Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 4
Empat puluh delapan jam. Angka itu menggantung di udara seperti pedang yang siap mengeksekusi apa pun yang tersisa di antara mereka.
Aruna menatap jam dinding kayu di sudut kantor administrasi yang berdetak dengan ritme konstan—menghitung mundur batas waktu lusa pukul lima sore. Di atas meja kayu yang dipenuhi berkas, Dhika meletakkan dua set dokumen: laporan keuangan kebun tiga tahun terakhir di sebelah kiri, dan draf kontrak akuisisi dari PT Nusantara Resort di sebelah kanan.
“Ini realita angkanya, Aruna,” kata Dhika, suaranya tenang namun ada kelelahan yang terpancar dari raut wajahnya. Ia mengetukkan jemarinya pada lembar laporan keuangan. “Biaya perawatan tanah di blok D naik tiga puluh persen. Mesin pelayuan bawah butuh overhaul total tahun depan, dan jika curah hujan ekstrem berlanjut seperti proyeksi BMKG, margin keuntungan kita akan tergerus habis.”
Aruna tidak menyentuh draf kontrak akuisisi itu. Ia justru membuka lembaran kalkulasi kasar yang ia buat sendiri semalam di atas kertas milimeter blok. “Kalau kita mengalihkan fokus ke teh organik tersertifikasi dan membuka jalur pasokan langsung ke kafe-kafe premium di Bandung dan Jakarta, margin per kilogram bisa naik empat puluh persen. Aku sudah menghitung alokasi masa transisinya. Kita tidak butuh dijual ke investor resor untuk bertahan hidup, Dhika.”
“Itu butuh waktu minimal dua tahun, Aruna,” potong Dhika cepat, matanya menatap kalkulasi Aruna dengan ketajaman seorang konsultan bisnis. “Dua tahun tanpa jaminan arus kas yang stabil. Pekerja kebun butuh kepastian gaji setiap bulan. Pak Margo dan tiga puluh keluarga di lereng ini bergantung pada kebun ini.”
“Dan kau pikir kalau tempat ini berubah jadi kompleks resor, mereka akan tetap bekerja di sini?” balas Aruna, suaranya mengeras walau ia berusaha menahannya. “Mereka pemetik teh, Dhika. Bukan staf kebersihan hotel atau pelayan restoran. Menjual lahan ini sama saja mengusir mereka secara halus!”
Dhika terdiam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. “Aku tahu. Aku tidak buta soal itu. Tapi jika kita memaksakan diri dan akhirnya bangkrut dua tahun lagi, dampaknya akan jauh lebih buruk bagi mereka.”
“Jadi solusinya adalah menyerah sekarang?” Aruna menatap Dhika lurus, tatapannya menembus pertahanan rasional pria itu. “Atau kau cuma mencari alasan paling aman untuk menyelesaikan kewajiban warisan ini?”
Percakapan itu membeku. Pertanyaan Aruna bergetar di ruang kantor yang sempit, bercampur dengan aroma kertas tua dan teh kering.
Dhika memajukan badannya, kedua tangannya tertumpu di atas meja. “Kau benar-benar berpikir aku menganggap ini cuma ‘kewajiban’, Aruna?”
Aruna tidak menjawab. Tangannya mengusap pinggiran bingkai foto kayu yang terpajang di dinding dekat meja kantor—foto kusam berbingkai cokelat yang merekam musim panen pertama mereka delapan tahun lalu. Di foto itu, Aruna yang berusia dua puluh dua tahun berdiri canggung dengan boot berlumpur, sementara Dhika berusia dua puluh tiga tahun tersenyum kaku sambil memegang keranjang bambu.
“Tahun pertama…” gumam Aruna pelan, matanya masih menatap foto itu. “Kita bahkan tidak tahu cara menyapa satu sama lain tanpa merasa seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi warisan.”
“Kau mengacuhkanku sepanjang hari pertama,” sahut Dhika, nada suaranya mendadak melunak, diwarnai kilasan kenangan yang tak bisa dihindari. “Kau cuma bicara pada Pak Margo dan berpura-pura aku tidak ada di teras.”
“Karena kau datang memakai sepatu kulit dan kemeja rapi ke kebun teh,” balas Aruna, bibirnya menarik garis tipis tanpa sadar. “Aku pikir kau cuma anak kota yang mau pamer aset.”
“Dan di tahun ketiga…” Dhika berdiri, berjalan mendekati dinding di samping Aruna, ikut menatap foto tersebut. “…anak kota ini yang berjalan menembus hujan badai mencari dosen muda yang tersesat di batas blok D sampai tengah malam.”
Aruna menoleh perlahan. Jarak mereka kini hanya terpaut satu langkah. “Kau masih menyimpan senter yang kacanya pecah waktu itu?”
Dhika terdiam sejenak. Tanpa bersuara, ia mengulurkan tangan ke laci paling bawah meja kerja, menarik keluar sebuah kotak kayu kecil, dan meletakkannya di atas meja. Di dalam kotak itu, selain senter tua bersambung selotip hitam, terdapat sederet foto instan yang dicetak setiap tahun—delapan lembar foto yang merekam jejak waktu yang mereka lewati bersama.
Aruna menatap isi kotak itu dengan dada yang mendadak berdesir hebat. Foto tahun kelima saat mereka terjebak hujan di pondok atas dan berbagi selimut kumal; foto tahun ketujuh saat Dhika diam-diam mengambil gambarnya yang sedang tertidur di teras dengan cangkir kopi di pangkuan.
“Kau… menyimpan semua ini?” bisik Aruna, menatap Dhika dengan pandangan tak percaya.
“Bagaimana aku bisa membuangnya?” sahut Dhika pelan, tatapannya mengunci mata Aruna. “Setiap lembar di dalam kotak ini adalah alasan kenapa aku selalu mengosongkan jadwalku di bulan yang sama, setiap tahun, tanpa pernah terlewat sekali pun.”
Jantung Aruna berdegup kencang, suaranya tertahan di tenggorokan. Kebiasaan dan detail kecil yang selama ini ia kira hanya kebetulan rutin, kini terpampang sebagai jejak perhatian yang terencana selama delapan tahun.
“Dhika…” Aruna menelan ludah, mengumpulkan keberanian yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng profesionalitasnya. “Kalau kebun ini… kalau kebun ini dulu tidak pernah diwariskan kepada kita… apakah kau masih akan datang ke sini setiap tahun?”
Dhika tidak langsung menjawab. Hening merayap di antara mereka, begitu pekat hingga suara angin di luar kantor terdengar bersahut-sahutan. Pria itu menatap Aruna, matanya memancarkan kedalaman emosi yang tak lagi bisa disembunyikan oleh kalkulasi bisnis apa pun.
“Lalu kalau kutanya balik,” kata Dhika dengan suara rendah yang menggetarkan dada Aruna, “kalau kebun ini dijual lusa… apakah kau masih ingin bertemu denganku?”
Aruna memaku di tempatnya. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada kata yang sanggup keluar. Pertanyaan itu mempreteli seluruh rasa amannya. Selama delapan tahun, kebun ini adalah perisai sekaligus panggung mereka. Di balik alibi ‘mengurus warisan’, mereka bisa menghabiskan dua minggu bersamanya tanpa perlu memberi nama pada perasaan yang terus bertumbuh.
Jika perisai itu dihancurkan, Aruna harus menghadapi kenyataan mentah: apakah ia berani membiarkan Dhika ada di hidupnya tanpa alasan kebun?
“Kau tidak bisa menjawabnya, kan?” gumam Dhika dengan senyum tipis yang sarat akan rasa getir. Ia memalingkan wajahnya, menatap hamparan bukit hijau di balik jendela. “Sama seperti aku yang selalu takut mengakui bahwa menjual kebun ini terasa seperti menghapus satu-satunya jembatan di antara kita.”
“Dhika, aku—”
“Secara bisnis, menerima penawaran Adrian adalah keputusan paling logis,” potong Dhika, suaranya terdengar berat dan lelah. “Tapi sejak kemarin… aku terus bertanya pada diriku sendiri. Apakah keputusan yang paling menguntungkan secara finansial adalah keputusan yang benar-benar ingin kujalani? Ataukah aku cuma sedang berlari dari ketakutanku sendiri?”
Aruna melangkah maju satu tindak, jemarinya secara refleks menyentuh tepi meja dekat tangan Dhika. “Aku bersedia mencari solusinya bersama, Dhika. Kita bisa menyusun ulang proyeksi keuangannya. Aku bisa mengambil cuti di kampus untuk mengawasi masa transisi organik. Kita tidak harus menjualnya.”
Dhika menoleh kembali pada Aruna, menatap jemari Aruna yang berada hanya beberapa milimeter dari tangannya. Ada pergulatan batin yang sangat nyata di raut wajah pria itu.
“Dan kalau rencana itu gagal?” tanya Dhika pelan. “Kalau dalam dua tahun kita kehabisan modal dan kebun ini benar-benar tidak bisa diselamatkan… apa yang akan kau lakukan?”
Aruna menarik napas panjang, matanya tidak bergeming dari mata Dhika. “Aku akan tetap di sini sampai pohon terakhir berhenti bertunas. Karena aku tidak takut gagal mengurus kebun ini, Dhika. Yang membuatku takut dari kemarin… adalah membayangkan berdiri di tempat ini di musim panen berikutnya, dan tidak melihatmu ada di teras.”
Pengakuan tersirat itu memukul dada Dhika. Tangan pria itu bergerak perlahan, melingkupi jemari Aruna yang tergeletak di atas meja. Genggamannya hangat, erat, dan sarat akan kepasrahan yang mendalam—sebuah sentuhan yang memangkas seluruh jarak dingin di antara mereka.
Aruna tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kehangatan jemari Dhika menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan keheningan yang sarat akan kesepahaman tanpa perlu kata-kata.
“Ayo ikut aku,” kata Dhika tiba-tiba, suaranya mantap seraya melepaskan pegangannya dan berjalan menuju pintu.
“Ke mana?”
“Ke tempat yang membuat kita ingat kenapa kakek kita membangun tempat ini.”
Sore mulai membayang jingga ketika mereka sampai di puncak terasering blok C—titik tertinggi kebun teh yang menghadap langsung ke lembah dan lereng pegunungan. Di sana berdiri sebuah bangku kayu tua yang berada di bawah naungan pohon pinus tunggal. Bangku itu adalah tempat kakek mereka dahulu selalu duduk bersama setiap kali musim panen berakhir.
Angin sore bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Aruna. Dhika berdiri di sampingnya, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, matanya menatap hamparan hijau yang membentang luas di bawah mereka.
“Besok pagi kita harus membuat keputusan akhir,” kata Dhika, suaranya berbaur dengan deru angin. “Kita harus mencari jalan supaya kebun ini tetap hidup tanpa harus menjualnya pada Adrian.”
Aruna menoleh, menatap profil samping wajah Dhika yang terpapar sinar matahari terbenam. “Dan kalau kita tidak berhasil menemukan jalan keluar yang masuk akal sampai lusa?”
Dhika terdiam beberapa detik. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Aruna, menatap perempuan di depannya dengan intensitas yang membuat napas Aruna tertahan.
“Aku masih tidak tahu bagaimana cara terbaik mempertahankan kebun ini dari risiko keuangan,” kata Dhika dengan nada jujur yang dalam. “Tapi aku tahu satu hal… aku tidak mau kehilangan sesuatu yang baru kusadari ternyata jauh lebih penting daripada kebun ini.”
Dada Aruna bergemuruh. Kata-kata Dhika mengantung di udara, begitu ambigu namun sekaligus begitu jelas mengarah pada satu hal yang selama delapan tahun tak pernah mereka sebutkan. Sebelum Aruna sempat merespons atau bertanya lebih jauh, suara derap langkah terburu-buru yang menaiki tangga tanah memotong momen tersebut.
Pak Margo muncul di puncak bukit dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat.
“Pak Dhika! Bu Aruna!” panggil Pak Margo dengan suara gemetar.
Dhika dan Aruna seketika berbalik. “Ada apa, Pak Margo?” tanya Dhika cepat.
“Pak Adrian… dia baru saja datang lagi ke kantor bawah bersama dua orang pengacara,” kata Pak Margo, menyapu keringat di dahinya. “Mereka tidak menunggu sampai lusa. Mereka membawa dokumen perizinan batas lahan dari dinas pemukiman… dan mengklaim ada sengketa sertifikat di blok A dan B yang bisa membekukan izin operasional kebun kita minggu depan jika kita tidak mau menandatangani penjualan hari ini!”
Aruna membelalak kaget. “Apa?! Sengketa sertifikat?!”
Dhika mengetatkan rahangnya, matanya mendadak berkilat dingin. Tekanan investor yang awalnya terlihat profesional kini mendadak berubah menjadi ancaman nyata yang menembak langsung ke jantung keberlangsungan kebun mereka. Waktu empat puluh delapan jam yang mereka miliki mendadak habis secara paksa sore ini juga.
BERSAMBUNG…