Mantan yang Memintaku Menikah Lagi - Bab 1

  1. Home
  2. Mantan yang Memintaku Menikah Lagi
  3. Bab 1 - Mantanku Tiba-Tiba Memintaku Menikah
Next

Suara berdenting dari cangkir kopi yang bersentuhan dengan meja kaca memecah lamunan Sera. Kafe di sudut kota itu cukup lengang untuk sebuah sore yang rintik. Sera menyesap late hangatnya, menikmati ketenangan yang telah dia bangun dengan susah payah selama lima tahun terakhir.

Hidupnya sudah rapi. Karirnya di perusahaan arsitektur berjalan stabil, rumah kontrakkannya nyaman, dan hatinya—yang paling penting—tidak lagi berdarah.

Sampai sebuah bayangan tinggi berhenti tepat di depan mejanya.

“Sera.”

Sera mendongak. Detik itu juga, napasnya terasa tertahan di tenggorokan.

Pria itu berdiri di sana. Kemeja putihnya tergulung rapi sampai siku, rahangnya sedikit lebih tegas, dan matanya… mata kelabu yang sama yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Galen.

“Boleh aku duduk?” tanya pria itu. Suaranya tidak berubah. Masih bernada berat, tenang, dan selalu berhasil mengacaukan ritme jantung Sera.

Sera membutuhkan waktu tiga detik untuk menguasai diri. Dia membetulkan posisi duduknya, memasang benteng pertahanan paling dingin yang dia punya.

“Aku cuma punya waktu sepuluh menit,” jawab Sera datar.

Galen menarik kursi kayu di hadapan Sera dan duduk. Tatapannya melekat pada wajah Sera, meneliti setiap senti perubahan wanita itu.

“Apa kabar?” tanya Galen pelan.

“Baik.”

“Kamu berubah.”

Sera tersenyum tipis, jenis senyuman formal tanpa emosi. “Kita sudah lima tahun nggak bertemu, Galen. Wajar kalau ada yang berubah.”

“Aku cari kamu,” kata Galen mendadak.

“Untuk apa?” Sera menatapnya lurus-lurus. “Masa lalu udah selesai lima tahun lalu. Aku pikir kita udah menyepakati hal itu lewat diam kita masing-masing.”

“Aku nggak pernah menganggapnya selesai.”

Sera terkekeh pelan, tawa pendek yang getir. “Tapi kamu nggak pernah cari aku selama lima tahun ini. Jadi, anggap saja aku yang menyelesaikan semuanya.”

Sera meraih tas tangannya di atas meja, bersiap berdiri. Dia tidak sudi membiarkan pria ini kembali mengaduk-aduk luka lama yang sudah mengering.

“Aku mau bicara sesuatu,” tahan Galen. Tangannya terulur di atas meja, seolah ingin menyentuh jemari Sera, namun ditahannya sendiri.

“Bicara apa? Kita nggak punya urusan lagi.”

Galen menatap mata Sera tanpa ragu sedikit pun.

“Menikahlah denganku.”

Sera membeku. Tangannya yang memegang tali tas mendadak kaku. Dia menatap Galen, mencari tanda-tanda bahwa pria di depannya ini sedang melontarkan lelucon konyol. Namun, wajah Galen benar-benar datar dan serius.

“Apa?” bisik Sera.

“Aku serius,” ulang Galen. “Menikahlah denganku.”

Sera tertawa. Tawa yang kali ini sarat akan ketidakpercayaan dan amarah yang tiba-tiba membuncah.

“Kamu menghilang selama lima tahun,” kata Sera dengan suara bergetar menahan emosi. “Kamu biarin aku hancur sendiri, lalu sekarang kamu datang tiba-tiba di kafe ini dan minta aku menikah?”

“Iya.”

“Kamu gila, Galen?”

Galen tidak membantah. Dia menunduk sekilas, lalu kembali menatap Sera. “Aku tahu kamu membenciku.”

“Aku nggak membencimu,” potong Sera cepat.

Galen menatapnya dengan kilat mata yang terluka. “Lebih buruk dari itu?”

Sera terdiam sejenak. Dia memiringkan kepalanya, menatap pria yang dulu pernah direncanakannya menjadi pendamping hidup. “Aku sudah tidak peduli. Itu lebih buruk dari benci, kan?”

Kata-kata itu mendarat telak. Galen terlihat terpukul. Bahunya sedikit merosot, dan ekspresi tenang yang dipakainya sejak tadi retak untuk sepersekian detik.

“Sera, aku tahu aku berengsek,” kata Galen serak. “Tapi tolong…”

“Sepuluh menitku udah habis,” potong Sera dingin. Dia berdiri dari kursinya. “Jangan pernah cari aku lagi, Galen. Hubungan kita udah mati lima tahun lalu.”

Sera berbalik dan melangkah pergi menuju pintu keluar kafe. Namun baru tiga langkah berjalan, suara langkah kaki Galen menyusulnya dengan cepat. Pria itu menyegat langkahnya di dekat pintu glass lobi.

“Sera, tunggu.”

“Apalagi—”

Galen tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berukuran sedang. Dia menyodorkannya ke telapak tangan Sera.

“Baca ini sebelum kamu benar-benar menolakku,” kata Galen dengan suara menahan gejolak emosi.

Sera menatap amplop itu, lalu menatap Galen. “Aku nggak butuh—”

“Tolong. Kali ini aja,” potong Galen memohon. “Baca itu. Kalau setelah baca kamu tetap mau pergi dari hidupku… aku janji nggak akan pernah muncul lagi di depan kamu.”

Sera mengepalkan tangannya di sekeliling amplop itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia melangkah keluar menembus gerimis sore.

Malam harinya, di dalam kamar apartemennya yang sepi, Sera duduk di tepi ranjang. Amplop cokelat dari Galen tergeletak di meja rias.

Sera meraba dadanya. Kenapa pria itu harus kembali sekarang? Kenapa harus saat dia sudah merelakan segalanya?

Dengan tangan sedikit bergetar, Sera akhirnya mengambil amplop itu dan merobek ujungnya.

Di dalamnya ada sebuah lembaran foto cetak lama yang permukaannya sudah agak memudar. Sera menatap foto itu dan jantungnya seperti berhenti berdetak.

Itu foto lima tahun lalu. Foto yang diambil di restoran remang-remang. Dalam foto itu, Galen duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Galen terlihat memegang tangan wanita itu dengan raut wajah sangat serius.

Foto yang sama. Foto yang dikirimkan oleh seseorang tanpa nama ke ponsel Sera tiga minggu sebelum hari pernikahan mereka dulu. Foto yang membuatnya menyelinap ke restoran itu malam-malam, hanya untuk mendengar kalimat Galen kepada wanita tersebut: “Aku memang harus menyelesaikan semuanya.”

Malam itu, Sera pulang dengan hati hancur. Dia membatalkan pernikahan secara sepihak dan menghilang.

Namun saat Sera hendak melempar foto itu kembali ke dalam amplop, dia menyadari ada coretan spidol hitam di bagian belakang foto.

Sera membalikkan foto tersebut.

Tulisan tangan Galen yang sangat dia kenali terukir di sana:

Kamu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Dan kamu tidak pernah mau memberiku kesempatan untuk mengatakannya.

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Cinta Kedua, Cinta Perlahan, Free Novel, Mantan Kekasih, Pernikahan, Pernikahan Kedua, Rahasia Masa Lalu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita