Kebun Teh yang Diwariskan Berdua - Bab 8

  1. Home
  2. Kebun Teh yang Diwariskan Berdua
  3. Bab 8 - Alasan untuk Pulang
Prev
Novel Info

Dua cangkir kopi susu aren yang masih panas diletakkan Dhika di atas meja kerja apartemen Aruna di Bandung, memotong konsentrasi Aruna yang sedang sibuk memilah berkas kurikulum kampus. Tidak ada laporan keuangan, tidak ada manifes tonase, dan yang paling penting, ini hari Selasa di pertengahan bulan—bukan musim panen, juga bukan jadwal rutin mereka delapan tahun belakangan.

Aruna mendongak, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi seraya menatap pria yang kini santai melangkah ke arah sofa kecil di sudut ruangan. Dhika mengenakan kemeja kasual yang lengannya tergulung kaku, tampak jauh lebih rileks dibandingkan sosoknya yang biasa berkutat dengan kalkulator di kebun.

“Kau memotong pekerjaanku di jam delapan malam,” tutur Aruna, walau sudut bibirnya sudah mengukir lengkung tipis yang tak bisa disembunyikan.

“Aku cuma mengantar pesanan kopi ekstra espresso milik dosen yang suka lupa waktu,” balas Dhika datar, menyilangkan kakinya dengan tenang. “Lagipula, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan distributor kafe di daerah Dago. Jaraknya cuma sepuluh menit dari sini.”

“Sebenarnya berapa banyak alasan yang kau siapkan sebelum memutuskan naik travel dari Jakarta siang tadi?” goda Aruna, melangkah mendekat dan meraih cangkir kopinya.

Dhika terkekeh pelan, menatap Aruna dengan iris mata yang hangat. “Tiga. Tapi yang dua lagi tidak perlu kupakai karena kau sudah membukakan pintu.”

Aruna duduk di samping Dhika, menyesap kopinya yang manis dan pas sesuai selera persis yang selalu diingat pria itu. Selama tiga bulan terakhir, pola ini menjadi sesuatu yang baru namun secara ajaib terasa begitu alami. Dhika tidak lagi menunggu telegram atau laporan bulanan dari Pak Margo untuk meneleponnya. Pria itu kini hadir di sela-sela kesibukan akhir pekannya, datang ke Bandung tanpa urusan bisnis kebun, atau menyuruh Aruna menyusul ke Jakarta hanya untuk sekadar makan malam berdua.

“Bagaimana progres uji laboratorium tanah di blok A?” tanya Aruna kemudian, meletakkan cangkirnya di atas tatakan.

“Residu kimianya turun lima belas persen dibanding bulan lalu,” jawab Dhika, ekspresinya berganti menjadi fokus yang familier. “Pak Margo dan timnya disiplin menggunakan kompos organik yang kita rancang. Tapi kita masih punya masalah di masa transisi. Kuantitas panen blok A turun hampir dua puluh persen untuk petikan pertama ini.”

Aruna mengangguk pelan. “Itu konsekuensi yang sudah kita perkirakan dari awal. Pasar organik tidak bisa dibangun dalam semalam.”

“Betul. Keuangan kita masih agak ketat sampai kuartal depan,” lanjut Dhika, menatap Aruna lurus. “Aku sudah memotong beberapa alokasi renovasi kantor bawah untuk menutup kekurangan operasional pekerja. Kita belum bisa bilang kebun itu sukses besar, Aruna. Perjalanannya masih panjang dan butuh banyak kompromi.”

“Tapi setidaknya kita tidak menjualnya pada Adrian,” sahut Aruna, mengusap bahu Dhika pelan. “Dan para pekerja tidak perlu kehilangan rumah mereka.”

“Ya,” aku Dhika dengan senyum tipis yang tulus. “Setidaknya kita mengerjakannya tanpa ada pedang yang tergantung di leher kita lusa jam lima sore.”

Aruna tertawa renyah mengingat ketegangan beberapa bulan lalu. “Bagaimana kabar Pak Adrian? Ada kabar lagi?”

“Dia sempat mengirim surel singkat bulan lalu,” kata Dhika. “Pengembangan resor mereka di lereng barat sudah mulai peletakan batu pertama. Dia mengucapkan selamat atas langkah transisi organik kita dan bilang… kalau kita kehabisan modal, pintu penawarannya selalu terbuka.”

“Jawabanmu?”

“Kubilang padanya, simpan saja uangnya untuk membeli resor lain,” jawab Dhika santai, membuat Aruna tersenyum lebar. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Aruna dengan pandangan yang perlahan melunak. “Tapi bicara soal kebun… akhir pekan ini musim petik blok C dimulai. Kau ada jadwal mengajar?”

Aruna menggeleng. “Jadwalku kosong sampai Senin.”

“Bagus,” kata Dhika, meraih jemari Aruna dan menggenggamnya hangat. “Kalau begitu, ayo pulang ke kebun.”

—

Sabtu pagi di lereng gunung menyambut mereka dengan aroma daun teh basah yang selalu sama. Namun, ada yang berbeda saat jip yang dikendarai Dhika berhenti di halaman rumah utama. Pak Margo yang sedang mencatat tonase di dekat truk tidak lagi menatap mereka dengan raut cemas atau rasa ingin tahu yang ditutup-tutupi.

“Pagi, Pak Dhika, Bu Aruna!” sapa Pak Margo ceria, melambaikan tangannya dari jauh. “Keranjang pertama blok C baru saja turun. Kualitasnya bagus sekali!”

“Pagi, Pak Margo!” balas Aruna ramah.

Mereka melangkah naik ke teras pondok atas. Di sana, di atas meja kayu yang biasa, teko porselen dan dua cangkir enamel sudah tertata rapi. Kursi kayu favorit Aruna—yang sandarannya pernah diperbaiki Dhika pada tahun kelima—masih berdiri kokoh di sudut yang sama.

Aruna berjalan ke tepi teras, menghirup udara segar pegunungan yang menelusup ke paru-parunya. Tempat ini masih menyimpan hamparan hijau yang sama, suara gesekan dahan pinus yang sama, dan kabut tipis yang merayap di lembah. Namun rasa sesak dan ketakutan akan kehilangan yang dulu selalu membayangi kini sepenuhnya sirna.

Dhika keluar dari pintu dalam membawa teko hangat, lalu menuangkan teh ke cangkir Aruna.

“Ingat saat kita duduk di sini tiga bulan lalu?” tanya Aruna, menerima cangkir tersebut dan menatap uapnya yang membubung.

“Waktu kita berdebat soal sengketa palsu dan kau bilang tidak mau bertemu lagi denganku kalau kebun ini dijual?” balas Dhika, mengungkitnya dengan nada menggoda.

Aruna menoleh, mendengus pelan namun matanya berbinar. “Aku sedang emosional waktu itu. Dan kau juga tidak membantu sama sekali dengan sikap dinginmu yang seperti kalkulator berjalan.”

“Aku rasional, Aruna. Ada bedanya,” sahut Dhika santai, duduk di tangga teras, persis seperti kebiasaannya. Pria itu menengadah menatap Aruna yang berdiri di sampingnya. “Tapi harus kuakui… kalimatmu waktu itu membuatku tidak bisa tidur seharian.”

“Baguslah. Berarti dampaknya terasa,” balas Aruna, ikut duduk di anak tangga tepat di samping Dhika, menyandarkan bahunya rapat ke lengan pria itu.

Keheningan yang nyaman kembali melingkupi mereka. Tidak ada lagi ketergesaan untuk membahas angka-angka produksi, tidak ada lagi rasa canggung yang memaksa mereka memikirkan topik pembicaraan. Mereka hanya dua orang yang menikmati ketenangan di tempat yang membentuk perjalanan mereka selama delapan tahun.

“Aku sempat membaca ulang surat Kakek minggu lalu,” ujar Aruna pelan, matanya menatap hamparan bukit di depan mereka.

“Yang di dalam kotak jati?”

“Ya,” jawab Aruna. “Dulu aku sempat takut kalau perasaan kita ini cuma paksaan dari harapan mereka. Aku takut kita cuma sedang memainkan peran yang dirancang Kakek Wira dan Kakek Soerjo agar dua keluarga ini tidak terputus.”

Dhika memiringkan kepalanya, menatap profil samping wajah Aruna. “Lalu sekarang?”

“Sekarang aku sadar… Kakek cuma memberi kita pintunya,” kata Aruna, menoleh dan menatap mata Dhika dengan kepastian yang utuh. “Mereka cuma menyediakan tempat ini agar kita punya alasan untuk saling kenal. Tapi apa yang terjadi di antara kita selama delapan tahun ini… itu keputusan kita sendiri, Dhika.”

Dhika diam sejenak, mengamati binar di mata Aruna. Pria itu mengulurkan tangannya, merengkuh jemari Aruna dan meremasnya lembut.

“Kau benar,” kata Dhika, suaranya rendah dan mantap. “Kakek tidak pernah menyuruhku mengingat pesanan kopimu, tidak pernah menyuruhku menyimpan foto-fotomu, dan tidak pernah menyuruhku datang ke Bandung tiap minggu. Kebun ini mungkin alasan pertama kita bertemu… tapi kau adalah satu-satunya alasanku untuk tetap tinggal.”

Dada Aruna membuncah oleh kehangatan yang tak terbendung. Ia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Dhika, merasakan detak jantung pria itu yang stabil dan menenangkan.

“Dulu,” kata Aruna dengan nada jahil yang lembut, “kita harus menunggu satu tahun penuh hanya untuk bisa duduk seperti ini selama dua minggu.”

“Dan dulu,” timpal Dhika, “kau selalu berpura-pura sangat sibuk memeriksa manifes panen hanya agar tidak perlu mengobrol denganku di teras.”

“Karena kau bersikap seperti bos galak yang siap memotong gajiku!”

Dhika tertawa rendah—suara tawa yang kini menjadi melodi paling favorit bagi Aruna. Pria itu kemudian merogoh saku jaketnya, menarik keluar sebuah kamera instan tua dan satu lembar foto yang baru saja keluar dari mesin cetak kecil di mobilnya.

“Apa itu?” tanya Aruna, mendongak.

Dhika menyerahkan lembaran foto instan itu kepada Aruna. Di dalam foto tersebut, Aruna sedang tertawa lebar di teras dengan cangkir teh di tangan, sementara Dhika berdiri di sampingnya dengan tersenyum tipis—foto yang diambil secara diam-diam oleh Pak Margo saat mereka baru tiba tadi pagi.

Aruna menatap foto itu dengan binar haru. “Foto musim panen ke-sembilan?”

“Bukan,” pangkas Dhika pelan. Pria itu mengambil kotak kayu kecil dari dalam tasnya—kotak yang dulu menyimpan delapan foto instan dari delapan tahun lalu—lalu memasukkan foto baru itu ke dalamnya. “Ini bukan foto musim panen.”

Aruna menatap Dhika dengan dahi berkerut halus. “Lalu?”

Dhika menatap mata Aruna, menyapu beberapa helai rambut dari kening perempuan itu dengan jemarinya yang hangat.

“Ini foto pertama kita,” kata Dhika tulus. “Foto pertama dari hubungan yang kita pilih sendiri… tanpa bersembunyi lagi di balik alasan kebun ini.”

Aruna menelan ludah, air mata haru yang hangat akhirnya menetes di pipinya. Ia tidak menyapunya, melainkan membiarkan Dhika mengusap air mata itu dengan ibu jarinya secara perlahan.

“Aku mencintaimu, Aruna,” kata Dhika. Kalimat itu terucap sederhana, tanpa nada puitis yang berlebihan, namun sarat akan bobot delapan tahun penantian yang akhirnya menemukan muaranya. “Bukan sebagai partner kebunmu. Tapi sebagai Dhika.”

Aruna menggenggam tangan Dhika yang berada di pipinya, memejamkan mata sejenak menikmati kehangatan itu sebelum menatap pria di depannya dengan seluruh rasa cinta yang selama ini ia kunci rapat.

“Aku juga mencintaimu, Dhika,” balas Aruna lurus dan mantap. “Sebagai Aruna. Bukan cuma saat musim panen tiba… tapi di setiap hari yang kita punya setelah ini.”

Dhika mendekatkan wajahnya, mengecup kening Aruna cukup lama, menyalurkan seluruh lega dan kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Saat ia menarik dirinya kembali, mereka berdua saling melempar senyum—senyuman dari dua orang yang akhirnya selesai berlari dari ketakutan mereka sendiri.

Matahari bergerak semakin tinggi, menghangatkan tanah lereng gunung dan membiaskan sinar keemasan di atas pucuk-pucuk teh yang membentang luas. Di bawah sana, suara riuh para pemetik dan raungan truk pengangkut terdengar bersahut-sahutan, menandakan kehidupan kebun yang terus berjalan dengan ritmenya yang jujur.

Kebun teh ini akan tetap membutuhkan kerja keras, modal, dan waktu untuk terus bertahan. Masalah-masalah baru mungkin akan datang di masa depan. Namun di teras kayu tua itu, Aruna dan Dhika duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertaut erat.

Dahulu, kebun ini adalah satu-satunya alasan yang memaksa mereka untuk bertemu. Kini, kebun ini hanyalah salah satu tempat dari sekian banyak tempat di mana mereka memilih untuk pulang bersama.

TAMAT.

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Perlahan, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Warisan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita