Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 3

  1. Home
  2. Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri
  3. Bab 3 - Perempuan yang Akan Mengambil Tempatku
Prev
Next

Suasana restoran Jepang bernuansa kayu hangat di kawasan Dharmawangsa itu terasa amat tenang. Alunan musik instrumental koto terdengar sayup-sayup, berpadu dengan gemericik air dari kolam buatan di sudut ruangan.

Aku duduk di salah satu bilik tatami, meremas ujung gaun kain warna sage yang kukenakan. Di depanku, Bima sedang sibuk menata sumpit dan piring kecil. Wajahnya berseri-seri, memancarkan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan.

“Keisya tadi minta maaf banget agak telat, Ras,” ujar Bima sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Dia baru selesai visit pasien di rumah sakit. Sebentar lagi sampai kok.”

“Iya, santai aja, Bim,” jawabku, mencoba menyunggingkan senyum terbaik. “Dokter kan memang sibuk. Aku paham kok.”

“Makasih ya kamu udah mau datang,” Bima menatapku hangat, meraih gelas teh oolong dinginnya. “Penting banget buat aku supaya kalian berdua bisa saling kenal dekat. Kamu kan orang yang paling kenal aku luar dalam, dan Keisya… Keisya itu masa depanku.”

*Masa depan.*

Kata itu bergaung samar di kepalaku, meninggalkan rasa nyeri yang berusaha keras kusembunyikan di balik anggukan kepala.

Tak lama kemudian, tirai kain bambu di pintu masuk bilik terangkat. Seorang wanita melangkah masuk dengan anggun. Keisya Maulana terlihat sangat cantik meski tanpa riasan tebal. Dia mengenakan blus putih simpel dengan celana bahan warna pastel, rambut panjangnya diikat rapi. Aura kedewasaan, ketenangan, dan ketulusan memancar begitu kuat darinya.

“Maaf ya membuat kalian menunggu lama,” sapa Keisya dengan suara lembut dan renyah.

“Nggak apa-apa, Sya. Baru sebentar kok,” balas Bima cepat, berdiri dan membantunya menarik kursi. Cara Bima menatap Keisya—penuh perhatian dan kelembutan—adalah tatapan yang belum pernah kubayangkan Bima berikan pada perempuan manapun.

Keisya beralih menatapku, lalu tersenyum manis tanpa sedikit pun raut canggung atau formalitas palsu. “Kamu Laras, kan? Akhirnya kita ketemu juga.”

Dia mengulurkan tangannya hangat. Aku menyambut uluran tangan itu. “Iya, aku Laras. Salam kenal ya, Keisya.”

“Aku sudah sering banget dengar cerita tentang kamu dari Bima,” kata Keisya sambil duduk di samping Bima. “Bima itu kalau cerita soal kamu nggak pernah ada selesainya. Sampai aku kadang hafal kebiasaan-kebiasaan konyol kamu.”

Aku terkekeh canggung, melirik Bima yang mendadak salah tingkah dan mengusap tengkuknya. “Bima pasti cerita yang jelek-jelek ya?”

“Nggak kok,” potong Keisya cepat dengan tawa kecil. “Dia cuma bilang kamu itu penulis yang sangat berbakat, tangguh, dan… sahabat yang paling berarti buat dia. Dia selalu bilang, tanpa Laras, Bima mungkin udah tersesat dari zaman kuliah.”

Kalimat itu jujur dan tulus. Tidak ada nada sindiran, tidak ada kepura-puraan, dan tidak ada sedikit pun rasa permusuhan dari Keisya. Dan justru itulah yang membuat dadaku makin sesak. Keisya adalah perempuan yang sangat baik. Sangat sempurna untuk Bima. Aku bahkan tidak memiliki satu pun alasan logis untuk membencinya.

Makanan mulai dihidangkan. Percakapan mengalir dengan lancar. Keisya sangat pintar mencairkan suasana, sesekali tertawa mendengar cerita lama kami zaman sekolah, dan mendengarkan antusiasme Bima soal proyek fotografinya.

Di tengah makan malam, Bima izin permisi sebentar menuju toilet.

Keheningan menyelimuti meja kami untuk beberapa detik. Aku memegang cangkir teh hangatku, bingung harus memutus kesunyian dengan topik apa.

“Laras,” panggil Keisya pelan, memecah keheningan.

Aku mendongak, menatap mata bening Keisya. “Iya, Keisya?”

Keisya menyandarkan tangannya di atas meja, menatapku dengan binar mata yang jujur dan dewasa. “Jujur ya, sebelum ketemu kamu malam ini, aku sempat agak ragu.”

“Ragu?” tanyaku heran.

“Iya,” Keisya tersenyum tipis. “Sebab selama lima bulan dekat sama Bima, nama kamu itu selalu ada di hampir tiap obrolan kami. Bima kalau beli baju pasti bilang, *’Laras bilang warna ini cocok buat aku’*. Kalau dia malas makan, dia bilang, *’Laras biasanya menceramahi aku kalau aku telat makan’*. Bahkan waktu dia mau pilih kemeja buat lamaran nanti, dia tetap nanya pendapat kamu.”

Darahku rasanya berdesir pelan. “Maaf ya, Keisya… kalau kami terbiasa begitu. Kami cuma—”

“Iya, aku tahu,” potong Keisya lembut, menggelengkan kepalanya pelan. “Kamu nggak perlu minta maaf. Aku bisa lihat kok Bima itu memang sayang banget sama kamu.”

Aku memaksakan senyum, mencoba memegang teguh batas yang selama sebelas tahun ini kupelihara. “Iya. Kami kan sahabat. Dari dulu kami memang sudah seperti saudara sendiri.”

Keisya menatapku diam selama beberapa detik. Matanya yang tajam dan intuitif seolah bisa membaca seluruh kebohongan dan pertahanan yang susah payah kubangun di balik kata ‘sahabat’.

“Iya, aku tahu kalian sahabat,” kata Keisya pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih dalam.

“Tapi?” tanyaku, merasakan debaran halus di dadaku.

Keisya memperbaiki posisi duduknya, lalu menghela napas pendek sebelum berbicara dengan suara yang sangat halus namun tajam.

“Tapi aku nggak yakin perasaan Bima ke kamu cuma sebatas itu, Laras.”

Kata-kata Keisya menggantung di udara, membuat seluruh persendianku mendadak kaku. Aku terpaku di tempat dudukku, menatap perempuan di depanku dengan mata membelalak pelan.

“Maksud… maksud kamu apa, Keisya?” bisikku lirih, tenggorokanku mendadak terasa tercekik.

“Seorang laki-laki nggak akan mengingat detail-detail kecil tentang seorang perempuan selama sebelas tahun kalau perempuan itu cuma sekadar ‘teman biasa’,” lanjut Keisya tenang, tanpa ada nada marah atau cemburu yang berlebihan. “Bima tahu kapan kamu panik, Bima tahu cara bikin kamu tenang, dan mata Bima… selalu otomatis nyari keberadaan kamu tiap kali kamu diam.”

“Keisya, kami beneran cuma—”

“Aku nggak marah sama kamu, Laras,” potong Keisya hangat. “Aku cuma bilang apa yang aku lihat sebagai orang luar yang mencoba masuk ke kehidupan kalian berdua.”

Belum sempat aku memproses gemuruh di dalam dadaku, langkah kaki terdengar mendekat. Bima kembali dari toilet, menyibak tirai bambu sambil tersenyum lebar.

“Sorry ya agak lama,” kata Bima santai, kembali duduk di samping Keisya. Dia melirik kami berdua bergantian. “Kalian ngobrolin apa nih? Kok mukanya pada serius banget?”

Keisya menoleh pada Bima, tersenyum manis seolah percakapan penuh ketegangan tadi tidak pernah terjadi. “Nggak ada apa-apa kok. Aku cuma lagi minta Laras bocorin rahasia masa kecil kamu yang belum sempat kamu ceritain ke aku.”

Bima tertawa lepas, menunjukku dengan sumpitnya. “Awas ya, Ras! Jangan bikin reputasiku hancur di depan Keisya!”

“Nggak kok,” jawabku pelan, membuang muka ke arah cangkir tehku yang sudah dingin.

Malam itu berakhir pukul sepuluh malam. Kami bertiga berdiri di pelataran parkir restoran. Bima membukakan pintu mobil untuk Keisya sebelum akhirnya berjalan mendekatiku yang sedang menunggu taksi daring.

“Makasih ya buat malam ini, Ras,” kata Bima tulus, berdiri tepat di hadapanku dengan tangan dimasukkan ke saku celana. “Keisya senang banget bisa kenal kamu. Katanya kamu asyik.”

“Iya, Keisya juga baik banget, Bim,” balasku dengan suara pelan. “Kamu beruntung dapat dia.”

Bima tersenyum, mengusap puncak kepalaku pelan—kebiasaannya sejak dulu tiap kali ingin menghiburku. “Kamu juga harus nyari pacar dong, Ras. Masa aku duluan yang nikah? Biar nanti kita bisa *double date* terus.”

Sentuhan tangannya di kepalaku felt begitu hangat, namun kalimatnya terasa seperti sembilu yang menggores dadaku.

Taksi pesananku tiba. Aku buru-buru pamit dan masuk ke dalam mobil. Saat taksi melaju meninggalkan area restoran, aku menoleh ke kaca belakang.

Melalui kaca yang agak basah oleh embun malam, aku melihat Bima berjalan kembali ke mobilnya, membukakan pintu untuk Keisya, lalu merangkul bahu perempuan itu dengan lembut sebelum masuk ke kursi pengemudi.

Aku menyandarkan kepala pada jendela mobil yang dingin. Air mata yang sejak tadi menumpuk di sudut mataku akhirnya lolos, membasahi pipiku tanpa suara.

Kalimat Keisya kembali terngiang-ngiang tajam di telingaku: *’Tapi aku nggak yakin perasaan Bima cuma sebatas itu, Laras.’*

Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun persahabatan kami, aku tidak lagi bisa membohongi diriku sendiri. Rasa sakit yang menjalar hebat di dadaku malam ini bukan sekadar rasa takut kehilangan seorang sahabat.

Ini adalah rasa cemburu dari seorang perempuan yang baru menyadari bahwa dia mencintai laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Sahabat Masa Kecil
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita