Jangan Jatuh Cinta pada Teman Kantor - Bab 2

  1. Home
  2. Jangan Jatuh Cinta pada Teman Kantor
  3. Bab 2 - Kenapa Aku Cemburu?
Prev
Next

Dua minggu berlalu, dan atmosfer di lantai lima terasa berubah total.

Bima benar-benar membuktikan ucapannya secara tersirat. Pria itu tidak lagi meletakkan gelas kopi di meja Alena setiap pagi. Tidak ada lagi pesan singkat berisi mengingatkan makan siang saat jam istirahat tiba. Tidak ada lagi lelucon konyol di sela-sela rapat, atau penawaran tumpangan pulang saat hujan deras mengguyur Jakarta.

Bima tetap bersikap ramah. Dia tersenyum jika berpapasan di lorong, mengucapkan “selamat pagi” dengan sopan, dan berdiskusi dengan sangat profesional jika ada proyek bersama. Namun, semuanya berhenti di sana. Bima dengan sempurna memperlakukan Alena persis seperti prinsip yang Alena inginkan: seorang rekan kerja biasa.

Seharusnya Alena merasa lega. Batasan yang sangat ia agungkan kini berdiri kokoh tanpa perlu ia repot-repot menegaskannya lagi. Tapi kenyataannya? Alena merasa kehilangan arah. Ia menangkap dirinya sendiri berulang kali menatap meja Bima yang berada di ujung ruangan, berharap pria itu tiba-tiba berdiri dan membawakan secangkir kopi untuknya.

“Na, ini draf kampanye yang baru,” suara lembut menyentak Alena dari lamunannya.

Alena menoleh dan melihat Raisa—karyawan baru dari divisi pemasaran yang baru masuk dua minggu lalu. Raisa itu cantik, ceria, dan sangat supel.

“Oh, iya. Taruh di sini aja, Sa. Nanti aku cek,” jawab Alena berusaha tersenyum.

“Makasih ya, Mbak Alena,” Raisa tersenyum manis, lalu pandangannya beralih ke meja di belakang Alena. “Mas Bima! Mau ke kantin sekarang nggak? Aku udah selesai nih.”

Alena secara refleks menoleh. Bima berdiri dari kursinya sambil memegang dompet.

“Yuk,” jawab Bima ramah. Pria itu melangkah mendekati meja Raisa, lalu melirik Alena sekilas. “Na, kita ke kantin dulu ya.”

“Iya,” sahut Alena pendek.

Ia memperhatikan bagaimana Raisa tertawa kecil menanggapi ucapan Bima saat mereka berdua berjalan bersisian menuju pintu keluar. Tangan Raisa bahkan sempat menyentuh lengan Bima secara alami ketika mereka tertawa bersama. Bima sama sekali tidak menghindar. Pria itu terlihat sangat santai dan nyaman berada di dekat Raisa.

Dada Alena terasa sesak luar biasa. Tangannya yang memegang pulpen menegang hingga buku-buku jarinya memutih.

Satu tepukan keras mendarat di bahunya. Maya sudah menarik kursi dan duduk di sebelahnya dengan tatapan menyelidik.

“Kamu cemburu?” tanya Maya tanpa basa-basi.

“Nggak,” jawab Alena cepat, menyanggah tanpa jeda.

“Terus kenapa dari tadi mata kamu mau melotot keluar ngeliatin mereka berdua?”

“Aku cuma kebetulan lihat. Raisa kan karyawan baru, aku cuma memastikan dia bisa beradaptasi,” alibi Alena, suaranya naik satu oktav.

Maya menaikkan alisnya, menatap Alena iba sekaligus gemas. “Kebetulan lihat? Sepuluh kali dalam sejam ini, Alena. Kamu bahkan melototin tangan Raisa waktu dia megang tangan Bima tadi.”

“Maya, aku nggak cemburu! Kenapa sih semua orang selalu mikir aku ada apa-apa sama Bima?” bisik Alena dengan nada kesal.

“Karena dari tadi muka kamu tuh judes banget kayak orang mau ngajak perang!” sergah Maya pelan. “Lagian, bukannya ini yang kamu mau? Bima udah nggak ganggu kamu lagi. Dia udah berhenti perhatian sama kamu. Dia ngasih kamu jarak yang kamu minta. Kenapa sekarang kamu yang kebakaran jenggot waktu dia dekat sama cewek lain?”

Alena bungkam. Kalimat Maya menohoknya tepat di ulu hati. Ia menunduk menatap layar monitornya yang buram karena air mata yang mendadak menumpuk di pelupuk matanya. Kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali melihat Bima tersenyum pada perempuan lain dengan cara yang biasanya selalu diperuntukkan untuknya?

Sore harinya, suasana di divisi makin tegang. Ada revisi mendadak dari klien utama yang mengharuskan Bima dan Raisa bekerja sama menyelesaikan presentasi. Mereka berdua duduk di meja Bima, berdiskusi dengan jarak yang cukup dekat.

Alena yang duduk tak jauh dari sana merasa dadanya seperti diremas-remas. Rasa panas dan kesal berkecamuk menjadi satu. Ketika Bima melangkah ke mejanya untuk meminta data berkas laporan tahun lalu, Alena menyerahkannya dengan membanting berkas itu agak keras ke atas meja.

“Ini,” kata Alena dingin, bahkan tanpa menatap muka Bima.

Bima tertegun sejenak. Ia melihat berkas di tangannya, lalu menatap Alena yang sedang menatap layar monitor dengan rahang mengeras.

“Makasih, Na,” ucap Bima pelan.

Pria itu tidak langsung pergi. Ia berdiri di samping meja Alena beberapa detik, memperhatikan perubahan sikap wanita di hadapannya.

“Na?” panggil Bima.

“Apa?” sahut Alena ketus, masih menolak menatap Bima.

“Aku salah apa?” tanya Bima jujur. Suaranya terdengar sangat tenang, membuat kemarahan Alena yang tak beralasan itu terasa makin absurd.

“Nggak ada,” jawab Alena singkat.

“Terus kenapa kamu marah dari tadi pagi?”

“Aku nggak marah.” Alena mengetik keyboard komputer dengan tekanan yang sangat kuat, menyuarakan kekesalannya.

Bima mendesah pelan. Ia menarik kursi kosong di dekat sana, lalu duduk di samping Alena.

“Kamu kalau bohong selalu menghindari mata orang,” kata Bima pelan namun penuh penekanan.

Mendengar ucapan itu, Alena mendadak menghentikan jarinya. Kalimat itu membuktikan satu hal: Bima masih sangat mengenalnya. Pria itu masih hafal gestur-gestur kecilnya.

Dengan perasaan campur aduk antara kesal, sedih, dan bingung, Alena memutar kursinya secara mendadak. Ia menatap mata Bima lurus-lurus, meluapkan semua sesak di dadanya yang sudah tak mampu ia tahan lagi.

“Kamu masih perhatian?” tumpah Alena. Suaranya bergetar.

Bima tertegun. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Alena.

Ruangan di sekitar mereka seolah mendadak hening. Alena sendiri langsung mematung begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan. Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa kendali dari otaknya. Ia baru saja membocorkan pertahanan yang selama ini ia bangun setengah mati.

Bima menatap Alena dalam-dalam. Tidak ada raut ejekan atau kemenangan di wajah pria itu, yang ada hanyalah tatapan lelah dan kesungguhan yang begitu pekat.

“Aku memang masih perhatian, Na,” kata Bima pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan yang menusuk dada Alena.

Alena terdiam, napasnya tertahan di tenggorokan.

“Tapi aku nggak mau bikin kamu nggak nyaman lagi,” sambung Bima. Pria itu lalu berdiri perlahan, merapikan kemejanya. “Aku cuma berusaha menghormati batas yang kamu buat.”

Bima membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri lorong menuju ruang rapat, meninggalkan Alena yang terduduk kaku di kursinya.

Alena memandangi punggung pria itu yang perlahan menghilang di balik pintu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alena menyadari kebenaran yang ironis: ternyata yang membuatnya takut selama ini bukanlah Bima yang berusaha mendekat.

Dia justru mati ketakutan saat menyadari Bima telah benar-benar belajar untuk menjauh.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita