Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 7
Pertanyaan Bima menggantung di udara, terasa jauh lebih berat daripada gemuruh gerimis di luar studio. Matanya yang cokelat pekat menatapku lurus, menanti jawaban yang tidak boleh lagi dihiasi kebohongan manis.
Aku menarik napas panjang, mengikis jarak dua langkah hingga kini aku berdiri tepat di hadapannya.
“Kalau Keisya nggak pernah datang…” bisikku pelan, menatap matanya tanpa berpaling sedikit pun. “…mungkin aku bakal tetap jadi penakut yang membohongi diri sendiri, Bim. Kehadiran Keisya itu pecutan keras yang sadarkan aku kalau kamu bukan sekadar ‘kenyamanan’ yang selalu ada, tapi orang yang paling aku takutkan untuk hilang dari hidupku.”
Bima terdiam. Tenggorokannya naik turun saat dia menelan ludah.
“Aku nggak memilih kamu karena takut kesepian, Bima,” sambungku, memberanikan diri mengulurkan tangan dan menggenggam jemarinya yang terasa dingin. “Aku memilih kamu karena aku akhirnya sadar, selama sebelas tahun ini, nggak pernah ada orang lain di hati aku selain kamu.”
Genggaman tanganku dibalas oleh Bima. Pria itu menarik napas panjang yang amat berat, seolah baru saja melepaskan beban ribuan ton yang bertengger di dadanya selama bertahun-tahun. Perlahan, senyum tipis yang amat kuringdukan—senyum hangat yang tulus—terbit di wajahnya.
“Kamu tuh benar-benar lambat ya, Laras Anindita,” gumam Bima lirih. Tangannya yang sebelah lagi terulur, mengusap sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya secara lembut.
Aku tertawa kecil di antara isakanku. “Maaf ya… bikin kamu menunggu lama banget.”
“Lama banget,” ulang Bima, lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Dekapan Bima terasa begitu erat, hangat, dan menenangkan. Menghirup aroma kayu manis dari jaketnya membuat seluruh rasa cemas di dadaku mendadak menguap. Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, pelukan ini tidak lagi terasa seperti pelukan seorang sahabat. Ada kehangatan baru yang mengikat kami berdua—sebuah rasa memiliki yang murni dan tanpa keraguan.
—
Tiga bulan kemudian.
Kedai kopi langganan kami di sudut jalan itu masih memiliki suasana yang sama. Cahaya lampu gantung berwarna hangat memantul di atas meja kayu bundar dekat jendela. Di luar, gerimis tipis membasahi kaca.
Aku duduk menyandarkan dagu di atas telapak tangan, memperhatikan Bima yang sedang sibuk membolak-balik menu di depannya. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu dengan lengan digulung hingga siku.
“Mas, pesen *Caffè Latte* satu sama *Americano* dingin tanpa gula satu ya,” ujar Bima kepada pelayan kedai yang menghampiri meja kami.
Begitu pelayan berlalu, aku menatap Bima sambil tersenyum geli. “Masih aja pesen *Americano* tanpa gula. Muka kamu nanti menderita lagi pas minum.”
Bima menengadah, memamerkan lesung pipinya. “Kan aku sudah bilang, ini namanya konsistensi. Lagian sekarang kan ada kamu yang bisa manis-manisin hari aku.”
Aku memutar mata, berpura-pura hendak muntah. “Geli banget, Bima! Sejak kapan kamu jago gombal begini?”
“Sejak status kita berubah dong,” sahut Bima santai, menopang kedua kakinya di bawah meja. Pria itu menyandarkan badannya ke kursi, menatapku dengan binar jahil. “Jadi… sekarang aku ini pacar kamu kan?”
Aku meminum teh hangatku pelan, membiarkan keheningan menggoda di antara kami selama beberapa detik. “Hmm… untuk sekarang sih iya.”
“Kok untuk sekarang?” protes Bima, mengerutkan dahinya kaget. “Maksudnya gimana?”
“Ya kita lihat dulu kelakuan kamu ke depannya,” balasku terkekeh pelan. “Kalau kamu menyebalkan, ya aku pertimbangkan lagi.”
Bima tertawa lepas, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu tuh tahu semua kebiasaan burukku, Ras. Tahu kalau aku pelupa, tahu kalau aku penakut sama kecoak, tahu kalau aku suka mendengkur kalau capek banget.”
“Aku tahu semuanya,” kataku jujur.
“Dan kamu masih mau sama aku?” tanya Bima, menatapku dengan sorot mata yang mendadak berubah lembut.
Aku terdiam sejenak. Jemariku terulur di atas meja kayu, menyentuh punggung tangannya yang hangat. Bima langsung membalikkan telapak tangannya, menggenggam jemariku dengan erat.
“Justru itu masalahnya, Bim,” bisikku pelan.
“Masalah apa?”
“Aku sudah mengenal kamu terlalu lama,” kataku, menatap matanya lurus-lurus dengan senyuman paling tulus yang kumiliki. “Sampai-sampai aku nggak bisa membayangkan ada orang lain di dunia ini yang bisa menggantikan posisi kamu.”
Bima terpaku mendengarnya. Matanya membelalak pelan sebelum akhirnya sebuah senyuman lebar dan tampan terukir jelas di wajahnya.
“Lucu ya,” bisikku lagi.
“Apa yang lucu, Ras?” tanya Bima sambil mengusap jemariku dengan ibu jarinya.
“Kita sudah sebelas tahun berteman.”
Bima mengangguk pelan. “Iya. Terus?”
“Tapi aku baru tahu kalau kamu ternyata romantis banget kalau lagi pacaran,” godaku sambil menahan tawa.
Bima tertawa renyah, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahku di seberang meja. “Aku sudah romantis dari dulu kali, Laras. Dari zaman sekolah juga aku selalu perhatian sama kamu.”
“Sayangnya kamu memilih menyembunyikannya di balik status sahabat,” balasku mengingatkan.
Bima menatapku dalam-dalam. Kehangatan yang memancar dari matanya membuat dadaku berdesir hebat.
“Dan sekarang?” tanya Bima pelan, suaranya terdengar begitu lembut di telingaku.
Aku tersenyum manis, membalas genggaman tangannya dengan erat. “Dan sekarang… jangan pernah sembunyikan apa pun lagi dari aku.”
“Janji,” jawab Bima mantap. “Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan.”
Pesanan kopi kami akhirnya tiba di atas meja. Bima menyesap *Americano* dinginnya, dan kali ini, tidak ada lagi rautan wajah menderita saat rasa pahit itu menyentuh lidahnya. Dia hanya menatapku, memamerkan senyuman hangat yang menyiratkan rasa lega yang teramat sangat.
Kami berdua tertawa bersama di tengah hiruk-pikuk kedai kopi yang akrab itu. Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, kami tidak perlu lagi merasa takut akan kehilangan satu sama lain. Kami tidak perlu lagi berpura-pura atau bersembunyi di balik kata ‘sahabat’.
Sebab pada akhirnya, cinta tidak selalu datang untuk merusak hubungan yang sudah ada. Kadang-kadang, cinta hanyalah sebuah penunjuk jalan yang sabar—menuntun dua orang yang saling menyayangi untuk pulang ke tempat yang memang sejak awal seharusnya mereka tuju.
-TAMAT-