Mantanku Jadi Atasanku - Bab 2

  1. Home
  2. Mantanku Jadi Atasanku
  3. Bab 2 - Jangan Bersikap Seolah Kita Masih Pacaran
Prev
Next

Sejak hari pengumuman itu, Celine mengatur strategi taktik perang: menghindari Davin sebisa mungkin. Dia selalu datang lebih awal agar tidak satu lift dengan pria itu, menyantap makan siang di meja kerjanya, dan langsung menghilang begitu jam pulang kantor tiba.

Namun, dunia perkantoran tidak secanggih itu untuk menghindari atasan sendiri.

Pagi ini, Celine duduk sendirian di ruang istirahat karyawan yang sepi, menatap berkas laporan kuartal di meja. Kepalanya agak pusing karena baru tidur tiga jam semalam.

Sebuah cangkir keramik diletakkan pelan di samping laptopnya. Uap hangat menguar, membawa aroma vanilla latte dengan campuran sedikit caramel—racikan persis yang selalu Celine beli di kedai favoritnya dulu.

Celine mendongak. Davin berdiri di sana, mengulurkan tangan yang baru saja melepas cangkir tersebut.

“Saya nggak pesan,” tegas Celine, menghentikan ketukan jarinya di keyboard.

“Aku tahu,” jawab Davin santai. Dia menarik kursi di depan Celine lalu duduk.

“Terus kenapa dibelikan?”

“Karena kamu masih suka yang ini, kan?” tanya Davin pelan, matanya menatap Celine lurus-lurus. “Setiap kali kamu begadang ngerjain laporan, kamu pasti butuh latte yang agak manis.”

Celine menghela napas kasar. Dadanya terasa sesak oleh kejengkelan yang bercampur aduk. Mengapa pria ini harus mengingat hal-hal detail seperti itu? Mengapa dia tidak lupa saja seperti halnya dia melupakan janji-janji manis empat tahun lalu?

“Pak Davin,” panggil Celine dengan nada dingin. “Tolong stop.”

“Stop apa?”

“Stop beliin aku kopi. Stop bertingkah seakan kamu kenal aku. Dan stop perhatian sama aku.” Celine mendorong cangkir kopi itu menjauh. “Saya bisa beli kopi sendiri.”

Davin menatap cangkir yang terdorong itu, lalu menatap wajah Celine yang memerah menahan kekesalan. “Aku cuma mau memastikan kamu nggak sakit, Celine.”

“Itu bukan tugas Bapak sebagai atasan saya,” tembak Celine tajam. Dia berdiri, meraih berkas-berkasnya. “Saya permisi.”

Davin tidak menahannya. Dia hanya memperhatikan langkah kaki Celine yang tergesa-gesa meninggalkan ruang istirahat.

Sore harinya, hujan deras mengguyur Jakarta. Area lobi kantor dipenuhi karyawan yang tertahan karena banjir di beberapa ruas jalan. Celine berdiri di dekat pintu kaca, menatap rintik air yang menghantam lantai.

“Cel! Belum pulang?” Farel mendekat sambil memegang payung besar.

“Belum, Rel. Lagi nunggu taksi online, tapi dari tadi susah banget dapatnya,” sahut Celine.

Farel tersenyum lebar. “Bareng aku aja yuk? Searah ini. Lagian mobilku parkir di basement, nggak akan kehujanan.”

Celine tampak ragu sejenak, namun petir menyambar keras di luar. “Nggak ngerepotin, Rel?”

“Sama sekali nggak. Ayo!”

Saat Celine hendak mengangguk setuju, sebuah suara menginterupsi dari arah belakang.

“Celine. Bisa ikut saya ke ruangan sebentar? Ada dokumen analisis revisi yang harus dibahas.”

Celine dan Farel bersamaan menoleh. Davin berdiri tidak jauh dari mereka, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Tatapannya dingin, tertuju lurus pada Farel sebelum beralih pada Celine.

“Sekarang, Pak?” tanya Celine heran. “Ini sudah jam pulang.”

“Ini penting untuk rapat besok pagi jam delapan,” jawab Davin singkat tanpa kompromi. “Farel, kamu boleh pulang duluan.”

Farel menatap Celine dan Davin bergantian. Merasa ada atmosfer aneh yang kaku di antara keduanya, Farel akhirnya mengangguk. “Ya udah, Cel. Aku duluan ya. Hati-hati.”

“Makasih ya, Farel,” ujar Celine lembut.

Setelah Farel menghilang di pintu keluar, Celine berbalik menghadapi Davin dengan napas terengah menahan kejengkelan. Dia mengekor di belakang Davin menuju ruang kerja pria itu di lantai atas.

Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Celine langsung menyerang. “Mana dokumen revisinya, Pak? Katanya penting?”

Davin menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja, melipat kedua tangannya di dada. Dia tidak menyentuh satu kertas pun.

“Kamu dekat sama Farel?” tanya Davin datar.

Celine tertawa hambar, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kenapa?”

“Aku cuma bertanya.”

“Sejak kapan atasan peduli dengan siapa karyawannya pulang?” sembur Celine, melangkah satu pijakan lebih dekat. “Atau sejak kapan masalah pribadi karyawan jadi tanggung jawab Pak Davin?”

Davin diam. Tatapan matanya yang biasanya tenang kini berkilat cemas dan tidak nyaman.

Celine menyipitkan mata. Sebuah pemikiran melintas di kepalanya, membuatnya tersenyum tipis—sebuah senyuman sinis. “Jangan bilang… kamu cemburu?”

Davin tidak langsung menjawab. Pria itu menelan ludah pelan, tenggorokannya terasa kering.

Sikap diam Davin justru membuat Celine semakin yakin. Kejengkelannya meluap menjadi amarah yang terendam lama. “Lucu ya. Dulu kamu yang pergi gitu aja tanpa alasan. Sekarang kamu bertingkah seolah kamu punya hak untuk cemburu?”

“Celine…”

“Kita sudah bukan pasangan, Davin!” tekan Celine, menghilangkan sebutan formalnya untuk pertama kali di ruangan itu. “Kita udah putus empat tahun lalu. Kamu yang mutusin!”

Davin menghela napas panjang, tatapannya melembut, dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam. “Aku tahu.”

“Kalau tahu, jangan bersikap seperti dulu! Jangan perhatian, jangan beliin kopi, jangan ngatur-ngatur aku mau pulang sama siapa!” Suara Celine bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dia menahannya kuat-kuat.

Davin menatap Celine cukup lama. Keheningan merayap di antara mereka, hanya terdengar suara gemericik hujan di luar jendela kaca.

“Aku lagi berusaha, Celine,” bisik Davin pelan.

“Berusaha apa?” tantang Celine.

Davin menurunkan tangannya, menatap wanita di depannya dengan ketulusan yang telanjang. “Berusaha supaya nggak mengulang kesalahan yang sama.”

Celine terpaku. Kalimat itu memukul dadanya keras-keras. Kemarahan yang tadi meluap mendadak surut, berganti rasa ingin tahu yang sangat menyiksa.

“Kalau kamu memang menyesal…” suara Celine memelan, bergetar menahan emosi yang terkumpul bertahun-tahun. “…kenapa dulu kamu pergi? Kenapa kamu tinggalin aku gitu aja tanpa penjelasan?”

Davin menatap Celine lurus. Bayangan masa lalu terpancar jelas di matanya. Dia menarik napas berat sebelum akhirnya bersuara.

“Karena waktu itu aku pikir…” Davin berhenti sejenak. “Aku harus kehilangan kamu supaya hidupmu nggak ikut hancur.”

Celine terbelalak. “Apa maksud kamu?”

“Ada alasan besar kenapa aku meninggalkanmu empat tahun lalu,” kata Davin pelan, melangkah satu pijakan mendekati Celine. “Alasan yang baru sekarang bisa aku pertanggungjawabkan.”

Prev
Next
Tags:
Cinta di Kantor, Cinta Kedua, Cinta Perlahan, Free Novel, Mantan Kekasih
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita