Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku - Bab 5

  1. Home
  2. Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku
  3. Bab 5 - Badai di Dalam Ruang VIP
Prev
Novel Info

Dua pasang kaki yang basah kuyup melangkah masuk melintasi pintu kaca gedung. Air hujan menetes deras dari kebasahan kain gaun pengantin Kirana, meninggalkan jejak genangan air di atas lantai marmer aula yang mengilap.

Beberapa panitia dan kerabat keluarga yang berdiri di sekitar lorong langsung terperanjat. Bisik-bisik riuh yang tadinya mengalun pelan mendadak terhenti, berganti menjadi tatapan syok dan tak percaya. Kirana, sang pengantin wanita yang seharusnya duduk anggun di depan penghulu, kini menggenggam erat jemari seorang pria kemeja hitam yang seluruh tubuhnya diguyur hujan.

“Rana! Kamu benar-benar sudah gila?!” pekik Ratih, berlari menghampiri mereka dengan napas memburu dan raut wajah merah padam. “Kamu membawa pria ini masuk ke dalam gedung?! Kamu mau bikin malu Ibu di depan seluruh keluarga besar Pranata?!”

“Ibu yang membuat malu diri Ibu sendiri sejak lima tahun lalu,” balas Kirana dingin, suaranya lantang hingga bergema di lorong utama. “Jangan salahkan aku atau Dimas atas kekacauan hari ini. Ini adalah panen dari benih kebohongan yang Ibu tanam!”

“Rana! Jaga mulutmu!” bentak Ratih, mengacungkan jarinya yang gemetar ke wajah Kirana. “Ibu ini ibumu! Ibu melakukan semua itu demi menyelamatkan hidupmu!”

“Cukup, Tante Ratih!”

Sebuah suara berat melangkah mendekat dari arah pintu ruang VIP keluarga. Revan berjalan keluar. Pria itu masih mengenakan beskap putihnya, namun jas luar dan hiasan blangkonnya sudah dilepas. Wajah Revan tampak sangat tenang, namun matanya memancarkan rasa lelah dan luka yang amat dalam.

Di belakang Revan, berdiri seorang pria paruh baya berwibawa mengenakan kemeja batik emas—Bapak Surya Pranata, ayah Revan—bersama beberapa sesepuh keluarga besar Pranata yang menatap situasi dengan dahi berkerut kencang.

“Revan…” bisik Kirana, melonggarkan genggaman tangannya dari Dimas secara refleks.

Revan menatap Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu beralih menatap Dimas yang berdiri tegap di samping Kirana.

“Bawa mereka masuk ke ruang VIP,” ucap Revan pelan namun tegas kepada petugas keamanan gedung yang berdiri di dekatnya. “Jangan biarkan ada tamu atau media yang mengambil gambar di luar sini.”

“Tapi Revan, untuk apa memperpanjang masalah ini?!” sela Ratih panik, memegangi lengan Revan. “Minta pria ini pergi sekarang juga! Kita bisa atur ulang jadwal akad nikahmu dengan Rana minggu depan!”

Revan menepis tangan Ratih dengan kelembutan yang teramat dingin. “Tidak ada pengaturan jadwal baru sebelum masalah ini selesai, Tante. Masuklah.”

Pintu kayu jati tebal ruang VIP tertutup rapat, memutus seluruh kebisingan dari luar gedung. Di dalam ruangan berkarpet merah tebal itu, ketegangan terasa begitu pekat hingga membuat udara terasa menyesakkan.

Bapak Surya Pranata duduk di kursi sofa utama, sambil menatap tajam ke arah Dimas dan Ratih secara bergantian.

“Jadi…” buka Surya Pranata dengan suara berat yang menggelegar, “bisakah seseorang menjelaskan kepada saya, kenapa acara akad nikah putra saya ditunda hanya karena kehadiran pria ini?”

“Om Surya, maafkan saya…” potong Dimas, melangkah satu tapak ke depan dan membungkukkan badannya secara hormat. “Nama saya Dimas Arsen Mahendra. Saya hadir di sini hari ini bukan untuk mengacaukan pernikahan Revan dan Kirana.”

“Kalau bukan mengacaukan, lalu apa namamu berdiri di sini dengan baju basah kuyup sambil memegang tangan calon istri anak saya?!” tembak Surya tegas, matanya menyipit penuh intimidasi.

“Saya datang untuk mengembalikan kebenaran yang ditutupi selama lima tahun, Om,” jawab Dimas tenang, suaranya tidak bergetar sedikit pun meski berada di bawah tekanan puluhan pasang mata keluarga Pranata.

“Kebenaran apa maksudmu?” desak Surya.

“Biar Kirana yang jelaskan, Om,” sela Kirana maju mendampingi Dimas. Tangannya merogoh ponsel lipat hitam dan kertas-kertas di dalam kotak kayu tua yang ia dekap di dadanya.

“Rana, jangan!” jerit Ratih, mencoba merebut barang-barang itu, namun Revan dengan cepat berdiri menghalangi langkah Ratih.

“Biarkan Kirana bicara, Ibu,” pangkas Revan dengan nada menekan yang sangat dingin pada calon ibu mertuanya.

Kirana meletakkan ponsel lipat hitam itu di atas meja kaca di hadapan Surya Pranata. Dengan suara gemetar namun sarat akan ketetapan hati, Kirana menceritakan semuanya.

“Lima tahun lalu, aku berpikir Dimas meninggalkanku karena dia bosan dan memilih wanita lain,” ujar Kirana, air matanya menetes pelan menyusuri pipinya. “Selama lima tahun aku membawa rasa sakit itu. Aku merasa tidak berharga, aku merasa dikhianati. Tapi hari ini… sebelum melangkah ke meja akad bersama Revan, aku baru tahu bahwa lima tahun lalu Ibuku sendiri yang memaksa Dimas pergi.”

Surya Pranata menoleh tajam menatap Ratih. “Apa?”

“Ibu mengancam Dimas,” lanjut Kirana dengan napas memburu. “Ibu memanfaatkan kebangkrutan keluarga Dimas dan menawarkan bantuan dana dengan syarat Dimas harus berpura-pura menjadi pria brengsek, membuangku, dan menghilang dari hidupku selamanya.”

“Itu fitnah! Itu bohong!” jerit Ratih histeris, wajahnya pucat pasi. “Pria ini cuma mengarang cerita karena dia iri melihat Rana mau menikah dengan keluarga Pranata!”

“Silakan Om Surya tekan tombol play di ponsel itu,” bisik Dimas pelan sambil menunjuk ponsel tua di atas meja. “Itu adalah rekaman suara percakapan saya dan Tante Ratih lima tahun lalu.”

Surya Pranata mengulurkan tangannya yang kekar, mengambil ponsel lipat tersebut, lalu menekan tombol pemutar suara.

Di dalam ruang VIP yang kedap udara itu, gema suara Ratih lima tahun lalu kembali terdengar sangat jernih.

“Dimas, kalau kamu benar-benar mencintai Kirana, kamu harus meninggalkannya… Bantuan dana yang saya tawarkan untuk menyelamatkan bisnis ayahmu hanya berlaku jika kamu menghilang dari kehidupan Kirana selamanya! Buat Kirana membencimu!”

Klik.

Rekaman itu berakhir.

Keheningan yang amat mengerikan mendadak mencengkeram seluruh ruangan. Bapak Surya Pranata menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan mata rapat-rapat sambil menghela napas panjang yang terasa sangat berat.

“Ratih…” panggil Surya dengan suara rendah yang menakutkan. “Apakah suara di rekaman ini memang suaramu?”

Ratih gemetaran hebat. Ibunya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak mampu menyangkal atau mengeluarkan kata sepatah pun. Tangis penyesalan dan rasa malu yang luar biasa akhirnya pecah dari bibirnya.

“Tante Ratih…” ucap Revan pelan, menatap calon ibu mertuanya dengan raut kekecewaan yang tak terhingga. “Tante tega memanipulasi hidup Kirana sekejam ini?”

“Revan… Tante cuma mau yang terbaik untuk anak Tante!” ratap Ratih memohon di depan Revan. “Dimas waktu itu tidak punya apa-apa! Ibunya sakit, ayahnya bangkrut! Tante tidak mau Rana hidup sengsara!”

“Tapi Tante tidak punya hak untuk mengatur dan merusak takdir hidup seseorang dengan cara yang kotor!” bentak Revan, untuk pertama kalinya meluapkan amarahnya yang terpendam. “Tante membuat Kirana hidup dalam penderitaan batin selama bertahun-tahun! Dan Tante memanfaatkan saya serta keluarga saya untuk menutupi dosa masa lalu Tante!”

“Revan, maafkan Tante…” tangis Ratih makin histeris.

Bapak Surya Pranata berdiri tegak dari duduknya, merapikan kemeja batiknya. Wajah pengusaha senior itu tampak begitu dingin dan berwibawa.

“Cukup,” potong Surya mantap. “Keluarga Pranata adalah keluarga terhormat. Kami datang ke gedung ini untuk menyambut seorang menantu dengan ketulusan dan niat suci, bukan untuk terseret ke dalam drama manipulasi dan kebohongan keluarga.”

“Om Surya, saya mohon…” potong Kirana dengan mata berkaca-kaca, menundukkan kepalanya secara mendalam di hadapan ayah Revan. “Maafkan saya dan keluarga saya. Maafkan saya telah mempermalukan keluarga Pranata di hari penting ini…”

Surya menatap Kirana dengan pandangan yang melunak. Ada rasa iba yang besar di mata pria tua itu saat melihat pengantin wanita yang kacau dan basah kuyup di hadapannya.

“Kamu tidak salah, Kirana,” tutur Surya pelan namun berbobot. “Kamu adalah korban dari egoisme orang tuamu sendiri. Dan aku bangga pada kejujuranmu hari ini. Kamu wanita yang berani.”

Surya lalu berpaling menatap putranya, Revan. “Revan, bagaimana keputusanmu sebagai laki-laki?”

Revan menatap Kirana dalam-dalam. Ruangan itu kembali menjadi hening, menunggu keputusan dari pria yang paling dirugikan dalam peristiwa hari ini.

Revan melangkah mendekati Kirana, memegang kedua bahu gaun pengantin Kirana yang basah.

“Kirana,” panggil Revan lembut. “Dua tahun bersamamu adalah masa-masa yang sangat indah dalam hidupku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu dan ingin membangun rumah tangga bersamamu.”

Kirana menahan napasnya, air matanya menetes makin deras. “Revan…”

“Tapi aku tahu…” lanjut Revan dengan senyuman paling getir yang diukirnya, “pernikahan yang dibangun di atas bayang-bayang penderitaan pria lain yang tidak bersalah, serta kebohongan seorang ibu, tidak akan pernah membawa keberkahan.”

“Revan… apa maksudmu?” bisik Ratih ketakutan.

Revan berbalik menatap seluruh keluarga besar Pranata dan keluarga Kirana yang hadir di ruangan itu.

“Hari ini, di hadapan Ayah dan seluruh keluarga…” ucap Revan dengan suara lantang dan mantap, “saya, Revan Aditya Pranata, secara resmi menyatakan bahwa rencana pernikahan saya dengan Kirana dibatalkan.”

“Revan!” jerit Ratih histeris, nyaris pingsan jika tidak ditangkap oleh kerabat di belakangnya.

Kirana tertegun membeku. Ada rasa bersalah yang amat sangat menghantam dadanya, namun di sisi lain, ada perasaan lega yang luar biasa mendalam merayap di jiwanya. Revan telah memberinya kebebasan dengan cara yang sangat terhormat.

“Revan…” bisik Kirana, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. “Terima kasih… dan maafkan aku…”

Revan mengangguk pelan, menyapu air mata di pipi Kirana untuk terakhir kalinya. “Jangan meminta maaf, Kirana. Cari bahagiamu yang sebenarnya.”

Revan lalu berpaling menatap Dimas yang berdiri tegap di samping Kirana. Dua pria itu saling bertatapan mata selama beberapa detik—sebuah tatapan penuh penghormatan antar sesama lelaki.

“Dimas,” panggil Revan tegas.

“Iya, Revan,” sahut Dimas penuh hormat.

“Aku mengembalikan Kirana padamu,” tutur Revan dengan suara bergetar menahan emosi. “Jaga dia baik-baik. Jangan pernah biarkan dia menangis atau menderita lagi seperti lima tahun lalu. Kalau kamu menyakiti hatinya lagi… aku sendiri yang akan merebutnya kembali darimu.”

Dimas menelan ludahnya yang terasa berat, matanya memerah basah menatap Revan. Ia membungkukkan badannya secara mendalam. “Terima kasih, Revan. Saya berjanji demi nyawa saya… saya tidak akan pernah menyakiti Kirana lagi.”

“Bagus,” jawab Revan tipis. Pria itu kemudian berbalik menuju ayahnya. “Ayah, ayo kita pulang. Minta panitia mengumumkan kepada para tamu bahwa acara dibatalkan karena alasan internal keluarga.”

Surya Pranata menepuk bahu putranya dengan bangga. “Keputusan yang bijaksana, Nak. Mari kita pulang.”

Satu per satu rombongan keluarga Pranata melangkah keluar dari ruang VIP, meninggalkan Ratih yang terduduk lemas meratapi kegagalan pernikahan itu, serta Kirana dan Dimas yang berdiri berdua di tengah ruangan.

Hujan di luar gedung kini telah mereda, menyisakan gerimis tipis dan aroma tanah basah yang menenangkan.

Kirana melangkah keluar dari pintu samping gedung, masih mengenakan gaun pengantin putihnya yang kini sudah setengah mengering. Di sampingnya, Dimas berjalan pelan, menutupi bahu Kirana dengan jaket kulit hitam yang dibawanya.

“Kamu mau ke mana sekarang, Rana?” tanya Dimas lembut saat mereka berdiri di tepi jalan raya.

Kirana menoleh menatap Dimas. Wajah pria itu tampak begitu lelah, namun matanya memancarkan ketenangan yang sudah lama tidak dilihatnya.

“Aku tidak tahu, Dimas…” jawab Kirana jujur sambil tersenyum tipis. “Aku tidak bisa kembali ke rumah Ibu malam ini. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.”

“Kamu bisa menginap di tempat saudaraku di daerah selatan,” tawar Dimas hangat. “Aku akan mengantarmu sampai sana, setelah itu aku tidak akan mengganggu waktumu.”

Kirana menghentikan langkah kakinya, menatap tangan Dimas yang terulur di hadapannya.

“Siapa bilang kamu menggangguku?” bisik Kirana, menyipitkan matanya dengan binar kehangatan yang baru terpancar.

Dimas terpaku. “Maksudmu?”

“Kita kehilangan waktu lima tahun, Dimas,” tutur Kirana pelan, meraih jemari tangan Dimas dan menggenggamnya erat-erat. “Ada banyak cerita, banyak luka, dan banyak hal yang harus kita perbaiki bersama mulai hari ini.”

Dimas menatap genggaman tangan mereka, lalu menatap mata Kirana dengan rasa haru yang meluap-luap. Senyuman tulus yang sudah lima tahun menghilang akhirnya mengembang sempurna di bibir pria itu.

“Terima kasih karena tidak menyerah padaku, Kirana,” bisik Dimas serak.

“Terima kasih karena sudah kembali padaku, Dimas,” balas Kirana lembut.

Di bawah naungan langit sore yang berangsur cerah setelah badai, dua insan yang pernah terpisah oleh takdir dan kebohongan itu melangkah bersama, meninggalkan panggung masa lalu untuk menyambut lembaran baru yang lebih jujur dan penuh harapan.

TAMAT

Terima kasih banyak kepada seluruh pembaca setia yang sudah mengikuti kisah Kirana, Dimas, dan Revan dari awal hingga akhir! ❤️

Bagaimana menurut kalian akhir dari cerita ini?
Apakah kalian puas dengan keputusan Revan dan persatuan kembali Kirana & Dimas?

Jangan lupa tinggalkan pesan, kesan, dan komentar kalian di bawah ya! Sampai jumpa di cerita berikutnya! 👇

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Kedua, Free Novel, Mantan Kekasih, Romance
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita