Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 3
Kalimat tentang “pertanyaan yang belum sempat ditanyakan” itu mengutak-atik isi kepala Aruna sepanjang malam sampai pagi menyingkap kabut pertama di lereng timur.
Aruna mengencangkan ikatan tali sepatu boot-nya di teras, matanya sibuk memindai lembar pencatatan tonase di atas pangkuan. Dhika keluar dari pintu utama sambil membawa dua cangkir enamel—kali ini teh melati hangat, bukan kopi. Pria itu menyodorkan satu cangkir tanpa bersuara, duduk di pinggir tangga dua jengkal di sampingnya.
“Pabrik pengolahan bawah minta kiriman gelombang pertama dipercepat sejam,” kata Dhika, suaranya agak serak khas bangun tidur, datar seolah percakapan mendalam di gudang pelayuan kemarin sore tidak pernah terjadi. “Kapasitas mesin mereka penuh.”
Aruna menerima cangkir itu, menyesap uapnya. “Aku sudah minta Pak Margo menambah sepuluh pemetik di blok A. Kalau jalanan tidak makin becek, jam delapan semua keranjang sudah turun.”
“Bagus,” respon Dhika singkat. “Berarti urusan pagi ini aman.”
Keheningan yang agak canggung kembali menyergap. Mereka sama-sama berpura-pura sangat fokus menatap hamparan pucuk teh yang mulai tersiram sinar matahari tipis. Kebiasaan delapan tahun yang biasanya mengalir tanpa beban, kini terasa seperti medan magnet yang serba salah. Setiap gerak gerik menjadi terlalu kentara.
Suara raungan mesin jip empat penggerak yang menderu dari arah jalan bawah memecah kecanggohan itu. Jip putih berdinding penuh stiker laboratorium kampus itu berhenti tepat di samping truk pengangkut. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria berjaket outdoor tebal melangkah keluar sambil melambaikan tangan.
“Aruna!” seru pria itu ramah.
Mata Aruna membelalak pelan. “Rian?” Ia meletakkan cangkirnya dan berdiri. “Kenapa tidak memberi tahu kalau mau datang hari ini?”
Rian—seorang peneliti muda dari departemen pertanian yang menjadi kawan kolaborasi Aruna dalam dua proyek riset tanah—berjalan mendekat ke tangga teras dengan senyum lebar. “Sinyal di lereng bawah mati total sejak kemarin. Aku sekalian lewat arah perbatasan untuk ambil sampel tanah organik, jadi kusempatkan mampir. Ini berkas verifikasi dana hibah yang harus kau tanda tangani basah.”
“Ah, benar. Aku hampir lupa deadline minggu ini,” sahut Aruna, melangkah turun satu anak tangga untuk menyambut Rian.
Dhika tidak beranjak dari tempat duduknya, tetapi Aruna bisa merasakan tatapan pria itu mendadak mengeras. Tubuh Dhika menegak perlahan.
“Pagi,” tegur Rian sopan pada Dhika, mengulurkan tangan. “Saya Rian. Rekan kerja Aruna di kampus.”
Dhika berdiri. Ia menerima uluran tangan itu, menjabatnya dengan pegangan yang mantap dan sedikit terlalu lama dari durasi normal jabat tangan antar-orang asing. “Dhika. Pengelola kebun ini.”
“Oh, Partner bisnis Aruna yang sering dia ceritakan itu?” ujar Rian santai tanpa prasangka. “Aruna banyak cerita soal metode petik tradisional tempat ini. Ternyata kebunnya memang terawat sekali.”
“Cerita?” Dhika menaikkan sebelah alisnya, matanya berganti menatap Aruna yang mendadak salah tingkah. “Menarik. Aruna jarang bercerita soal orang-orang di kampusnya padaku.”
“Hanya soal teknis agronomi, Dhika,” potong Aruna cepat, nadanya sedikit terlalu defensif. Ia berbalik pada Rian. “Mana dokumennya? Mari kukerjakan di meja teras saja.”
“Biar kuambilkan kursi tambahan,” cetus Dhika mendadak, suaranya sangat dingin.
“Tidak usah, Dhika,” tahan Aruna. “Rian cuma sebentar.”
“Tuan Rian sudah jauh-jauh naik jip ke sini, masa tidak ditawari duduk?” sela Dhika, mengambil kursi kayu dari sudut beranda dan menyentakkannya ke dekat meja dengan bunyi tak yang agak keras. Ia menatap Rian lurus-lurus. “Berapa lama proyek penelitian kalian ini akan berjalan di sini?”
Rian yang agak heran dengan intensitas tatapan Dhika tetap tersenyum ramah. “Proyeknya fokus di pemetaan tanah. Kalau Aruna izinkan, mungkin saya akan sering bolak-balik ke lereng ini sampai semester depan.”
“Sering bolak-balik?” ulang Dhika, nada suaranya ketus walau diusahakan tetap sopan. “Musim panen kami sangat padat, Mas Rian. Akses jalan dan fokus pekerja bisa terganggu kalau terlalu banyak kegiatan luar yang tidak relevan dengan produksi.”
Aruna menatap Dhika dengan mata membelalak heran. “Dhika! Penelitian ini justru membantu kualitas tanah kebun kita. Aku sudah mengatakannya tahun lalu!”
“Tahun lalu kau bilang hanya pengujian sampel lewat pos, Aruna. Kau tidak bilang akan ada orang yang ‘sering bolak-balik’ ke sini,” balas Dhika tajam, melipat kedua tangannya di depan dada.
“Itu perkembangan prosedur baru,” sergah Aruna, giginya merapat. “Dan lagipula, ini tidak mengganggu produksi sama sekali!”
Rian yang menyadari aura tegang di antara kedua pemilik kebun itu segera berdeham pelan. “Ah, maaf kalau kedatangan saya agak mengganggu ritme kerja pagi ini. Aruna, ini dokumennya. Kau bisa tanda tangani bagian halaman belakang saja.”
Aruna meraih pulpen dari saku Rian, menandatangani lembaran kertas itu dengan cepat di atas meja, berusaha menyembunyikan kekesalannya pada sikap Dhika yang mendadak tidak bersahabat.
“Terima kasih, Aruna. Aku langsung turun lagi ke lereng barat sebelum hujan,” kata Rian seraya mengambil kembali berkasnya. “Nanti malam aku telepon kalau sudah dapat sinyal di kota.”
“Hati-hati di jalan, Rian. Maaf ya,” kata Aruna ramah, sengaja menekankan kata terakhir sambil melirik Dhika.
“Tidak masalah. Mari, Pak Dhika,” pamit Rian.
Dhika hanya mengangguk kaku tanpa membalas lambaian tangan Rian sampai jip putih itu kembali menderu menuruni jalan berbatu.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, Aruna berbalik menatap Dhika dengan sengit. “Ada apa denganmu tadi? Kenapa bersikap tidak sopan begitu pada Rian?”
Dhika mendengus, melangkah mendekati cangkirnya yang mulai dingin. “Aku hanya menegaskan batas. Tempat ini area kerja, bukan lokasi reuni kawan kampus.”
“Dia datang membawa dokumen penting pekerjaan utamaku, Dhika!”
“Dan pekerjaan utamamu di sini selama dua minggu ini adalah mengurus panen bersama,” sahut Dhika, menatap Aruna tajam. “Atau pikiranmu sudah terbagi karena ada yang berjanji menelponmu nanti malam?”
“Itu urusan pribadiku!” tembak Aruna.
“Bagus kalau begitu,” balas Dhika pendek, berbalik dan melangkah turun menuju area pelayuan tanpa menoleh lagi.
Ketegangan pagi itu membayang sepanjang siang. Saat jam makan siang hampir usai, Aruna berjalan menuju kantor administrasi kecil di samping pabrik untuk memeriksa manifes pengiriman.
Namun langkahnya terhenti di dekat deretan pohon pinus perbatasan kantor.
Di sana, di bawah naungan atap teras samping, Dhika sedang berdiri bersama seorang perempuan berpenampilan sangat rapi. Perempuan itu mengenakan blazer kasual berwarna krem, celana bahan tebal, dan memegang tablet digital. Ia bukan Adrian Halvorsen, melainkan seorang konsultan perencana kawasan—perempuan muda yang tampak sangat percaya diri dan sesekali tertawa pelan mendengar ucapan Dhika.
“Konsep ekowisata yang ditawarkan PT Nusantara sebenarnya mempertahankan kontur hijau kebun, Pak Dhika,” ujar perempuan itu dengan suara renyah yang terdengar jelas oleh Aruna dari jarak sepuluh meter. “Anda bisa tetap mempertahankan area ikonik di puncak.”
“Saya perlu jaminan bahwa struktur tanahnya tidak dirusak oleh fondasi bangunan berat,” jawab Dhika. Tangannya menunjuk ke arah peta cetak yang terbentang di atas kap mobil sedan yang terparkir.
Perempuan itu melangkah lebih dekat ke samping Dhika, jemarinya yang terawat menunjuk satu titik di peta, sangat dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. “Kami bisa mengatur zonasi itu khusus untuk Anda.”
Dhika mengangguk-angguk, mengamati peta itu dengan raut fokus yang sangat ramah—ekspresi kooperatif yang sama sekali tidak ia perlihatkan pada Rian pagi tadi.
Aruna merasakan ada sebuah desakan aneh yang tiba-tiba mengikat dadanya. Ada rasa panas yang menjalar cepat ke lehernya. Ia memperhatikan bagaimana perempuan itu tersenyum pada Dhika, dan bagaimana Dhika meresponsnya dengan anggukan tenang.
Kenapa dia begitu ramah padanya sementara dia memperlakukan Rian seperti musuh? pikir Aruna dengan bibir merapat rapat.
Aruna hendak berbalik pergi ketika ujung sepatunya menginjak ranting kering yang patah dengan bunyi cukup nyaring.
Dhika menoleh seketika. Matanya langsung menemukan Aruna yang berdiri kaku di balik pohon pinus.
“Aruna?” panggil Dhika.
Aruna terpaksa melangkah maju, memegang papan jalan manifesnya rapat-rapat di dada. “Maaf mengganggu. Aku cuma mau mengambil manifes pengiriman gelombang dua di meja kantor.”
Perempuan berblazer krem itu tersenyum sopan pada Aruna. “Halo, Bu Aruna. Saya Maya, tim perencana arsitektur dari mitra PT Nusantara. Kami sedang meninjau pemetaan kawasan atas arahan Pak Dhika.”
“Ah. Maya,” kata Aruna, suaranya diusahakan sedatar mungkin, walau matanya melirik tajam ke arah Dhika. “Senang bertemu denganmu. Silakan lanjutkan. Saya hanya lewat.”
“Aruna, tunggu sebentar,” potong Dhika, melangkah meninggalkan meja kap mobil dan menghampiri Aruna. “Manifes gelombang dua sudah kusetujui sejam yang lalu. Ada di folder merah.”
“Ya, aku tahu. Aku cuma memastikan,” sahut Aruna dingin, memalingkan wajah dari tatapan Dhika. “Ternyata kau sangat sibuk hari ini. Banyak tamu penting yang harus kauberi perhatian khusus.”
Dhika menyipitkan matanya. Ia menangkap nada sinis yang terselip kental dalam suara Aruna. “Maya hanya menjelaskan teknis zonasi lingkungan dari proposal investor.”
“Dan kau kelihatan sangat menikmati penjelasannya,” balas Aruna cepat, sebelum ia sempat menahan lidahnya sendiri.
Sebuah senyum tipis yang sangat samar mendadak terbit di sudut bibir Dhika. Kekecewaan dan kemarahan yang ia simpan sejak pagi seolah menemukan celah. “Kau sedang bicara soal pekerjaanku, atau kau sedang tidak suka melihat siapa yang bicara denganku?”
Aruna terperanjat. Wajahnya terasa membara seketika. “Jangan konyol, Dhika! Aku cuma menyindir standar ganda-mu! Pagi tadi kau mengusir rekanku dengan alasan mengganggu fokus kebun, tapi siang ini kau malah melayani tim investor dengan sangat ramah di area produksi!”
“Rian datang untuk urusan luar yang tidak ada hubungannya dengan nasib kebun ini,” kata Dhika, langkahnya maju setengah tindak, memperpendek jarak di antara mereka sehingga suara mereka tak terdengar oleh Maya di dekat mobil. “Sementara Maya datang membawa data yang perlu kupelajari untuk mengambil keputusan soal masa depan tempat ini.”
“Keputusan yang ingin kau ambil untuk menjualnya?” tembak Aruna lirih, matanya menatap Dhika dengan luka yang mulai transparan.
“Aku belum menjual apa pun, Aruna!” bisik Dhika menahan geram. “Kenapa kau selalu berasumsi aku ini penjahatnya di sini?”
“Karena kau yang terus membuka pintu untuk orang-orang seperti mereka!” Aruna menunjuk ke arah mobil sedan itu dengan dagunya. “Kau yang memberi mereka harapan bahwa lahan ini bisa dibeli!”
“Karena aku harus rasional!” balas Dhika dengan nada menekan yang intens. “Aku harus melihat semua opsi! Kau menutup mata rapat-rapat hanya karena nostalgia, sementara aku mencoba mencari jalan keluar agar kita tidak bangkrut di tahun kesembilan!”
“Ini bukan cuma soal uang!”
“Lalu soal apa, Aruna?” potong Dhika cepat, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Aruna. “Coba beri tahu aku! Soal kenangan Kakek? Atau soal kita yang tidak punya alasan lagi untuk bertemu kalau tempat ini hilang?”
Aruna membeku. Napasnya tertahan di kerongkongan.
Kalimat itu menembak tepat ke pusat ketakutan terbesar Aruna. Ia menatap Dhika, bibirnya terkatung rapat, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah.
Maya berdeham pelan dari kejauhan, merasa atmosfer di antara kedua pemilik kebun itu sudah terlalu jauh dari batas profesional. “Pak Dhika… berkas zonasinya bisa saya tinggalkan di meja kantor kalau Anda masih ada urusan internal.”
Dhika menarik napas panjang, memejamkan matanya sejenak untuk menguasai emosinya. Ia menoleh pada Maya. “Terima kasih, Maya. Tinggalkan saja di meja. Saya akan tinjau nanti malam.”
Setelah mobil tim perencana itu menyusuri jalan keluar kebun, keheningan di antara Aruna dan Dhika kembali merebak, kali ini terasa jauh lebih pekat dan melelahkan.
Aruna memeluk papan jalan kertasnya erat-erat, membalikkan badan hendak melangkah pergi menuju bangunan utama.
“Aruna,” panggil Dhika. Suaranya tidak lagi keras atau penuh emosi. Suara itu kini terdengar rendah, lelah, dan jujur.
Aruna menghentikan langkahnya, namun tetap membelakangi Dhika. “Apa lagi, Dhika?”
Dhika melangkah pelan hingga berada tepat di belakang Aruna. Ia bisa melihat bahu wanita itu yang sedikit bergetar halus. “Soal laki-laki tadi pagi…”
Aruna menelan ludah. “Rian cuma teman kerja.”
“Kau tidak perlu menjelaskan itu padaku,” kata Dhika pelan. ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan. “Karena secara hukum, secara status… aku tahu aku tidak punya hak sama sekali untuk merasa terganggu melihat dia begitu dekat denganmu.”
Jantung Aruna serasa berhenti berdetak sesaat. Ia membalikkan badannya perlahan, menatap wajah Dhika yang kini tampak terluka dan rumit.
“Dan kau…” Dhika melanjutkan, tatapannya terkunci pada Aruna, “…kau juga merasa tidak suka melihat Maya di sampingku tadi, kan?”
“Dhika, kita tidak sedang—”
“Kita memang bukan apa-apa, Aruna,” potong Dhika cepat, suaranya bergetar tipis dengan kejujuran yang sangat mentah. “Delapan tahun kita pura-pura bahwa kita cuma dua orang asing yang kebetulan mewarisi kebun yang sama. Kita pura-pura datang ke sini tiap tahun cuma demi tanaman teh ini. Tapi kalau tempat ini dijual…”
Dhika melangkah satu tindak lagi mendekati Aruna, menatapnya dengan intensitas yang membuat dada Aruna sesak oleh perasaan yang bergejolak.
“…kalau tempat ini dijual, dan alasan formal kita hilang, apakah kau benar-benar akan berjalan pergi dari hidupku begitu saja tanpa pernah memberi tahu apa yang sebenarnya kaurasakan selama delapan tahun ini?”
Aruna terpaku. Udara di sekitarnya mendadak hilang. Pertanyaan Dhika menggantung tajam di antara hembusan angin gunung yang dingin, menelanjangi semua persembunyian yang selama ini mereka bangun dengan rapi.
Sebelum Aruna sempat menjawab, ponsel di saku celana Dhika berdering nyaring.
Dhika tidak langsung merogoh sakunya. Matanya masih menatap Aruna, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Aruna yang gemetar. Namun dering ponsel itu tidak berhenti, memutus benang ketegangan emosional yang hampir meledak di antara mereka.
Dengan helaan napas berat, Dhika akhirnya menarik ponselnya keluar. Layar menampilkan nama Adrian Halvorsen.
Dhika menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengalihkan pandangan dari Aruna. “Ya, Pak Adrian?”
Aruna memperhatikan ekspresi wajah Dhika yang mendadak berubah keras saat mendengarkan suara di ujung telepon.
“Saya mengerti,” kata Dhika datar setelah beberapa detik mendengarkan. “Terima kasih informasinya.”
Dhika mematikan sambungan telepon. Tangannya yang memegang ponsel terkepal agak erat.
“Ada apa?” tanya Aruna, ketakutan baru mendadak menyusup menggantikan ketegangan emosional mereka.
Dhika menatap Aruna dengan raut wajah yang sangat berat. “Adrian baru saja memberi tahu. Dewan direksi mereka memajukan tenggat waktu. Kita tidak punya waktu dua minggu lagi, Aruna.”
“Maksudmu?”
“Keputusan penjualan harus kita berikan lusa sebelum jam lima sore,” kata Dhika pelan. “Atau mereka akan membatalkan penawaran ini secara permanen dan mengeksekusi lahan di lereng sebelah.”
Aruna menahan napasnya. Waktu dua minggu yang mereka kira miliki kini terpangkas habis menjadi kurang dari empat puluh delapan jam. Dan di antara krisis kebun serta perasaan tanpa hak yang baru saja meluap, mereka harus memilih masa depan mereka berdua.
BERSAMBUNG…