Mantanku Jadi Atasanku - Bab 1
“Celine, buruan! Bos baru kita udah sampai di lorong, sebentar lagi masuk ruang meeting!”
Suara bisikan Farel yang tergesa-gesa memecah konsentrasi Celine. Celine buru-buru merapikan tumpukan dokumen proyek di tangannya, menyibak ujung rambut panjangnya ke belakang telinga, lalu mengangguk cepat.
“Iya, sebentar. Nggak usah panik gitu, kenapa sih?” sahut Celine dengan nada setenang mungkin.
“Masalahnya, katanya bos baru ini killer banget. Ex-VP dari perusahaan multinasional ternama. Nggak ada toleransi buat yang terlambat!” Farel berbisik lagi sembari melangkah setengah berlari menuju pintu kaca ruang rapat utama.
Celine menyusul di belakangnya. Di dalam ruangan, belasan karyawan divisi pemasaran sudah duduk rapi. Udara di dalam terasa dingin dan tegang. Celine mengambil kursi kosong di barisan tengah, bersiap mencatat detail penting.
Pintu ruang rapat terbuka.
Langkah kaki yang teratur menapak masuk. Seorang pria berjas hitam memeluk map tebal, berjalan tegak menuju ujung meja konferensi.
Celine mendongak.
Dan detik itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh badannya membeku.
Garis rahang yang tegas, mata hitam yang tajam, serta cara berdiri yang selalu tenang dan berwibawa.
Davin.
Empat tahun. Empat tahun lamanya Celine mencoba mengubur nama itu. Menghapus setiap jengkal kenangan yang tersisa. Dan sekarang, pria itu berdiri di depannya—hanya berjarak beberapa meter.
Davin meletakkan folder di meja. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya pandangan mereka beradu. Tatapan Davin sempat tertahan selama dua detik. Matanya melebar tipis, reaksi refleks yang amat singkat sebelum ia kembali menguasai raut wajahnya.
“Selamat pagi. Mulai hari ini saya akan bertanggung jawab atas divisi ini,” ucap Davin. Suaranya berat, dalam, dan persis seperti yang selalu Celine ingat. “Nama saya Davin Restu. Saya harap kita bisa bekerja sama secara profesional.”
Celine tidak mampu mencatat satu kata pun. Tangannya menggenggam pulpen begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Telinganya berdenging. Presentasi singkat dari Davin berlalu bagai angin lalu. Celine hanya bisa menatap meja, berusaha mengatur napas yang mendadak sesak.
Bagaimana bisa? Dari ribuan perusahaan di Jakarta, mengapa Davin harus muncul di sini?
“Baik, itu saja pengarahan singkat dari saya untuk pagi ini. Silakan kembali ke meja masing-masing,” suara Davin menutup sesi.
Seluruh karyawan berdiri dan mulai merapikan barang-barang mereka. Celine bergegas membereskan catatannya, ingin segera kabur dari ruangan berudara menyesakkan itu.
“Celine.”
Suara itu memanggil namanya. Celine menghentikan langkah tepat di dekat pintu exit.
Farel menoleh. “Celine? Kamu dipanggil tuh.”
Celine memaksakan senyum tipis pada Farel. “Kamu duluan aja, Rel. Nanti aku susul.”
Farel mengangguk pelan lalu keluar, menyisakan Celine dan Davin di ruang rapat yang kini hening. Pintu otomatis tertutup pelan.
Celine berbalik. Dia menegakkan bahu, memasang benteng pertahanan terkuat yang dia miliki.
“Ada yang bisa saya bantu untuk pekerjaan saya, Pak?” tanya Celine datar.
Davin berdiri di balik meja besar, mengamati ekspresi Celine. “Kamu masih memanggilku ‘Pak’?”
“Sekarang Anda atasan saya, Pak Davin,” jawab Celine cepat, menekankan kata panggilan formal tersebut.
Davin terdiam. Garis mukanya menegang tipis. Dulu, Celine tidak pernah memanggilnya formal. Celine selalu memanggil namanya dengan lembut, atau sebutan-sebutan konyol saat mereka masih bersama. Panggilan “Pak” rasanya menciptakan jurang pemisah yang teramat jauh.
Davin melangkah perlahan mendekati Celine, menyatukan kedua tangan di belakang punggungnya. “Gimana kabar kamu, Celine?”
“Sangat baik,” jawab Celine tanpa ragu. “Kalau tidak ada instruksi pekerjaan, saya mohon izin kembali ke meja saya.”
“Kamu kelihatan—”
“Saya bilang saya baik, Pak Davin,” potong Celine, nadanya meninggi satu tingkat. Mata kecokelatannya menatap Davin penuh penolakan. “Hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor ini. Saya harap Bapak ingat itu.”
Davin menatapnya lekat. Ada sorot penyesalan yang bersembunyi di balik matanya yang tenang, tetapi dia tidak memaksakan kehendak. Pria itu mengangguk pelan. “Baiklah. Kamu boleh kembali.”
Celine balik badan dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruang meeting. Begitu sampai di kubikel Kerjanya, dadanya naik turun mengandalkan napas pendek. Jarinya gemetar.
Empat tahun lalu, pria itu mengakhiri hubungan tiga tahun mereka cuma dengan dua kata: Kita selesai. Tanpa alasan. Tanpa kejelasan. Meninggalkan Celine dalam kehampaan dan kesedihan mendalam. Dan sekarang, dia bertingkah seolah bisa menanyakan kabar begitu saja?
Hari itu terasa berlalu sangat lambat bagi Celine. Dia menyibukkan diri dengan berkas analisis pasar agar tidak perlu memikirkan kehadiran bos barunya. Setiap kali Davin keluar dari ruangan kaca di ujung lorong, Celine sengaja menunduk berpura-pura menatap layar monitor.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Jam pulang kantor telah tiba. Celine membereskan tasnya, bermaksud segera pulang ke rumah untuk menenangkan pikiran.
BZZT… BZZT…
Ponselnya di atas meja bergetar. Satu notifikasi pesan masuk dari nomor baru yang belum tersimpan.
Celine membuka pesan tersebut.
+62 812-XXXX-XXXX: Besok jangan lupa sarapan.
Jantung Celine berdesir. Dia mengerutkan kening. Mengapa bos barunya memiliki nomor pribadinya? Tentu saja dari berkas data karyawan. Celine mengetik balasan dengan jemari yang menekan layar agak keras.
Celine: Itu bukan urusan Anda, Pak Davin.
Hanya dalam hitungan detik, balasan kembali masuk.
+62 812-XXXX-XXXX: Dulu juga kamu selalu bilang begitu kalau lagi ngambek.
Celine terpaku. Tatapannya tertuju pada kalimat di layar HP.
Dulu, setiap kali Celine menolak sarapan karena kelelahan lembur atau stres, Davin selalu memaksa membawakannya rotinya. Dan balasan Celine selalu sama: Itu bukan urusan kamu.
Hanya satu orang di dunia ini yang mengingat kebiasaan kecil itu.
Davin.
Celine mengepalkan tangannya. Dia menatap arah ruangan kaca di ujung lorong. Melalui kaca transparan itu, dia melihat Davin sedang berdiri menatap layar ponselnya, lalu perlahan mengangkat wajah dan mengarahkan pandangannya tepat ke arah kubikel Celine.
-BERSAMBUNG-