Mantan yang Memintaku Menikah Lagi - Bab 3
- Home
- Mantan yang Memintaku Menikah Lagi
- Bab 3 - Kalau Kita Menikah Lagi, Jangan Tinggalkan Aku Lagi
Keheningan melingkupi ruangan kantor Galen. Adrian sudah lama menyelinap keluar, membiarkan dua manusia yang terjebak dalam lingkaran waktu itu menyelesaikan takdir mereka.
Sera berdiri bersandar di tepi meja, sementara Galen duduk di sofa dengan kedua tangan menopang kepalanya.
“Lima tahun, Galen,” suara Sera terdengar serak di antara sisa tangisnya.
“Aku tahu,” jawab Galen tanpa mengangkat kepala.
“Lima tahun hidup kita hilang begitu saja cuma karena kita sama-sama bodoh dan nggak mau bicara!”
“Aku tahu, Sera. Aku tahu.”
“Dan sekarang…” Sera menatap Galen yang perlahan mengangkat kepalanya. “Kamu cuma datang tiba-tiba lalu minta aku menikah?”
Galen berdiri dari sofa. Dia melangkah mendekati Sera, tidak berhenti sampai jarak di antara mereka hanya tersisa satu jengkal.
“Iya,” jawab Galen jujur.
“Kenapa?” panggil Sera lirih. “Kenapa nggak mulai dari awal lagi? Kenapa harus langsung menikah?”
Galen menatap mata Sera yang sembap. “Karena kalau aku meminta kamu kembali sebagai pacarku, aku takut kita akan terus hidup di masa lalu. Aku takut kita bakal terus mengingat lima tahun yang hilang itu dan saling menyalahkan.”
Galen mengulurkan tangannya, kali ini benar-benar menyentuh pipi Sera yang basah. Sera tidak menghindar. Sentuhan itu hangat, sangat familiar, dan membuat dadanya bergetar hebat.
“Aku ingin memulai semuanya dari awal,” lanjut Galen lembut. “Bukan sebagai mantan yang mencoba memperbaiki hubungan rusak. Tapi sebagai dua orang baru yang akhirnya mau saling percaya.”
Sera memejamkan matanya, merasakan hangatnya jemari Galen di kulitnya. Hatinya yang dulu mengeras kini melunak. Namun ketakutan itu masih ada.
“Aku takut, Galen,” bisik Sera.
“Aku tahu. Aku juga.”
Sera membuka matanya, menatap pria yang tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya. “Kalau aku setuju…”
Galen menahan napasnya, menunggu kalimat Sera selanjutnya.
“Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku lagi. Sekecil apa pun itu. Seburuk apa pun masalahnya.”
Galen mengangguk cepat. “Aku janji. Demi apa pun, aku janji.”
“Dan kalau ada masalah di masa depan?”
“Kita hadapi bersama,” sambung Galen tegas. “Nggak akan ada yang berjalan sendiri lagi.”
Sera menatap wajah di hadapannya. Pria yang dulu sangat ingin dia nikahi. Pria yang membuat lukanya, tetapi juga satu-satunya pria yang bisa menyembuhkannya.
“Sera,” panggil Galen lembut. “Menikahlah denganku.”
Sera mengambil napas panjang, menghembuskannya perlahan bersama seluruh beban lima tahun terakhir yang akhirnya terangkat.
“Iya,” jawab Sera pelan namun mantap. “Aku mau.”
Tiga bulan kemudian.
Sebuah gedung pernikahan bernuansa putih dan botanical berdiri anggun di pinggiran kota. Tidak ada pesta megah bertabur ribuan tamu. Hanya ada keluarga dekat dan sahabat-sahabat terbaik mereka.
Di dalam ruangan tunggu pengantin pria, Galen sedang membetulkan dasinya. Tangannya sedikit gemetar.
Pintu terbuka. Sera masuk membawa buket bunga mawar putih. Dia tampak sangat anggun dengan gaun pengantin simpel berwarna gading.
Galen menoleh dan tertegun. Dia menatap calon istrinya seolah Sera adalah satu-satunya hal yang bernyawa di ruangan itu.
“Kamu cantik banget,” bisik Galen tulus.
Sera berjalan mendekatinya, tersenyum manis. “Kamu juga lumayan rapi.”
Galen meraih jemari Sera, menatapnya penuh keraguan yang mendadak menyeruak. “Kamu yakin?”
Sera miringkan kepalanya. “Nggak sepenuhnya.”
Galen terkejut, matanya membelalak. “Lalu kenapa kamu tetap di sini pakai gaun ini?”
Sera tersenyum hangat, menggenggam erat tangan Galen yang terasa dingin. “Karena kali ini aku mau percaya. Aku mau percaya sama kita.”
Galen menghembuskan napas lega. Dia menarik Sera ke dalam pelukannya, menghirup aroma wangi rambut wanita itu yang sangat dia rindukan.
“Aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi, Sera. Pernah kehilangan kamu sekali udah cukup buat bikin aku gila.”
Sera melepaskan pelukan mereka, mendongak menatap Galen dengan kilat jenaka di matanya.
“Tapi ada satu hal,” kata Sera.
Galen mengernyit curiga. “Apa?”
“Kalau kamu bikin aku menangis lagi atau mencoba menyembunyikan masalah lagi…”
Galen tertawa kecil, memotong kalimat Sera. “Aku tahu.”
“Apa?”
“Kamu bakal ninggalin aku lagi, kan?” kata Galen percaya diri.
Sera menggeleng pelan. Bibirnya mengukir senyuman yang sangat manis namun penuh ancaman manis.
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku bakal buat kamu mengejarku seumur hidup.”
Galen tertawa lepas, tawa paling bahagia yang pernah Sera dengar selama lima tahun terakhir. Dia merengkuh pinggang Sera dan mengecup kening wanita itu lama.
“Aku nggak keberatan,” whispered Galen di atas kening Sera. “Mengejar kamu seumur hidup adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan.”
Di luar ruangan, musik pengantin mulai terdengar. Musik yang menandai akhir dari masa lalu mereka yang kelam—dan awal dari masa depan di mana dua hati yang sempat tersesat akhirnya menemukan jalan pulang.
-TAMAT-