Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 4
Tiga hari sejak makan malam di Dharmawangsa, aku memilih menenggelamkan diri dalam tumpukan tenggat waktu pekerjaan. Layar laptop di hadapanku menampilkan draf naskah bab lima yang baru setengah jadi. Namun, setiap kali jemariku hendak mengetik baris kalimat baru, bayangan Bima dan Keisya selalu berhasil menyela tanpa diundang.
Lampu kecil di atas meja kerjaku memancarkan pendar kuning temaram. Kebiasaan menyalakan lampu kecil ini… Bima yang pertama kali membelikannya lima tahun lalu. Saat itu, aku baru saja pindah ke kosan baru dan ketakutan setengah mati karena mati listrik. Pria itu rela menerobos hujan deras pukul sebelas malam hanya untuk mengantarkan lampu darurat berukuran kecil ini ke kamarku.
*‘Nih, biar kamu nggak jerit-jerit lagi kayak anak TK. Lagian kamu itu absurd banget, penulis cerita serem tapi takut gelap,’* omelnya malam itu sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil milikku.
Aku menghela napas panjang, memejamkan mata rapat-rapt. Kenapa setiap sudut kehidupanku selalu dipenuhi oleh keberadaan Bima?
Kenapa selama sebelas tahun ini aku tidak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, setiap pengorbanan, dan setiap kehadiran Bima bukan sekadar bentuk kepedulian biasa? Dan yang lebih membakar dadaku… kenapa aku selalu berlindung di balik kata ‘sahabat’ hanya karena aku terlalu takut mengubah kenyamanan yang ada?
Suara denting bel pintu kosanku berbunyi dua kali, memecah kesunyian malam.
Aku mengerutkan dahi. Pukul sembilan malam. Siapa yang datang?
Saat aku membuka pintu kayu kosan, sosok tinggi yang mengenakan jaket parka hitam dan celana jeans gelap berdiri di sana. Bima. Dia memegang dua kantong plastik putih berisi martabak manis favoritku dan dua kaleng kopi dingin.
“Bima?” tanyaku terkejut. “Kamu… ngapain ke sini malam-malam?”
“Beli martabak telor sama martabak cokelat keju di pengkolan depan,” jawab Bima santai, menyengir lebar tanpa rasa bersalah. “Reno bilang dari kemarin kamu nggak kelihatan di kafenya. Ponsel kamu juga susah dihubungi kalau dichat. Kamu sakit, Ras?”
Aku menatapnya diam. Ada dorongan kuat di dalam hatiku untuk menyuruhnya pulang, tetapi kakiku justru bergeser membiarkannya masuk.
“Aku sibuk ngejar *deadline* naskah, Bim,” alibiku pelan sambil menutup pintu kembali.
Bima meletakkan kantong plastik dan kopi kaleng di atas meja lipat kecilku. Dia memutar tubuhnya, mengamati sekeliling kamar kosku yang agak berantakan oleh tumpukan buku dan kertas catatan.
“Kamu tuh kalau lagi *deadline* pasti lupa makan,” gumam Bima, membuka bungkus martabak lalu menyodorkan sepotong martabak cokelat keju ke arahku. “Nih, makan dulu. Masih hangat.”
Aku mengambil potongan martabak itu, namun tidak memakannya. Aku hanya menatap lelehan cokelat yang mengalir pelan di pinggirannya.
“Kenapa diam aja, Ras?” Bima menarik kursi plastik di dekat meja kerja, lalu duduk menghadapku. Matanya menatapku lekat-lekat, menyadari perubahan dalam gestur tubuhku. “Ada masalah? Coba cerita sama aku.”
“Nggak ada apa-apa, Bim,” jawabku pelan, membuang pandangan ke arah lampu meja.
“Laras,” panggil Bima, suaranya berubah menjadi lebih dalam dan lembut. “Kita berteman udah berapa lama?”
“Sebelas tahun,” bisikku.
“Nah, itu tahu,” kata Bima. “Sebelas tahun itu bukan waktu yang sebentar, Ras. Aku tahu persis kalau kamu lagi bohong atau ada yang kamu sembunyikan dari aku. Muka kamu kalau lagi ada pikiran pasti ketahuan banget.”
Aku menahan napas, meremas ujung bajuku di bawah meja. “Aku beneran nggak apa-apa, Bima.”
“Bohong,” potong Bima cepat. Dia memajukan tubuhnya, menopang kedua tangannya di atas paha. “Sejak malam kita makan bareng Keisya, kamu mulai beda. Kamu jarang balasan pesan aku, kamu menghindar dari Reno, dan sekarang kamu natap aku kayak orang asing. Aku melakukan kesalahan, ya?”
“Nggak ada, Bima!” tegasku sedikit terlalu keras, membuat suasana kamar mendadak hening seketika.
Bima terdiam. Binar bingung dan terluka melintas samar di matanya. “Kalau aku nggak buat salah, lalu kenapa kamu menjauh dari aku, Ras?”
Tenggorokanku terasa begitu kering. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan itu? Bagaimana bisa aku bilang bahwa aku menjauh karena setiap kali melihat wajahnya, aku merasa seperti orang bodoh yang baru menyadari perasaannya sendiri setelah semuanya terlambat?
“Aku nggak menjauh,” bisikku lirih, menatap lantai. “Aku cuma… mencoba kasih kamu ruang.”
“Kasih ruang buat apa?” tanya Bima mengerutkan dahi.
“Buat kamu dan Keisya!” seruku, mendongak menatap matanya lurus-lurus. Air mata mulai menggenang di sudut mataku, memburamkan pandanganku. “Kamu mau nikah, Bima! Kamu udah punya Keisya sekarang. Nggak lucu kan kalau kamu masih sering main ke kosan cewek lain malam-malam begini? Nggak enak kalau Keisya lihat!”
Bima membelalakkan matanya pelan, terkejut dengan nada bicaraku. “Keisya nggak pernah keberatan soal kamu, Ras! Dia tahu kamu sahabat terbaik aku!”
“Tapi aku keberatan, Bima!” tangisku akhirnya pecah, satu tetes air mata lolos membasahi pipiku. “Aku nggak nyaman dengan semua ini!”
Bima membeku di tempat duduknya. Tatapannya terkunci padaku, dipenuhi oleh kebingungan yang sangat mendalam.
“Kamu… nggak nyaman?” ulang Bima pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan kaku. “Maksud kamu apa, Ras? Nggak nyaman sama hubungan aku dan Keisya?”
Dada rasanya dihantam oleh beban yang amat berat. Aku memalingkan wajah, mengusap air mataku dengan kasar menggunakan telapak tangan. Aku tidak boleh mengatakannya. Aku tidak berhak merusak kebahagiaan Bima hanya demi perasaan egoisku yang baru muncul sekarang.
“Iya,” kebohongan lain terpaksa kukatakan. “Aku nggak nyaman karena aku merasa kamu terlalu mencampuradukkan urusan kita dengan urusan kamu sama Keisya. Aku cuma mau batas yang jelas, Bima. Kamu jalan dengan kehidupan kamu, dan aku dengan kehidupanku.”
Keheningan yang amat membekukan menyelimuti kamar kos kecil itu. Hanya suara deru kipas angin tua yang terdengar mengisi jeda di antara kami.
Bima berdiri perlahan dari kursinya. Pria itu menatapku lama sekali—sebuah tatapan penuh kekecewaan, luka, dan pertanyaan yang tidak terucapkan.
“Jadi selama ini…” Bima bersuara, suaranya terdengar begitu serak dan berat. “Kehadiran aku di hidup kamu cuma bikin kamu nggak nyaman kalau aku dekat sama orang lain?”
Aku tidak menjawab. Aku membiarkan bibirku terkunci rapat, menahan isakan yang mendesak keluar dari tenggorokanku.
Bima menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. “Kalau kamu memang butuh batas itu… oke. Aku paham.”
Pria itu melangkah menuju pintu keluar. Tangannya memegang gagang pintu kayu, lalu dia memutar badannya sedikit untuk menatapku untuk terakhir kalinya malam itu.
“Kalau kamu memang nggak nyaman sama hubungan aku dan Keisya… bilang dari awal, Ras,” kata Bima pelan, suaranya bergetar tipis.
Aku membeku, tidak sanggup menatap matanya. “Kenapa aku harus bilang?”
Bima menatapku dengan sorot mata yang amat tajam namun redup.
“Karena itu hal yang paling ingin aku tahu selama sebelas tahun ini,” jawab Bima lirih.
Sebelum aku sempat mencerna kata-katanya, Bima membanting pintu kosan pelan dan melangkah pergi menyusuri lorong malam yang sepi, meninggalkanku sendirian dalam tangis yang akhirnya pecah tak tertahankan.
-BERSAMBUNG-