Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 5
Langkah kaki Dhika menuruni tangga kayu menuju kantor bawah terasa begitu cepat dan konstan, disusul Aruna yang bernapas memburu tepat di belakangnya.
Di dalam ruang kantor yang remang, Adrian Halvorsen berdiri tenang di samping dua pria berjas hitam yang memegang map manila tebal. Di atas meja kerja tempat foto-foto lama mereka tersimpan, kini terhampar lembaran dokumen berstempel resmi.
“Kami tidak bermaksud mengejutkan Anda berdua,” ujar Adrian dengan nada suara yang tetap profesional dan tenang, tanpa sedikit pun indikasi intimidasi kasar. “Namun draf klaim dari pihak ketiga mengenai tumpang tindih sertifikat tanah di blok A dan B baru saja diserahkan ke kantor hukum kami sore ini. Jika sengketa ini masuk ke pengadilan pertanahan, seluruh izin operasional dan distribusi panen bisa dibekukan sementara hingga proses hukum selesai.”
Aruna langsung melangkah maju, tangannya menekan tepi meja. “Sengketa? Kebun ini sudah mengantongi sertifikat Hak Milik atas nama kakek kami sejak empat puluh tahun lalu! Tidak pernah ada masalah batas lahan!”
Salah satu pengacara di sebelah Adrian memajukan lembaran berkas pindaian tua. “Ini salinan pemetaan dinas pemukiman sepuluh tahun lalu, Bu Aruna. Ada pergeseran garis patok pada pemetaan ulang wilayah lereng timur. Jika Anda menolak tawaran akuisisi PT Nusantara—yang pada dasarnya siap menanggung dan menyelesaikan seluruh sengketa hukum ini atas nama perusahaan—Anda berdua harus menghadapi gugatan ini secara independen dengan biaya operasional yang dibekukan.”
Dhika memotong sebelum Aruna kembali bersuara. Pria itu meraih lembaran berkas tersebut, matanya memindai baris demi baris klaim hukum itu dengan ketelitian yang dingin.
“Saya minta dokumen asli verifikasi batas tanah ini, Pak Adrian,” kata Dhika, suaranya tajam namun terkontrol. “Termasuk kronologi klaim dari pihak ketiga, dasar hukum penetapan pergeseran patok, dan surat pemberitahuan resmi dari badan pertanahan daerah. Kami tidak akan mengambil keputusan besar berdasarkan salinan berkas tanpa pembuktian administratif.”
Adrian tersenyum tipis, mengangguk menghormati ketegasan Dhika. “Tentu, Pak Dhika. Pengacara kami bisa memberikan salinan verifikasi lengkapnya lusa. Namun realitanya tetap sama: bertarung di pengadilan akan memakan waktu minimal dua hingga tiga tahun. Apakah kebun ini sanggup bertahan tanpa izin kirim hasil panen selama itu?”
“Kami butuh waktu memeriksa ini sendiri,” sahut Dhika pendek, menutup berkas di meja. “Silakan tinggalkan dokumen Anda. Kami akan memberi jawaban besok malam.”
Setelah Adrian dan tim hukumnya melangkah keluar dari ruangan, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap kantor kecil itu.
Aruna merenggut berkas klaim sengketa di atas meja, menelitinya dengan napas naik-turun. “Ini tidak masuk akal, Dhika! Garis batas di lembar ketiga ini berbeda dengan peta arsip tua yang disimpan Kakek di lemari atas. Batas blok A di sini memotong area tanam tahun 1995. Dan tanggal legalisasi berkas ini… kenapa baru diterbitkan dua bulan lalu?”
Dhika melangkah mendekati meja, mengambil kertas peta itu dari tangan Aruna. “Aku juga melihat ketidakcocokan batas itu, Aruna. Tapi tanggal penerbitan bukan berarti dokumen ini palsu. Bisa saja ada pembaruan data wilayah dari pemerintah daerah yang kita lewatkan karena tidak pernah memeriksa arsip hukum pusat.”
“Kalau begitu kita lawan!” seru Aruna, matanya menatap Dhika penuh desakan. “Kita bawa arsip lama Kakek ke dinas pertanahan besok pagi. Kita buktikan klaim mereka tidak berdasar!”
“Dan bagaimana kalau klaim mereka memiliki celah hukum yang sah, Aruna?” potong Dhika, suaranya meningkat satu oktaf, mematahkan ketegangan yang menumpuk sejak sore. “Bagaimana kalau pergeseran patok itu nyata secara administratif? Kau mau kita menyewa pengacara, membayar biaya perkara ratusan juta, sementara Pak Margo dan tiga puluh pekerja di luar sana tidak bisa menerima upah karena hasil panen ditahan di pelabuhan?”
“Kau mau menyerah begitu saja hanya karena ancaman selembar kertas ini?!”
“Ini bukan cuma selembar kertas, Aruna! Ini risiko finansial nyata!” bentak Dhika, ketenangannya runtuh sepenuhnya. Tangannya menunjuk ke arah jendela kantor yang menampilkan rumah-rumah pekerja di lereng bawah. “Kau menggebu-gebu bicara soal mempertahankan warisan, tapi kau tidak pernah menghitung konsekuensinya! Aku yang harus memikirkan bagaimana membayar gaji mereka kalau kebun ini dibekukan! Aku tidak bisa mempertaruhkan masa depan puluhan keluarga hanya demi idealisme dan kenanganmu!”
Kata-kata Dhika menghantam dada Aruna seperti pukulan telak. Wajah Aruna memucat. “Kenangan… mu?” bisik Aruna, suaranya bergetar menahan amarah yang bercampur rasa sakit yang teramat sangat. “Jadi selama ini semua yang ada di tempat ini… cuma kenanganku saja, Dhika?”
“Aruna, bukan itu maksudku—”
“Sejak hari pertama Adrian datang, kau memang sudah mencari alasan untuk menjual tempat ini, kan?” tembak Aruna, melangkah mundur menjauhi Dhika. “Kau berpura-pura mempertimbangkan ini-itu, tapi ujung-ujungnya kau selalu kembali pada kalkulasimu! Kau cuma mau keluar dari tempat ini dengan kantong tebal dan tangan bersih!”
“Aruna, jaga ucapanmu!” pangkas Dhika, matanya berkilat marah, tersinggung berat oleh tuduhan itu. “Delapan tahun aku datang ke sini, mengurus keuangan, merenovasi pabrik, memastikan kebun ini tidak bangkrut di tahun-tahun sulit, dan kau pikir aku melakukan semua itu cuma untuk mencari jalan menjualnya hari ini? Kau pikir aku tidak peduli pada tempat ini?!”
“Kalau kau peduli, kau tidak akan secepat ini berpikir untuk menyerah!”
“Aku berpikir rasional karena seseorang harus tetap berpijak di bumi saat kau melayang di atas idealismemu!” balas Dhika keras. “Aku mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan!”
“Termasuk menyelamatkan dirimu sendiri dari kewajiban kembali ke sini setiap tahun?” sindir Aruna getir, air mata yang ia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya. “Katakan padaku, Dhika… kalau kebun ini dijual, kalau semua tanah ini berubah jadi beton resor… apa kau masih punya alasan untuk menemui aku?”
Dhika terdiam mematung. Dada pria itu naik-turun memburu, matanya menatap Aruna dengan intensitas emosi yang membakar.
“Kita sudah membicarakan ini kemarin di teras, Aruna,” kata Dhika dengan suara yang mendadak melendut rendah, sarat akan beban yang melelahkan. “Kenapa kau selalu mengaitkan keputusan kebun ini dengan keberadaan kita?”
“Karena kebun ini adalah satu-satunya alasan kita!” seru Aruna, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. “Selama delapan tahun, kita bersembunyi di balik kata ‘warisan’! Kita datang ke sini setiap panen, minum kopi di teras, berpura-pura kita cuma dua partner bisnis yang kebetulan dekat! Karena selama kebun ini ada, kita tidak pernah perlu menjawab kita ini sebenarnya apa!”
Aruna mengusap pipinya dengan kasat, menatap Dhika yang berdiri membisu di depannya.
“Selama delapan tahun, kebun ini adalah satu-satunya tempat kita benar-benar menjadi kita, Dhika,” lanjut Aruna, suaranya serak dan pecah. “Kalau tempat ini hilang… kebiasaan kita hilang. Rutinitas kita hilang. Dan kita cuma akan jadi dua orang asing yang pernah saling kenal di lereng gunung.”
Dhika melangkah satu tindak mendekati Aruna, tangannya terulur secara refleks hendak menyentuh bahu perempuan itu. “Aruna…”
“Jangan sentuh aku,” bisik Aruna, menarik tubuhnya mundur.
Dhika menghentikan tangannya di udara. Matanya menatap Aruna dengan rasa sakit yang tak kalah dalam. “Jadi yang sebenarnya kau takutkan hilang itu kebunnya… atau aku?”
Pertanyaan itu meluncur lurus, menelanjangi seluruh pertahanan Aruna.
Aruna menatap mata Dhika—mata yang selama delapan tahun selalu menjadi tempatnya mencari kepastian di tengah ketidakpastian. Namun kini, diimpit ketakutan akan kehilangan dan rasa terancam yang teramat sangat, Aruna justru memilih membentengi dirinya dengan kata-kata yang paling melukai.
“Kalau kebun ini dijual…” Aruna menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, “…kita memang tidak punya alasan lagi untuk saling menemui. Dan aku tidak akan pernah meminta kau datang lagi.”
Kalimat itu terucap, dingin dan final, memotong habis sisa udara di antara mereka.
Dhika membeku. Tangannya perlahan merosot kembali ke sisi tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi amarah kini berubah menjadi kekosongan yang redup dan terluka. Pria itu menyadari betapa dalam ketakutan Aruna, tetapi ia juga merasa dihantam oleh kenyataan bahwa selama delapan tahun ini, Aruna seolah menolak mempercayai bahwa keberadaan Dhika di hidupnya bisa berdiri tanpa topeng kebun teh tersebut.
“Begitu rupanya…” gumam Dhika pelan, senyum pahit terukir sangat tipis di bibirnya. “Delapan tahun… dan kau masih berpikir aku datang ke sini cuma karena tanah ini.”
Aruna tidak mampu menjawab. Tenggorokannya terkunci rapat oleh tangis yang tertahan.
“Aku belum menandatangani apa pun,” kata Dhika datar, memalingkan pandangannya dari Aruna dan menatap dua lembar dokumen sengketa di meja. “Tapi jika besok bukti verifikasi dari dinas pertanahan menunjukkan sengketa ini sah dan kita tidak punya kemampuan finansial untuk melawannya… aku tidak bisa menjanjikan tempat ini akan tetap bertahan.”
“Berarti kau sudah memilih,” bisik Aruna dengan nada kecewa yang teramat dalam.
“Aku memilih untuk tidak menghancurkan hidup orang banyak hanya demi ketakutanmu menghadapi kenyataan,” balas Dhika dingin, walau jemarinya di atas meja tampak terkepal sangat erat hingga membiru.
Aruna merapatkan bibirnya, tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah cepat keluar dari kantor bawah, menghilang menembus kegelapan malam lereng gunung yang mulai diselimuti kabut tebal.
Dhika berdiri sendirian di dalam kantor yang mendadak terasa begitu luas dan dingin. Suara angin malam bergoyangnya dahan-dahan pinus di luar merayap masuk melalui celah jendela.
Pria itu perlahan melangkah ke depan meja kerja. Di atas permukaan kayu tua itu terhampar dua benda yang saling bertolak belakang: dokumen klaim sengketa pertanahan berdampingan dengan kotak kayu berisi foto-foto instan perjalanan delapan tahun mereka.
Dhika meraih salah satu lembar foto—foto tahun keempat saat Aruna tersenyum lebar dengan pipi ternoda tanah cokelat setelah menanam bibit baru. Ibu jarinya mengusap permukaan foto itu secara perlahan.
Ia tahu keputusan ini bukan lagi sekadar kalkulasi angka, keuntungan akuisisi, atau penyelamatan finansial para pekerja. Keputusan ini sedang mempertaruhkan satu-satunya hal yang paling ia takuti untuk dilepaskan.
Sementara itu, di sudut beranda pondok atas yang sepi dan dingin, Aruna duduk merapatkan lututnya ke dada. Ia menatap ke arah kegelapan bukit teh yang terbentang bisu. Tangannya meraba jaket parka milik Dhika yang masih terikat di tasnya—mengingat kehangatan dan aroma yang kini terasa begitu jauh.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Aruna menyadari bahwa kemarahannya bukan berasal dari kebencian pada investor, bukan pula karena ketakutannya kehilangan warisan Kakek. Ia takut karena selama ini ia terlalu pengecut untuk mengakui bahwa pria yang sedang berdebat dengannya di bawah sana adalah satu-satunya alasan ia selalu merasa pulang setiap kali musim panen tiba.
Di bawah naungan langit malam yang pekat, satu kalimat menggantung diam di benak Dhika dan Aruna, menyuarakan kesadaran yang sama:
Kalau kebun ini benar-benar hilang, mungkin sudah waktunya aku berhenti bersembunyi di balik alasan yang sama.
BERSAMBUNG…