Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 1
“Kau terlambat tiga jam, Aruna,” kata Dhika tanpa memalingkan wajah dari cangkir kopi hitam di tangannya.
Aruna menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu beranda pondok kayu, membiarkan ransel beratnya merosot begitu saja menghantam lantai papan. “Panen hari pertama dan kau sudah menghitung keterlambatanku? Jalan lereng timur tertutup rombongan pemetik, Dhika.”
Dhika menyunggingkan senyum tipis, lalu menunjuk sebuah cangkir seng yang masih mengepulkan uap halus di atas meja kayu. “Penyebab pastinya adalah kau lupa membawa sepatu boot cadangan dan harus kembali ke penginapan bawah. Kopi arabika, sedikit gula aren, persis seperti delapan tahun terakhir.”
Aruna menghela napas pendek, menatap cangkir itu sebelum melangkah maju dan duduk di kursi kayu berseberangan dengan pria itu. Sapaan awal mereka selalu seperti ini—tanpa basa-basi manis, tanpa kepura-puraan, seolah waktu dua belas bulan di luar tempat ini menguap begitu saja. Delapan tahun, dan pria ini masih hafal detail paling sepele dari kebiasaannya.
“Terima kasih,” gumam Aruna, meraih cangkir itu dan menyesap aromanya yang familiar. Rasanya hangat, pahit, dan sedikit manis. “Bagaimana kondisi daun di blok C? Pak Margo bilang ada sedikit serangga minggu lalu.”
“Sudah diatasi. Aku turun ke kebun sejak pukul lima pagi bersama para pemetik,” jawab Dhika. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Aruna dengan mata tajamnya yang selalu tampak tenang. “Daun muda di blok C sangat bagus tahun ini. Kadar airnya pas. Hasil petik pertama kita akan jauh lebih baik dari musim lalu.”
“Kurva aromanya harus dijaga. Aku tidak mau proses pelayuan dipercepat hanya demi mengejar kuota pengiriman minggu pertama,” sahut Aruna tegas. Naluri akademisnya sebagai dosen agronomi langsung mengambil alih. “Metode pelayuan dingin yang kubilang tahun lalu—”
“Sudah kupersiapkan rak bambu tambahannya di gudang belakang,” potong Dhika cepat. Senyumnya melebar perlahan, memperlihatkan deretan gigi yang rapi. “Kau pikir aku membiarkan tempat ini terbengkalai selama tiga hari menunggu kedatanganmu?”
Aruna mendengus, tetapi matanya menatap Dhika dengan binar hangat yang sulit disembunyikan. “Kau selalu merasa paling tahu segalanya, Dhika.”
“Bukan paling tahu, hanya paling siap,” balik Dhika ramah. “Lagipula, kalau aku tidak menyiapkan semuanya, kau pasti akan mengomel sepanjang hari dan merusak suasana panen.”
“Aku tidak mengomel. Aku memberikan arahan teknis.”
“Bagi telingaku, bedanya tipis sekali.”
Dhika terkekeh pelan, meraih teko seng di tengah meja lalu menuangkan sisa air panas ke cangkirnya sendiri. Suara gemericik air memecah keheningan di antara mereka, diiringi hembusan angin gunung yang membawa aroma pucuk teh segar dan tanah basah.
Sejak kakek mereka masing-masing berpulang dan mewariskan setengah kepemilikan kebun ini delapan tahun lalu, pola ini tidak pernah berubah. Dhika datang dari rutinitasnya sebagai konsultan bisnis di ibu kota, sementara Aruna datang dari kampus. Mereka bertukar peran dari dua orang asing yang terikat warisan menjadi dua orang yang memegang kendali penuh atas puluhan hektar hijau di lereng gunung ini.
“Bagaimana mengajar semester ini?” tanya Dhika, mengalihkan pembicaraan dari urusan teknis kebun.
“Padat. Mahasiswa tingkat akhir makin sulit diarahkan,” jawab Aruna, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kayu. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan cangkir kopi di genggamannya. “Tapi tetap lebih menyenangkan daripada harus duduk di rapat birokrasi kampus.”
“Atau duduk bersamaku di sini?” goda Dhika.
Aruna membuka matanya kembali, menatap Dhika yang sedang memperhatikannya dengan tatapan lekat. “Duduk di sini jauh lebih menguras tenaga emosional.”
Dhika tertawa renyah. Suara tawa yang hanya Aruna dengar setahun sekali, tetapi selalu terngiang dalam ingatannya sepanjang sisanya. “Aku anggap itu sebagai pujian.”
“Jangan terlalu percaya diri.”
“Kau tahu, Aruna? Setiap kali kau mulai bersikap dingin begitu, artinya kau sebenarnya senang ada di sini.”
Aruna menaruh cangkirnya di atas meja kayu dengan ketukan pelan. “Ayo periksa blok B. Aku ingin melihat hasil petikan pagi ini sebelum dibawa ke pabrik pelayuan.”
“Baik, Sang Dosen,” sahut Dhika seraya bangkit berdiri. Pria itu merapikan kemeja flanel gulung lengannya dan mengambil topi jerami yang tergeletak di atas bench. “Mari kita lihat apakah teori kampusmu masih cocok dengan realita lapangan.”
Mereka menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan tanaman teh yang menghijau sejauh mata memandang. Langit siang itu sedikit berawan, membiarkan sinar matahari menerobos tipis-tipis di antara celah dedaunan. Suara gelak tawa para pemetik teh wanita bersahut-sahutan di kejauhan, berpadu dengan ketukan keranjang bambu di punggung mereka.
Aruna berjalan di depan, mengamati jemari para pemetik yang lincah memetik pucuk-pucuk daun teratas—*pucho* tambah dua daun muda bawah. Dhika berjalan setengah langkah di belakangan, matanya sesekali beralih dari deretan pohon teh ke sosok perempuan di depannya.
“Petikan di deretan sebelah kiri sedikit terlalu dalam,” cetus Aruna tanpa menoleh, menunjuk salah satu area. “Akar napasnya bisa terganggu kalau mereka memotong sampai ke tangkai keras.”
“Aku sudah mengingatkan Pak Margo pagi tadi. Tapi pekerja baru agak terburu-buru,” sahut Dhika, melangkah mendekati area yang ditunjuk Aruna. “Nanti sore kita evaluasi lagi.”
Jalan setapak semakin menanjak dan meliuk mengitari tebing tanah yang agak curam. Tanah liat yang basah sisa hujan semalam membuat jalakan agak licin, terutama di area yang tertutup lumut halus.
Aruna melangkah dengan hati-hati, tetapi matanya terlalu fokus menatap pucuk teh di sisi kanan. Sepatunya terpeleset di atas batuan basah.
“Aruna!”
Tubuh Aruna hilang keseimbangan, oleng ke arah jurang dangkal di sisi jalan. Sebelum ia sempat berteriak, sebuah tangan kekar menyergap lengan atasnya dengan sigap, menarik tubuhnya kembali ke atas jalan setapak dengan satu sentakan kuat.
Dada Aruna terbentur ringan pada bahu Dhika. Napasnya memburu seketika. Tangan kanan Dhika tertahan erat di lengan atas Aruna, sementara tangan kirinya secara refleks menahan pinggang Aruna agar tidak kembali merosot.
Jarak mereka terpotong hingga tersisa beberapa sentimeter saja.
Aruna mendongak. Ia bisa merasakan kehangatan napas Dhika yang memburu tepat di dahi dan pelipisnya. Aroma parfum kayu bercampur bau tanah basah melekat kuat dari kemeja flanel yang dipakai Dhika. Mata pria itu menatapnya lurus, memancarkan kecemasan yang teramat nyata—jauh lebih dalam dari sekadar kekhawatiran antarpartner kerja.
Selama beberapa detik yang hening, tak satu pun dari mereka bergerak. Angin gunung berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Aruna hingga menyapu pipi Dhika.
“Kau… tidak apa-apa?” suara Dhika terdengar agak serak, berbisik pelan.
Genggaman Dhika di lengannya terasa sangat hangat melalui kain tipis kemeja Aruna. Ada getaran halus di sana yang membuat dada Aruna berdesir aneh—perasaan tidak biasa yang selalu berusaha ia tekan dalam-dalam setiap kali mereka berdekatan.
“Aku… tidak apa-apa,” jawab Aruna lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh suara desir angin.
Dhika tidak langsung melepaskan pegangannya. Ibu jarinya mengusap pelan bagian luar lengan Aruna, sebuah tindakan kecil yang tidak sadar dilakukan, sebelum akhirnya pria itu perlahan menarik tangannya kembali.
“Jalanan ini licin,” kata Dhika, berdeham pelan untuk menguasai kembali nada suaranya. Ia berbalik setengah badan, mengulurkan tangannya ke belakang. “Pegang tanganku. Sampai kita lewat area tanah liat ini.”
Aruna menatap telapak tangan Dhika yang terbuka di depannya. Ada jeda dua detik sebelum ia akhirnya menaruh jemarinya di atas telapak tangan itu. Jemari Dhika langsung menggenggamnya erat—mantap, protektif, dan memberikan rasa aman yang mendadak membuat jantung Aruna berdegup tidak karuan.
Mereka berjalan dalam diam selama sepuluh menit berikutnya hingga mencapai area pondok utama kembali. Tidak ada yang bersuara, tetapi genggaman tangan itu baru terlepas ketika mereka melangkah masuk ke teras.
“Pemeriksaan blok B kita lanjutkan nanti sore saja,” kata Dhika memecah keheningan, berusaha mengembalikan atmosfer santai mereka. “Kaki atau pergelanganmu tidak ada yang terkilir, kan?”
“Tidak. Cuma kaget sedikit,” sahut Aruna, duduk kembali di kursi teras sambil mengusap bekas pegangan Dhika di lengannya. “Terima kasih, Dhika.”
“Itu kegunaanku ada di sini,” jawab Dhika tipis. “Menjagamu agar tidak jatuh dari tebing kebunmu sendiri.”
Aruna hampir saja tersenyum dan hendak membalas godaan itu ketika suara deru mesin mobil memotong percakapan mereka. Sebuah sedan hitam mulus perlahan menaiki jalan berbatu menuju pelataran pondok—pemandangan yang sangat asing untuk kebun teh terpencil ini.
Dhika menaikkan alisnya, berdiri tegak di tepi teras. Aruna pun ikut menegakkan posisi duduknya, matanya picik menatap mobil yang berhenti tepat di depan tangga kayu.
Seorang pria paruh baya berkemeja rapi dan berpenampilan klimis turun dari pintu penumpang. Ia membawa sebuah map kulit tebal di tangannya dan memamerkan senyum profesional yang sangat terukur.
“Selamat siang, Pak Dhika, Bu Aruna,” sapa pria itu seraya melangkah naik ke teras. Langkah kakinya terdengar mantap di atas papan kayu.
“Pak Adrian?” Dhika mengernyit, memajukan langkahnya satu tindak. “Saya pikir pertemuan kita baru dijadwalkan minggu depan di Jakarta.”
Pria bernama Adrian Halvorsen itu tersenyum makin lebar, mengangguk hormat kepada Aruna yang masih terpaku di kursinya. “Maaf mengganggu panen hari pertama Anda berdua. Namun pihak direksi kami memutuskan untuk tidak menunda lagi. Ada perubahan penting dalam dinamika investasi kawasan ini.”
Aruna berdiri perlahan, matanya bergantian menatap Dhika dan pria asing di depannya. “Investasi? Dhika, apa maksudnya ini?”
Dhika tidak langsung menjawab. Ia menatap Adrian dengan ekspresi sulit diartikan. “Pak Adrian adalah perwakilan dari PT Nusantara Resort. Kami sempat berkomunikasi beberapa minggu lalu.”
“Bukan sekadar berkomunikasi, Pak Dhika,” potong Adrian dengan suara tenang namun penuh penekanan. Ia meletakkan dokumen map kulit itu di atas meja kayu, tepat di samping dua cangkir kopi seng milik Aruna dan Dhika. “Kami telah menyelesaikan penilaian akhir atas lahan ini. Perusahaan kami bersedia membeli seluruh area kebun teh ini—seratus persen kepemilikan—dengan nilai tiga kali lipat dari harga pasar saat ini.”
Aruna merasa udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin. “Membeli? Kebun ini tidak dijual.”
“Ibu Aruna, tolong baca dulu draf penawarannya,” kata Adrian ramah, memajukan folder tersebut ke tengah meja. “Angka yang kami tawarkan sangat fantastis. Lahan ini akan diubah menjadi kompleks resor pariwisata terpadu. Keuntungan finansial untuk Anda berdua sangat besar, cukup untuk menjamin masa depan keluarga Anda tanpa harus bersusah payah mengelola kebun yang margin keuntungannya semakin menipis ini.”
“Saya bilang kebun ini tidak dijual!” nada suara Aruna meninggi, ketenangannya mendadak menguap. Ia menatap Adrian tajam, lalu beralih menatap Dhika yang berdiri mematung. “Dhika! Katakan padanya kalau tempat ini bukan barang dagangan!”
Dhika tidak menyahut. Tangannya terangkat, mengusap dagunya dengan gelisah. Ia tidak menatap mata Aruna.
“Dhika?” panggil Aruna lagi, kali ini dengan nada bersitegang yang menuntut jawaban.
“Aruna, dengarkan dulu,” kata Dhika pelan, suaranya sangat tenang namun sarat ketegangan. “Angka yang mereka ajukan memang tidak main-main. Secara rasional—”
“Rasional?” Aruna memotong dengan tawa sinis yang getir. “Ini kebun peninggalan Kakek! Tempat ini dibangun dari nol oleh kakekmu dan kakekku! Bagaimana bisa kau bicara soal rasionalitas di depan orang asing ini?”
“Bu Aruna,” Adrian menyela dengan nada mediasi yang sangat profesional. “Kami tidak bermaksud menekan. Namun penawaran khusus ini memiliki batas waktu yang sangat ketat. Pihak investor memberi batas waktu hingga akhir masa panen musim ini—tepatnya dua minggu dari sekarang. Jika keputusan tidak diambil sebelum panen selesai, penawaran ini batal dan kami akan beralih ke lahan di lereng sebelah.”
Adrian merapikan kemejanya, lalu mengangguk sopan. “Saya tinggalkan dokumen ini. Diskusi internal Anda berdua jauh lebih penting saat ini. Saya tunggu kabar baik dari Pak Dhika.”
Pria itu berbalik, melangkah turun dari teras, dan kembali masuk ke dalam sedannya. Dalam hitungan detik, mobil hitam itu sudah menghilang di balik belokan jalan berbatu, menyisakan debu tipis dan keheningan yang mencekam di antara Aruna dan Dhika.
Dokumen bersampul kulit hitam itu tergeletak bisu di atas meja, di antara dua cangkir kopi yang kini sudah mendingin.
Aruna menatap dokumen itu seolah-olah benda itu adalah racun beracun. Tubuhnya agak gemetar. Ia berpaling menatap Dhika yang masih berdiri membelakanginya, menatap hamparan kebun teh di bawah sana.
“Kau sudah tahu soal ini sebelum datang ke sini, kan?” suara Aruna bergetar, menahan ketegangan yang mendadak meluap di dadanya. “Itu sebabnya kau bilang penyerahan hasil panen harus dipercepat?”
Dhika membalikkan badan perlahan. Tatapannya rumit, dipenuhi beban emosional yang selama ini selalu ia sembunyikan rapat-rapat.
“Aku hanya mendengarkan penawaran mereka, Aruna. Aku belum menyetujui apa pun,” kata Dhika datar.
“Tapi kau mempertimbangkannya!” tuduh Aruna. Langkah kakinya maju mendekati Dhika. “Kau mau menjual kebun ini!”
“Kebun ini makin sulit dikelola secara finansial, Aruna! Kau tahu berapa biaya peremajaan pohon di blok A dan D? Kau tahu berapa banyak kita merugi dua tahun lalu saat cuaca buruk?” suara Dhika mulai meninggi, pertahanan rasionalnya mulai retak. “Kita tidak bisa selamanya berpura-pura bahwa tempat ini menghasilkan keuntungan besar hanya demi nostalgia!”
“Ini bukan soal nostalgia! Ini warisan!” Aruna membalas, matanya memerah. “Tempat ini satu-satunya hal yang tersisa dari Kakek! Dan tempat ini… tempat ini satu-satunya alasan—”
Aruna mendadak menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat.
*Satu-satunya alasan kita bertemu.*
Kalimat itu menggantung tersirat di udara, tak terucapkan, namun memenuhi setiap ruang kosong di antara mereka.
Dhika menatap Aruna lurus-lurus. Langkah pria itu maju satu tindak, memperpendek jarak di antara mereka. Ekspresi wajahnya berubah tegang.
“Satu-satunya alasan apa, Aruna?” tanya Dhika dengan suara rendah, menekan. “Satu-satunya alasan apa?”
Aruna memalingkan wajahnya, menolak menatap mata Dhika. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. “Dua minggu. Kau mau kita mengambil keputusan sebelum masa panen ini berakhir?”
“Investor memberi batas waktu sampai panen selesai,” ulang Dhika pelan.
Aruna mengangguk pelan, senyum pahit terukir di bibirnya. “Bagus. Kalau begitu, saat panen tahun ini selesai, cerita tempat ini juga selesai. Dan begitu kebun ini dijual… kita tidak akan punya alasan lagi untuk saling menemui.”
Dhika membeku. Kata-kata Aruna menghantamnya seperti pukulan telak di dada.
Aruna tidak menunggu jawaban Dhika. Ia berbalik, merenggut tas ranselnya dari lantai teras, dan berjalan cepat meninggalkan pondok tanpa menoleh lagi, melangkah menuruni jalan kebun yang licin sendirian.
Dhika berdiri sendirian di teras yang sepi. Matanya terpaku pada map kulit hitam di atas meja, lalu beralih menatap punggung Aruna yang semakin menjauh di antara hamparan hijau tanaman teh. Musim panen kedelapan baru saja dimulai, tetapi akhir dari segalanya kini sudah tergantung di depan mata.
BERSAMBUNG…