Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku - Bab 1

  1. Home
  2. Mantan Pacarku Datang Saat Akad Nikahku
  3. Bab 1 - Mantanku Datang di Hari Pernikahanku
Next

“Tolong hentikan sejenak! Mbak Kirana, ada seseorang yang ingin bertemu empat mata di luar ruangan.”

Seruan cemas dari salah seorang panitia acara pernikahan itu membuat riasan tebal di wajah Kirana seolah mendadak luntur oleh rasa terkejut. Kirana, yang sedang duduk kaku menatap cermin rias besar berbingkai ukiran emas, memegangi ujung gaun pengantin kebaya putihnya yang penuh payet berkilauan.

Lima belas menit lagi, janji suci akan diucapkan di depan penghulu. Di luar gedung, gema shalawat dan suara riuh tamu undangan sudah terdengar memenuhi aula utama. Revan Aditya Pranata—pria yang selama dua tahun terakhir mengobati seluruh luka hatinya—sedang duduk anggun di depan meja akad, menunggu kehadirannya.

“Mbak Maya, ini tinggal hitungan menit sebelum akad dimulai,” tegur Maya, sang perias pengantin, sambil menghentikan gerakan kuas di pipi Kirana. “Siapa yang nekat minta bertemu sekarang? Tamu-tamu sudah berkumpul di luar.”

Panitia wanita muda itu menyapu keringat dingin di dahinya, wajahnya tampak serba salah. “Pria itu… dia bilang ini sangat penting, Mbak. Dia berdiri di lorong samping ruang rias dan memohon hanya minta waktu tiga menit.”

Jantung Kirana berdesir tidak karuan. Ada firasat aneh dan tidak enak yang tiba-tiba merayap di dadanya.

“Rina, kamu tunggu di sini dulu ya. Biar Ibu yang keluar melihat siapa orangnya,” sela Ratih Wicaksono, ibu Kirana, yang berdiri anggun mengenakan kebaya seragam keluarga di pojok ruangan. Namun, raut wajah Ratih mendadak berubah agak tegang dan pucat.

“Tidak usah, Bu,” pangkas Kirana pelan. Ia berdiri tegak, merapikan selendang kain brokat pengantinnya. “Biar Kirana sendiri yang menemuinya. Mungkin ada kerabat atau rekan kerja yang membawa dokumen penting.”

Kirana melangkah keluar dari ruangan rias yang beraroma wewangian melati. Sepatu hak tingginya menepuk lantai marmer lorong gedung yang sepi. Angin dingin dari pendingin udara menusuk kulit bahunya, menambah sensasi ketegangan yang kian membuncah.

Langkah kaki Kirana mendadak terhenti total tepat di sudut lorong dekat pintu darurat.

Seluruh persendian tubuhnya terasa membeku. Napasnya tercekat di kerongkongan.

Seorang pria jangkung berdiri membelakanginya, mengenakan kemeja hitam polos tergulung rapi hingga siku. Pria itu perlahan memutar tubuhnya.

Mata hitam pekat itu. Rahang tegas yang kini tampak lebih tirus. Alis tebal yang sangat dihafalkannya.

Dimas Arsen Mahendra.

Mantan kekasihnya yang menghilang bagaikan ditelan bumi lima tahun lalu—tanpa alasan yang masuk akal, tanpa perpisahan yang layak, dan hanya meninggalkan luka menganga yang teramat dalam.

“Kamu…” bisik Kirana, suaranya gemetar hebat antara rasa tidak percaya dan amarah yang mendadak meluap bagaikan gunung berapi. “Kamu ngapain datang ke sini, Dimas?!”

Dimas menatap Kirana tanpa berkedip. Ada binar kelelahan, rasa bersalah, dan kerinduan yang teramat dalam di balik tatapan mata pria itu. Ia mengambil satu langkah mendekat, namun Kirana spontan mundur satu langkah sambil mengangkat tangannya.

“Jangan mendekat!” bentak Kirana, suaranya tertahan namun penuh penekanan tajam. Matanya mengilat menahan air mata yang mendadak merebak. “Kamu ngapain datang ke tempat ini, Dimas?! Dari mana kamu tahu aku menikah hari ini?!”

Dimas tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia menelan ludahnya, suaranya terdengar sangat parau. “Kirana… kamu cantik sekali hari ini.”

“Jangan basa-basi!” tembak Kirana tajam, napasnya memburu. “Hari ini aku menikah, Dimas! Hari ini akad nikahku dengan Revan! Kurang dari lima belas menit lagi aku akan sah menjadi istri orang lain! Kamu tidak punya hak berada di sini!”

“Aku tahu,” jawab Dimas pelan.

“Kalau kamu tahu, pergi dari sini!” jerit Kirana tertahan, air mata kemarahan lolos menetes di pipinya yang sudah dirias sempurna. “Kalau kamu datang cuma untuk membuat masalah, menghancurkan hariku, atau merusak kebahagiaanku… pulang, Dimas! Pergi!”

Dimas menatap gaun pengantin putih yang melekat di tubuh Kirana dengan tatapan yang sangat terpukul, namun ia berusaha keras menguasai emosinya. Pria itu menyapu wajahnya kasar dengan sebelah tangan.

“Aku tidak datang untuk menghentikan pernikahanmu, Kirana,” ucap Dimas dengan nada suara lurus dan tenang.

Kirana terdiam seketika. Kemarahannya yang tadi meluap-luap mendadak membentur dinding kebingungan. Ia menatap Dimas dengan dahi berkerut tajam.

“Apa kamu bilang?” cicit Kirana.

“Aku tidak datang untuk mengacaukan acara ini,” ulang Dimas mantap, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Kirana. “Aku juga tidak datang untuk memohon-mohon padamu agar membatalkan akad nikahmu dengan Revan.”

“Lalu untuk apa?!” seru Kirana frustrasi, menyapu air mata di pipinya agar tidak merusak tata rias. “Untuk apa kamu muncul tepat di hari aku mau menikah setelah lima tahun kamu menghilang tanpa kabar?! Kenapa baru sekarang, Dimas?!”

“Karena aku cuma butuh waktu lima menit untuk bicara denganmu,” balas Dimas serak. “Hanya lima menit, Kirana. Setelah itu, aku bersumpah tidak akan pernah menganggumu lagi.”

“Tidak mau!” tolak Kirana tegas sambil membelakangi Dimas. “Aku tidak punya waktu lima menit untuk melayani kegilaanmu! Revan sedang menungguku di luar! Keluarga besar kita sedang menungguku!”

“Kirana, tolong!” panggil Dimas, kali ini ada nada keputusasaan yang sangat kuat dalam suaranya. Pria itu tidak menyentuh Kirana, ia tetap menjaga jarak aman di lorong tersebut. “Dengarkan aku dulu!”

“Untuk apa aku mendengarkanmu?!” sentak Kirana memutar tubuhnya kembali. “Lima tahun lalu kamu membuangku begitu saja! Kamu bilang kamu tidak mencintaiku lagi! Kamu bilang kamu memilih perempuan lain dan suruh aku pergi dari hidupmu! Sekarang setelah aku berhasil menata hidupku, setelah aku menemukan pria yang benar-benar mencintaiku, kamu datang dan minta waktu lima menit?!”

Dimas memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap kalimat tajam yang dilontarkan Kirana. Wajahnya mengencang menahan rasa sakit yang amat sangat.

“Aku tahu aku pria brengsek di matamu, Kirana,” tutur Dimas lirih saat membuka matanya kembali. “Aku tahu kamu sangat membenciku. Dan kamu berhak membenciku seumur hidupmu atas apa yang terjadi lima tahun lalu.”

“Bagus kalau kamu sadar!” timpal Kirana dingin. “Jadi sekarang pergi dari sini sebelum aku panggilkan keamanan!”

“Aku akan pergi,” kata Dimas pelan. “Aku bersumpah aku akan langsung pergi dari tempat ini dan tidak akan pernah menampakkan mukaku lagi di hadapanmu… tapi ada satu syarat.”

Kirana tertawa pahit, tak percaya dengan keangkuhan mantan kekasihnya itu. “Syarat? Kamu pikir kamu dalam posisi bisa memberi syarat padaku?!”

“Dengarkan aku dulu selama lima menit,” tegas Dimas, matanya menatap Kirana dengan kesungguhan yang amat dalam. “Kalau setelah kamu mendengar semuanya kamu tetap ingin melangkah ke meja akad itu dan menikah dengan Revan… aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi.”

Kirana meremas jemarinya erat-erat. Jantungnya berdegup begitu kencang bagaikan genderang perang. Ada pertentangan emosi yang luar biasa hebat di dalam dadanya. Logikanya menyuruh untuk berbalik dan berlari menuju ruang rias, menyempurnakan penampilannya, lalu duduk manis di samping Revan. Namun, lubuk hatinya yang paling dalam—bagian diri yang dulu hancur berkeping-keping akibat perpisahan tanpa penjelasan yang logis itu—menuntut jawaban atas rasa penasaran yang membelenggunya selama lima tahun.

“Kenapa harus hari ini, Dimas?” tanya Kirana dengan suara bergetar, tatapannya menyalang tajam. “Kenapa kamu harus memilih hari di mana aku mengenakan kebaya pengantin ini? Kenapa tidak kemarin? Kenapa tidak bulan lalu? Kenapa harus lima belas menit sebelum aku mengucapkan janji suci bersama pria lain?!”

Dimas menatap linangan air mata di mata Kirana dengan dada yang terasa terhimpit berat. “Karena kalau bukan hari ini… kamu tidak akan pernah mau mendengarkanku sama sekali, Kirana. Kamu akan selalu menutup pintu itu rapat-rapat.”

“Dan kamu pikir dengan mengacaukan mentalku di hari pernikahan, aku akan berterima kasih?!” bentak Kirana, melangkah satu tapak mendekati Dimas dengan dada naik turun memburu. “Kamu jahat, Dimas! Dulu kamu jahat karena meninggalkanku begitu saja, dan hari ini kamu makin jahat karena mencoba merusak kebahagiaan yang susah payah kubangun bersama Revan!”

“Aku tidak berniat merusak kebahagiaanmu dengan Revan,” sahut Dimas cepat, suaranya terdengar begitu parau dan tertahan. “Revan pria baik. Aku tahu itu. Dia merawatmu dan membuatmu tersenyum dua tahun terakhir ini… jauh lebih baik dari apa yang pernah kuberikan padamu.”

“Kalau kamu tahu Revan pria baik, lalu untuk apa kamu di sini?!” seru Kirana frustrasi, menunjuk dada Dimas dengan jarinya yang gemetar. “Kamu mau aku membatalkan nikah?! Kamu mau aku mempermalukan keluargaku dan keluarga Revan di hadapan ratusan tamu undangan?! Itu yang kamu mau?!”

“Bukan!” pangkas Dimas tegas. “Aku tidak pernah memintamu membatalkan akad nikahmu! Aku cuma ingin kamu melangkah ke meja akad itu dengan seluruh kebenaran di tanganmu! Bukan dengan kebohongan yang sengaja ditanamkan padamu selama lima tahun ini!”

Kata-kata Dimas bagaikan cambuk yang menghantam kesadaran Kirana. Wanita itu membeku di tempatnya.

“Kebohongan apa…?” bisik Kirana, suaranya mendadak melemah, bercampur kepanikan yang teramat sangat. “Kebohongan apa yang kamu maksud, Dimas?!”

Dimas tidak langsung menjawab secara lisan. Pria itu menghela napas panjang yang terasa sangat berat, seolah mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dimilikinya.

Dengan perlahan, Dimas melepaskan tas selempang kulit berwarna hitam dari bahunya. Jemari tangannya yang kekar tampak gemetar sedikit saat ia menarik ritsleting tas tersebut. Dari dalam tas, Dimas mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna cokelat gelap berukuran sedang. Kotak kayu itu tampak kusam, dengan ukiran tipis di pinggirannya yang mulai mengelupas termakan waktu.

Dimas melangkah maju satu tapak, mengulurkan kedua tangannya, menyodorkan kotak kayu tersebut ke hadapan Kirana.

“Ini buat kamu,” panggil Dimas pelan.

Kirana menatap kotak kayu tua di hadapannya dengan dahi berkerut tajam. Ia enggan menyentuhnya, seolah kotak itu membawa racun yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.

“Apa ini?” tanya Kirana curiga, suaranya bergetar dingin. “Jangan aneh-aneh, Dimas. Aku tidak butuh kado pernikahan dari mantan pacar yang sudah membuangku.”

“Ini bukan kado pernikahan,” pangkas Dimas serak, tatapannya begitu redup dan dipenuhi misteri yang menyayat hati. “Dan ini bukan barang baru yang kubeli kemarin sore.”

“Lalu apa?!” desak Kirana, ketegangan di dadanya kian merayap hingga ke ujung jemari kakinya. “Isinya apa, Dimas?!”

Dimas menatap mata Kirana dalam-dalam. Tatapan yang dulu begitu familiar, tatapan yang pernah menjadi tempat teraman bagi Kirana, kini menjelma menjadi lorong gelap penuh penyesalan.

“Isinya adalah kebenaran,” jawab Dimas dengan suara rendah namun bergemuruh hebat di telinga Kirana. “Isinya adalah alasan yang sebenarnya… kenapa aku benar-benar meninggalkanmu lima tahun lalu.”

Kirana menahan napasnya. “Alasan sebenarnya? Kamu sendiri yang bilang lima tahun lalu kalau kamu sudah bosan padaku! Kamu bilang ada perempuan lain yang lebih cantik, lebih kaya, dan lebih bisa membahagiakanmu daripada aku! Kamu ingat ucapanmu sendiri di kafe sore itu?!”

“Aku ingat,” bisik Dimas dengan raut wajah hancur. “Aku ingat setiap kata brengsek yang keluar dari mulutku hari itu. Dan aku terpaksa mengucapkan semua kata-kata busuk itu agar kamu membenciku!”

“Terpaksa?!” Kirana tertawa tawa pahit, air mata bercucuran di pipinya tanpa bisa dibendung lagi. “Jangan melempar alibi murahan di hari pernikahanku, Dimas! Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?!”

“Kamu tidak perlu percaya pada ucapanku,” tegas Dimas, lalu menyodorkan kotak kayu itu lebih dekat ke dada Kirana. “Di dalam kotak ini ada foto-foto kita dulu, ada surat-surat yang tidak pernah sampai padamu, ada dokumen bisnis… dan ada sebuah ponsel lama yang berisi rekaman suara.”

Tubuh Kirana menegak kaku. “Rekaman suara?”

“Buka dan dengarkan isinya,” mohon Dimas, matanya memerah basah menatap Kirana. “Dengarkan sendiri siapa yang sebenarnya memintaku pergi dari hidupmu lima tahun lalu. Dengarkan sendiri alasan kenapa aku harus pura-pura menjadi pria brengsek di hadapanmu.”

“Mbak Kirana!”

Suara panggilan keras dari ujung lorong mendadak memecahkan ketegangan di antara mereka. Ratih, ibu Kirana, melangkah tergesa-gesa dengan raut wajah yang sangat panik dan pucat pasi.

“Rana, kamu ngapain lama sekali di sini?! Penghulu sudah duduk di meja akad! Revan dan keluarganya sudah menunggumu!” seru Ratih nyaring. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria jangkung yang berdiri di hadapan putrinya, langkah kaki Ratih mendadak terhenti seketika.

Mata Ratih membelalak lebar. Wajahnya yang semula merona oleh riasan mendadak pucat pasi bagaikan mayat.

“Di… Dimas?!” bisik Ratih gagap, suaranya bergetar hebat oleh rasa terkejut dan ketakutan yang luar biasa.

Kirana menoleh menatap ibunya yang berdiri kaku di ujung lorong, lalu kembali menatap Dimas yang masih menyodorkan kotak kayu di hadapannya. Kirana menyadari ada keanehan yang luar biasa melingkupi reaksi ibunya saat melihat Dimas.

“Ibu… kenal Dimas?” tanya Kirana pelan, dadanya mendadak terasa dihantam kepanikan hebat.

Dimas tidak menjawab. Ia hanya menatap Ratih dengan tatapan dingin dan penuh kepahitan, lalu perlahan meletakkan kotak kayu itu ke atas jemari tangan Kirana yang gemetar.

“Waktuku lima menit sudah habis, Kirana,” bisik Dimas serak. “Keputusan sekarang ada di tanganmu. Kamu bisa membuang kotak ini ke tong sampah dan melangkah ke meja akad… atau kamu bisa membukanya dan mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan darimu.”

Dimas memutarkan badannya, melangkah mundur perlahan, lalu berjalan pergi menyusuri lorong gelap menuju pintu darurat tanpa menengok ke belakang lagi.

Kirana berdiri mematung di tengah lorong sepi. Gaun pengantin putihnya terasa begitu berat. Di tangan kanannya, kotak kayu cokelat tua itu terasa begitu dingin dan menekan, menyimpan rahasia besar yang siap meruntuhkan seluruh dunia yang diketahuinya.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Menurut kalian, apa isi kotak yang dibawa Dimas?
Komen “LANJUT” kalau penasaran dengan kelanjutannya. 👇

Next
Tags:
Cinta Kedua, Free Novel, Mantan Kekasih, Romance
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita