Jangan Jatuh Cinta pada Teman Kantor - Bab 1
Satu gelas iced Americano dengan ekstra dua shot espresso tanpa gula mendadak mendarat di atas meja Alena. Bau kopi hitam yang pekat langsung menyeruak, memotong konsentrasinya yang sedang tertuju pada layar monitor penuh angka.
Alena langsung menghela napas panjang tanpa perlu menengok. Siapa lagi yang hafal pesanan gila ini di divisi mereka?
“Bima, aku bisa beli sendiri.”
Bima, pria yang berdiri santai di samping mejanya dengan kemeja putih bergulung hingga siku, hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia meletakkan satu kantong plastik berisi roti gandum di sebelah gelas kopi tersebut.
“Aku tahu,” jawab Bima ringan.
“Terus kenapa beliin?” Alena memutar kursi kerjanya, menatap pria itu dengan kening berkerut.
“Karena aku sekalian beli.”
Alena meraih gelas plastik yang masih berembun itu. Dinginnya menempel di telapak tangannya. Ia memandangi label tulisan tangan dari barista yang sangat presisi sesuai seleranya.
“Kamu hafal?” tanya Alena pelan, ada nada heran yang berusaha ia sembunyikan.
Bima tersenyum lebih lebar, memperlihatkan lesung pipit tipis di pipi kirinya yang selalu berhasil membuat beberapa staf junior salah fokus.
“Sudah tiga tahun kerja bareng kamu, Na. Kalau sampai aku nggak hafal racikan kopi yang bikin kamu nggak semprot orang saat deadline, berarti aku rekan kerja yang buruk.”
Alena terdiam. Kalimat itu terdengar wajar, tetapi entah kenapa tatapan mata Bima yang hangat membuat dada Alena terasa mencubit pelan. Ia tidak suka perasaan ini. Sangat tidak suka.
“Thanks. Nanti uangnya aku transfer,” kata Alena dengan nada selurus mungkin, lalu kembali memutar kursinya menghadap monitor.
“Nggak usah. Anggap saja bayaran karena kemarin kamu sudah bantu cek laporan bulanan timku.” Bima menepuk pelan sandaran kursi Alena sebelum melangkah pergi menuju kubikelnya sendiri di ujung ruangan.
Baru saja langkah kaki Bima menjauh, sebuah kursi beroda meluncur cepat ke samping meja Alena. Maya, sahabat sekaligus teman sebangkunya di kantor, menyenggol lengan Alena dengan mata berbinar-binar.
“Sumpah ya, Na. Kamu itu sebenarnya punya hati dari batu atau rakitan baja sih?” bisik Maya dengan ekspresi gemas.
“Apaan sih, May? Kerja, itu laporan financial quarterly belum beres.”
“Alena, plis deh! Bima itu cuma beliin kopi buat kamu. Cuma kamu! Dito tadi minta dibeliin pisang goreng aja disuruh jalan sendiri ke kantin belakang.”
Alena menghela napas lagi, memijat pangkal hidungnya. “Ya karena Bima cuma asal beli aja tadi. Jangan mulai deh, May.”
“Kalian pacaran, ya?” tanya Maya mendadak tajam, matanya menyelidik.
“Nggak mungkin,” jawab Alena cepat, tanpa keraguan sedikit pun.
“Kenapa nggak mungkin? Bima ganteng, mapan, perhatiannya level dewa, dan jelas-jelas cuma nempel sama kamu dari zaman kalian masih karyawan probation.”
“Karena dia teman kantor,” tegas Alena. Kalimat itu diucapkannya seperti sebuah dogma yang tidak boleh diganggu gugat.
Maya memutar bola matanya. “Prinsip kuno itu lagi?”
“Bukan kuno, tapi realistis,” kata Alena sambil menatap Maya serius. “Kamu ingat Siska sama Rian tahun lalu? Pacaran manis banget di kantor. Begitu putus? Suasana divisi langsung kayak medan perang. Saling sindir, kerjaan berantakan, Rian sampai akhirnya resign karena nggak tahan ditatap sinis satu ruangan. Aku nggak mau kayak gitu.”
“Tapi Bima beda, Na—”
“Nggak ada yang beda,” potong Alena dingin. “Di kantor ini, hubungan romantis itu bom waktu. Jadi, Bima itu cuma teman kantor. Titik.”
Tanpa Alena sadari, beberapa meter di balik sekat pantry yang terbuka, Bima berdiri memegang cangkir keramiknya. Pria itu menunduk menatap cairan hitam di dalam cangkirnya, mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Alena. Tidak ada guratan marah di wajah Bima, hanya sebuah senyum samar yang agak getir. Ia meminum kopinya perlahan, lalu kembali ke mejanya tanpa bersuara.
Sejak percakapan di siang hari itu, Bima mendadak berubah. Pria itu tidak lagi lewat di depan meja Alena untuk sekadar menyapa atau melemparkan lelucon konyol bersama Dito. Dia bekerja dengan sangat fokus, tenggelam dalam tumpukan berkasnya sendiri.
Malam harinya, jam kantor sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sebagian besar staf sudah pulang. Ruangan divisi marketing yang luas itu kini mulai sepi, hanya menyisakan Alena yang masih berkutat dengan revisi presentasi dan Bima yang masih berkutat di meja ujung.
Biasanya, jika Alena lembur, Bima akan selalu berpura-pura masih ada pekerjaan. Pria itu akan duduk tenang di mejanya, berpura-pura sibuk sampai Alena selesai, lalu menawarkan tumpangan pulang dengan alasan ‘searah’—padahal rumah Bima berjarak lima kilometer ke arah yang berlawanan.
Namun, malam ini berbeda.
Sekitar pukul delapan lewat lima belas, Alena mendengar suara kursi digeser. Ia menoleh dari balik monitornya. Bima tampak merapikan barang-barangnya, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu mengenakan jasnya.
“Aku duluan ya, Dito,” kata Bima pada Dito yang juga masih berada di ruangan.
“Oke, Bim. Hati-hati di jalan!” sahut Dito dari kejauhan.
Bima melangkah menuju pintu keluar. Saat melewati meja Alena, langkahnya sama sekali tidak melambat.
“Pulang dulu, Na,” pamit Bima singkat, hanya melambaikan tangan tanpa menatap matanya secara langsung.
“E-eh… iya, Bim. Hati-hati,” balas Alena gagap.
Pintu kaca ruangan tertutup. Alena terpaku. Ia menatap meja Bima yang kini sudah bersih dan gelap. Ada rasa aneh yang mendadak menyeruak di dadanya—rasa kosong yang tak biasa.
Alena mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya malah melayang. Kenapa dia pulang duluan? Biasanya kan dia selalu tungguin? Apa dia ada urusan? Atau… dia dengar omonganku tadi siang?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa tidak tenang itu membuat konsentrasinya buyar total. Sepuluh menit kemudian, Alena menyerah. Ia akhirnya mematikan laptopnya, merapikan barang-barangnya dengan terburu-buru, lalu memutuskan untuk pulang.
Alena berjalan menyusuri koridor lantai lima yang mulai sepi menuju lift. Perasaannya masih campur aduk. Ia kesal pada dirinya sendiri karena begitu memikirkan sikap Bima. Bagus dong kalau dia pulang duluan. Itu artinya dia faham batasan, batinnya menenangkan diri.
Lift membawanya turun ke lantai dasar. Ketika pintu lift terbuka menuju lobi utama gedung perkantoran yang megah dan agak temaram itu, langkah Alena mendadak terhenti.
Di dekat pintu kaca lobi, Bima berdiri membelakanginya. Pria itu masih membawa tas kantornya, sesekali melihat layar ponsel di tangannya.
Alena mengernyit. Bukankah Bima sudah turun dari sepuluh menit yang lalu? Kenapa dia masih di sini?
Dengan rasa penasaran yang membuncah, Alena melangkah mendekat. Suara tumit sepatu hak tingginya berdenting di atas lantai marmer, membuat Bima menoleh.
“Bima?” panggil Alena.
Bima agak terkejut melihatnya, tetapi ekspresinya dengan cepat kembali tenang. “Eh, Na. Belum pulang?”
“Ini baru mau pulang,” Alena memiringkan kepalanya sedikit, menatap Bima heran. “Katanya kamu pulang duluan tadi?”
“Iya,” jawab Bima singkat.
“Terus kenapa masih di sini?” tanya Alena lagi. Ada desakan tidak sabar dalam suaranya yang bahkan tidak ia pahami sendiri.
Bima menurunkan ponselnya, lalu menatap Alena lurus-lurus. Tatapan mata pria itu tidak dingin, tetapi ada jarak tak kasatmata yang belum pernah Alena rasakan sebelumnya dari Bima.
“Nunggu teman,” jawab Bima santai.
Alena mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lobi yang luas. Hanya ada seorang petugas keamanan di sudut jauh dan mereka berdua. Tidak ada orang lain.
“Teman siapa? Perasaan anak-anak divisi kita udah pada pulang semua dari tadi.”
Bima tersenyum kecil. Senyum yang terasa sangat asing di mata Alena.
“Bukan kamu,” jawab Bima halus.
Kata-kata itu terucap dengan begitu tenang, tetapi dampaknya menghantam dada Alena hingga ia membatu di tempatnya. Bernapas pun mendadak terasa berat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Alena merasa benar-benar terlempar jauh dari jangkauan Bima. Dan rasa kehilangan yang memukulnya detik itu… terasa sangat menyakitkan.
-BERSAMBUNG-