Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 6

  1. Home
  2. Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri
  3. Bab 6 - Jika Aku Memilihmu
Prev
Next

Satu minggu berlalu sejak pengakuan memedihkan di studio foto Kemang. Satu minggu yang terasa bagaikan rentang waktu bertahun-tahun.

Kamar kosku hening. Lampu kecil di samping tempat tidur memancarkan cahaya temaram. Di atas meja kerja, tumpukan kertas draf naskahku dibiarkan terbengkalai. Aku duduk melipat kaki di atas tempat tidur, menatap dinding kamar dengan pikiran yang terus berputar pada kalimat terakhir Bima: *‘Mungkin kita memang harus belajar jalan sendiri-sendiri.’*

Dulu, aku berpikir bahwa ketakutan terbesarku adalah kehilangan status sebagai ‘sahabat terbaik’ Bima. Aku takut jika hubungan kami berubah menjadi romansa dan gagal, kami tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Namun kini, di dalam keheningan yang menyiksa ini, aku menyadari satu kenyataan yang jauh lebih menakutkan.

Kehilangan Bima sepenuhnya dari hidupku terasa ribuan kali lebih membunuh daripada risiko patah hati dalam sebuah hubungan.

Aku berdiri, meraih jaket dan ponselku dari meja. Jemariku bergetar pelan, tetapi mataku tidak lagi dipenuhi keraguan. Aku tidak boleh bersembunyi di balik ketakutanku lagi. Jika aku terus diam karena takut ditolak atau ragu, aku benar-benar akan kehilangan Bima selamanya.

—

Malam bergerak larut ketika aku tiba di pelataran kafe milik Reno. Pintu kaca kafe sudah terkunci dan papan penanda di depan pintu menunjukkan status *Closed*. Namun dari kaca luar, aku bisa melihat pendar lampu di sudut ruang studio foto yang berada di lantai dua bangunan tersebut.

Aku memutar gang samping, menaiki tangga besi menuju pintu belakang studio Bima. Tanpa mengetuk lebih dulu, aku mendorong pintu kayu yang ternyata tidak terkunci rapat.

Bima sedang berdiri di dekat meja kerjanya, memasukkan beberapa peralatan kamera ke dalam tas ransel besar. Suara pintu yang terbuka membuatnya berbalik dengan cepat.

“Laras?” Bima mengerutkan dahi, matanya membelalak pelan melihat kedatanganku. “Kamu… ngapain ke sini jam sepuluh malam?”

Aku menghentikan langkahku beberapa meter di hadapannya, menatap wajahnya yang tampak amat lelah dan dingin.

“Aku mau bicara, Bim,” kataku, suaraku terdengar tegar meskipun dadaku bergemuruh hebat.

Bima menghela napas panjang, menutup ritsleting tas kameranya. “Ras, aku pikir kita sudah membicarakan semuanya minggu lalu. Aku lagi beres-beres, besok pagi ada proyek *outdoor* di luar kota.”

“Aku nggak peduli kamu mau ke luar kota atau ke luar negeri besok, Bima,” potongku cepat, melangkah dua pijakan lebih dekat padanya. “Malam ini kamu harus dengarkan aku. Kamu nggak bisa lari lagi.”

Bima menatapku, membetulkan posisi berdirinya. Garis rahangnya menegang. “Aku nggak lari, Laras. Aku cuma capek.”

“Dan aku juga capek!” seruku, mataku mulai memanas, tetapi aku menahannya agar air mata itu tidak jatuh. “Aku capek jadi penakut, Bim! Selama sebelas tahun aku selalu bersembunyi di balik kata ‘sahabat’ karena aku pikir itu cara paling aman buat menjaga kamu tetap ada di hidupku. Aku takut kalau kita melangkah lebih jauh, suatu hari kita bakal hancur dan aku kehilangan kamu.”

Bima bersedekap, tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Dan sekarang kamu menyadari perasaamu cuma karena takut aku pergi sama perempuan lain, kan?”

“Bukan!” tegasku keras, suaraku bergetar emosi. “Aku nggak tahu kapan tepatnya perasaan ini berubah, Bim. Mungkin waktu kamu mengantar lampu kecil ke kosanku hujan-hujan lima tahun lalu, atau mungkin saat kamu selalu tahu kopi apa yang harus kubeli waktu aku stres, atau mungkin dari dulu perasaan ini sudah ada tapi aku terlalu buta buat mengakuinya!”

Bima terdiam seribu bahasa. Matanya menatapku lurus-lurus, memancarkan binar ketegangan yang mendalam.

Aku menarik napas panjang, membiarkan pertahanan terakhirku runtuh sepenuhnya di hadapan pria yang paling kucintai ini.

“Aku nggak datang ke sini buat minta kita kembali jadi sahabat kayak dulu, Bima,” bisikku lirih namun mantap.

Bima menelan ludah, suaranya terdengar serak saat bertanya, “Lalu kamu datang buat apa?”

“Aku datang buat jujur,” jawabku, menatap matanya tanpa sedikit pun keraguan. “Aku tahu aku terlambat. Aku tahu aku sudah bikin kamu menderita dan menunggu terlalu lama. Tapi aku mau kamu tahu satu hal.”

“Apa?” panggil Bima pelan.

“Aku nggak takut lagi kehilangan sahabatku,” bisikku, air mata akhirnya lolos di pipiku. “Aku takut kehilangan orang yang aku cintai. Dan orang itu kamu, Bima Aditya.”

Keheningan yang amat membekukan menyelimuti ruangan studio itu. Hanya suara rintik hujan gerimis di luar jendela yang mengisi jeda di antara kami. Bima berdiri mematung. Pria itu tidak menyela, tidak memotong, dan tidak pula mendekat. Dia hanya menatapku dengan sorot mata yang amat rumit—campuran antara rasa lega, terluka, dan keraguan yang masih menyisa.

“Laras…” panggil Bima akhirnya, suaranya rendah dan dalam.

“Iya, Bim?” tanyaku menantikan jawabannya dengan debar jantung yang tak beraturan.

Bima menarik napas berat, mengusap leher belakangnya seraya menatapku lekat-lekat.

“Aku perlu tahu satu hal,” kata Bima pelan.

Aku mengangguk cepat, meremas jariku sendiri. “Tanyakan apa saja, Bim. Aku bakal jawab jujur.”

Bima memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mataku dengan ketegangan emosional yang memuncak di udara.

“Kalau Keisya nggak pernah datang ke hidupku…” panggil Bima dengan nada suara yang bergetar tipis. “…apa kamu bakal pernah menyadari semua ini, Laras? Atau kamu akan tetap membiarkan kita terjebak jadi ‘sahabat’ selamanya?”

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Sahabat Masa Kecil
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita