Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku - Bab 4
Derap langkah sepatu hak tinggi Kirana bergema nyaring menyusuri lorong beton pintu darurat yang sepi. Gaun pengantin putih bertabur payet yang panjang dan berat itu dipeluknya kencang di bagian paha, agar tak menyangkut di anak tangga. Udara luar yang dingin mendadak menyergap kulit wajahnya begitu ia mendorong pintu besi besar gedung pertemuan.
Di luar, hujan deras mengguyur kota Jakarta sejak sepuluh menit lalu. Suara guruh bergemuruh samar di balik awan hitam yang menggantung pekat. Air mengalir deras di halaman parkir, memantulkan bayangan lampu gedung yang pudar.
“Dimas!” teriak Kirana sekuat tenaga, suaranya langsung tenggelam oleh deru hujan.
Mata Kirana menyapu area parkir yang dipenuhi deretan mobil mewah para tamu undangan. Namun, sosok pria berkemeja hitam tergulung itu tak tampak di mana pun.
“Dimas! Kamu di mana?!” panggil Kirana lagi, melangkah keluar menembus tirai hujan tanpa memedulikan gaun mewahnya yang kini mulai basah kuyup.
Kain brokat di pundaknya menjadi berat, selendang melati di sanggulnya terlepas dan jatuh mengapung di genangan air hujan. Air mata Kirana bersatu dengan bulir-bulir air yang menetes deras dari rambutnya.
Di sudut area parkir dekat gerbang keluar, sesosok pria berjalan pelan membelakangi gedung. Pria itu berjalan menunduk, biarkan kemeja hitamnya basah melekat di tubuh tanpa memegang payung sedikit pun.
“Dimas!” jerit Kirana, suaranya pecah menahan sesak di dada.
Langkah pria itu terhenti seketika. Tubuhnya membeku di bawah guyuran hujan deras. Perlahan, Dimas memutarkan badannya.
Mata hitam Dimas membelalak lebar saat melihat Kirana—pengantin wanita bergaun putih yang kini basah kuyup—berlari kencang menghampirinya tanpa sepatu. Sepatu hak tingginya ternyata sudah ditinggalkan entah di mana.
“Kirana?!” pekik Dimas panik. Pria itu berlari cepat memotong genangan air menuju Kirana. “Kamu ngapain di luar?! Kenapa kamu basah-basahan seperti ini?!”
Dimas merengkuh kedua bahu Kirana yang gemetar hebat, mencoba menutupi kepala Kirana dengan telapak tangannya agar tidak terkena hujan langsung.
“Kenapa kamu keluar, Kirana?!” sentak Dimas, suaranya sarat akan rasa cemas dan keputusasaan. “Akad nikahmu gimana?! Kenapa kamu tidak ada di dalam bersama Revan?!”
“Kenapa… kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?!” jerit Kirana tepat di depan wajah Dimas, dadanya naik turun memburu. Tangannya yang memegang kotak kayu kusam menyentuh dada Dimas yang dingin basah. “Kenapa kamu membiarkan aku membencimu selama lima tahun, Dimas?! Kenapa?!”
Dimas terpaku. Tatapannya jatuh pada kotak kayu dan ponsel lipat di genggaman Kirana yang sudah basah oleh air hujan. Pria itu memejamkan mata erat-erat, membiarkan air hujan membasahi rahangnya yang kaku.
“Kamu… kamu sudah mendengarkannya?” bisik Dimas serak, suaranya hampir tak terdengar di antara gemuruh hujan.
“Aku sudah dengar semuanya!” tangis Kirana histeris, memukul dada Dimas dengan jemarinya yang gemetar. “Aku dengar suara Ibu! Aku dengar bagaimana kamu mengorbankan perasaanmu demi menyelamatkan bisnis ayahmu! Kamu jahat, Dimas! Kamu benar-benar pria paling jahat!”
“Maafkan aku, Kirana…” tutur Dimas lirih, menerima setiap pukulan lemah dari tangan Kirana tanpa membalas. “Maafkan aku…”
“Kenapa harus berbohong?!” cecar Kirana, air mata mendidih keluar dari matanya. “Kenapa kamu tidak jujur padaku lima tahun lalu?! Kamu pikir aku wanita lemah yang cuma mau enaknya saja?! Kamu pikir aku tidak mau berjuang bersamamu saat keluargamu jatuh?!”
“Karena aku tidak punya pilihan, Rana!” balas Dimas dengan nada suara memohon, memegang kedua pergelangan tangan Kirana erat-erat. “Keluargaku waktu itu di ambang kehancuran! Ayahku mau dipenjara, ibuku sakit-sakitan karena stres! Ibumu datang membawa cek ratusan juta dan mengancam akan mematikan beasiswamu kalau aku menolak syaratnya!”
“Lalu kamu tumbalin cinta kita?!” seru Kirana frustrasi.
“Aku tidak punya opsi lain, Rana!” jerit Dimas, air matanya kini menyatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya. “Aku lebih baik dibenci olehmu seumur hidupku, daripada melihat masa depanmu hancur karena terseret masalah keluargaku! Kamu punya cita-cita tinggi, kamu punya beasiswa ke luar negeri! Aku tidak mau menjadi beban yang menarikmu ke dasar jurang!”
Kirana terisak keras, dadanya terasa seperti dihantam batu besar hingga tak sanggup bernapas. “Tapi kamu membuatku hidup dalam neraka selama bertahun-tahun, Dimas… Aku merasa dibuang! Aku merasa tidak berharga karena berpikir kamu memilih wanita lain!”
“Aku tidak pernah punya wanita lain, Rana…” bisik Dimas lembut, menyapu helai rambut basah yang menempel di dahi Kirana dengan jemarinya yang dingin. “Tidak pernah ada wanita lain di hati aku. Sejak hari pertama aku meninggalkanmu sampai detik ini… cuma kamu.”
“Bohong!” tangis Kirana, memalingkan wajahnya ke samping. “Kalau cuma aku, kenapa kamu baru muncul hari ini?! Kenapa di hari aku mau mengikat janji dengan Revan?!”
“Karena aku baru menemukan bukti bulan lalu,” jawab Dimas pelan.
Kirana menoleh kembali, menatap mata Dimas dengan dahi berkerut bingung. “Maksudmu apa?”
“Ibumu tidak pernah membayar utang ayahku secara penuh lima tahun lalu,” tutur Dimas dengan nada pahit. “Uang bantuan dari ibumu cuma bertahan satu tahun. Setelah itu ayahku meninggal dalam keadaan tertekan, dan aku harus bekerja membanting tulang selama empat tahun di luar pulau untuk melunasi sisa utang keluarga.”
Napas Kirana tercekat. “Dimas…”
“Bulan lalu, aku baru berhasil melunasi seluruh utang almarhum Ayah,” lanjut Dimas dengan senyuman teramat getir. “Aku kembali ke kota ini dengan niat ingin mencarimu dari jauh… cuma mau melihat apakah kamu bahagia. Dan saat itulah aku menemukan rekaman suara lama itu di ponsel mendiang ibuku.”
“Ibumu menyimpan rekaman itu?” bisik Kirana tak percaya.
“Iya,” nodok Dimas pelan. “Ibu tahu aku menderita karena merindukanmu. Sebelum meninggal dua tahun lalu, Ibu menyimpan rekaman itu untuk bukti bahwa aku tidak pernah bermaksud jahat padamu. Dan kemarin sore… aku baru tahu dari seorang teman bahwa hari ini kamu akan menikah.”
“Jadi kamu datang untuk mengacaukan pernikahanku?” desak Kirana dengan suara bergetar.
“Tidak, Rana,” pangkas Dimas mantap, menggelengkan kepalanya tegas. “Aku bersumpah demi Allah, aku datang bukan untuk merusak bahagiamu. Saat aku tahu pria yang memilihmu adalah Revan… aku sadar dia pria yang jauh lebih baik dan lebih mapan dariku. Dia bisa menjagamu tanpa perlu memberi penderitaan.”
“Lalu kenapa kamu tetap menyerahkan kotak ini padaku?!” seru Kirana, mengangkat kotak kayu yang basah kuyup di antara mereka.
“Karena aku tidak mau kamu menikah dengan membawa dendam dan rasa tidak berharga,” jawab Dimas, matanya menatap Kirana dengan kesungguhan yang amat dalam. “Aku mau kamu tahu bahwa kamu pernah sangat dicintai oleh seorang pria hingga pria itu rela dibenci demi keselamatanmu. Aku cuma mau membersihkan namaku di hatimu, Kirana… setelah itu aku rela kamu bahagia bersama Revan.”
Kirana mematung. Kata-kata Dimas bagaikan badai yang menyapu bersih seluruh kemarahan yang selama ini mengerak di dadanya, menyisakan penyesalan dan kepedihan yang teramat sangat.
“Kamu bodoh, Dimas…” bisik Kirana, menyandarkan keningnya yang basah ke dada kemeja hitam Dimas. “Kamu pria paling bodoh yang pernah kukenal…”
Dimas perlahan mengangkat tangannya, merengkuh tubuh pengantin wanita yang gemetar itu ke dalam pelukannya. Aroma air hujan dan wangi melati yang tersisa menyatu di antara rapatnya dada mereka.
“Maafkan aku, Rana…” bisik Dimas tepat di samping telinga Kirana. “Maafkan pria bodoh ini yang baru berani menemuimu hari ini.”
“Rana!”
Suara panggilan nyaring dari arah pintu gedung kembali memecahkan momen haru di antara mereka. Ratih berdiri di bawah kanopi pintu keluar bersama beberapa kerabat keluarga. Ibunya memegangi payung dengan wajah yang tampak berantakan oleh tangisan.
“Rana! Ayo masuk, Nak!” teriak Ratih dengan nada memohon yang amat sangat. “Jangan gila kamu, Rana! Hujan deras! Bajumu basah semua!”
Kirana melonggarkan pelukannya dari Dimas, memutar tubuhnya menatap ibunya yang berdiri jauh di sana.
“Rana, Revan sudah bicara dengan keluarga besar!” lanjut Ratih, suaranya gemetar menahan malu di hadapan kerabat yang berbisik-bisik. “Acara akadnya ditunda! Ayo masuk dulu, bicara baik-baik dengan Ibu dan Revan!”
Dimas melepaskan genggaman tangannya dari bahu Kirana, melangkah mundur satu tapak. Pria itu menatap Kirana dengan raut wajah penuh kerelaan.
“Masuklah, Rana,” bujuk Dimas lembut. “Gedung ini terlalu dingin untukmu. Revan sedang menunggumu di dalam. Dia pria baik yang mau mengerti keadaanmu.”
“Kamu mau ke mana, Dimas?” tanya Kirana cepat, kepanikan mendadak merayap kembali di dadanya begitu melihat Dimas melangkah mundur.
“Tugasku sudah selesai,” jawab Dimas dengan senyuman tipis yang sangat hangat. “Aku sudah menyampaikan kebenaran itu padamu. Sekarang, kembalilah pada hidupmu yang baru.”
“Tidak!” cegat Kirana, meraih jemari tangan Dimas yang basah. “Jangan pergi dulu! Kamu harus ikut aku masuk ke dalam!”
Dimas menggelengkan kepala pelan. “Untuk apa, Rana? Aku tidak punya tempat di dalam gedung itu. Tempatku di luar sini.”
“Kamu punya tempat untuk meluruskan semuanya di depan Ibu!” tegas Kirana, matanya menyalang tajam penuh keberanian yang baru lahir. “Ibu harus minta maaf padamu! Ibu harus bertanggung jawab atas kebohongan yang dia buat selama lima tahun ini!”
“Kirana, itu tidak perlu—”
“Ini perlu, Dimas!” potong Kirana tanpa ragu. “Aku tidak akan biarkan siapapun—bahkan ibuku sendiri—mempermainkan takdir hidupku lagi! Kalau hari ini pernikahanku dengan Revan harus tertunda atau batal… maka kebenaran harus berdiri tegak di hadapan semua orang!”
Dimas menatap Kirana dengan rasa takjub dan terharu. Pengantin wanita di hadapannya bukan lagi gadis kecil lima tahun lalu yang mudah menangis dan pasrah pada keadaan. Kirana yang berdiri di bawah guyuran hujan hari ini adalah sosok wanita tegas yang siap menuntut keadilan atas cintanya.
“Ikut aku masuk, Dimas,” ulang Kirana, menggenggam erat tangan Dimas tanpa peduli lagi pada tetesan air hujan yang membasahi mereka berdua. “Kita selesaikan ini bertiga bersama Ibu dan Revan.”
Dimas menelan ludahnya yang terasa berat. Ia menatap mata Kirana yang penuh ketetapan hati, lalu menatap tangan mereka yang saling bertaut erat di balik derasnya hujan.
“Baik,” jawab Dimas singkat namun mantap. “Aku akan ikut bersamamu.”
Dengan gaun pengantin putih yang kuyup dan berat menyapu lantai parkir, Kirana melangkah mantap menuntun Dimas kembali menuju gedung pernikahan. Langkah kakinya tanpa alas sepatu itu terasa begitu dingin, namun di dalam dadanya, sebuah keberanian membakar hangat, siap menghadapi badai terbesar yang akan meledak di dalam ruang keluarga sebentar lagi.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Bagaimana Revan dan keluarga besar merespons kehadiran Dimas di dalam gedung?
Kelanjutan Bab 5 sudah tayang dan bisa kamu baca selengkapnya di RuanganCerita.com. 👇