Pacar Kontrakku Terlalu Serius - Bab 2

  1. Home
  2. Pacar Kontrakku Terlalu Serius
  3. Bab 2 - Kenapa Kamu Cemburu?
Prev
Next

Livia menatap Revan dengan pandangan tidak percaya. Udara malam yang dingin terasa mendadak membeku di antara mereka.

“Revan, kamu sadar nggak baru bilang apa?” tanya Livia, suaranya naik satu oktav.

Revan membuang muka sejenak, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas atap mobilnya sebelum kembali menatap Livia. “Aku sadar.”

“Kita ini cuma pacar kontrak!” bisik Livia penuh penekanan. “Perjanjian kita cuma tiga bulan, dan tujuannya cuma buat bikin Dito menjauh. Kamu nggak punya hak buat cemburu atau ngatur-ngatur aku pergi sama siapa!”

Revan tidak membalas. Dia hanya menatap Livia dengan mata kelabunya yang dalam, menyimpan emosi yang sulit diartikan.

“Aku pulang dulu. Makasih udah mampir, tapi tolong ingat batasan kamu,” kata Livia dingin. Dia segera berbalik, membuka pintu pagar rumahnya, dan masuk tanpa menoleh lagi.

Sejak malam itu, Livia mulai sengaja menjaga jarak. Dia tidak membalas pesan-pesan perhatian dari Revan dengan cepat. Jika Revan bertanya apakah dia sudah makan, Livia hanya membalas dengan satu kata: Sudah.

Namun bukannya menjauh, Revan justru semakin gencar menunjukkan keberadaannya.

Hari Selasa sore, Livia baru saja selesai menghadiri rapat dengan klien di sebuah kedai kopi daerah Selatan. Saat hendak keluar, dia terkejut menemukan Dito sudah berdiri di dekat mobilnya.

“Liv, tolong dengarin aku dulu,” cegat Dito sambil menahan pintu mobil Livia. “Aku tahu kamu cuma manfaatin cowok itu buat bikin aku cemburu, kan? Siska nggak sengaja keceplosan kemarin!”

Livia mendelik kesal. Awas kamu ya, Siska! batinnya menjerit.

“Dito, lepasin tangan kamu! Mau siapa pun dia, aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama kamu!” dorong Livia.

“Liv, kita udah tiga tahun pacaran! Kamu nggak bisa gitu aja menggantikan aku sama cowok cuek yang bahkan nggak kelihatan cinta sama kamu itu!” Dito menggenggam pergelangan tangan Livia cukup keras.

“Lepasin tangan kamu dari dia.”

Sebuah suara dingin dari arah belakang membuat Dito dan Livia serentak menoleh.

Revan berdiri di sana. Kemeja kerjanya sedikit berantakan, dan raut wajahnya tampak sangat gelap. Tanpa membuang waktu, Revan melangkah cepat dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Dito, memaksa pria itu melepaskan cengkeramannya dari Livia.

Revan menepis tangan Dito dengan kasar lalu menarik Livia ke belakang tubuhnya.

“Dia masih mengganggumu?” tanya Revan pada Livia tanpa mengalihkan pandangannya dari Dito.

“Revan, kamu ngapain di sini…” bisik Livia cemas.

“Bukan urusanmu,” jawab Livia spontan pada Dito yang kini menatap Revan dengan amarah menumpuk.

Revan menoleh sekilas pada Livia, matanya menatap tajam. “Sekarang aku pacarmu, Liv.”

Livia membalas tatapan itu dengan keberanian yang dipaksakan. “Pacar kontrak, Revan. Inget?”

Kata-kata itu mendarat telak. Revan terdiam seketika. Rahangnya menegang keras, dan kilat terluka melintas di matanya sebelum dia kembali menguasai diri.

Dito yang melihat ketegangan di antara mereka tiba-tiba tertawa sinis. Dia mengusap pergelangan tangannya yang dipelintir Revan tadi.

“Kamu dengar itu, kan?” ejek Dito pada Revan. “Kamu cuma mainan sementara buat dia. Kamu tahu kan? Setelah kontrak konyol kalian selesai, Livia bakal balik sendiri lagi. Dan saat itu tiba, aku yang bakal ada di samping dia.”

Revan tidak membalas ejekan Dito. Pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah Dito. Dia hanya terus menatap Livia yang kini tertunduk di belakang tubuhnya.

“Ayo pulang,” kata Revan pelan. Dia menggenggam jemari Livia—kali ini bukan dengan kepura-puraan yang biasa mereka tunjukkan di depan orang lain, melainkan dengan genggaman erat yang hangat dan protektif.

Dito hendak menyela, namun Revan menatapnya dengan ancaman tersirat yang begitu pekat hingga Dito terpaksa mundur beberapa langkah. Revan membukakan pintu mobil untuk Livia, memastikannya masuk, lalu mengunci pintu dari luar sebelum berjalan ke kursi pengemudi.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil benar-benar hening. Hanya suara wiper yang menyapu gerimis tipis di kaca depan.

“Kenapa kamu tahu aku ada di kafe itu?” tanya Livia membuka suara.

“Siska yang kasih tahu,” jawab Revan pendek.

Livia menghela napas. “Kamu nggak perlu datang dan kasar kayak tadi sama Dito. Aku bisa ngatasin dia sendiri.”

“Kamu nggak bisa,” potong Revan datar. “Dia megang tangan kamu sampai merah gitu.”

Livia melirik pergelangan tangannya yang memang sedikit berbekas merah. Dia terkejut Revan memperhatikan detail kecil itu.

Dua hari kemudian, Livia mendadak demam tinggi akibat kelelahan dan tertembak hujan. Dia meringkuk di dalam selimut di kamarnya, sendirian karena orang tuanya sedang berada di luar kota.

Pukul dua siang, bel rumahnya berbunyi. Dengan tubuh lemas, Livia berjalan membukakan pintu.

Revan berdiri di ambang pintu membawa kantong plastik berisi bubur ayam panas dan kantong obat dari apotek. Wajah pria itu terlihat khawatir.

“Kamu ngapain di sini? Ini kan jam kerja,” bisik Livia dengan suara serak.

“Aku ijin keluar,” jawab Revan santai. Dia melangkah masuk tanpa menunggu diundang, membimbing Livia kembali ke kamarnya, lalu menyelimuti wanita itu.

Revan duduk di tepi ranjang, menyuapkan bubur hangat itu sendok demi sendok kepada Livia dengan sangat telaten. Dia bahkan menempelkan plester penurun panas di dahi Livia.

“Kamu membatalkan urusan kantor cuma buat ini?” tanya Livia terharu bercampur bingung sewaktu Revan mengusap sisa air di sudut bibirnya.

“Iya.”

“Kenapa, Van? Kenapa kamu melakukan semua ini? Ini udah jauh melenceng dari kesepakatan kita.”

Revan meletakkan mangkuk bubur ke meja samping tempat tidur. Dia menatap Livia yang berbaring lemas.

“Karena aku peduli,” jawab Revan sederhana.

Livia menatap mata pria di hadapannya. Hatinya bergetar hebat. Rasa nyaman yang berbahaya mulai merayapi dadanya, namun ketakutan akan penolakan dan kepura-puraan membuatnya menahan diri.

Livia menatap Revan lurus-lurus, memberanikan diri menyuarakan pertanyaan yang selama ini menyiksanya.

“Kalau kontraknya selesai… kamu masih akan peduli?” tanya Livia lirih.

Revan terdiam cukup lama. Tatapannya terkunci pada wajah Livia, membiarkan keheningan kamar menjadi saksi kebingungan yang melingkupi pikiran pria itu.

Revan menghembuskan napas panjang, lalu menjawab pelan:

“Itu masalahnya.”

“Apa?” bisik Livia.

Revan menatap Livia dengan ketulusan yang telanjang.

“Aku nggak tahu caranya berhenti.”

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Segitiga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita