Pacar Kontrakku Terlalu Serius - Bab 3

  1. Home
  2. Pacar Kontrakku Terlalu Serius
  3. Bab 3 - Kontraknya Berakhir, Perasaannya Tidak
Prev
Novel Info

Tiga bulan berlalu begitu cepat.

Livia duduk di meja kerjanya, memandangi kalender meja. Hari ini adalah hari terakhir dari masa berlaku kesepakatan pacar kontrak mereka.

Perasaan Livia bertabrakan. Di satu sisi, dia merasa lega karena Dito benar-benar sudah berhenti mengganggunya sejak insiden di kedai kopi waktu itu. Namun di sisi lain, ada rasa takut yang amat sangat mendiami dadanya.

Kalimat Revan dua minggu lalu—Aku nggak tahu caranya berhenti—terus bergema di kepalanya. Apakah Revan benar-benar jatuh cinta padanya? Atau itu hanya manipulasi emosi karena mereka terlalu sering menghabiskan waktu bersama?

Livia mengambil selembar kertas HVS yang sudah dia cetak, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Pukul tujuh malam, sesuai janji mereka, Livia dan Revan bertemu di kafe yang sama tempat mereka memulai segalanya tiga bulan lalu.

Revan datang tepat waktu. Pria itu memakai jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat makin tampan. Dia duduk di hadapan Livia dan tersenyum tipis.

“Kamu mau minum apa?” tanya Revan.

“Nanti aja,” jawab Livia pelan.

Livia mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, persis seperti yang dia lakukan tiga bulan lalu. Kertas itu berisi pernyataan pengakhiran kesepakatan secara resmi.

“Tiga bulan sudah selesai,” kata Livia menatap kertas itu, menghindari kontak mata langsung dengan Revan.

Revan melirik kertas tersebut tanpa menyentuhnya. “Jadi?”

“Jadi… peran kita udah selesai. Dito udah nggak pernah hubungi aku lagi. Terima kasih banyak atas bantuan kamu selama tiga bulan ini.” Livia mencoba tersenyum formal. “Kita kembali seperti dulu. Jadi teman biasa.”

Revan menatap kertas itu cukup lama, lalu perlahan menggelengkan kepalanya.

“Aku nggak bisa,” kata Revan tegas.

Livia terkejut. Dia menatap wajah Revan yang tampak sangat tenang namun kokoh. “Kenapa?”

Revan menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Livia lurus-lurus tanpa ragu lagi. Seluruh gengsi dan penahan diri yang selama ini dia simpan rapat-rapat akhirnya dia lepas malam ini.

“Awalnya aku memang cuma mau membantu kamu,” aku Revan, suaranya terdengar begitu tulus. “Aku pikir ini cuma permainan konyol buat bikin mantan kamu pergi.”

Revan mengambil jeda sejenak, menatap jemari Livia yang tertaut tegang di atas meja.

“Tapi setiap hari aku semakin terbiasa ada di samping kamu. Aku terbiasa nungguin kamu selesai kerja, terbiasa dengar kamu cerita hal-hal random, dan terbiasa khawatir kalau kamu belum makan.”

Revan condong ke depan, memangkas jarak di antara mereka. Matanya mengunci pandangan Livia.

“Sampai akhirnya aku sadar…” Revan menahan napas sejenak. “Aku nggak lagi berpura-pura, Liv.”

Dada Livia berdesir hebat. Kata-kata yang paling ingin sekaligus paling dia takuti akhirnya terucap secara gamblang.

“Revan…” bisik Livia, suaranya bergetar. “Gimana kalau ini cuma kebiasaan? Gimana kalau kamu cuma terbawa suasana karena peran ini?”

“Ini bukan kebiasaan,” potong Revan mantap. “Aku udah tahu kamu selama berdirinya pertemanan kita. Tapi baru saat aku berhak megang tangan kamu sebagai ‘pacar’, aku sadar kalau aku nggak mau melepaskannya lagi.”

Livia terdiam. Rasa bahagia yang hangat perlahan mekar di dalam dadanya, menyapu bersih seluruh keraguan yang menyiksanya selama ini. Namun dia ingin memastikan satu hal lagi.

“Kalau aku nggak mau?” tanya Livia mencoba memuji ketegasan pria itu. “Kalau aku mau kita tetap berakhir sesuai kontrak?”

Revan menatapnya perlahan, lalu mengangguk secara dewasa.

“Aku akan terima,” jawab Revan jujur.

“Tapi?” tebak Livia melihat kilat tak menyerah di mata Revan.

Revan tersenyum tipis, jenis senyuman tampan yang selalu berhasil membuat jantung Livia melompat.

“Tapi aku tetap bakal mengejarmu. Kali ini bukan sebagai pacar kontrak, tapi sebagai Revan yang mau mendapatkan hati kamu secara sah.”

Livia tidak bisa menahannya lagi. Sebuah senyuman kecil yang manis terkembang di bibirnya. Keraguan yang membentenginya runtuh sepenuhnya.

“Kamu serius?” tanya Livia pelan.

Revan menjawab tanpa ragu: “Kali ini justru aku yang serius.”

Livia menarik kertas pengakhiran kontrak itu kembali ke arahnya. Dia meremasnya pelan lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

Revan memperhatikan gerak-gerik Livia dengan alis terangkat. “Kenapa dimasukkan lagi?”

Livia menatap Revan dengan binar mata yang ceria. “Kalau begitu, kita mulai dari awal.”

Revan tertegun sejenak sebelum bibirnya mengukir senyuman hangat. “Tanpa kontrak?”

“Tanpa kontrak,” jawab Livia mantap.

Revan tertawa kecil, rasa lega memancar jelas di wajahnya. “Berarti mulai sekarang aku boleh cemburu kalau ada cowok lain yang mendekatimu?”

Livia tertawa lepas mendengar gurauan itu. “Jangan berlebihan ya!”

“Aku usahakan,” sahut Revan terkekeh.

Livia merubah raut wajahnya menjadi sedikit lebih serius, menatap pria yang kini memegang kendali atas hatinya.

“Dan satu lagi,” kata Livia.

Revan memiringkan kepalanya. “Apa?”

“Jangan pernah pura-pura mencintaiku lagi.”

Revan mengulurkan tangannya ke atas meja. Kali ini, tanpa ada keraguan atau aturan hukum buatan, dia menggenggam jemari Livia dengan erat dan hangat.

“Aku nggak perlu pura-pura lagi,” bisik Revan lembut. “Karena dari awal, aku emang nggak pernah berpura-pura.”

Livia membalas genggaman tangan itu dengan senyuman paling bahagia dalam hidupnya. Hubungan yang dimulai dari sebuah kepura-puraan konyol kini berlabuh pada kepastian yang nyata—bahwa cinta tidak pernah bisa diatur oleh selembar kertas kontrak.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Segitiga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita