Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 2

  1. Home
  2. Kebun Teh yang Diwariskan Berdua
  3. Bab 2 - Hal-Hal yang Tidak Pernah Dibicarakan
Prev
Next

Dua cangkir kopi seng yang membeku dingin di atas meja kayu itu terasa jauh lebih bising daripada raungan mesin sedan milik Adrian yang baru saja melesat pergi.

Dhika masih berdiri di tepi teras, matanya tak bergeming dari jalan berbatu yang kini kosong, menyerap sisa gema dari kalimat terakhir Aruna. *Kalau kebun ini dijual… kita tidak akan punya alasan lagi untuk saling menemui.*

Pria itu menarik napas panjang, merogoh saku celananya, lalu melangkah pelan menuju meja. Ia mematikan rokok yang bahkan belum sempat dinyalakan, menyeret kursi kayu, dan duduk sendirian. Jemarinya meraih map kulit hitam berlogo PT Nusantara Resort. Ia membuka lembaran kertas tebal di dalamnya, mencoba menatap angka-angka fantastis yang tertera di sana dengan mata seorang konsultan bisnis.

Margin keuntungan kebun yang merosot tiga tahun terakhir, estimasi biaya peremajaan blok A yang membengkak, potensi risiko iklim, dan nilai akuisisi yang ditawarkan. Semuanya masuk akal. Secara ekonomis, menjual kebun ini adalah keputusan paling cerdas yang bisa dibuat seorang pemilik aset. Namun, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun karirnya, logika angka di kepala Dhika goyah hanya karena satu baris kalimat yang diucapkan seorang perempuan dengan napas terengah-engah dan mata memerah.

“Pak Dhika?”

Suara Pak Margo memecah keheningan dari arah tangga beranda. Pengelola kebun paruh baya itu berdiri ragu-ragu sambil memegang topi capingnya. “Bu Aruna tadi lewat di lorong sortir. Kelihatannya wajahnya kurang tenang. Ada masalah dengan penyerahan berkas pabrik?”

Dhika menutup map tebal itu dengan ketukan pelan. “Tidak ada masalah teknis, Pak Margo. Hanya beberapa hal administratif.” Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang. “Bu Aruna sudah makan siang?”

“Belum, Pak. Tadi langsung jalan ke gudang pelayuan belakang. Katanya mau memeriksa pengatur suhu sendirian.”

Dhika menghela napas, jemarinya mengetuk permukaan meja kayu yang kasar. “Pak Margo, tolong minta Mbak Sri membungkuskan nasi timbel dari dapur penginapan. Antarkan ke gudang pelayuan. Jangan bilang saya yang menyuruh.”

Pak Margo terkekeh tipis, mengangguk paham. “Baik, Pak. Saya suruh Mbak Sri langsung antar ke sana.”

—

Gudang pelayuan beraroma dedaunan memar yang khas dan hangat. Aruna sedang berdiri di depan panel tombol pengatur kipas angin besar ketika suara pintu berderit terbuka. Ia tidak menoleh, menyangka itu adalah salah satu pekerja kebun.

“Bisa tolong periksa tekanan udara di rak tiga, Pak? Saya merasa sirkulasinya—”

“Tingkat kelembabannya sudah turun dua persen dari jam sembilan tadi,” potong sebuah suara yang sangat ia kenal.

Aruna menghentikan jemarinya di atas tombol pengatur. Ia menoleh perlahan, menemukan Dhika berdiri dua meter di belakangnya dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Di dekat meja sortir dekat pintu, sebuah kotak makanan berbungkus daun pisang sudah tergeletak bersama sebotol air mineral.

“Aku tidak menyuruh siapa pun membawakan makanan,” kata Aruna dingin, berusaha menjaga jarak emosionalnya.

“Mbak Sri yang mengantarkannya,” sahut Dhika santai, melangkah mendekat ke arah rak bambu yang tersusun rapi. Ia mengambil sehelai daun teh yang sedang dilayukan, memilinnya di antara ibu jari dan telunjuk. “Tapi aku yang memintanya. Kau punya kebiasaan buruk lupa makan kalau sedang marah atau sedang panik. Delapan tahun dan pola itu tidak pernah berubah.”

Aruna mengetatkan rahangnya. “Aku tidak marah. Aku sedang bekerja.”

“Tentu saja. Dan warna merah di matamu itu pasti hanya karena debu daun teh,” balas Dhika tipis, menatap Aruna dengan kilat tengil yang sangat mengesankan bahwa ia tidak terpengaruh oleh gertakan Aruna.

“Kau datang ke sini hanya untuk mengejekku, Dhika?”

“Aku datang untuk memastikan partner bisnisku tidak pingsan di antara rak pelayuan sebelum kita menyelesaikan revisi target panen minggu pertama,” kata Dhika datar, walau matanya menatap Aruna dengan kehangatan yang sulit disembunyikan. Ia menunjuk bungkus nasi di meja. “Makan dulu. Makanan itu tidak bersalah pada kakekmu.”

Aruna menatap bungkus nasi itu, lalu menatap Dhika. Rasa kesal masih membakar dadanya, tetapi perutnya yang memang belum terisi sejak pagi memberikan sinyal protes yang tak bisa diabaikan. Dengan helaan napas berat, Aruna berjalan menuju meja kayu panjang dan membuka bungkus nasi tersebut.

Dhika tidak pergi. Pria itu menyandarkan pinggulnya pada tepi meja kayu beberapa jengkal dari tempat Aruna duduk, memperhatikannya makan dalam diam.

“Bagaimana pengajaranmu di kampus?” tanya Dhika tiba-tiba, memecah kecanggohan yang merayap di antara mereka.

Aruna mengunyah pelan sebelum menjawab, nada suaranya masih terikat jarak. “Biasa saja. Sama seperti tahun lalu.”

“Kau masih mengajar kelas sains tanah untuk tingkat dua?”

“Pindah ke manajemen sumber daya lahan,” sahut Aruna singkat. “Kenapa tiba-tiba bertanya?”

“Hanya sadar,” kata Dhika pelan, pandangannya tertuju pada jendela gudang yang menampilkan hamparan bukit hijau di luar. “Selama delapan tahun, kita selalu bicara soal kebun ini. Soal target petik, harga pupuk, perbaikan atap pabrik, atau kenangan kakek kita. Tapi aku hampir tidak tahu apa-apa soal kehidupanmu sebelas bulan sisanya di kota.”

Aruna menghentikan sendoknya sejenak. “Kehidupanku biasa saja, Dhika. Tidak ada yang spektakuler seperti kehidupan konsultan bisnis di Jakarta yang selalu berpindah dari satu ruang rapat ber-AC ke ruang rapat lainnya.”

Dhika tertawa pendek, tawa garing yang tidak sampai ke mata. “Kau pikir hidup di Jakarta sekeren itu? Rapat tiga jam hanya untuk membahas efisiensi biaya yang akhirnya memotong gaji buruh. Kadang aku merasa otakku diperas habis hanya untuk hal-hal yang tidak punya jiwa.”

Aruna menoleh, agak terkejut mendengar kejujuran yang jarang keluar dari mulut pria yang selalu tampak percaya diri dan rasional itu. “Kalau begitu kenapa kau tidak berhenti?”

“Karena bayarannya tinggi,” jawab Dhika jujur dan praktis, persis seperti karakter aslinya. “Dan karena aku belum menemukan hal lain yang membuatku merasa punya alasan untuk berhenti.”

“Termasuk mencari pasangan?” selutuk Aruna tanpa sadar, yang langsung membuatnya menyesali pertanyaan itu detik berikutnya.

Dhika menaikkan sebelah alisnya, bibirnya menarik senyum tipis yang memprovokasi. “Kenapa? Kau berniat menjodohkanku dengan dosen sejawatmu?”

“Lupakan,” potong Aruna cepat, kembali menyuap nasinya dengan ketus. “Aku cuma bertanya.”

“Tidak ada waktu untuk itu,” kata Dhika, nadanya berubah menjadi lebih tenang dan agak rendah. “Jadwalku berantakan. Lagipula… sulit menemukan orang yang bisa memahami kenapa aku harus mengosongkan jadwal dua minggu penuh setiap bulan ini hanya untuk pergi ke gunung tanpa sinyal telepon yang stabil.”

Aruna terdiam. Kalimat Dhika menggantung riak halus di dadanya. Ia memikirkan kehidupannya sendiri di kampus—beberapa pria pernah mencoba mendekatinya, tetapi hubungan itu selalu kandas karena Aruna selalu merasa ada ruang di dirinya yang tertutup rapat, sebuah ruang yang secara tidak sadar selalu ia reservasi untuk perjalanan tahunan ke lereng gunung ini.

“Kau sendiri?” tanya Dhika lembut. “Pria yang waktu itu… yang pernah meneleponmu saat panen tahun keenam? Pria yang mengirimkan bunga ke penginapan?”

Aruna mendengus pelan, mengingat kejadian dua tahun lalu. “Dia ingin aku menetap di Surabaya setelah menikah dan meninggalkan semua kegiatan peneltian lapangan. Aku menolaknya di minggu ketiga.”

“Alasan yang sangat khas Aruna,” komentar Dhika, ada nada lega yang terselip sangat tipis di balik suaranya.

“Aku tidak suka diatur oleh orang yang tidak memahami apa yang penting bagiku,” tegas Aruna.

“Termasuk aku?”

Aruna menghentikan makannya secara total. Ia mendongak, menatap Dhika tepat di matanya. “Terutama kau. Apalagi kalau kau berusaha menjual sesuatu yang sangat berharga bagiku.”

Dhika tidak langsung membantah. Pria itu menggeser duduknya sedikit lebih dekat, melipat kedua tangannya di atas dada. “Kau masih menganggapku musuh dalam hal ini?”

“Kau mempertimbangkannya, Dhika. Bagi orang seperti kau, consideration is the first step to surrender.”

“Itu logika bisnis, Aruna. Bukan berarti aku tidak punya pertimbangan emosional,” sahut Dhika, suaranya bertahan di nada rendah yang tenang namun pekat. “Kau pikir aku tidak ingat bagaimana kakek kita duduk di beranda itu sambil meminum teh hasil petikan pertama? Kau pikir aku lupa?”

“Kalau kau ingat, kenapa kau tidak langsung menolak tawaran Adrian tadi?” tembak Aruna langsung.

Angin sore bertiup kencang dari celah ventilasi gudang, membawa hawa dingin lereng pegunungan yang mendadak menusuk tulang. Aruna refleks mengusap kedua lengan atasnya yang hanya terbalut kemeja katun tipis. Tubuhnya menggigil kecil.

Dhika mengamati gestur itu. Tanpa menghentikan percakapan, ia melepas jaket parket warna oliv yang melekat di tubuhnya, lalu mengulurkannya ke arah Aruna.

“Tidak usah,” tolak Aruna cepat.

“Pakai, Aruna. Jangan keras kepala,” kata Dhika, nada suaranya tak membiarkan bantahan. “Kalau kau sakit dan demam besok, siapa yang akan mengomeliku dan menguliahi Pak Margo soal suhu pelayuan selama dua minggu ke depan?”

Aruna menatap jaket itu, lalu menatap wajah Dhika yang bersungguh-sungguh. Dengan helaan napas pasrah, ia meraih jaket tersebut dan menyampirkannya ke bahu. Jaket itu terlalu besar untuk tubuhnya, dan seketika aroma parfum kayu bercampur sedikit bau tembakau tipis milik Dhika membungkus indramu, memberikan kehangatan yang asing namun sekaligus familier.

“Terima kasih,” gumam Aruna pelan.

Dhika mengangguk tipis. Ia meraih salah satu sampel daun teh kering dari wadah bambu di meja. “Kau ingat panen tahun ketiga?” tanya Dhika tiba-tiba, matanya menatap daun teh di genggamannya.

Aruna menaikkan alisnya. “Tahun ketiga? Saat hujan badai mengguyur blok D?”

“Saat kau bersikeras memeriksa saluran irigasi sendiri di tengah hujan lebat karena takut bibit baru hanyut,” ralat Dhika. Senyum kecil terukir di sudut bibirnya. “Dan kau tersesat di batas kebun bagian atas sampai malam.”

“Aku tidak tersesat,” potong Aruna dengan wajah agak memerah. “Aku hanya memastikan batas area tanam.”

“Kau meneleponku tiga kali dengan suara gemetar karena baterai sentermu mati,” kata Dhika sambil terkekeh pelan. “Dan saat aku menemukanmu duduk berteduh di bawah pohon beringin tua itu, hal pertama yang kau katakan bukannya terima kasih, tapi ‘Dhika, catatannya basah’.”

“Catatan itu berisi data varietas unggul!” bela Aruna, walau bibirnya ikut tertarik membentuk garis senyum tipis mengingat konyolnya masa itu. “Kau tertawa sepanjang jalan saat memboncengku kembali dengan motor tua Pak Margo.”

“Aku tertawa karena kau memegang jaket hujanku begitu erat sampai kainnya hampir robek,” kata Dhika. Pandangannya beralih dari sampel daun teh, menatap wajah Aruna yang kini tampak jauh lebih rileks dibanding tadi siang. “Kita punya banyak sekali ingatan di tempat ini, Aruna.”

“Lalu kenapa kau ingin menghapusnya dengan menjual kebun ini?” bisik Aruna, nada suaranya kembali sarat akan kerapuhan yang tersembunyi.

“Aku tidak pernah bilang ingin menghapusnya,” sahut Dhika cepat. Tangannya terulur ke meja, hendak mengambil lembar pencatatan suhu di dekat tangan Aruna.

Secara tidak sengaja, jemari Dhika menyentuh punggung tangan Aruna yang tergeletak di atas meja.

Sentuhan itu singkat, hanya kulit yang saling berselisih di atas meja kayu yang dingin. Namun, seolah ada arus listrik bertegangan rendah yang meledak di udara, keduanya membeku seketika. Aruna tidak menarik tangannya, dan Dhika tidak memindahkan jarinya selama tiga detik yang terasa seperti keabadian.

Mata mereka bertemu. Di dalam ketenangan mata Dhika, Aruna melihat pergulatan emosi yang selama ini tersembunyi rapi di balik topeng kepraktisannya. Ada ketakutan, ada rasa ragu, dan ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sesuatu yang selama delapan tahun ini selalu mereka bungkus rapat-rapat dalam sebutan “kemitraan warisan.”

Dhika yang pertama kali menarik tangannya perlahan, berdeham pelan untuk memecah keheningan yang mendadak terasa begitu pekat dan berat.

“Kau… ingat rasa teh yang pertama kali kita buat bersama di tahun pertama?” tanya Dhika, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.

Aruna mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada jemarinya sendiri. “Sepahit racun. Kita salah menghitung waktu sangrai.”

“Tapi kita tetap meminumnya sampai habis di beranda,” kata Dhika. “Aku ingat kau bilang rasa pahitnya membuatmu sadar bahwa kebun ini nyata. Dan aku ingat… aku berjanji dalam hati hari itu, aku akan selalu datang setiap tahun hanya untuk memastikan teh yang kau buat tidak makin memburuk.”

Aruna menatap Dhika, dadanya berdesir hebat. “Kamu masih ingat kata-kata itu?”

Dhika menatapnya lurus, tidak ada nada bercanda sedikit pun di raut wajahnya saat ini. “Aku ingat banyak hal tentangmu, Aruna. Lebih banyak dari yang pernah kau bayangkan.”

Kalimat itu menggantung di udara gudang yang hangat oleh aroma teh. Pengakuan implisit itu membuat jantung Aruna berdegup tidak beraturan. Ada kehangatan yang menjalar dari jaket yang dipakainya langsung ke dalam dadanya. Ia ingin bertanya apa maksud kalimat itu, ingin menuntut penjelasan lebih jauh, tetapi rasa takut akan perubahan arah hubungan mereka menahannya.

Langkah kaki terdengar mendekat dari luar. Pak Margo melongokkan kepalanya di pintu gudang. “Pak Dhika, Bu Aruna, truk pengangkut dari pabrik pengolahan bawah sudah datang. Mereka menanyakan lembar persetujuan tonase.”

Atmosfer intim di antara mereka mendadak terurai. Dhika berdiri tegak, merapikan kemejanya. “Baik, Pak Margo. Saya ke depan sekarang.”

Dhika menoleh kembali ke arah Aruna yang masih duduk dengan jaket parkanya. “Selesaikan makanmu. Kita harus memeriksa dokumen tonase bersama lima belas menit lagi.”

Aruna mengangguk pelan. “Dhika.”

Langkah Dhika terhenti di dekat pintu. Ia menoleh. “Ya?”

Aruna menatap pria itu dengan pandangan yang dalam, mencari kejujuran di balik wajah rasionalnya. “Tawaran dari Adrian… kau benar-benar belum menandatangani apa pun, kan?”

Dhika diam sejenak. Tangannya tertahan di bingkai pintu kayu. “Belum. Aku minta waktu sampai masa panen berakhir, seperti yang diminta investor.”

“Kenapa?” tanya Aruna lurus, menyuarakan keraguan terbesar di hatinya. “Kalau dari perhitungan bisnismu angka itu sudah sangat menguntungkan, kenapa kau tidak langsung menandatanganinya tadi siang dan memaksaku setuju? Kau punya lima puluh persen hak atas tanah ini.”

Dhika menatap Aruna, matanya menyipit tipis menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Ia memandang hamparan kebun teh yang terbentang di luar pintu gudang—kebun hijau yang selama delapan tahun ini menjadi satu-satunya panggung tempat kehidupan mereka bersinggungan selama dua minggu dalam setahun.

“Karena kalau aku menandatanganinya sekarang…” Dhika berhenti sejenak, suaranya bergetar tipis sebelum kembali mengeras rapat, “…aku tahu aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendengar jawapan dari pertanyaan yang belum sempat kutanyakan padamu.”

Aruna terpaku di kursinya. “Pertanyaan apa?”

Dhika tidak menjawab. Ia hanya menatap Aruna dalam-dalam selama beberapa detik, memberikan tatapan yang membuat seluruh pertahanan diri Aruna runtuh perlahan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar meninggalkan gudang.

Aruna menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, merapatkan jaket parka milik Dhika di sekeliling tubuhnya. Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya, memicu rasa penasaran yang membakar sekaligus rasa takut yang kian membesar: apa sebenarnya yang membuat seorang Dhika Bramantyo—pria paling rasional yang ia kenal—begitu ragu untuk menyetujui keputusan bisnis paling menguntungkan dalam hidupnya?

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Warisan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita