Pacar Kontrakku Terlalu Serius - Bab 1

  1. Home
  2. Pacar Kontrakku Terlalu Serius
  3. Bab 1 - Kita Cuma Pacar Kontrak
Next

Livia menggeser lembaran kertas HVS berisikan draf cetak sederhana di atas meja kafe. Di hadapannya, Revan duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya. Pria itu memakai kemeja kasual yang digulung sampai siku, tampak tenang seperti biasanya.

“Bisa kamu baca dulu sebelum tanda tangan?” tanya Livia. Jemarinya menunjuk beberapa poin bertinta hitam.

Revan melirik kertas itu tanpa niat mengambilnya. “Ringkasin aja. Aku malas baca bahasa hukum buatan kamu.”

“Ini bukan bahasa hukum,” dengus Livia. “Ini aturan main kita. Poin pertama, durasi kita pacaran cuma tiga bulan. Poin kedua, tugas kamu cuma berpura-pura mesra di depan Dito atau orang-orang yang kenal dia. Poin ketiga…”

Livia menatap mata kelabu milik sahabatnya itu dengan amat serius.

“Nggak boleh baper. Nggak boleh pakai perasaan.”

Revan meletakkan cangkir kopinya ke tatakan. Dia menyandarkan punggung ke kursi kayu, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan meremehkan.

“Siapa yang bilang aku bakal baper?” tanya Revan datar.

Livia tertawa kecil, rasa leganya membuncah. “Bagus. Soalnya mantan aku itu makin gila, Van. Dito kemarin bahkan nekat nungguin aku di parkiran kantor jam delapan malam. Kalau dia nggak liat aku udah punya pacar baru yang lebih… yah, bisa diandelin, dia nggak bakal berhenti ngerepotin aku.”

“Jadi aku cuma alat peraga?”

“Sebut aja mitra kerja sama mutually beneficial,” balas Livia cengengesan. “Kamu dapet traktiran makan gratis tiap minggu dari aku, dan aku dapet ketenangan hidup. Deal?”

“Deal,” sahut Revan pendek.

Tepat saat Revan meraih pulpen di atas meja untuk menandatangani kertas itu, pintu kaca kafe berdenting. Livia menoleh ke arah pintu dan seketika tubuhnya menegang.

Dito melangkah masuk. Mantannya itu mengenakan kemeja kerja yang sedikit kusut, matanya mengedar menelusuri ruangan sampai akhirnya mengunci pandangan ke arah meja Livia.

“Bagus,” bisik Livia panik. “Peran kamu dimulai sekarang.”

Sebelum Livia sempat mengatur napas, tangan kanan Revan sudah terulur ke atas meja. Jemarinya yang hangat dan kokoh menggenggam erat jemari Livia. Revan menarik tangan Livia pelan, membawanya mendekat ke bibirnya untuk memberikan satu usapan lembut dengan ibu jarinya.

Livia hampir tersedak ludahnya sendiri.

“Relaks, Sayang,” bisik Revan, suaranya mendadak berubah menjadi jauh lebih berat dan hangat. “Mukamu tegang banget.”

“Kamu nggak perlu manggil ‘Sayang’ jam segini!” bisik Livia lewat celah giginya yang rapat.

Dito sudah sampai di samping meja mereka. Wajah pria itu berubah keruh melihat jemari mereka yang saling bertaut di atas meja.

“Livia?” panggil Dito. “Kamu… kamu sama siapa?”

Revan tidak langsung mendongak. Dia lebih dulu membetulkan posisi duduknya, lalu dengan santai merangkul bahu Livia dan menarik tubuh wanita itu agar bersandar ke dada bidangnya. Aroma parfum woody milik Revan yang khas langsung menusuk indra penciuman Livia, membuat jantung Livia melonjak kaget.

“Sayang, kamu mau makan apa lagi?” tanya Revan pada Livia, mengabaikan kehadiran Dito sepenuhnya. “Cokelat panas lagi kayak biasanya?”

Livia membelalakkan mata. Dia menahan napas sewaktu merasakan remasan lembut Revan di bahunya. “E-eh… iya. Boleh.”

Baru setelah itu Revan mendongak, menatap Dito dengan ekspresi cuek dan dingin. “Ada perlu apa ya sama pacar saya?”

Dito menatap Revan dari atas ke bawah, terlihat terkejut sekaligus tidak senang. “Pacar? Liv, kamu bercanda, kan? Tiga minggu lalu kita baru putus, dan sekarang kamu udah sama cowok lain?”

“Tiga minggu itu cukup lama buat menyadari kalau aku berhak dapet yang lebih baik, Dito,” jawab Livia, mencoba memberanikan diri sambil menguatkan genggaman tangannya pada kemeja Revan.

Dito mengepalkan tangannya. Dia menatap Revan dengan pandangan menilai. “Kamu tahu kan Livia itu orangnya gimana? Dia cuma lagi emosi makanya melarian ke kamu.”

Revan tersenyum tipis. Jenis senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya. “Saya lebih tahu Livia daripada yang kamu kira. Dan jujur aja, mengganggu pacar orang di tempat umum itu nggak kelihatan keren sama sekali. Jadi, bisa tolong tinggalkan meja kami?”

Suara Revan tidak keras, namun ada ketegasan di dalamnya yang membuat Dito menggeram kesal sebelum akhirnya berbalik dan pergi keluar kafe dengan langkah terburu-buru.

Setelah figur Dito benar-benar menghilang di balik pintu kaca, Livia langsung melepaskan rangkulan Revan dan menarik tubuhnya menjauh. Pipinya terasa panas.

“Kamu nggak perlu berlebihan sampai rangkul-rangkul gitu!” protest Livia sambil merapikan kemejanya.

Revan kembali menyeruput kopinya dengan santai. “Aku cuma menjalankan peran. Kalau setengah-setengah, mantan kamu nggak bakal percaya.”

“Tapi ‘Sayang’?”

“Itu imporvisasi,” jawab Revan pendek.

Livia menghela napas panjang, mencoba menetralkan degupan jantungnya yang tak beraturan. Cuma akting, batinnya menenangkan diri. Dia cuma akting.

Namun, beberapa hari setelah kejadian di kafe itu, batasan akting tersebut mulai kabur.

Revan mulai mengirimkan pesan singkat di tengah hari.

Darel—eh, Revan: Udah makan siang? Jangan terlambat makan, mag kamu gampang kumat.

Livia menatap layar ponselnya di kantor dengan dahi berkerut. Bukankah kesepakatan mereka hanya berlaku saat ada Dito atau orang lain di sekitar mereka? Kenapa pria itu harus mengirim pesan perhatian di jam kerja seperti ini?

Tidak berhenti di situ. Hari Kamis sore, hujan deras mengguyur kota. Livia berdiri di lobi kantornya sambil meratapi jemputan ojek online yang terus-terusan membatalkan pesanan. Tiba-tiba sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan lobi.

Kaca mobil menurun, memperlihatkan Revan di kursi pengemudi.

“Masuk,” katanya singkat.

Livia bergegas masuk ke dalam mobil sambil mengibaskan tetesan air hujan di lengannya. “Kamu ngapain di sini? Rumah kamu kan beda arah dari kantor aku.”

“Kebetulan lewat,” alibi Revan. Namun pandangannya tertuju pada tas belanjaan kecil di kursi belakang. “Itu ada obat flu sama teh hangat. Diminum sekarang sebelum kamu masuk angin.”

Livia tertegun. Dia menatap Revan yang kini sedang kembali fokus membelah kemacetan jalanan. Perhatian-perhatian kecil ini terasa terlalu mendetail untuk sekadar sebuah hubungan kontrak.

Malam Minggu, Livia diajak makan malam oleh Rendy, teman lamanya yang baru saja kembali dari luar negeri. Mereka makan di sebuah restoran kafe yang cukup ramah. Karena sudah lama tidak bertemu, mereka mengobrol hingga pukul sepuluh malam.

Rendy mengantarkan Livia pulang sampai ke depan pagar rumahnya.

“Makasih ya, Ren, udah dianterin,” kata Livia sambil tersenyum dari luar kaca mobil Rendy.

“Sama-sama, Liv. Nanti kita nongkrong lagi ya kalau kamu ada waktu,” sahut Rendy ceria sebelum menginjak pedal gasnya.

Livia berbalik hendak membuka pintu pagar rumahnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah sosok pria berdiri bersandar di samping mobil yang terparkir tak jauh dari rumahnya.

Revan. Pria itu berdiri di bawah pendar lampu jalanan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya gelap dan kaku.

“Revan?” Livia mengernyit heran sambil melangkah mendekat. “Kamu ngapain berdiri di malam-malam begini? Kok nggak chat aku dulu?”

Revan menatapnya lurus-lurus. Suaranya terdengar sangat dingin saat bertanya:

“Kamu dari mana?”

“Makan malam sama temen.”

“Sama siapa?”

Livia mengerutkan dahinya. Nada bicara Revan terkesan menginterogasi dan penuh ketegangan yang asing.

“Kenapa kamu tanya begitu?” tanya Livia bingung. “Lagian dia cuma temen lama aku yang baru balik dari Australia.”

Revan mengambil satu langkah mendekat. Bayangannya menutupi tubuh Livia. Pria itu terdiam sejenak, dadanya naik turun menghembuskan napas berat.

“Karena aku nggak suka lihat kamu dekat sama pria lain,” kata Revan tegas.

Livia membeku di tempatnya. Kalimat itu bergema di dadanya. Dia menatap mata Revan yang tampak bersungguh-sungguh, tanpa ada raut candaan sedikit pun.

Bukankah mereka cuma pacar kontrak?

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Segitiga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita