Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 5

  1. Home
  2. Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri
  3. Bab 5 - Terlambat Menyadari
Prev
Next

Dua minggu berlalu sejak malam di kosanku, dan dunia rasanya berjalan dalam warna abu-abu yang redup.

Bima benar-benar memberikan ‘batas’ yang kuminta. Tidak ada lagi pesan singkat di pagi hari, tidak ada lagi telepon konyol hanya untuk mengeluhkan cuaca, dan tidak ada lagi sosok tingginya yang tiba-tiba muncul membawa makanan di saat aku tenggelam dalam *deadline*.

Aku menduduki salah satu kursi di sudut kafe milik Reno. Di hadapanku, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu.

“Masih mau mandangin pintu depan terus, Mbak Editor?” suara Reno mengejutkanku saat dia meletakkan nampan kosong di meja.

Aku memalingkan wajah dengan cepat. “Siapa juga yang mandangin pintu depan?”

“Halah, muka kamu nggak bisa bohong,” Reno duduk di depanku, mengusap wajahnya yang tampak lelah. “Kamu tuh benar-benar keterlaluan ya, Ras.”

Aku mengerutkan dahi. “Keterlaluan kenapa lagi?”

“Kamu nggak tahu apa-apa?” Reno menatapku heran, menaikkan satu alisnya. “Bima sama Keisya udah putus minggu lalu.”

*Deg.*

Jantungku seperti melompati satu detakan. Tanganku yang memegang cangkir mendadak lemas. “Apa? Putus? Kamu bercanda kan, No? Mereka kan mau lamaran!”

“Buat apa aku bercanda soal beginian?” balas Reno serius, menyandarkan punggungnya. “Keisya yang minta putus. Katanya, dia nggak mau menikah sama laki-laki yang ragu-ragu dan hatinya masih ketinggalan di tempat lain.”

Kata-kata Reno memukul dadaku dengan keras. *Hatinya masih ketinggalan di tempat lain?*

“Terus… Bima sekarang di mana?” tanyaku dengan suara bergetar, berdiri dari kursi hingga menggeser meja kecil itu.

“Di studio fotografinya,” jawab Reno pelan. “Tapi kalau aku jadi kamu, Ras, aku bakal mikir dua kali sebelum ke sana. Bima yang sekarang… beda banget.”

—

Tanpa membuang waktu lagi, aku menyambar tas dan memesan taksi menuju studio foto Bima di kawasan Kemang. Sepanjang jalan, pikiranku berkecamuk hebat. Rasa bersalah, harapan yang egois, dan ketakutan bercampur menjadi satu adonan yang menyiksa dadaku.

Begitu tiba di depan bangunan tiga lantai berarsitektur industrial itu, aku langsung melangkah masuk. Suasana studio tampak sepi, hanya ada beberapa lampu sorot yang mati di sudut ruangan.

Bima sedang duduk di atas kursi kayu di dekat latar belakang foto berwarna abu-abu. Dia sedang membersihkan lensa kameranya dengan kain mikrofiber. Wajahnya tampak lebih tirus, dan ada lingkaran hitam samar di bawah matanya.

“Bima…” panggilku pelan dari ambang pintu.

Gerakan tangan Bima terhenti seketika. Pria itu menengadah, menatapku lurus. Namun, tidak ada binar hangat yang biasa menyambutku. Matanya dingin, datar, dan asing.

“Ada apa, Ras?” tanya Bima pendek, kembali melanjutkan aktivitas membersihkan lensanya.

Aku melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami. “Aku… aku baru dengar dari Reno. Soal kamu dan Keisya.”

“Oh,” sahut Bima singkat. “Terus?”

“Kenapa bisa, Bim?” tanyaku panik, suaraku bergetar menahan emosi. “Kalian kan… kalian cocok banget! Kenapa batal? Apa karena omonganku dua minggu lalu? Kalau iya, aku minta maaf, Bim! Aku beneran minta maaf!”

Bima meletakkan lensanya ke atas meja kayu di sampingnya. Dia berdiri, menatapku dari ketinggian tubuhnya. Suasana studio yang luas terasa mendadak sangat sempit.

“Bukan karena kamu, Ras,” kata Bima datar. “Keisya cuma sadar kalau aku belum siap untuk melangkah lebih jauh. Itu aja.”

“Tapi kamu bilang kamu sayang sama dia!” celotehku, air mata mulai menggenang di mata. “Kamu bilang dia masa depan kamu!”

“Aku coba menjadikan dia masa depanku, Laras!” potong Bima, suaranya naik satu nada, memecah kesunyian studio. “Aku berusaha keras buat membuka hati dan melanjutkan hidupku! Tapi percuma kalau aku terus membohongi orang sebaik Keisya!”

“Kenapa percuma, Bima?!” jeritku pelan. “Kenapa?!”

Bima menatapku dengan sorot mata yang teramat terluka. “Kamu beneran mau tahu kenapa?”

Aku terpaku, tidak sanggup menjawab.

Bima melangkah satu pijakan mendekat, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan wajahku. “Karena selama lima bulan aku sama Keisya, setiap kali aku lihat dia, aku cuma bisa membayangkan wajah kamu, Laras! Karena setiap kali aku mau melangkah lebih jauh, bayangan kamu selalu menahan aku!”

Napasku tertahan di tenggorokan. Duniaku seolah runtuh dan berputar secara bersamaan.

“Bima… kamu…” bisikku kaku.

“Iya! Aku mencintai kamu!” akui Bima keras, napasnya terengah-engah. gumpalan emosi yang ditahannya bertahun-tahun akhirnya pecah. “Aku mencintai kamu bukan dari lima bulan lalu, bukan dari setahun lalu, tapi dari bertahun-tahun yang lalu! Dari zaman kita masih duduk di warung makan belakang sekolah!”

Air mataku menetes deras membasahi pipi. “Kenapa… kenapa kamu nggak pernah bilang?”

“Gimana aku bisa bilang?!” Bima tertawa sumbang, tawanya dipenuhi kepahitan. “Tiap kali aku mau ngomong, kamu selalu bilang hal yang sama. *’Aku beruntung banget punya sahabat kayak kamu, Bim. Nggak bisa bayangin hidup tanpa sahabat sebaik kamu.’* Kamu selalu bikin benteng itu, Laras! Kamu yang ngunci pintu itu rapat-rapt!”

“Aku takut, Bima…” isakku meremas dadaku yang terasa amat nyeri. “Aku takut kehilangan kamu kalau kita jadi pacar terus putus!”

“Dan ketakutan kamu itu bikin aku tersiksa selama sebelas tahun!” balasku Bima dengan nada penuh keputusasaan. “Aku coba melupakan kamu. Aku coba pacaran sama perempuan lain, aku coba serius sama Keisya… tapi nggak ada satu pun dari mereka yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku. Nggak ada!”

“Bim… aku juga…” aku melangkah hendak menyentuh tangannya. “Aku baru sadar… aku juga suka sama kamu. Aku mencintai kamu, Bima!”

Bima tidak menyambut tanganku. Dia justru mundur satu langkah, menghindari sentuhanku.

Aku membeku. Tatapan Bima padaku bukan tatapan bahagia seorang laki-laki yang baru saja mendengar pengakuan cinta dari wanita yang diimpikannya. Tatapannya penuh keraguan yang menyakitkan.

“Kamu jujur sama perasaan kamu…” bisik Bima pelan, menggelengkan kepalanya seraya tersenyum getir. “Atau kamu cuma takut kehilangan aku karena aku hampir nikah sama Keisya?”

“Nggak, Bim! Aku beneran—”

“Aku nggak tahu lagi mana yang bener, Ras,” potong Bima lirih, mengusap wajahnya yang lelah. “Aku capek. Aku capek menunggu sesuatu yang mungkin nggak pernah ada dari awal. Aku capek menebak-nebak perasaan kamu.”

“Bima, tolong percaya sama aku…” pintaku memohon, air mataku makin deras mengalir.

Bima menatapku lama sekali. Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun persahabatan kami, matanya memancarkan jarak yang amat jauh dan tak tersentuh.

“Mungkin kita memang butuh waktu untuk nggak selalu ada di hidup satu sama lain, Laras,” kata Bima pelan namun tegas. “Mungkin… kita memang harus belajar jalan sendiri-sendiri.”

Pria itu berbalik membelakangiku, mengambil tas kameranya dan melangkah keluar dari studio tanpa berpaling lagi, meninggalkanku sendirian meratapi kenyataan bahwa aku telah terlambat menyadari cinta yang selama ini berada tepat di hadapanku.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Sahabat Masa Kecil
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita