Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku - Bab 2
Kotak kayu cokelat di genggaman Kirana terasa begitu berat, seolah membawa beban tak kasat mata yang sanggup meruntuhkan seluruh gedung pernikahan ini. Dinginnya permukaan kayu berukiran tipis itu merayap hingga ke telapak tangannya, mengalirkan getaran hebat ke seluruh tubuhnya.
“Rana! Kamu ngapain masih berdiri di situ?!” suara Ratih memecah keheningan lorong, terdengar melengking dan penuh ketakutan. Ibunya melangkah tergesa-gesa, meraih siku Kirana dengan genggaman yang teramat erat. “Buang kotak itu! Jangan dengarkan omongan pria gila itu! Revan dan keluarga besarnya sudah menunggu di depan penghulu!”
Kirana menoleh pelan, menatap wajah ibunya. Riasan tebal di wajah Ratih tak mampu menyembunyikan sapuan pucat yang kian merata di kulitnya. Keringat dingin menetes di pelipis sang ibu.
“Ibu…” panggil Kirana, suaranya terdengar asing dan serak di telinganya sendiri. “Kenapa Ibu kelihatan begitu takut saat melihat Dimas?”
Ratih melebarkan matanya, napasnya memburu. “Ibu tidak takut! Ibu cuma panik karena acara akad nikahmu bisa kacau! Jangan buat malu keluarga kita, Rana! Ayo masuk ke ruang rias sekarang!”
“Ibu kenal Dimas sebelum kami putus lima tahun lalu?” cecar Kirana, menatap lurus ke dalam iris mata ibunya yang bergerak gelisah.
“Nanti kita bahas! Sekarang bukan waktunya!” bentak Ratih, mencoba menarik paksa kotak kayu itu dari tangan Kirana. “Sini, berikan kotak itu pada Ibu!”
“Jangan sentuh!” jerit Kirana refleks, menarik mundur langkahnya dan memeluk kotak itu erat di dadanya.
Sikap defensif ibunya justru menjadi konfirmasi terselubung bagi Kirana. Ada rahasia besar yang tersembunyi di balik ketakutan Ratih.
“Mbak Kirana? Maaf, Mbak, Bapak Penghulu dan Mas Revan sudah bertanya-tanya,” panitia pernikahan kembali muncul dari balik pintu, wajahnya dipenuhi rasa cemas. “Akad nikah harus segera dimulai.”
Kirana memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan Revan—pria sabar yang selalu tersenyum menunggunya dengan penuh ketulusan—melintas di benaknya. Revan tidak berhak mendapatkan pengantin yang pikirannya sedang terpecah bagaikan kaca retak. Namun, Kirana juga tahu, melangkah ke meja akad saat ini dengan keraguan sebesar gunung di dadanya adalah sebuah kejahatan bagi pernikahan mereka kelak.
“Ibu masuk dulu,” ucap Kirana pelan namun amat dingin. “Beri aku waktu tiga menit sendirian di ruang rias. Aku butuh menghela napas.”
“Tapi, Ra—”
“Tiga menit, Bu!” potong Kirana tegas, menatap ibunya dengan tatapan yang tak bisa dibantah. “Atau aku tidak akan melangkah ke meja akad itu sama sekali.”
Ratih mengatupkan bibirnya kaku, menelan ludahnya yang terasa pahit. Dengan langkah berat dan raut wajah penuh keputusasaan, ibunya akhirnya berbalik dan berjalan menuju aula utama.
Kirana melangkah masuk ke dalam ruang rias yang kini sudah kosong. Ia mengunci pintu dari dalam, menyandarkan punggungnya pada pintu kayu, lalu perlahan merosot duduk di lantai dingin dengan gaun pengantin putihnya yang mengembang.
Di atas pangkuannya, kotak kayu tua itu menanti.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Kirana membuka pengait besi kusam di bagian depan kotak. Tutup kayu itu terangkat, merebakkan aroma kertas tua dan wewangian samar yang sangat ia kenali—aroma parfum yang dulu selalu dipakai Dimas.
Mata Kirana membelalak saat menatap isi kotak tersebut.
Di lapisan paling atas, tumpukan amplop cokelat kusam tertata rapi. Kirana mengambil salah satu amplop dan membukanya. Itu adalah surat-surat lama. Tulisan tangan rapi di atas kertas bergaris itu adalah tulisannya sendiri—surat-surat cinta yang dulu ia kirimkan untuk Dimas saat mereka masih berpacaran di masa kuliah.
“Kenapa… kenapa semua ini masih ada padanya?” bisik Kirana lirih pada ruangan yang hampa.
Bukan hanya suratnya, di bawah tumpukan amplop itu terdapat selembar foto berukuran sedang yang dilapisi plastik bening. Foto mereka berdua lima tahun lalu di tepi pantai. Dalam foto itu, Kirana tertawa lepas di atas punggung Dimas, sementara Dimas menatap kamera dengan senyuman paling bahagia yang pernah Kirana lihat.
Air mata Kirana menetes deras, membasahi permukaan plastik foto tersebut. Kenangan manis yang sengaja ia kubur dalam-dalam kini mencuat keluar secara paksa, menikam dadanya dengan rasa sakit yang luar biasa.
Namun, di bawah foto tersebut, ada selembar kertas HVS yang terlipat rapi. Kertas itu tampak agak menguning di bagian ujungnya. Kirana membukanya pelan.
Itu adalah surat tulisan tangan Dimas, bertanggal tepat pada malam di mana hubungan mereka berakhir lima tahun lalu.
Kirana, maafkan aku.
Malam ini, ketika aku mengatakan bahwa aku tidak lagi mencintaimu dan memilih wanita lain, itu adalah kebohongan terbesar dalam hidupku.
Hati ini masih milikmu, dan akan selalu menjadi milikmu.
Tapi aku harus membuatmu membenciku, Kirana. Kamu harus pergi jauh dariku, karena tinggal di sisiku hanya akan menghancurkan masa depanmu.
Bencilah aku selamanya, agar kamu bisa melupakanku dan menemukan kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan.
Tulisan tangan Dimas di akhir surat itu tampak tidak beraturan, dengan noda bekas tetesan air yang mengering di atas kertas—bukti bahwa surat itu ditulis di tengah isak tangis yang hebat.
Napas Kirana memburu tajam. Kertas di tangannya gemetar hebat.
“Bohong…” gumam Kirana, menyapu air matanya kasar. “Ini tidak mungkin! Dia cuma mau membuatku merasa bersalah! Dia cuma mau mengacaukan pikiranku di hari pernikahanku!”
Kemarahan dan kebingungan berperang hebat di dalam dada Kirana. Ia merogoh bagian dasar kotak tersebut, mencari jawaban yang lebih pasti. Jemarinya menyentuh sebuah benda padat keras yang terbungkus kain hitam.
Kirana membuka kain pembungkus itu. Sebuah ponsel lipat hitam bertipe lama tergeletak di sana. Ponsel yang sudah bertahun-tahun tidak diproduksi lagi.
Kirana menekan tombol daya. Layar kecil ponsel itu menyala redup, menampilkan indikator baterai yang sudah diisi penuh. Hanya ada satu file yang tersimpan di dalam menu rekaman suara ponsel tersebut.
Dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan mau melompat keluar dari rongga dadanya, Kirana menekan tombol play.
Suara kresek statis terdengar sejenak dari pengeras suara kecil ponsel tersebut, sebelum akhirnya sebuah suara wanita yang sangat, sangat ia kenali terdengar bergema jernih di dalam ruangan rias:
“Dimas, kalau kamu benar-benar mencintai Kirana, kamu harus meninggalkannya.”
Kirana membeku total. Suara itu adalah suara Ratih, ibunya sendiri.
“Tolong kasihanilah anak saya, Dimas,” lanjut suara Ratih di dalam rekaman tersebut, terdengar begitu dingin dan penuh penekanan. “Keluargamu sedang hancur. Ayahmu terlibat masalah keuangan yang sangat besar dan sebentar lagi semua aset kalian akan disita. Kalau Kirana tetap bersamamu, masa depannya akan hancur! Dia tidak akan punya masa depan jika menikah dengan anak dari keluarga bangkrut!”
Suara desah napas berat terdengar di rekaman, disusul suara parau Dimas lima tahun lalu:
“Tapi Tante… saya dan Kirana saling mencintai. Kami bisa melewati ini bersama-sama. Saya akan bekerja keras untuk—”
“Jangan egois, Dimas!” potong suara Ratih tajam di dalam rekaman. “Kirana baru saja mendapat beasiswa dan masa depannya masih sangat panjang! Kamu mau menyeret anak saya ke dalam penderitaan keluargamu?! Bantuan dana yang saya tawarkan untuk menyelamatkan bisnis ayahmu hanya berlaku jika kamu menghilang dari kehidupan Kirana selamanya!”
Hening sejenak di dalam rekaman itu, sebelum suara Ratih kembali terdengar:
“Buat Kirana membencimu. Buat dia percaya kamu menyukai wanita lain, agar dia mau berpaling dan melupakanmu. Jika kamu memberitahunya yang sebenarnya, saya pastikan bantuan untuk ayahmu dibatalkan, dan saya sendiri yang akan memisahkan kalian dengan cara yang lebih kejam.”
Klik.
Rekaman suara itu berakhir.
Ponsel lipat itu terlepas dari genggaman Kirana, jatuh mencium lantai marmer dengan bunyi kotor yang nyaring.
Dunia di sekitar Kirana seolah mendadak runtuh berkeping-keping. Seluruh udara di dalam ruangan rias itu mendadak tersedot habis, meninggalkannya dalam sesak yang amat menyiksa.
Kebohongan selama lima tahun.
Seluruh rasa benci, dendam, dan penderitaan yang ia tanggung selama lima tahun ini—rasa sakit karena merasa dibuang, merasa tidak cukup cantik, merasa dikhianati demi wanita lain—semuanya dibangun di atas panggung sandiwara yang dirancang oleh ibunya sendiri.
“Ibu…” bisik Kirana, suaranya pecah menjadi isak tangis yang teramat histeris. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, meratapi kebenaran kelam yang baru saja menghantam jiwanya.
Pintu ruang rias mendadak digedor dari luar.
“Rana! Rana, buka pintunya!” suara Ratih berteriak panik dari luar. “Waktunya sudah habis, Nak! Revan sudah berdiri di depan lorong mau menjemputmu!”
Kirana menyapu air matanya dengan kasar, merusak sisa-sisa riasan pengantin di wajahnya. Dengan tatapan mata yang kini berubah merah, liar, dan dipenuhi luka mendalam, Kirana berdiri tegak.
Ia mengambil kembali ponsel lipat dan surat-surat di dalam kotak kayu itu, lalu melangkah lebar membuka kunci pintu.
Klek.
Pintu terbuka. Ratih berdiri di sana dengan raut wajah lega yang mendadak sirna begitu melihat wajah Kirana yang kacau balau oleh air mata.
“Rana… kamu kenapa menangis lagi? Ya Tuhan, riasanmu rusak!” seru Ratih panik, hendak meraih wajah putrinya.
“Ibu jahat,” pangkas Kirana. Suaranya tidak keras, namun begitu dingin dan menusuk hingga membuat gerakan tangan Ratih terhenti seketika di udara.
“Rana… kamu bicara apa—”
“Aku sudah mendengar rekaman suara lima tahun lalu, Bu,” potong Kirana tajam, mengacungkan ponsel lipat hitam itu tepat di depan wajah ibunya. “Aku sudah mendengar setiap kata yang Ibu katakan pada Dimas!”
Wajah Ratih seketika berubah pucat pasi, bagaikan seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Bibirnya gemetaran hebat, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kenapa Ibu tega melakukan ini padaku?!” jerit Kirana, amarah yang terpendam lima tahun meledak sepenuhnya. “Kenapa Ibu menghancurkan hidupku dan membuatku membenci pria yang sangat mencintaiku selama lima tahun ini?!”
“Rana… dengarkan Ibu dulu, Nak…” tangis Ratih pecah, mencoba memegang kedua lengan Kirana. “Ibu melakukan semua itu demi kebaikanmu! Ibu tidak mau kamu hidup menderita bersama keluarga Dimas yang waktu itu sedang hancur!”
“Kebaikan siapa, Bu?!” cecar Kirana dengan napas memburu, menghempaskan tangan ibunya. “Kebaikan Ibu atau ketakutan Ibu sendiri?! Ibu membuatku hidup dalam rasa sakit dan kebohongan selama lima tahun! Ibu membuatku percaya bahwa aku dibuang demi wanita lain!”
“Kirana? Ada apa ini?”
Sebuah suara pria yang sangat tenang dan hangat mendadak terdengar dari arah lorong.
Kirana dan Ratih menoleh bersamaan. Revan berdiri di sana, gagah mengenakan beskap pengantin putih lengkap dengan blangkon. Pria itu menatap Kirana yang menangis histeris dengan raut wajah penuh keterkejutan dan kebingungan.
“Revan…” bisik Kirana, dadanya kian berdenyut nyeri melihat pria baik di hadapannya.
Revan melangkah mendekat, menatap wajah pengantinnya yang kacau, lalu beralih menatap kotak kayu tua dan ponsel di tangan Kirana. Pria itu tidak marah, tatapannya justru dipenuhi kelembutan dan rasa cemas yang mendalam.
“Kirana… apa yang terjadi?” tanya Revan pelan, suaranya begitu menenangkan. “Siapa pria yang tadi keluar dari lorong ini? Dan kenapa kamu menangis seperti ini tepat sebelum akad kita?”
Kirana menatap Revan dengan air mata yang terus mengalir deras. Lidahnya terasa kelu. Bagaimana mungkin ia bisa melangkah ke samping Revan di hadapan penghulu, sementara di dalam dadanya, kebenaran tentang masa lalunya baru saja meledak dan menghancurkan seluruh poros dunianya?
“Revan… maafkan aku…” bisik Kirana lirih, suaranya sarat akan rasa bersalah yang teramat besar.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Kalau kamu ingin tahu bagaimana reaksi Revan setelah mengetahui rahasia besar ini, jangan berhenti di sini.
Jangan lupa komen “LANJUT” kalau kalian ikut penasaran dengan kelanjutannya!