Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 6

  1. Home
  2. Kebun Teh yang Diwariskan Berdua
  3. Bab 6 - Bukan Karena Kakek Kita
Prev
Next

Pagi di lereng timur menyingsing dengan kabut tebal yang enggan beranjak. Di teras pondok atas, cangkir enamel milik Dhika tergeletak dingin di atas meja kayu. Tak ada bau aroma teh melati yang biasanya menyerbak saban pukul enam pagi. Tak ada percakapan santai soal perkiraan tonase harian.

Aruna terbangun dengan mata yang sembap dan dada yang masih menyisakan sesak dari sisa pertengkaran semalam. Ia sengaja melangkah turun lebih awal, menghindari kemungkinan berpapasan dengan Dhika di teras atau jalan setapak menuju pabrik. Kalimat yang ia lemparkan semalam—bahwa mereka tak punya alasan lagi untuk bertemu jika kebun ini dijual—terus bergema di kepalanya bagai dentang bel kusam yang tak kunjung henti.

Kenapa aku harus mengucapkan kalimat itu? batin Aruna, merapatkan jaketnya saat hawa dingin menusuk kulit. Ia tahu ia berbohong. Ia tidak benar-benar ingin memutus jalinan ini, tetapi rasa takut akan penolakan dan keputusasaan atas nasib kebun telah mendorongnya menembakkan senjata yang paling melukai.

Menghindari area produksi yang mulai riuh oleh langkah para pemetik, Aruna melangkah menuju bangunan kayu tua di belakang rumah utama—ruang arsip keluarga yang jarang disentuh kecuali saat inventarisasi tahunan. Jika ada satu tempat yang menyimpan bukti kebenaran tentang garis batas tanah mereka, itu adalah lemari besi tua peninggalan Kakek Wira dan Kakek Soerjo.

Aruna menyalakan lampu gantung yang remang, menyapu debu tipis dari permukaan lemari, lalu mulai memilah tumpukan dokumen pertanahan tahun 1980-an. Peta cetak biru, lembaran pajak, dan buku catat kuantitas teh berjejer dalam folder-folder kulit yang kusam.

Setelah hampir satu jam membongkar laci paling bawah, jemarinya tersangkut pada sebuah kotak kayu jati berukir yang terkunci rapat. Tanpa kunci yang pas, Aruna mencungkil engselnya yang sudah lapuk menggunakan pisau lipat kecil. Di dalamnya, bukannya berkas hukum atau peta tanah tambahan, Aruna justru menemukan sebuah amplop kain tebal berwarna cokelat pudar dengan tulisan tangan melengkung yang sangat ia kenali: Untuk Aruna dan Dhika.

Tangan Aruna gemetar saat membuka lipatan kertas di dalamnya. Lembaran itu ditulis oleh Kakek Wira dengan tanda tangan Kakek Soerjo di bagian bawahnya, tertanggal sepuluh tahun lalu—sebelum kebun ini sepenuhnya diserahkan kepada mereka.

“Untuk dua cucu kami yang paling kami banggakan,

Jika kalian membaca surat ini, mungkin kami sudah tidak ada lagi untuk mendampingi kalian menyeduh teh pertama di musim panen. Kebun ini kami bangun bukan sekadar untuk menjadi deretan angka di atas kertas atau sekadar harta yang diturunkan.

Dunia bergerak terlalu cepat, dan kami tahu kehidupan kota akan menarik kalian ke arah yang berbeda. Kebun ini kami wariskan berdua agar keluarga kita tetap memiliki akar. Agar ada satu tempat di muka bumi ini di mana kalian bisa melepas seluruh beban, saling mengenal, dan selalu memiliki alasan untuk kembali—bukan karena kewajiban, melainkan karena ada ikatan yang tidak boleh terputus.”

Aruna menelan ludah, matanya merekam setiap baris kalimat tersebut. Tidak ada amanat perjodohan di sana. Tidak ada kalimat kaku yang memaksa mereka untuk bersatu sebagai pasangan, juga tak ada pesan ganjil seperti “kalian harus menikah”. Kakek mereka hanya ingin menciptakan sebuah ruang aman—sebuah jembatan agar generasi mereka tidak menjadi orang asing.

Namun, membaca surat itu justru membuat dada Aruna semakin bergemuruh oleh keraguan baru.

Apakah selama ini perhatian Dhika padaku… apakah rasa nyamanku padanya… hanya karena kami menjalankan skenario yang dirancang oleh dua orang tua ini? Apakah semua kebersamaan delapan tahun ini hanya manipulasi keadaan?

“Aruna?”

Suara berat yang familiar itu memotong keheningan ruang arsip. Aruna spontan menoleh. Dhika berdiri di ambang pintu, kemeja lengannya digulung hingga siku, rambutnya sedikit berantakan. Wajah pria itu tampak lelah—menandakan bahwa ia sama sekali tidak tidur semalam.

“Pak Margo bilang kau ada di sini,” kata Dhika pelan, melangkah masuk dengan ragu-ragu. Ada jarak canggung yang tak terangkut di antara mereka saat mata mereka saling bertemu. “Soal pertengkaran semalam—”

“Aku menemukan ini,” potong Aruna halus, mengangkat lembaran surat kusam itu.

Dhika menghentikan langkahnya, menatap surat di tangan Aruna dengan dahi berkerut. “Apa itu? Dokumen batas tanah dari Kakek?”

“Bukan. Ini surat dari mereka,” jawab Aruna, menyodorkan kertas itu pada Dhika. “Ditulis sepuluh tahun lalu.”

Dhika menerima surat tersebut, membacanya dengan cermat. Matanya bergerak cepat menyapu baris demi baris tulisan tangan almarhum kakek mereka. Ruangan itu kembali hening, hanya diwarnai deru angin luar yang menggesek dinding kayu.

“Mereka cuma ingin kita punya alasan untuk kembali,” gumam Aruna, suaranya terdengar pecah dan rapuh. Ia menyandarkan tubuhnya pada tepi meja kayu. “Mereka tidak pernah menyuruh kita mempertahankan tanah ini setengah mati. Mereka cuma ingin kita tidak saling melupakan.”

Dhika melipat surat itu perlahan, lalu menatap Aruna lurus. “Lalu apa yang salah dari itu?”

“Yang salah adalah aku jadi mempertanyakan semuanya, Dhika!” seru Aruna, matanya menatap Dhika dengan binar kekecewaan dan keraguan yang mendalam. “Bagaimana kalau perasaan nyaman yang kurasakan selama delapan tahun ini cuma ilusi? Bagaimana kalau kita datang ke sini setiap tahun bukan karena kita saling menginginkan… tapi cuma karena kita sedang menjalankan harapan mereka?”

“Aruna—”

“Bagaimana kalau selama ini kau cuma bersikap baik padaku karena kau merasa bertanggung jawab atas warisan Kakek?” cecar Aruna, suaranya bergetar hebat. “Kalau kebun ini tidak pernah diwariskan kepada kita… kalau kita hanya dua orang yang tidak sengaja bertemu di kota… apakah kau tetap akan memilih untuk mengenalku? Apakah kau akan tetap duduk di dekatku?”

Pertanyaan itu menghantam udara ruang arsip yang sempit, menuntut sebuah kepastian yang selama delapan tahun selalu ditutup-tutupi oleh urusan bisnis kebun.

Dhika menarik napas panjang. Ia menghembuskannya perlahan, melangkah mendekati Aruna hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Pria yang selama ini dikenal selalu rasional, teratur, dan irit bicara itu menatap mata Aruna dengan kejujuran yang mentah, tanpa lagi menggunakan topeng profesionalitasnya.

“Aku datang ke tempat ini delapan tahun lalu memang karena kebun ini warisan Kakek, Aruna,” kata Dhika, suaranya rendah, stabil, dan sarat akan emosi yang ditahannya bertahun-tahun. “Di tahun pertama, aku datang karena kewajiban hukum. Di tahun kedua, aku datang karena merasa harus mengawasi aset.”

Dhika jeda sejenak, matanya menelusuri garis wajah Aruna yang terpapar cahaya lampu remang.

“Tapi sejak tahun ketiga… aku tidak lagi peduli pada alasan Kakek,” lanjut Dhika pelan. “Aku menyusun jadwal liburku enam bulan sebelum musim panen bukan untuk memeriksa mesin pelayuan. Aku menyimpankan cangkir tehmu, mengingatkanmu memakai boot, dan mengosongkan dua minggu setiap tahun di lereng ini… cuma untuk satu hal.”

Jantung Aruna bertalu keras. “Dhika…”

“Aku terus kembali ke sini karena kau, Aruna,” aku Dhika akhirnya. Kata-kata itu meluncur tanpa keraguan, lugas namun terasa begitu mendalam. “Bukan karena surat ini. Bukan karena warisan Kakek. Dan bukan karena tanggung jawab moral. Aku kembali karena dua minggu di tempat ini adalah satu-satunya waktu dalam setahun di mana aku merasa utuh… saat melihatmu ada di sampingku.”

Aruna menahan napasnya. Seluruh pertahanan yang ia bangun sejak semalam runtuh seketika. Mitos bahwa hubungan mereka hanyalah paksaan situasi melayang terbang di udara, digantikan oleh kebenaran sederhana yang selama ini enggan ia akui.

“Aku tidak bisa mengubah fakta bahwa kita bertemu lewat kebun ini,” tambah Dhika, langkahnya maju setengah tindak lagi. “Tapi kalau kau bertanya apa yang kurasakan jika kebun ini tidak pernah ada… aku tahu satu hal. Aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu berlalu di hidupku tanpa kucari.”

Aruna terpaku, bibirnya gemetar. “Tapi kau… kau selalu bersikap seolah tempat ini cuma urusan angka bagimu.”

“Karena aku takut, Aruna,” bisik Dhika, suaranya memperlihatkan celah kerentanan yang tak pernah Aruna lihat sebelumnya. “Aku takut kalau aku bertindak berlebihan, kau akan merasa risih dan memilih melepaskan bagian warisanmu. Aku bersembunyi di balik kalkulasi bisnis karena aku pikir… hanya itu satu-satunya cara agar kau tetap mau berada di ruangan yang sama denganku setiap tahun.”

Keheningan melingkupi mereka, tetapi kali ini tak ada lagi hawa dingin atau ketegangan yang menyiksa. Hanya ada rasa lega yang membuncah setelah tumpukan kebohongan selama delapan tahun dibongkar habis.

Dhika perlahan mengulurkan tangannya. Jemarinya yang hangat dan sedikit kasar bergerak ragu sebelum akhirnya menggenggam jemari Aruna yang dingin di atas meja.

Aruna menatap genggaman tangan itu. Tidak ada penolakan dalam dirinya. Sebaliknya, Aruna membalas genggaman tersebut, menyatukan jemarinya dengan jemari Dhika, merasakan kehangatan yang merambat cepat menjalar ke dadanya. Mereka berdiri berdampingan di ruang arsip tua itu, tanpa lagi menjaga jarak, tanpa lagi berpura-pura bahwa hubungan ini hanyalah rekan bisnis.

Tidak ada kata ‘pacaran’ yang terucap, tidak ada janji manis yang puitis, tetapi di antara jemari yang saling bertaut itu, sebuah garis batas baru telah dilewati. Mereka bukan lagi dua orang asing yang dipaksa membagi warisan; mereka adalah dua orang yang akhirnya berani mengakui keberadaan satu sama lain.

“Kita masih punya masalah dengan Adrian,” bisik Aruna pelan, walau matanya masih menatap tangan mereka yang terikat.

“Aku tahu,” jawab Dhika, ibu jarinya mengusap punggung tangan Aruna dengan lembut. “Dan kita akan menghadapinya bersama. Bukan sebagai dua orang yang terpaksa, tapi sebagai kita.”

Aruna mengangguk kecil, senyum tipis yang tulus akhirnya terbit di bibirnya setelah dua hari dipenuhi tekanan.

“Coba lihat dokumen di bawah kotak tadi,” kata Dhika, mengalihkan pandangannya kembali ke lemari arsip tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Aruna. “Kau bilang tadi mencari berkas batas tanah?”

Aruna teringat kembali pada tujuan utamanya. Dengan tangan kirinya, ia menarik lipatan peta tua yang terselip di bawah kotak jati tempat surat Kakek berada. Peta itu berwarna kekuningan, lengkap dengan stempel basah dari Badan Pertanahan Nasional tahun 1982.

Saat Aruna membukanya lebar-lebar di atas meja, Dhika membungkuk ikut mengamati.

“Lihat ini, Dhika,” tunjuk Aruna pada sisi timur peta. “Di sini tercantum nomor registrasi sertifikat induk untuk blok A dan B: Registrasi 405/S-1982. Tapi di berkas sengketa yang dibawa pengacara Adrian kemarin… nomor registrasinya tertulis 405/S-1992.”

Dhika menyipitkan matanya, memindai deretan angka tersebut dengan ketelitiannya yang biasa. “Selisih sepuluh tahun. Dan stempel di peta induk ini menunjukkan bahwa pemetaan blok A sudah disahkan bersama dinas kehutanan sebelum pemandangan wilayah dilakukan pada tahun 1990.”

“Maksudmu?”

“Dokumen sengketa yang dibawa Adrian menggunakan dasar peta pemetaan tahun 1992 yang sebenarnya sudah dibatalkan oleh SK Menteri Pertanian tahun 1994,” ujar Dhika, matanya mendadak berkilat tajam. “Adrian mungkin tidak tahu, atau tim hukumnya sengaja menggunakan berkas lama yang kadaluwarsa untuk menakut-nakuti kita agar cepat menandatangani akuisisi!”

Aruna menatap Dhika dengan binar harapan yang baru menyala. “Jadi klaim sengketa itu… tidak punya kekuatan hukum yang sah jika kita membandingkannya dengan arsip induk ini?”

“Kita harus memverifikasinya langsung ke kantor BPN kabupaten siang ini,” tegas Dhika. “Ini belum sepenuhnya membatalkan niat mereka membeli kebun, tapi ini memberi kita posisi tawar yang jauh lebih kuat untuk menolak tekanan mereka!”

Rasa lega melingkupi dada Aruna. Ancaman yang tadinya terasa seperti kiamat kecil bagi kebun mereka kini mulai memperlihatkan titik terang.

Satu jam kemudian, matahari pagi telah sepenuhnya menembus kabut, menyiram hamparan pucuk teh hijau dengan cahaya keemasan yang hangat.

Dhika dan Aruna berdiri berdampingan di teras rumah utama, masing-masing memegang cangkir enamel yang berasap tipis. Rutinitas yang selama delapan tahun terasa biasa kini memiliki warna yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi kecurigaan, hanya ada keheningan yang nyaman di antara mereka.

Dhika menyesap tehnya, lalu menoleh menatap Aruna dari samping. Cahaya pagi membuat profil wajah perempuan itu tampak begitu jernih.

“Selama delapan tahun ini…” kata Dhika pelan, suaranya menghanyutkan, “…aku selalu menghitung hari menuju musim panen hanya untuk bisa berdiri di teras ini bersamamu.”

Aruna menoleh, menatap mata Dhika yang hangat. “Lalu?”

Dhika menurunkan cangkirnya, menatap Aruna dengan keputusan yang mantap. “Aku tidak mau menunggu sampai musim panen tahun depan lagi hanya untuk bisa melihatmu, Aruna. Setelah masalah tanah ini selesai… aku mau kita tetap bertemu. Di kota, di mana saja, tanpa perlu alasan kebun ini lagi.”

Aruna menatap pria di depannya, rasa hangat memenuhi seluruh dadanya. Sebuah senyuman manis dan cerah merekah di wajahnya—senyuman paling lekas yang pernah Dhika lihat selama bertahun-tahun.

“Aku juga tidak mau menunggu sampai tahun depan, Dhika,” balas Aruna jujur, hatinya mantap.

Dhika tersenyum tipis, hendak membalas ucapan itu ketika deru suara mobil tiba-tiba terdengar dari arah jalan berbatu di bawah. Sebuah jip hitam meluncur cepat dan berhenti tepat di depan halaman teras.

Pintu jip terbuka. Pak Margo keluar dari kursi penumpang bersama seorang pria paruh baya berkemeja batik yang membawa tas dokumen tebal.

“Pak Dhika! Bu Aruna!” seru Pak Margo dari bawah tangga teras. “Ini Pak Bambang dari dinas pertanahan daerah! Beliau sengaja datang dari kota setelah menerima laporan dari kantor BPN soal kejanggalan nomor registrasi lahan kita!”

Dhika dan Aruna saling pandang. Momen emosional di antara mereka terhenti sejenak, berganti dengan kesiapan untuk menghadapi babak akhir dari perjuangan mereka.

Dhika menggenggam tangan Aruna sekali lagi dengan erat di samping tubuhnya sebelum melangkah turun. “Siap?”

Aruna membalas genggaman itu dengan keyakinan penuh. “Siap.”

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Warisan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita