Mantanku Jadi Atasanku - Bab 3
“Alasan apa, Davin? Jangan bikin aku makin bingung!” potong Celine cepat, menyeka sudut matanya yang basah.
Davin menatap Celine, lalu menghela napas panjang seolah membuang beban berat yang dipikulnya sendirian selama empat tahun terakhir.
“Empat tahun lalu, tepat seminggu sebelum aku mutusin kamu, perusahaan keluargaku bangkrut total,” ujar Davin, suaranya bergetar tipis. “Ayahku kena penipuan investasi besar-besaran. Semua aset disita. Kami punya utang puluhan miliar dan dikejar-kejar penagih utang setiap hari.”
Celine tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, tak menyangka cerita itu yang akan keluar dari mulut Davin.
“Waktu itu kamu baru aja lulus, baru mulai merintis karier mimpi kamu,” lanjut Davin. “Aku hancur, Celine. Aku kehilangan pekerjaan, aku nggak punya tempat tinggal, dan aku harus bawa keluarga keluar dari Jakarta untuk menyelesaikan masalah hukum dan utang itu.”
“Kenapa… kenapa kamu nggak cerita sama aku?” bisik Celine, air matanya akhirnya menetes juga.
“Karena aku takut,” jawab Davin jujur. “Aku tahu kepribadian kamu. Kamu itu mandiri, setia, dan keras kepala. Kalau aku cerita, kamu pasti bakal ngorbanin tabungan kamu, karier kamu, bahkan hidup kamu cuma buat bantu aku. Aku nggak mau kamu ikut menderita untuk kesalahan yang bukan milik kamu.”
Davin melangkah lebih dekat, menatap Celine dengan penuh penyesalan. “Aku pikir, mengakhiri hubungan dan bikin kamu benci sama aku adalah cara tercepat supaya kamu bisa tetap bahagia dan meraih mimpi kamu tanpa beban aku. Tapi aku sadar… aku melakukan kesalahan terbesar.”
“Kamu memang salah besar, Davin!” sembur Celine. Tangannya mengepal keras di samping tubuhnya. “Kamu jahat!”
“Iya, aku tahu—”
“Kamu pikir aku bakal ninggalin kamu cuma karena kamu jatuh miskin?!” potong Celine dengan nada tinggi, emosinya meledak. “Kamu pikir cinta aku sedangkal itu? Kamu nggak percaya sama aku!”
Davin terdiam, menerima setiap kata yang dilontarkan Celine.
“Kamu ambil keputusan sepihak! Kamu ngerasa sok pahlawan dengan ngorbanin perasaan aku!” Celine terisak pelan. “Aku menangis berbulan-bulan, Davin. Aku nyalahin diri aku sendiri! Aku mikir apa salah aku sampai kamu tega ninggalin aku gitu aja tanpa kata!”
“Aku minta maaf, Celine…” suara Davin tercekat. “Aku salah. Aku takut kamu bertahan cuma karena kasihan sama aku.”
“Aku bertahan karena aku sayang sama kamu! Bukan karena kasihan!” bentak Celine. “Aku bisa memilih sendiri! Aku berhak menentukan mau berjuang bareng kamu atau nggak! Tapi kamu… kamu bahkan nggak kasih aku kesempatan buat memilih!”
“Aku tahu…” bisik Davin pelan, matanya menyiratkan rasa sakit yang sama besarnya. “Tidak ada hari berlalu selama empat tahun ini tanpa rasa penyesalan karena udah nyakitin kamu. Aku kerja keras siang malam, selesaikan semua masalah finansial keluarga, cuma supaya aku bisa berdiri di depan kamu lagi sebagai pria yang layak.”
Davin menatap Celine lekat-lekat. “Selama empat tahun ini, nggak pernah ada wanita lain. Perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah sedikit pun, Celine.”
Ruangan itu kembali hening. Suara isakan halus Celine menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Pengakuan Davin membuat dinding kebencian yang Celine bangun bertahun-tahun rubuh, namun luka akibat ditinggalkan tidak begitu saja sembuh dalam semalam.
Celine menyapu air matanya kasar. Dia menggeleng pelan. “Cinta aja nggak cukup, Davin. Kamu udah ngerusak rasa percaya aku.”
Davin mengangguk paham. Dia tidak mencoba meraih tangan Celine atau memaksanya.
“Aku tahu,” ujar Davin lembut. “Makanya, kali ini aku nggak akan memutuskan apa pun untukmu.”
Celine menatapnya, bingung. “Maksud kamu?”
“Aku nggak akan maksa kamu buat terima aku lagi. Aku nggak akan menggunakan posisi aku sebagai atasan kamu,” tegas Davin. “Kali ini, aku menyerahkan semuanya ke kamu. Aku akan menunggu keputusan kamu. Kalau kamu minta aku cuma jadi atasan kamu selamanya, aku akan turuti. Tapi kalau kamu kasih aku kesempatan… aku janji nggak akan pernah tinggalkan kamu lagi.”
Davin memberikan sesuatu yang tidak pernah dia berikan empat tahun lalu: pilihan.
Celine menatap Davin lama, mencari kebohongan di mata pria itu, namun yang ditemukannya hanyalah kejujuran dan kesungguhan yang tulus. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Celine berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Tiga hari berlalu.
Hubungan di kantor berjalan sangat profesional. Davin menepati janji: dia tidak lagi menyinggung masalah pribadi, tidak lagi bersikap posesif, dan memperlakukan Celine murni sebagai bawahan yang kompeten. Namun, perhatian-perhatian kecil yang sopan tetap ada, seperti memastikan beban kerja Celine tidak berlebihan.
Pukul dua siang, pintu ruangan kerja Davin diketuk dari luar.
“Masuk,” panggil Davin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Pintu terbuka. Langkah kaki lembut mendekati mejanya. Sebuah cangkir kopi putih diletakkan perlahan di atas meja kerja Davin.
Aroma kopi hitam hangat dengan campuran sedikit kayu manis menguar—racikan favorit Davin yang selalu dia minum saat bekerja.
Davin mendongak, terkejut melihat Celine berdiri di depan mejanya.
Davin menatap cangkir kopi itu, lalu menatap Celine dengan alis terangkat tipis. “Kamu… masih ingat racikan kopi favoritku?”
Celine bersedekap, menyunggingkan senyum tipis yang amat manis. “Sayangnya, otak aku punya ingatan yang terlalu tajam.”
Davin tertawa pelan, suara tawa yang sudah empat tahun tidak pernah Celine dengar secara langsung. Tawa yang selalu membuat hati Celine hangat.
Celine menarik napas panjang, menatap pria di depannya dengan ketetapan hati yang baru.
“Aku udah mikirin semuanya selama tiga hari ini,” kata Celine pelan.
Davin menegakkan duduknya, raut wajahnya mendadak tegang dan penuh antisipasi. “Gimana?”
“Aku mau kasih kamu kesempatan,” ujar Celine lurus.
Mata Davin benderang. “Sebagai atasan kamu?”
Celine menggeleng pelan, senyumnya semakin mengembang. “Sebagai mantan.”
Davin tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman lega merayapi bibirnya. Sorot matanya berbinar bahagia. “Berarti… aku masih punya kesempatan buat perbaiki semuanya?”
“Cuma satu kesempatan,” jawab Celine dengan nada memeringatkan, meski matanya berkilat jahil. “Kalau kamu berani ambil keputusan sepihak lagi atau ngilang tanpa kabar…”
“Satu kesempatan sudah lebih dari cukup,” potong Davin cepat. Pria itu berdiri dari kursinya, mengikis jarak di antara meja mereka. “Dan aku nggak akan pernah menyia-nyiakannya lagi.”
Celine tersenyum hangat. Perjalanan mereka tidak akan langsung mudah. Masih ada luka masa lalu yang harus disembuhkan perlahan. Namun hari ini, di ruang kerja berudara hangat itu, mereka tidak lagi berlari dari masa lalu.
Bukan lagi sebagai mantan yang saling menyimpan dendam, bukan hanya sebagai atasan dan bawahan, melainkan dua orang dewasa yang akhirnya berani memilih untuk berjuang bersama.