Mantan yang Memintaku Menikah Lagi - Bab 2
“Kamu nemuin dia?!”
Suara Maya melengking memenuhi ruangan kafe tempat mereka biasa makan siang. Maya menatap Sera dengan tatapan horor.
“Bukan aku yang nemuin, May. Dia yang mendadak muncul,” ralat Sera pelan. Dia mengaduk es tehnya tanpa nafsu.
“Dan dia minta kamu menikah?!” Maya menepuk jidatnya sendiri. “Dia udah gila ya? Setelah lima tahun ngilang gitu aja? Setelah bikin kamu nangis tiap malam sampai berat badan kamu turun lima kilo?”
“May, pelan-pelan bicaranya…”
“Nggak bisa, Lin—eh, Sera! Kamu nggak boleh luluh. Ingat gimana hancurnya kamu waktu itu. Pria brengsek kayak gitu nggak berhak dapat kesempatan kedua.” Maya mewanti-wanti dengan wajah sangat serius.
Sera merogoh tasnya, lalu mengeluarkan foto lama yang diberi Galen kemarin malam. Dia menggesernya ke hadapan Maya.
“Dia kasih ini.”
Maya membaca tulisan di belakang foto tersebut, lalu mengernyit. “Maksudnya apa? Dia mau bikin alibi setelah lima tahun?”
“Aku nggak tahu,” jawab Sera pelan. “Tapi kalau aku nggak minta penjelasan sekarang, aku nggak akan pernah tenang, May.”
Tiga jam kemudian, Sera berdiri di depan sebuah kantor konsultan hukum di kawasan bisnis Jakarta. Nama ‘Galen Utama & Partners’ terpampang tebal di dinding marmer lobi.
Sera melangkah masuk. Sekretaris Galen langsung mengenalinya—atau setidaknya, sudah dipesan oleh Galen—karena begitu Sera menyebutkan namanya, dia langsung diantar menuju ruangan di lantai paling atas.
Pintu kaca dibuka. Galen sedang berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Pria itu menoleh dan tertegun melihat Sera berdiri di ambang pintu.
“Sera.”
Sera melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Dia tidak menyia-nyiakan waktu. Foto itu langsung dilemparkannya ke atas meja kerja Galen yang rapi.
“Jelasin,” kata Sera tegas.
Galen menatap foto itu, lalu menatap Sera. Matanya memancarkan rasa lelah yang sangat mendalam.
“Duduk dulu, Lin.”
“Aku nggak mau duduk. Aku mau penjelasan. Apa maksud tulisan kamu di balik foto itu?”
Galen menghela napas panjang. Dia mendekati mejanya, meletakkan kedua tangannya di tepi meja sambil menunduk.
“Apa yang kamu ingat dari malam itu, Sera?” tanya Galen pelan.
“Aku lihat kamu sama cewek lain,” jawab Sera, suaranya mulai bergetar karena emosi masa lalu yang terpanggil kembali. “Kamu pegang tangannya. Dan aku dengar sendiri kamu bilang… kamu memang harus menyelesaikan semuanya.”
“Lalu kamu langsung pergi,” sambung Galen.
“Tentu saja aku pergi! Kamu mau aku nunggu sampai kamu bilang secara langsung kalau kamu mau batalin pernikahan kita?!”
Galen mendongak. Matanya merah. “Wanita itu bukan kekasihku, Sera.”
Sera terdiam.
“Dia sapa?” tanya Sera, suaranya memelan.
“Dia pengacara keluarga mantan mitra bisnis ayahku,” kata Galen datar. “Satu bulan sebelum rencana pernikahan kita, bisnis ayahku dijebak. Perusahaan kami terancam bangkrut dan ayahku terancam masuk penjara karena kasus penipuan yang nggak pernah dia lakukan.”
Sera membelalakkan mata. “Apa…?”
“Malam itu, wanita itu datang membawa dokumen bukti kunci yang bisa membersihkan nama ayahku. Tapi pihak lawan mengancam bakal menyerang orang-orang terdekatku kalau sampai dokumen itu bocor. Termasuk kamu.”
Galen melangkah mendekati Sera. “Aku pegang tangannya karena aku memohon supaya dia mau menyerahkan dokumen itu malam itu juga. Dan kalimat ‘aku harus menyelesaikan semuanya’ yang kamu dengar… itu maksudnya aku harus menyelesaikan kasus itu secepatnya sebelum hari pernikahan kita, supaya aku bisa menikahi kamu tanpa membawa beban dan bahaya buat kamu.”
Sera merapatkan bibirnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. “Kenapa… kenapa kamu nggak cerita sama aku?”
“Karena aku takut,” jawab Galen jujur, suaranya serak. “Aku takut kamu panik. Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri dalam seminggu, lalu kita bisa menikah dengan tenang.”
“Dan akhirnya?!” jerit Sera kecil, air mata mulai menetes di pipinya. “Akhirnya kamu diam! Dan aku menganggap diam kamu sebagai pembenaran kalau kamu selingkuh!”
“Dan akhirnya aku kehilangan kamu,” kata Galen lirih.
Sera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seluruh fondasi keyakinannya selama lima tahun runtuh seketika. Selama ini dia mengira dia adalah korban pengkhianatan. Selama ini dia membenci Galen karena merasa dibuang.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk. Adrian—teman dekat Galen sekaligus salah satu pengacara di kantor itu.
“Galen, berkas persidangan—eh,” Adrian menghentikan kalimatnya saat melihat Sera. Matanya membelalak. “Sera?”
“Adrian,” panggil Sera lemah.
Adrian menatap Galen, lalu menatap Sera. “Kalian… akhirnya ngobrol?”
Sera menyapu air matanya. “Adrian, apa yang dikatakan Galen itu benar?”
Adrian menghela napas berat. Dia menatap Galen dengan pandangan menyalahkan. “Aku udah bilang dari lima tahun lalu, Len. Kamu berengsek karena menyimpan ini sendiri dari Sera.” Adrian kembali menatap Sera. “Semua yang dia bilang benar, Sera. Kasus itu hampir bikin keluarga Galen hancur. Dia tidur cuma dua jam sehari selama sebulan demi beresin itu semua.”
Sera menatap Galen dengan pandangan tak percaya. Dada pria itu kempis-kempis menahan emosi.
Namun sebuah pertanyaan besar lain muncul di kepala Sera. Jika semua itu benar…
Sera menatap Galen lurus-lurus. “Kalau kamu memang mencintaiku… kalau semua ini cuma kesalahpahaman… kenapa kamu nggak mengejarku waktu itu? Kenapa kamu biarin aku pergi begitu aja?”
Galen terdiam lama sekali. Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar deru pendingin udara.
Pria itu mengalihkan pandangannya, menatap lantai dengan raut wajah yang tampak sangat hancur.
“Kenapa, Galen?!” desak Sera.
Galen mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
“Karena malam itu… dua hari setelah kamu batalkan pernikahan dan pindah dari rumahmu…” Galen berhenti sejenak, suaranya bergetar hebat. “…aku menerima kabar dari ibumu bahwa kamu sudah memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan keluargamu di luar kota.”
Sera membeku di tempatnya berdiri. “Apa?”
“Ibumu bilang kamu sangat membenciku dan kamu nggak mau lihat wajahku lagi. Dia minta aku jangan pernah hubungi kamu lagi karena kamu udah bahagia sama orang lain.” Galen menatap Sera dengan tatapan paling hancur yang pernah Sera lihat. “Aku pikir… aku pikir aku udah terlambat. Aku pikir kamu udah memilih pergi dan menemukan penggantiku.”
Sera menggelengkan kepalanya keras-keras, air matanya menetes makin deras. “Aku tidak pernah mengatakan itu! Aku nggak pernah mau menikah sama siapa pun! Ibuku… ibuku bohong sama kamu karena dia marah melihat aku hancur!”
Galen membelalakkan mata. Tubuhnya menegang.
Keduanya mematung di tengah ruangan. Kebenaran yang selama ini tersembunyi akhirnya terkuak di antara mereka. Dua orang yang saling mencintai, terpisah selama lima tahun… hanya karena informasi palsu yang dipercayai oleh satu sama lain.
-BERSAMBUNG-