Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 2

  1. Home
  2. Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri
  3. Bab 2 - Aku Tidak Cemburu
Prev
Next

Seminggu setelah malam pengakuan cincin itu, rutinitas hariku bergerak seperti biasa—atau setidaknya, aku berpura-pura semuanya masih sama.

Aku duduk di balik meja kayu tinggi *Coffee Shop* milik Reno, mendengarkan deru mesin sangrai kopi dan denting sendok yang bertabrakan dengan cangkir keramik. Di hadapanku, sebuah laptop terbuka menampilkan draf artikel pekerjaan yang belum terselesaikan sejak kemarin.

Satu hal yang mulai berubah secara perlahan tapi pasti: ponselku terasa jauh lebih hening.

Dulu, biasanya dalam sehari ada setidaknya sepuluh pesan singkat dari Bima. Mulai dari foto kucing jalanan bertubuh gemuk yang ditemuinya di lokasi pemotretan, keluhan soal rasa kopi kedai baru, hingga pertanyaan konyol seperti *”Ras, enakan makan bakso apa mie ayam buat makan siang?”*. Tapi minggu ini, Bima hanya mengirim dua pesan singkat, itu pun hanya mengonfirmasi jadwal kumpul kami.

Bima bukannya menjauh karena kami bertengkar. Aku tahu betul alasannya. Sekarang ada Keisya dalam hidupnya. Ada seseorang yang memiliki prioritas utama untuk dihubungi setiap kali Bima menyelesaikan pekerjaannya.

“Ngaso dulu, Mbak Editor. Muka kamu udah lipat lima gitu dari tadi,” suara Reno memecah konsentrasiku. Pria berpakaian apron hitam itu meletakkan segelas *iced americano* dan sepotong *croissant* di samping laptopku.

Aku menengadah, mengusap leherku yang pegal. “Makasih, No. Tapi aku nggak pesan croissant.”

“Bonus dari pemilik cafe ternama se-Jakarta Selatan,” sahut Reno santai sambil memutar kursi kayu dan duduk di depanku. Dia memperhatikan wajahku lekat-lekat. “Bima mana? Biasanya jam segini kalian udah ngetrail berdua kayak sandal jepit.”

“Bima lagi ada urusan,” jawabku singkat, mengarahkan kursor *mouse* untuk merapikan paragraf.

“Urusan apa? Urusan foto klien apa urusan ibu dokter?” goda Reno sambil menaikkan satu alisnya.

“Sama Keisya lah. Katanya mau nemenin Keisya beli keperluan klinik,” balasku tenang, mencoba menyuapkan sepotong kecil *croissant* ke dalam mulutku.

Reno tidak langsung membalas. Dia bersedekap, menatapku dengan pandangan observatif yang selalu membongkar kebohonganku sejak zaman SMA. “Kamu udah tahu soal rencana nikah mereka?”

“Tahu,” jawabku polos. “Bima orang pertama yang cerita ke aku minggu lalu. Dia bahkan pamerin cincinnya.”

“Terus?”

“Terus apa?” aku balik bertanya, mengerutkan dahi. “Ya bagus dong. Akhirnya sahabat kita yang penakut itu berani melangkah ke jenjang yang lebih serius. Umurnya udah mau tiga puluh juga.”

Reno terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Laras, Laras… kamu itu pintar buat draf artikel ribuan kata, tapi kalau soal jujur sama perasaan sendiri, nilai kamu minus sepuluh.”

Aku menghentikan ketikanku, menatap Reno tajam. “Maksud kamu apa sih, No?”

“Kamu cemburu, kan?” tanya Reno tanpa berbelit-belit.

“Tentu tidak!” jawabku instan, suaraku sedikit meninggi hingga membuat pengunjung di meja sebelah melirik sekilas.

Reno tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bagus.”

“Kenapa bagus?” tanyaku heran.

“Karena orang yang benar-benar tidak cemburu biasanya tidak perlu menjawab secepat dan sekencang itu, Mbak Anindita,” balas Reno santai, memamerkan senyum penuh kemenangannya.

Aku mendengus kesal, menyambar selembar tisu di meja lalu melemparnya tepat ke arah wajah Reno. “Ngaco kamu! Aku sama Bima itu sahabat dari zaman kita masih pakai seragam OSIS. Kita berdua itu murni sahabat, nggak ada rasa apa-apa. Lagian Keisya itu perempuan yang baik banget, cocok buat Bima.”

Reno menangkis tisu itu dengan mudah, tawa kecilnya masih tersisa. “Iya deh, terserah kamu. Tapi ingat kata-kataku ya, Ras. Kalian berdua itu cuma belum sadar kalau selama ini sebenarnya kalian itu pacaran tanpa status. Cuma ganti label ‘sahabat’ biar berasa aman.”

“Reno, mending kamu urus itu mesin kopi di belakang daripada ngomong sembarangan,” omelku sambil kembali berpura-pura fokus pada layar monitor.

Reno tertawa lagi lalu berdiri dari kursinya. “Siap, Bu Editor! Kalau butuh bahu buat nangis, kafe ini buka sampai jam dua belas malam ya!”

Setelah Reno berlalu ke belakang meja bar, aku menghela napas panjang. Aku menggeser layar ponselku yang tergeletak di samping laptop. Aplikasi Instagram menampilkan unggahan terbaru dari Bima sepuluh menit yang lalu. Sebuah foto *candid* Keisya yang sedang tersenyum manis di sebuah restoran dengan pencahayaan hangat. *Caption*-nya singkat: *”Selalu ada alasan untuk tersenyum di hari Sabtu.”*

Dadaku mendadak terasa sedikit tertekan. Aku menggelengkan kepala cepat-cepat, menutup aplikasi itu. *Aku tidak cemburu,* bisikku pada diri sendiri. *Aku cuma belum terbiasa dengan perubahan ini.*

Untuk membuktikannya, malam harinya aku menerima ajakan makan malam dari Rio, seorang rekan sesama penulis *freelance* yang sudah beberapa kali mengajakku jalan. Kami makan di sebuah restoran Italia yang cukup tenang di daerah Senopati.

Rio adalah pria yang menyenangkan. Dia tampan, berwawasan luas, dan sangat perhatian. Sepanjang makan malam, dia bercerita tentang proyek buku barunya dan lelucon-lelucon dunia penerbitan yang harusnya membuatku tertawa.

Tapi otaknya rasanya tidak berada di sana.

“Laras? Kamu mendengarkan aku?” tanya Rio lembut, melambaikan tangannya pelan di depan wajahku.

Aku tersentak, hampir menjatuhkan garpuku. “Eh… iya, Rio. Maaf, maaf. Kamu tadi bilang soal draf bab empat, kan?”

Rio tersenyum maklum, meski ada pendar kecewa yang samar di matanya. “Bukan, aku tadi tanya kamu mau pesan penutup makanan apa enggak. Kamu dari tadi kelihatan banyak pikiran. Ada masalah sama pekerjaan?”

“Nggak kok,” jawabku merasa bersalah. “Cuma sedikit lelah aja.”

“Atau… kamu kepikiran hal lain?” tanya Rio pelan. “Jujur, Laras, tiap kali aku ngajak kamu jalan, aku selalu merasa ada tembok pembatas yang tebal banget. Seolah-olah pikiran kamu selalu tertinggal di tempat lain.”

Aku terdiam. Aku tidak bisa membantah kalimat Rio. Karena sepanjang makan malam ini, aku terus membayangkan bagaimana Bima akan mengomentari spageti yang terlalu asin ini, atau bagaimana Bima akan tertawa melihat dekorasi lampu restoran yang aneh. Aku secara tidak sadar selalu membandingkan setiap pria yang dekat denganku dengan Bima.

“Maaf ya, Rio,” bisikku tulus. “Kamu benar. Aku sepertinya memang sedang tidak fokus malam ini.”

“Nggak apa-apa,” sahut Rio tersenyum tipis. “Mungkin lain kali kalau kamu udah benar-benar senggang.”

Makan malam itu berakhir lebih cepat dari yang kubayangkan. Saat aku tiba di kamar kosku pukul sembilan malam, suasana terasa sangat sunyi. Aku menyalakan lampu kecil di samping tempat tidur—kebiasaan yang selalu diingatkan Bima jika dia tahu aku pulang larut.

*Ting!*

Ponsel di dalam tas ku bergetar. Aku buru-buru membukanya, berharap itu pesan dari… ah, kenapa aku masih berharap?

Pesan WhatsApp dari Bima.

**Bima:** *Ras, besok malam senggang nggak?*

Jemariku dengan cepat mengetik balasan.

**Laras:** *Senggang kok. Ada apa, Bim?*

Hanya butuh beberapa detik sampai balasan Bima muncul kembali.

**Bima:** *Besok ikut aku ya. Aku mau kenalin kamu secara resmi ke Keisya. Mau makan malam bertiga.*

Aku menatap layar ponsel itu untuk waktu yang lama. Tulisan itu membakar mataku. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran dadaku yang mendadak tidak beraturan.

Jemariku bergerak di atas papan ketik virtual.

**Laras:** *Sebagai apa?*

Beberapa detik terasa seperti keabadian. Indikator *typing…* di layar ponsel Bima naik turun sebelum akhirnya sebuah pesan balasan masuk.

**Bima:** *Sebagai sahabat terbaikku, tentu aja. Kamu kan orang paling penting di hidupku setelah keluargaku, Ras.*

Dan entah kenapa…

Kalimat yang harusnya terdengar manis dan menghangatkan itu, malam ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta, Sahabat Masa Kecil
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita