Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 7

  1. Home
  2. Kebun Teh yang Diwariskan Berdua
  3. Bab 7 - Tidak Lagi Bersembunyi di Balik Kebun
Prev
Next

“Peta induk tahun 1982 ini valid, Pak Dhika, Bu Aruna,” ujar Pak Bambang seraya meletakkan kaca pembesar kecilnya di atas meja teras. Pria paruh baya dari dinas pertanahan daerah itu menunjuk lembar berkas kusam yang baru saja dibawakan Aruna dari ruang arsip. “Nomor registrasi 405/S-1982 adalah sertifikat induk yang diterbitkan setelah pengukuran ulang pasca-kebijakan penataan kawasan hutan. Sementara salinan berkas sengketa yang dibawa tim investor—nomor 405/S-1992—itu merujuk pada draf pemetaan sementara yang sebenarnya sudah dibatalkan oleh SK Menteri Pertanian tahun 1994.”

Aruna menahan napas, dadanya berdesir lega. “Jadi, klaim bahwa operasional kebun bisa dibekukan minggu depan…”

“Secara hukum administrasi pertanahan hari ini, klaim itu tidak memiliki dasar yang cukup kuat,” pangkas Pak Bambang tegas namun objektif. “Garis patok blok A dan B yang sah tetap mengikuti dokumen 1982. Tapi, saya harus ingatkan. Ini bukan berarti masalah selesai otomatis. Jika PT Nusantara mendaftarkan gugatan perdata ke pengadilan, BPN tetap wajib memproses klarifikasi faktual di lapangan. Proses administrasi pembaruan data fisik tetap harus kalian ajukan minggu ini.”

Dhika mengangguk tenang, matanya menatap lembar verifikasi yang ditandatangani Pak Bambang. “Kami mengerti, Pak Bambang. Yang terpenting bagi kami saat ini adalah kepastian bahwa tidak ada pembekuan izin operasional secara sepihak.”

“Izin operasional kalian aman selama arsip induk ini diserahkan salinan legalisirnya ke kantor BPN kabupaten besok pagi,” kata Pak Bambang seraya berdiri dan menjabat tangan Dhika serta Aruna. “Saya hanya menjalankan kewajiban verifikasi awal karena Pak Margo melapor tadi pagi.”

Belum sempat Pak Bambang menuruni tangga teras, deru mesin mobil sedan hitam terdengar mendekat. Adrian Halvorsen melangkah keluar dari mobil tanpa didampingi dua pengacaranya kali ini. Wajah pria itu tetap tenang dan berwibawa, meski ada guratan ketegangan tipis di sudut matanya ketika melihat kehadiran pejabat dinas pertanahan di teras tersebut.

“Pak Bambang,” sapa Adrian sopan, mengangguk singkat pada pejabat BPN yang melewati jalurnya.

“Pak Adrian,” balas Pak Bambang kaku. “Saya sarankan tim hukum Anda memeriksa kembali arsip pembatalan pemetaan tahun 1994 di BPN sebelum mengeluarkan gertakan hukum pada pemilik lahan.”

Setelah Pak Bambang dan Pak Margo berlalu menuju jip di halaman bawah, Adrian melangkah naik ke teras, menatap Dhika dan Aruna yang berdiri berdampingan.

“Saya baru mendapat kabar dari tim hukum kami lima belas menit yang lalu,” kata Adrian langsung pada intinya, tanpa basa-basi. “Mereka mengakui ada kekeliruan dalam penarikan data arsip di BPN daerah. Dokumen 1992 yang kami terima adalah draf lama yang belum terbarui di sistem digital kami.”

Dhika bersedakap, menatap Adrian dengan pandangan tajam yang tak tergoyahkan. “Kekeliruan yang sangat presisi, Pak Adrian. Cukup presisi untuk dipakai menekan kami agar menandatangani kontrak jual beli dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam.”

Adrian menghela napas pelan, merapikan kancing jasnya. “Saya tidak akan berpura-pura suci di sini, Pak Dhika. Dalam dunia akuisisi lahan, tim hukum kami memanfaatkan setiap celah dokumen yang tersedia untuk mempercepat negosiasi. Tapi pemalsuan? Tidak. Kami menerima dokumen itu dari perantara resmi dinas sepuluh tahun lalu dan tidak menyadari adanya pembatalan SK 1994.”

“Apapun alasannya, ancaman pembekuan izin itu batal,” sela Aruna, suaranya mantap dan penuh percaya diri. “Kami tidak berada di bawah tekanan waktu lagi.”

“Secara hukum sengketa, ya, Anda benar,” aku Adrian, tatapannya berganti menatap Aruna lalu kembali ke Dhika. “Namun secara bisnis, penawaran PT Nusantara Resort tetap berdiri di angka tiga kali lipat harga pasar. Direksi kami siap mencairkan dana segar minggu depan jika Anda setuju. Tapi jika Anda menolak dan memilih mengurus sertifikasi ulang serta sengketa perdata mandiri, kami akan mengalihkan investasi ini ke lereng sebelah. Kami tidak akan menunggu tanpa batas waktu.”

Dhika melangkah satu tindak ke depan, berdiri tepat di sebelah Aruna. Senyum tipis yang dingin terukir di wajahnya. “Kalau begitu, silakan alihkan investasi Anda ke lereng sebelah, Pak Adrian.”

Adrian menyipitkan mata. “Anda yakin, Pak Dhika? Anda menolak ratusan miliar rupiah hanya untuk mempertahankan kebun teh yang margin keuntungannya terus tergerus?”

“Kami menolak menjualnya di bawah ancaman,” tegas Dhika, suaranya tenang namun sarat kekuasaan mutlak atas keputusannya. “Kebun ini memang punya masalah keuangan, dan kami tahu risiko mempertahankannya sangat besar. Tapi kami akan menyelesaikannya dengan cara kami sendiri, bukan dengan melarikan diri dan menyerahkannya pada pengembang resor.”

Adrian menatap Dhika dan Aruna bergantian selama beberapa detik, mencoba mencari celah keraguan di wajah kedua pemilik kebun itu. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang solid.

“Sangat disayangkan,” ujar Adrian akhirnya, mengulurkan tangan secara profesional. “Tapi saya menghormati keputusan Anda berdua. Semoga sukses dengan operasional kebun ini.”

Dhika menjabat tangan itu singkat. “Terima kasih, Pak Adrian.”

Saat sedan hitam itu perlahan menuruni jalan berbatu dan menghilang di balik pepohonan pinus, keheningan yang luar biasa tenang mendadak melingkupi teras. Beban berat yang menindih dada Aruna selama beberapa hari terakhir seolah menguap begitu saja bersama hembusan angin gunung.

Aruna bersandar pada pagar kayu teras, menatap hamparan bukit teh yang kini tampak begitu hijau di bawah sinar matahari pagi. Dhika berdiri di sampingnya, menuangkan teh hangat yang tersisa di teko ke dalam cangkir Aruna.

“Jadi…” gumam Aruna, menerima cangkir itu, “kita baru saja menolak uang ratusan miliar.”

“Kita baru saja menolak menjual hal yang paling berharga di tempat ini,” ralat Dhika pelan. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Aruna dari samping.

Aruna menoleh, menatap iris mata Dhika yang jernih. “Ingat kalimatku di kantor bawah waktu kita bertengkar hebat kemarin?”

Dhika menaikkan sebelah alisnya. “‘Kalau kebun ini dijual, kita tidak punya alasan lagi untuk saling menemui’?”

Aruna menunduk sedikit, tersenyum tipis meratapi kebodohannya sendiri. “Aku mengucapkannya karena aku takut, Dhika. Aku takut kalau kebun ini hilang, kau cuma akan menganggap delapan tahun ini sebagai tugas warisan yang sudah selesai.”

“Dan aku sudah bilang di ruang arsip tadi,” sahut Dhika, tangannya terulur meraih jemari Aruna yang memegang cangkir, melingkupinya dengan hangat. “Aku tidak pernah datang ke sini hanya karena tanah ini. Alasan itu sudah berubah sejak tahun ketiga.”

“Lalu setelah ini?” tanya Aruna, menatap Dhika lurus, menuntut kepastian yang tak lagi ditutupi kiasan. “Kalau kebun ini nanti sudah stabil, atau kalau kita sedang tidak dalam masa panen… kau masih akan mencari alasan untuk bertemu denganku?”

Dhika terkekeh pelan—sebuah tawa rendah dan hangat yang sangat jarang Aruna dengar selama delapan tahun.

“Aku tidak butuh alasan lagi, Aruna,” kata Dhika, suaranya dalam dan penuh kesungguhan. “Aku tidak ingin hubungan kita hanya hidup selama dua minggu dalam setahun di musim panen. Aku ingin hadir di hari-hari biasamu. Di Bandung, di Jakarta, di mana saja.”

Dada Aruna bergemuruh hebat, rasa hangat membanjiri seluruh sudut hatinya. “Selama ini… aku pikir cuma aku yang menghitung hari menuju bulan panen.”

“Kau salah,” bisik Dhika. Pria itu menyampingkan cangkirnya ke meja, lalu menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam tangan Aruna. “Aku menyimpan semua foto kita di laci bukan karena nostalgia kebun. Aku menyimpannya karena aku menyukaimu, Aruna. Sejak lama. Dan aku terlalu penakut untuk mengatakannya karena takut merusak apa yang sudah kita punya.”

Air mata haru menggenang di pelupuk mata Aruna, tetapi bibirnya mengukir senyuman paling cerah. “Aku juga, Dhika. Aku menyukaimu… sampai rasanya menyebalkan tiap kali harus berpura-pura kita cuma partner bisnis tiap pagi.”

Dhika menatap bibir Aruna yang tersenyum, lalu menatap matanya yang berbinar. Tanpa ada lagi ragu, tanpa ada lagi tembok rasionalitas yang menahan, Dhika menarik Aruna pelan ke dalam pelukannya.

Aruna menyandarkan kepalanya di dada Dhika, menghirup aroma familiar kayu cendana dan teh kering yang selalu melekat pada pria itu. Tangan Dhika melingkar di pinggang Aruna, memeluknya erat seolah menegaskan bahwa mereka tak perlu lagi bersembunyi di balik alibi apa pun.

Saat Aruna mendongak, Dhika merengkuh wajah perempuan itu dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi Aruna sebelum pria itu menunduk dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Aruna—sebuah ciuman singkat, hangat, dan penuh kepasrahan manis yang meresmikan seluruh perasaan yang tertunda selama delapan tahun.

Ketika pautan itu terlepas, Aruna tertawa kecil dengan wajah yang sedikit memerah. “Jadi… kalau datang menemui ku di Bandung nanti, apa yang mau kau lakukan?”

“Mungkin mengajakmu makan malam,” jawab Dhika santai, ibu jarinya masih mengusap lembut rahang Aruna. “Dan memastikanku tidak membawa satu pun lembar laporan keuangan atau kalkulasi margin teh.”

“Deal,” sahut Aruna ceria. “Kalau bawa laporan keuangan, kuusir dari rumah.”

“Boleh aku datang minggu depan?” tanya Dhika dengan nada bercanda namun penuh harapan mendalam.

“Tergantung,” goda Aruna, matanya berkedip jenaka. “Tergantung berapa cepat kau menyelesaikan rencana alih fungsi teh organik kita bersama Pak Margo.”

Langkah kaki yang terburu-buru dari arah jalan setapak memotong pembicaraan mereka. Pak Margo muncul di sudut teras, menghentikan langkahnya seketika saat melihat Dhika dan Aruna berdiri sangat dekat dengan tangan yang masih saling bertaut.

Pak Margo berdeham agak keras, mencoba menyembunyikan senyum lebarnya. “Maaf, Pak Dhika… Bu Aruna. Saya mengganggu?”

Aruna refleks menarik tangannya sedikit, namun Dhika justru mempererat genggamannya di jemari Aruna tanpa rasa canggung lagi.

“Tidak mengganggu, Pak Margo,” jawab Dhika tenang. “Ada apa?”

“Anak-anak pemetik di bawah sudah mendengar kabar dari Pak Bambang bahwa kebun tidak jadi dijual ke investor resor,” ujar Pak Margo dengan mata berbinar lega. “Mereka cuma mau memastikan… apakah besok kami masih bisa petik daun teh seperti biasa?”

Aruna melangkah maju satu tindak, menatap Pak Margo dengan senyum mantap. “Bukan cuma besok, Pak Margo. Kebun ini akan tetap berjalan. Dan mulai bulan depan, kita akan mulai transisi ke pemetikan organik untuk blok A dan B.”

Wajah Pak Margo tampak sangat bernapas lega. Pria tua itu mengangguk-angguk penuh syukur. “Terima kasih, Bu Aruna, Pak Dhika. Kami semua siap mendukung rencana baru Bapak dan Ibu.”

Setelah Pak Margo kembali ke bawah untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada para pekerja, Dhika menarik Aruna kembali mendekat ke sisinya.

“Pekerjaan kita baru dimulai, Aruna,” kata Dhika, menatap hamparan bukit di depan mereka. “Transisi organik butuh modal, kerja keras, dan disiplin tinggi. Kita masih bisa rugi kalau eksekusinya berantakan.”

“Aku tahu,” balas Aruna, menyandarkan bahunya ke lengan Dhika. “Tapi kali ini kita mengerjakannya bersama. Bukan cuma sebagai dua orang yang terpaksa membagi warisan Kakek.”

Dhika memiringkan kepalanya, mengecup puncak kepala Aruna dengan lembut. “Tahun depan, kita tetap akan berdiri di teras ini saat musim panen.”

Aruna menengadah, menatap garis rahang Dhika yang tegas. “Dan sebelum musim panen tahun depan?”

Dhika tersenyum tipis, matanya memancarkan kepastian yang tak tergoyahkan. “Sebelum tahun depan tiba… aku akan mencarimu setiap minggu di kota. Kita tidak punya alasan lagi untuk menunggu.”

Matahari kini telah meninggi, menghangatkan tanah lereng gunung dan menerangi jalan panjang di hadapan mereka—jalan yang tak lagi dibayangi ketakutan, melainkan oleh keputusan yang mereka pilih bersama.

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Warisan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita