Summary
Selama delapan tahun, Aruna Kirana Widyatmoko dan Dhika Bramantyo Suherman hanya bertemu sekali dalam setahun—tepat ketika musim panen tiba di sebuah kebun teh di lereng pegunungan. Mereka tidak pernah benar-benar berjanji untuk bertemu, tetapi selalu datang pada waktu yang sama karena masing-masing mewarisi sebagian kebun dari kakek mereka.
Dua kakek mereka dahulu adalah sahabat dekat yang membeli dan mengelola kebun itu bersama. Ketika meninggal, kepemilikan kebun dibagi kepada cucu mereka. Aruna mempertahankan kebun karena ingin menjaga warisan keluarganya, sementara Dhika awalnya menganggapnya sebagai aset yang suatu hari bisa dijual.
Namun selama bertahun-tahun, sesuatu tumbuh di antara mereka.
Dimulai dari percakapan singkat, kopi yang selalu diingat Dhika, kursi kayu yang diam-diam diperbaiki untuk Aruna, hingga kebiasaan saling menunggu di musim panen berikutnya. Tanpa pernah membicarakannya, keduanya perlahan menjadikan pertemuan tahunan itu sebagai bagian penting dalam hidup masing-masing.
Masalah muncul ketika seorang investor menawarkan harga sangat tinggi untuk membeli seluruh lahan dan mengubah kebun teh menjadi resor wisata. Dhika melihat peluang bisnis besar, sementara Aruna menganggap penjualan itu sebagai pengkhianatan terhadap warisan kakeknya.
Pertengkaran membuat sesuatu yang selama ini mereka hindari mulai terlihat: mereka bukan hanya takut kehilangan kebun, tetapi takut kehilangan satu-satunya alasan yang membuat mereka terus kembali kepada satu sama lain.
Ketika Aruna menemukan surat lama dari kedua kakek mereka, ia mengetahui bahwa kebun itu memang sejak awal dimaksudkan untuk menjadi tempat yang menjaga hubungan kedua keluarga. Tetapi surat itu tidak pernah menentukan bahwa Aruna dan Dhika harus saling mencintai.
Perasaan itu adalah milik mereka sendiri.
Kini mereka harus memutuskan: apakah kebun tersebut akan dijual demi masa depan yang lebih mudah, atau dipertahankan dengan konsekuensi finansial yang tidak ringan? Dan yang lebih penting, apakah setelah delapan tahun mereka akhirnya berani mengakui bahwa alasan sebenarnya mereka selalu kembali bukan lagi sekadar kebun?