Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku - Bab 3
Lorong samping ruang rias yang tadinya sunyi kini berubah menjadi panggung keheningan yang mencekat. Udara terasa kaku dan berat, seolah setiap napas yang dihirup membawa duka yang teramat pekat.
Revan berdiri tegak dalam balutan beskap putih bersih bertabur benang perak. Wajahnya yang biasa memancarkan ketenangan kini dipenuhi selapis keraguan dan kecemasan yang mendalam. Ia menatap Kirana, wanita yang tinggal selangkah lagi akan menjadi istrinya, sedang berdiri gemetar dengan gaun pengantin putih yang sudah tak lagi sempurna.
“Revan… maafkan aku…” bisik Kirana untuk kedua kalinya. Suaranya serak, pecah di udara dingin gedung pernikahan.
Revan mengambil satu langkah maju. Matanya tidak memancarkan amarah, melainkan sebuah kepedihan yang ditahan dengan sangat kuat. Ia menatap ponsel lipat tua di dekat kaki Kirana, lalu beralih menatap Ratih yang berdiri mematung bagai patung garam di sudut lorong.
“Siapa pria kemeja hitam yang tadi keluar dari lorong ini, Kirana?” tanya Revan pelan, suaranya tetap hangat namun ada getaran ketegangan di dalamnya. “Dan apa maksud ponsel tua itu?”
“Van, ini cuma salah paham biasa,” sela Ratih cepat, melangkah maju mencoba menutupi tubuh Kirana. Suaranya melengking tinggi, kentara sekali sedang menutupi kepanikan yang luar biasa. “Rana cuma agak stres dan panik menghadapi akad nikah. Kamu tahu sendiri kan, calon pengantin sering terkena sindrom panik sebelum ijab kabul? Ayo, Revan, kamu kembali dulu ke meja akad. Nanti Tante rapihkan lagi riasan Rana.”
“Ibu, cukup!” bentak Kirana tajam. Ia mengusap pipinya yang basah, melangkah keluar dari belakang tubuh ibunya hingga berdiri berhadapan langsung dengan Revan.
“Rana! Jaga bicaramu!” tegar Ratih dengan mata membelalak lebar. “Jangan membuat kekacauan di depan calon suamimu!”
“Calon suami?” Kirana tertawa pahit, air matanya kembali menetes menembus riasan pipinya. “Ibu masih berani menyebut Revan sebagai calon suamiku setelah apa yang Ibu lakukan padaku selama lima tahun ini?!”
“Rana, diam! Jangan bicara sembarangan!” seru Ratih, wajahnya yang pucat kini berganti merah padam oleh campuran rasa malu dan takut.
“Tante Ratih, tolong,” potong Revan tegas. Pria itu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Ratih berhenti menyela. Matanya tetap terkunci pada Kirana. “Biarkan Kirana bicara, Tante. Aku berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.”
“Tapi Revan, tamu-tamu sudah berkumpul di depan! Penghulu sudah siap!” ratap Ratih frustrasi. “Keluarga besar kita sedang menunggu di aula!”
“Penghulu dan tamu bisa menunggu lima menit, Tante,” balas Revan dingin, sebuah nada tegas yang jarang sekali dikeluarkan oleh pria selembut Revan. Ia kemudian kembali menatap Kirana. “Bicara padaku, Kirana. Pria tadi… dia Dimas, kan?”
Kirana mengangguk pelan. Dadanya terasa sangat sesak hingga ia harus menghirup udara banyak-banyak melalui mulutnya. “Iya, Van. Pria tadi adalah Dimas.”
“Pria brengsek yang meninggalkanmu lima tahun lalu tanpa alasan itu?” desak Revan, mencoba mencerna keadaan.
“Dia tidak pernah meninggalkan aku karena bosan atau memilih wanita lain, Revan…” jawab Kirana, suaranya bergetar hebat. “Selama lima tahun ini aku hidup dalam kebohongan besar.”
Revan mengerutkan dahinya rapat-rapat. “Kebohongan apa maksudmu?”
Kirana memungut ponsel yang jatuh itu dan menyodorkan benda tua itu ke dada Revan. “Dengarkan sendiri, Revan. Dengarkan rekaman suara yang ada di dalam ponsel ini.”
“Rana, jangan!” jerit Ratih histeris. Ibunya mencoba meraih ponsel itu dari tangan Kirana, namun Revan dengan cepat bergerak menangkis jemari Ratih dan mengambil ponsel tersebut dari genggaman Kirana.
“Tante Ratih, bersikaplah tenang,” kata Revan dengan nada menekan yang sangat dingin. Pria itu lalu menatap layar ponsel lipat yang masih menyala. “Bagaimana cara memutarnya, Kirana?”
“Tekan tombol tengah… ada file rekaman di sana,” cicit Kirana sambil menahan isak tangisnya.
Revan menekan tombol tersebut. Pengeras suara kecil ponsel lipat itu kembali mengeluarkan suara kresek statis yang khas, sebelum akhirnya gema percakapan lima tahun lalu kembali tercipta di lorong sepi itu.
“Dimas, kalau kamu benar-benar mencintai Kirana, kamu harus meninggalkannya.”
Suara Ratih terpancar jernih. Revan membelalakkan matanya, menatap Ratih dengan rasa tidak percaya yang sangat besar. Ratih serta-merta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merosot menyandar pada dinding lorong.
“Tolong kasihanilah anak saya, Dimas,” lanjut suara Ratih di dalam rekaman itu. “Keluargamu sedang hancur. Ayahmu terlibat masalah keuangan yang sangat besar dan sebentar lagi semua aset kalian akan disita. Kalau Kirana tetap bersamamu, masa depannya akan hancur!”
Suara Dimas yang parau terdengar membalas: “Tapi Tante… saya dan Kirana saling mencintai. Kami bisa melewati ini bersama-sama. Saya akan bekerja keras untuk—”
“Jangan egois, Dimas!” bentak suara Ratih dalam rekaman. “Bantuan dana yang saya tawarkan untuk menyelamatkan bisnis ayahmu hanya berlaku jika kamu menghilang dari kehidupan Kirana selamanya! Buat Kirana membencimu. Buat dia percaya kamu menyukai wanita lain, agar dia mau berpaling dan melupakanmu!”
Klik.
Rekaman itu selesai. Keheningan mendadak merayap kembali, merajam tiga insan yang berdiri kaku di lorong tersebut.
Revan menurunkan tangannya yang memegang ponsel. Matanya yang biasa teduh kini menatap Ratih dengan pandangan yang campur aduk antara terkejut, marah, dan keprihatinan yang luar biasa.
“Tante… Tante tega melakukan ini pada anak Tante sendiri?” bisik Revan, suaranya terdengar begitu berat dan tak percaya.
“Revan, kamu harus mengerti posisi Tante waktu itu!” tangis Ratih pecah, air matanya menetes merusak riasan mewahnya. Ibunya berlutut kecil, memegangi ujung beskap pengantin Revan. “Tante cuma mau yang terbaik untuk Rana! Dimas waktu itu bangkrut, keluarganya terlilit utang ratusan juta! Tante tidak mau anak perempuan Tante satu-satunya hidup melarat dan menderita!”
“Tapi Tante menghancurkan hatinya!” bentak Revan, suaranya meninggi hingga bergema di lorong. Pria itu mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman tangan Ratih dari beskapnya. “Tante membuat Kirana merasa tidak berharga selama bertahun-tahun! Tante membuat dia berpikir bahwa pria yang sangat dia cintai membuangnya begitu saja!”
“Aku ibu kandungnya, Revan!” jerit Ratih tak mau kalah, berdiri kembali dengan dada memburu. “Aku berhak menentukan mana jalan yang terbaik untuk anakku! Dan terbukti kan? Setelah dia lepas dari Dimas, dia bertemu denganmu! Kamu pria mapan, dari keluarga baik-baik, punya bisnis yang sukses! Apakah itu salah?!”
“Itu salah kalau dibangun di atas kebohongan dan penderitaan orang lain, Tante!” pangkas Revan tajam. Pria itu menggelengkan kepalanya prihatin, lalu menoleh menatap Kirana yang sejak tadi berdiri membisu dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
“Kirana…” panggil Revan lembut, melangkah mendekati wanita itu.
Kirana mendongak, menatap iris mata Revan yang bening. “Revan… aku… aku sangat menghargaimu. Dua tahun ini kamu begitu baik padaku, kamu mengobati luka hatiku, kamu merawatku saat aku jatuh… tapi…”
“Tapi hatimu masih tertinggal di masa lalu, kan?” sambung Revan pelan, menyuarakan ketakutan terbesar yang selama ini terpendam di dalam benaknya.
“Bukan begitu, Revan…” tangis Kirana, memegang kedua lengan beskap Revan dengan jemarinya yang dingin. “Aku menyayangimu, Revan. Sungguh. Tapi saat ini… jiwaku hancur. Dunia yang kuketahui selama lima tahun ini mendadak runtuh. Pria yang kutuduh sebagai pengkhianat ternyata mengorbankan cintanya demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman Ibu.”
Revan memejamkan matanya erat-erat. Ada gurat kesakitan yang sangat dalam terukir di wajah tampannya. Pria mana yang tidak hancur ketika mengetahui bahwa pengantin wanitanya masih terikat oleh benang luka dari masa lalu, hanya beberapa menit sebelum ijab kabul diucapkan?
“Revan, jangan dengarkan Rana!” Ratih kembali memohon panik, meremas tangan Revan. “Penghulu sudah menunggu di depan! Ayo kita laksanakan akadnya sekarang! Setelah nikah, Rana pasti akan melupakan semua ini! Tante mohon, Revan!”
“Cukup, Tante Ratih!” sentak Revan, melepaskan genggaman tangan Ratih dengan kasar.
Pria itu menatap Kirana dalam-dalam. Keheningan tercipta selama beberapa detik, seolah Revan sedang menimbang seluruh masa depannya dalam satu helaan napas panjang.
“Kirana,” panggil Revan dengan suara tenang yang teramat getir. “Apakah kamu bisa mengucapkan janji suci bersamaku di depan penghulu hari ini… dengan tulus tanpa bayang-bayang Dimas di dalam hatimu?”
Kirana membeku. Pertanyaan Revan bagaikan belati yang menusuk tepat di pusat dadanya. Ia menatap pria di hadapannya, lalu menatap kotak kayu di tangannya. Kebenaran yang baru saja ia ketahui masih membakar dadanya dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab.
“Revan… aku…” Kirana tercekik oleh air matanya sendiri. “Aku tidak ingin membohongimu… Aku tidak ingin memulai pernikahan kita dengan hati yang sedang hancur dan penuh keraguan…”
Jawaban jujur Kirana membuat Revan tersenyum tipis—sebuah senyuman paling sedih yang pernah Kirana lihat sepanjang hidupnya.
“Terima kasih atas kejujuranmu, Kirana,” bisik Revan.
Revan perlahan melepas kuncup bunga melati yang terselip di kerah beskap putihnya. Dengan gerakan perlahan namun mantap, pria itu meletakkan hiasan melati tersebut ke atas kotak kayu di genggaman Kirana.
“Revan! Apa yang kamu lakukan?!” jerit Ratih panik setengah mati. “Kamu tidak bisa membatalkan pernikahan ini! Mau ditaruh di mana muka keluarga kita?!”
“Saya tidak membatalkan pernikahan ini karena benci pada Kirana, Tante,” sahut Revan dingin, menatap Ratih dengan pandangan penuh kekecewaan. “Saya menunda pernikahan ini karena saya menghargai Kirana sebagai seorang manusia. Dia berhak menyelesaikan luka masa lalunya sebelum melangkah ke lembaran baru.”
“Revan…” bisik Kirana, tak percaya dengan kebesaran hati pria yang berdiri di hadapannya.
“Pergilah, Kirana,” tutur Revan lembut, mengusap air mata di pipi Kirana dengan ibu jarinya secara perlahan. “Cari Dimas. Selesaikan apa yang belum selesai di antara kalian lima tahun lalu. Cari jawaban atas semua pertanyaan yang menyiksamu selama ini.”
“Revan, maafkan aku…” tangis Kirana makin menjadi-jadi, menyandarkan dahinya di dada Revan yang terbungkus beskap putih. “Maafkan aku telah menyakitimup di hari penting ini…”
“Kamu tidak menyakitiku, Kirana. Kebohonganlah yang menyakiti kita bertiga,” balas Revan pelan, menepuk bahu Kirana dengan hangat. “Kalau setelah semua kebenaran itu terungkap hatimu tetap memilih kembali padaku… aku akan tetap di sini menunggumu. Tapi kalau hatimu ternyata memang harus kembali pada pemilik aslinya… aku akan belajar mengikhlaskanmu dengan tulus.”
“Revan! Kamu gila?!” seru Ratih histeris, menarik-narik lengan beskap Revan. “Bagaimana dengan para tamu?! Bagaimana dengan keluarga besar kita?!”
Revan menoleh menatap Ratih dengan pandangan tajam. “Biar saya yang keluar dan bicara pada penghulu serta para tamu undangan, Tante. Saya yang akan menanggung seluruh rasa malu hari ini, agar Kirana tidak disalahkan oleh orang-orang.”
Air mata Kirana menetes makin deras mendengarkan ketulusan Revan. Pria itu sungguh memiliki hati seluas samudera.
“Pergilah sekarang, Kirana,” dorong Revan pelan pada bahu Kirana. “Dimas mungkin belum jauh dari gedung ini.”
Kirana menatap Revan untuk terakhir kalinya, memberikan anggukan penuh rasa terima kasih dan penyesalan yang mendalam. Tanpa mempedulikan teriakan histeris ibunya yang terus memanggil namanya, Kirana memutar tubuhnya.
Dengan memeluk erat kotak kayu tua dan mengangkat kain gaun pengantin putihnya yang panjang, Kirana berlari kencang menelusuri lorong gedung pernikahan, menuju pintu keluar tempat Dimas menghilang.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Apakah Kirana berhasil mengejar Dimas sebelum pria itu pergi jauh?
Ketik “LANJUT” di kolom komentar jika kalian menyukai ketegasan Revan di bab ini!