Jangan Jatuh Cinta pada Teman Kantor - Bab 3

  1. Home
  2. Jangan Jatuh Cinta pada Teman Kantor
  3. Bab 3 - Ternyata Aku Takut Kehilanganmu
Prev
Novel Info

Malam Sabtu di sebuah coffee shop kecil tak jauh dari kantor. Suasana kafe yang remang-remang dan diiringi musik instrumental pelan sama sekali tidak bisa menenangkan pikiran Alena. Di depannya, Maya sedang menyesap matcha latte-nya sambil menatap Alena yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk minumannya tanpa diminum.

“Kamu tahu kan kalau kamu itu bodoh?” kata Maya membuka percakapan, tanpa saring sama sekali.

Alena menyandarkan punggungnya di kursi, mengusap wajahnya yang tampak lelah. “Aku tahu, May. Nggak usah diperjelas.”

“Selama ini kamu selalu beralasan takut pacaran sama teman kantor karena takut canggung kalau putus,” Maya memajukan badannya, menatap sahabatnya itu tajam. “Tapi jujur sama aku, Na. Apa Bima pernah ngelakuin hal yang bikin kamu berhak meragukan dia?”

Alena menggeleng perlahan. “Nggak pernah.”

“Dia pernah maksa kamu?”

“Nggak.”

“Dia pernah manfaatin posisi kantor buat manfaatin kamu?”

“Nggak pernah, May.”

“Nah, terus?” Maya menepuk meja pelan. “Kamu itu bukan takut pacaran sama teman kantor, Alena. Kamu cuma penakut! Kamu takut terluka, makanya kamu bikin benteng setinggi itu dan numbalin Bima yang nggak tahu apa-apa!”

Kata-kata Maya seperti tamparan keras yang membangkitkan kesadaran Alena dari mimpi buruk. Benar. Bima tidak pernah bersikap seperti mantan sahabatnya dulu. Bima selalu menghargai ruang geraknya. Bima tidak pernah menuntut. Bima selalu ada, memberi perhatian tanpa pernah meminta bayaran atau kepastian.

Dan ketika Alena memintanya pergi secara tak langsung, Bima pergi dengan sangat terhormat—meskipun itu pasti melukainya.

“Terus sekarang aku harus gimana?” suara Alena terdengar bergetar menahan tangis. “Dia udah berhenti, May. Dia udah nggak mau berusaha lagi.”

“Ya sekarang giliran kamu, Alena! Jangan cuma mau dikejar, tapi waktu orangnya cape kamu malah nangis di pojokan,” cerceh Maya tegas. “Bima itu cowok baik. Kalau kamu nggak gerak sekarang, Raisa atau cewek lain di luar sana bakal mengambil tempat yang harusnya jadi milik kamu.”

Kalimat Maya terus bergema di kepala Alena sepanjang sisa akhir pekan. Rasa takut yang biasanya membelenggunya kini kalah telak oleh rasa takut yang jauh lebih besar: ketakutan membayangkan masa depannya tanpa Bima di sisinya.

Hari Senin tiba. Jam kantor baru saja usai pada pukul lima sore. Sebagian besar karyawan mulai berkemas untuk pulang.

Alena melihat Bima merapikan mejanya di ujung ruangan. Pria itu memakai jaketnya, siap untuk melangkah keluar. Alena tahu, jika ia membiarkan Bima berjalan melewati pintu lobi hari ini tanpa melakukan apa pun, segalanya akan benar-benar berakhir.

Jantung Alena berdegup kencang bak maraton. Tanpa memedulikan tatapan beberapa rekan kerja yang masih ada di ruangan, Alena berdiri dan berjalan cepat memotong jalan Bima tepat di depan pintu keluar divisi.

Bima terhenti. Langkah kakinya tertahan. Pria itu menatap Alena dengan alis sedikit terangkat.

“Na? Ada apa?” tanya Bima heran.

Alena mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa dalam dirinya. “Kita perlu bicara.”

“Soal pekerjaan? Laporan minggu depan udah aku kirim ke email—”

“Bukan soal pekerjaan!” potong Alena keras, suaranya sampai membuat Dito yang sedang mengemas tas di mejanya menoleh kaget.

Bima menatap Alena beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Oke. Bicara di mana?”

Mereka berjalan menuju rooftop lantai atas gedung kantor—tempat yang sepi dan hanya dihiasi angin sore kota Jakarta. Angin menerpa rambut Alena yang terurai, menambah ketegangan di antara mereka berdua.

Bima menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas, melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap Alena dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak.

“Kamu mau berbicara soal apa, Na?”

Alena menatap mata pria di hadapannya. Mata yang selama tiga tahun ini selalu menatapnya dengan penuh kehangatan.

“Kamu mau terus menjauh dari aku?” tanya Alena langsung tanpa basa-basi.

Bima menghela napas pendek. “Aku nggak menjauh, Na. Aku cuma menghargai batasanmu.”

“Tapi aku nggak pernah bilang kamu harus menjauh sampai sejauh ini!” sergah Alena, matanya mulai berkaca-kaca.

Bima menatapnya lekat-lekat, suaranya terdengar sangat dalam. “Kamu bilang kamu nggak akan pernah pacaran sama teman kantor. Kamu bilang itu prinsip kamu. Aku mendengarnya sendiri waktu kamu bicara sama Maya.”

Alena membuang muka sejenak, menggigit bibir bawahnya. Kata-kata itu kini berbalik menyerangnya dengan sangat telak.

“Aku berubah pikiran,” cicit Alena pelan.

Bima terkejut. Garis tegas di wajahnya agak melunak, tetapi ia masih belum sepenuhnya percaya. “Kenapa?”

Alena menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya, lalu menatap Bima dengan seluruh kejujuran yang ia miliki.

“Karena ternyata aku nggak takut pacaran sama teman kantor,” bisik Alena.

Bima menyipitkan matanya, menunggu kelanjutan kalimat itu. “Terus?”

“Aku takut kalau harus kehilangan kamu, Bim,” aku Alena akhirnya. Air mata yang ditahannya runtuh melintasi pipinya. “Aku benci lihat kamu beli kopi buat orang lain. Aku benci lihat kamu ketawa sama cewek lain. Aku benci saat aku sadar kalau kamu mulai memperlakukan aku cuma sebagai teman kerja biasa. Aku takut… aku takut banget kamu beneran pergi.”

Bima terpaku di tempatnya. Ia menatap gadis di hadapannya yang kini menunduk sambil mengusap air matanya. Perlahan, senyum tipis yang sangat familier tumbuh di bibir pria itu—senyum hangat yang sangat Alena rindukan selama dua minggu terakhir.

Bima melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengeluarkan saputangan dari saku jasnya dan menyodorkannya pada Alena.

“Kamu yakin?” tanya Bima pelan, memastikan.

Alena mengangguk pelan sambil menerima saputangan itu. “Aku nggak tahu hubungan ini bakal berhasil atau nggak. Aku takut kalau nanti kita putus dan suasana kantor jadi aneh…”

“Aku juga nggak tahu masa depan gimana, Na,” potong Bima halus. “Tapi aku bisa janji satu hal: aku bukan Rian, dan kamu bukan Siska. Aku cukup dewasa buat memisahkan urusan hati sama urusan profesional.”

Alena mendongak, menatap mata Bima yang memancarkan kesungguhan. “Tapi… gimana kalau kita gagal?”

Bima terkekeh pelan, tawa khasnya yang selalu berhasil membuat dada Alena bergetar.

“Kalau kita gagal?” Bima miringkan kepalanya sedikit. “Ya berarti kita tetap harus ketemu setiap hari di ruangan yang sama. Nikmatin rasa canggungnya bareng-bareng.”

Alena tertawa di tengah tangisnya, menepuk dada Bima pelan. “Berarti kamu benar-benar nekat.”

“Aku udah nekat suka sama kamu selama tiga tahun, Alena,” jawab Bima lembut, jemarinya perlahan bergerak merapikan helai rambut Alena yang menutupi wajahnya. “Jadi kalau harus nekat ngejalanin hubungan ini, aku nggak masalah.”

“Salah sendiri bikin aku jatuh cinta,” gumam Alena pelan, menyandarkan dahinya di dada Bima.

Bima tersenyum lebar, melingkarkan tangannya di bahu Alena, merengkuh wanita itu dalam dekapan yang hangat. “Akhirnya diakui juga.”

Keesokan paginya, suasana di kantor berjalan seperti biasa. Suara ketikan keyboard dan riuh percakapan antardivisi memenuhi ruangan lantai lima.

Alena baru saja menyalakan komputernya ketika sebuah gelas plastik berisi iced Americano dengan ekstra dua shot espresso tanpa gula kembali mendarat mulus di atas mejanya.

Alena menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke samping. Bima berdiri di sana dengan kemeja birunya, tersenyum cerah seperti biasa.

Alena tidak lagi menghela napas kesal atau melayangkan protes. Bibirnya justru mengukir senyum manis yang sangat leluasa.

“Kok cuma satu?” tanya Alena sambil mengangkat alisnya.

Bima ganti mengangkat kedua alisnya, pura-pura terkejut. “Mau dua?”

Alena menggeleng pelan. “Satu cukup.”

“Bagus,” balas Bima.

“Yang penting setiap hari,” tambah Alena dengan nada menggoda.

Bima tertawa kecil, melirik ke sekeliling ruangan sebelum berbisik pelan pada Alena, “Siap, Ibu Bos.”

Bima lalu melangkah menuju mejanya sendiri. Alena meraih gelas kopi dingin itu, menyesapnya perlahan. Rasanya masih sama pahitnya, tetapi kali ini terasa jauh lebih manis di hatinya.

Alena akhirnya menyadari satu hal penting dalam hidupnya: terkadang, aturan ketat yang kita buat hanyalah bentuk rasa takut yang berlebihan. Dan terkadang, orang yang paling ingin kita hindari batasannya… justru adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah sanggup kita lepaskan.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita