berbalik hendak berjalan menuju kamarnya, namun Naya bertindak lebih cepat.
Naya meraih pergelangan tangan Arga. Genggamannya erat.
Arga menghentikan langkahnya tanpa berbalik. “Nay…”
“Jangan jalan duluan kalau aku belum selesai bicara,” kata Naya. Suaranya tidak lagi bergetar. Ada kepastian yang jelas di sana.
Arga perlahan memutar tubuhnya kembali menghadap Naya.
Naya menatap laki-laki di hadapannya. Laki-laki yang selama empat tahun ini selalu ada untuknya. Yang selalu paham kapan dia sedang sedih tanpa perlu dia cerita. Yang selalu menyiapkan kopi kesukaannya tanpa perlu diminta. Dan laki-laki yang seminggu terakhir ini membuat dadanya berdesir hebat setiap kali mereka berdekatan.
“Waktu kamu jalan pergi tadi sore,” mulai Naya pelan, “aku sadar satu hal.”
Arga diam menyimak.
“Aku takut banget,” lanjut Naya. “Tapi bukan takut sama Dimas. Aku takut kamu benar-benar hilang dari hidup aku.”
“Nay, aku cuma—”
“Dengar dulu, Arga,” potong Naya tegas. Tangannya berpindah, menggegam kedua telapak tangan Arga. “Kita emang mulai semua ini dari kebohongan. Kita bikin aturan tolol supaya nggak ada yang terluka.”
Naya menatap lurus ke dalam mata Arga.
“Tapi aku salah. Aku melanggar aturan itu duluan.”
Alis Arga bertaut. “Maksud kamu?”
“Aku nggak pura-pura waktu aku merasa nyaman kamu gandeng. Aku nggak pura-pura waktu aku kesal kamu dingin ke aku di kafe kemarin. Dan aku benar-benar cemas waktu tahu kamu terluka karena kata-kata Dimas.”
Arga menatap Naya tidak percaya. “Jangan ngomong gini cuma karena kamu merasa bersalah, Nay.”
“Aku nggak lagi merasa bersalah!” sergah Naya gemas. “Kamu pikir aku sudi malam-malam datang ke tempat cowok cuma buat kasihan?”
Arga tertegun.
“Aku datang ke sini karena aku sadar…” Naya mengambil napas panjang, meredakan ketegangan di dadanya. “Aku nggak mau kamu cuma jadi pacar bohong-bohongan aku.”
Arga menatap wajah Naya lama sekali, mencari tanda-tanda keraguan di sana. Namun yang ditemukannya hanyalah kehangatan dan kesungguhan.
“Jadi…” suara Arga terdengar pelan, “sekarang aku masih pacar palsu kamu?”
Naya menggelengkan kepalanya pelan. Senyum manis akhirnya terbit di bibirnya.
“Nggak.”
“Terus?”
Naya maju satu langkah, mengikis habis jarak di antara mereka. Dia mendongak, menatap pria yang kini mengisi penuh hatinya.
“Mulai sekarang, aku mau kamu jadi pacar aku beneran. Tanpa kontrak, tanpa aturan, dan tanpa bohong-bohong lagi.”
Raut wajah Arga yang tadinya tegang perlahan melunak. Kehangatan yang familiar kembali menyelimuti matanya. Sebuah senyuman lega—senyuman paling tulus yang pernah Naya lihat—terukir di wajah tampan itu.
Arga menarik Naya ke dalam pelukannya. Dia merengkuh tubuh Naya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Naya. Naya bisa merasakan hembusan napas lega Arga di sana, sebelum tangannya sendiri terangkat membalas pelukan itu tak kalah erat.
“Kamu tahu nggak?” bisik Arga di telinga Naya.
“Apa?”
“Aturan nomor dua yang kamu bikin minggu lalu itu…”
Naya melepas pelukan sedikit untuk menatap Arga. “Kenapa?”
Arga tersenyum tipis, jemarinya merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Naya.
“Aturan itu udah gagal bahkan sebelum kita mulai,” aku Arga pelan.
Naya membelalakkan matanya ragu. “Maksud kamu?”
“Aku udah naksir kamu dari dua tahun lalu, Naya. Kamu aja yang terlalu cuek buat nyadar.”
Naya melotot, rasa hangat dan kaget bercampur menjadi satu di dadanya. “Serius?! Terus kenapa kamu nggak pernah ngomong?”
“Gengsi-lah,” jawab Arga santai sambil terkekeh. “Lagian dulu kamu masih sama Dimas.”
Naya memukul dada Arga pelan, membuat laki-laki itu tertawa renyah. Suara tawa yang sangat Naya rindukan selama beberapa hari terakhir.
“Berarti dari awal kamu setuju jadi pacar palsu itu… ada niat terselubung ya?” tuduh Naya berpura-pura curiga.
Arga memegang tangan Naya yang berada di dadanya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut.
“Bukan niat terselubung,” ralat Arga lembut. Matanya menatap Naya penuh kasih. “Cuma memanfaatkan kesempatan.”
Naya tertawa pelan. Dia menyandarkan kepalanya di dada Arga, mendengarkan detak jantung laki-laki itu yang berdegup kencang—sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.
Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu, tidak ada lagi kecemburuan yang dipendam, dan tidak ada lagi kepura-puraan.
“Makasih ya, Ga,” bisik Naya.
“Buat apa?”
“Buat nggak pernah capek ada di samping aku.”
Arga mengecup puncak kepala Naya dengan mesra. “Sama-sama, Pacar.”
Naya mendongak dan tersenyum lebar. “Dengernya aneh, tapi aku suka.”
“Yee… dasar,” ledek Arga sambil mengacak rambut Naya gemas.
Malam itu, di bawah remang lampu ruangan, mereka berdua tahu bahwa kisah yang dimulai dari sebuah kebohongan kecil telah menemukan akhir terbaiknya dalam sebuah kebenaran yang nyata.
-TAMAT-