Jangan Jatuh Cinta Pada Sahabatmu Sendiri - Bab 1
Kedai kopi di sudut jalan itu masih memiliki aroma yang sama: campuran biji sangrai arabika dan wangi samar roti panggang mentega. Di meja bundar dekat jendela kaca yang menghadap ke jalan raya, aku sudah duduk menunggu selama hampir dua puluh menit. Ini adalah tempat favorit kami selama empat tahun terakhir. Tempat di mana kami biasanya menghabiskan malam minggu dengan laptop masing-masing, atau sekadar berdebat tentang hal-hal tidak penting.
Lampu gantung di atas meja memantulkan pendar hangat. Di depanku, dua cangkir kopi sudah disajikan. Satu *caffè latte* hangat dengan sedikit taburan bubuk kayu manis milikku, dan satu *Americano* dingin tanpa gula.
Satu hal yang tidak pernah berubah dari Bima Aditya: dia selalu memesan kopi tanpa gula, meskipun aku tahu persis dia sebenarnya tidak terlalu menyukai rasa pahit. Katanya, kopi pahit membantunya tetap terjaga saat harus mengedit ratusan foto klien hingga larut malam.
“Maaf telat, Ras. Jalanan Jakarta Selatan hari ini rasanya konyol banget macetnya,” sebuah suara bariton yang sangat kukenal tiba-tiba memecah lamunanku.
Bima menarik kursi kayu di depanku lalu langsung mendaratkan tubuh tingginya di sana. Pria itu mengenakan kemeja denim melipat hingga siku, membawa aroma angin malam dan parfum beraroma kayu yang selalu pakainya sejak zaman kuliah. Dia menyapu rambut tebalnya ke belakang, lalu tersenyum lebar.
“Santai aja, Bim,” balasku sambil menggeser cangkir *Americano* ke arahnya. “Aku juga baru selesai merapikan draf artikel kok. Kamu habis *shooting* foto di mana?”
“Di daerah Menteng tadi,” jawab Bima, langsung menyambar cangkir kopinya dan menyesapnya pelan. Kerutan halus muncul di dahinya saat rasa pahit itu menyentuh lidahnya—reaksi refleks yang selalu membuatnya terlihat konyol di mataku.
Aku terkekeh kecil, menyandarkan dagu di atas telapak tangan. “Gaya banget sih pakai pesen *Americano* terus, padahal muka kamu selalu kelihatan menderita tiap minum.”
“Ini namanya konsistensi, Laras Anindita,” sahut Bima sambil meletakkan cangkirnya kembali. Dia tertawa pelan, menunjukkan lesung pipi di sebelah kirinya yang selalu berhasil membuat teman-teman perempuanku zaman kuliah dulu terpesona. “Biar kelihatan kayak fotografer profesional yang tangguh.”
“Tangguh apanya. Yang ada kamu penakut,” ledekku.
“Penakut sama kecoak doang ya, tolong diklarifikasi!” tegurnya berpura-pura galak, memelototkan matanya yang justru terlihat lucu.
Kami berdua tertawa bersama. Suasana hangat yang begitu biasa, begitu natural, dan sudah menjadi bagian dari hidupku selama sebelas tahun terakhir. Sejak kami masih mengenakan seragam putih-abu-abu, duduk di warung makan belakang sekolah sambil membagi sepotong gorengan, hingga kini kami berdua sudah berumur dua puluh tujuh dan dua puluh delapan tahun.
Sebelas tahun adalah waktu yang sangat lama. Kami tahu hampir semua hal tentang satu sama lain. Bima tahu aku tidak bisa tidur tanpa menyalakan lampu kecil di samping tempat tidur karena aku takut kegelapan total. Aku tahu Bima selalu memutar lagu-lagu jazz klasik saat sedang cemas. Kami tahu mantan kekasih satu sama lain, kami tahu masalah keluarga masing-masing, dan kami tahu kapan harus bicara atau kapan cukup duduk diam tanpa merasa canggung.
Banyak orang—mulai dari teman kuliah, rekan kerja, hingga Mbak Nunung penjual nasi goreng langganan kami—selalu menduga bahwa kami adalah sepasang kekasih. Setiap kali mendengarnya, kami berdua hanya akan tertawa keras. Bagi kami, ide untuk berpacaran itu terdengar menggelikan.
Bima terlalu mengenalku. Dia tahu semua kebiasaan burukku saat bangun tidur. Dan aku pun terlalu mengenal Bima. Dia terlalu dekat, terlalu biasa, dan terlalu aman untuk dijadikan seorang kekasih. Dulu, aku selalu berpikir tidak mungkin aku jatuh cinta kepada sahabatku sendiri.
“Oya, Ras,” Bima memajukan tubuhnya, menopang kedua sikunya di atas meja kayu. Senyum di wajahnya mendadak berubah. Bukan senyum ledekan yang biasa, melainkan senyum yang jauh lebih tenang, hangat, dan… berbeda.
“Kenapa?” tanyaku sambil menyesap *caffè latte*-ku. “Jangan bilang kamu mau pinjam uang buat beli lensa kamera baru lagi ya?”
Bima terdiam beberapa detik. Dia menatapku lurus-lurus, ada pendar binar di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Aku mau ngomong sesuatu,” ucapnya pelan.
Aku tersenyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala. “Ada-ada aja gaya kamu. Jangan bilang kamu akhirnya punya pacar baru setelah jomblo delapan bulan?”
Bima menahan napasnya sejenak. Lalu, senyumnya makin melebar.
“Lebih serius dari itu, Ras,” katanya dengan nada suara yang begitu dalam.
Gerakan tanganku yang hendak meletakkan cangkir kopi membeku seketika. “Maksudnya?”
Bima merogoh saku dalam jaketnya, lalu meletakkan sebuah kotak bludru kecil berwarna merah marun di atas meja, tepat di antara cangkir kopiku dan cangkir kopinya.
Duniaku rasanya berhenti berputar selama satu detik.
“Aku dan Keisya… kami sudah bicarakan ini minggu lalu,” kata Bima, suaranya terdengar begitu mantap, begitu bahagia. “Orang tua kami juga sudah saling bertemu kemarin malam. Kalau semuanya lancar, kami rencana mau lamaran bulan depan, terus nikah akhir tahun ini.”
Kata-kata Bima seperti dengungan panjang yang bergetar di dalam kepalaku. *Nikah? Lamaran? Keisya?*
Aku tahu Bima sedang dekat dengan Keisya—seorang dokter umum yang cantik, dewasa, dan sangat lembut—selama lima bulan terakhir. Tapi aku selalu menganggap hubungan mereka sama seperti hubungan-hubungan Bima sebelumnya. Hubungan yang akan berjalan beberapa bulan, lalu berakhir karena Bima merasa ‘tidak cocok’ atau karena perempuan itu merasa Bima terlalu sibuk dengan dunia fotografinya.
Tapi kotak merah marun di atas meja ini… adalah kenyataan yang sangat berbeda.
“Ras? Kamu kok malah melamun?” Bima tertawa kecil, membuka tutup kotak bludru itu. Di dalamnya, sebuah cincin emas putih dengan permata mungil memantulkan pendar lampu kedai kopi. “Coba lihat deh. Menurutmu Keisya bakal suka nggak sama modelnya?”
Tanganku terulur secara refleks, bergerak bagaikan sebuah mesin kaku yang kehilangan pelumasnya. Jemariku menyentuh pinggiran kotak itu, lalu perlahan mengambil cincin tersebut.
Tanganku gemetar. Sedikit sekali, tapi aku bisa merasakannya dengan sangat jelas.
Cincin itu terasa begitu dingin di ujung jariku. Cincin yang menandakan bahwa masa depan Bima bukan lagi tentang malam-malam tanpa tidur menyusun portofolio denganku, bukan lagi tentang rencana liburan impian kami ke Banda Neira, dan bukan lagi tentang kami berdua.
“Ras?” Bima menatapku bingung, kerutan halus kembali muncul di antara kedua alisnya. “Bagus nggak? Kamu kan perempuan, harusnya selera kamu mirip-mirip lah sama Keisya.”
Aku memaksa bibirku untuk terangkat. Aku menarik napas dalam-dalam, menyembunyikan getaran di dadaku dengan sebuah senyuman paling sempurna yang pernah kubuat sepanjang hidupku.
“Bagus banget, Bim,” kataku, suaraku terdengar cukup renyah, cukup meyakinkan. “Simple, elegan. Keisya pasti suka banget. Tentu aja dia bakal suka.”
Bima menghela napas lega, bersandar kembali ke kursinya dengan senyum puas. “Leganya… Aku dari kemarin panik banget takut salah pilih model. Kamu tahu sendiri kan aku paling bodoh kalau urusan ginian.”
“Iya, kamu memang bodoh kalau urusan perhiasan,” balasku, memaksakan tawa kecil yang terasa amat hampa di tenggorokanku. Aku mengembalikan cincin itu ke dalam kotaknya dan menutupnya pelan. *Klik.*
“Makasih ya, Ras,” kata Bima tulus, menatapku hangat. “Kamu orang pertama yang aku kasih tahu soal ini. Beneran. Bahkan Reno aja belum tahu.”
“Sama-sama, Bima,” jawabku pelan.
Malam itu, percakapan kami berlanjut. Bima bercerita panjang lebar tentang rencana konsep pernikahan mereka, tentang Keisya yang menginginkan pesta kebun sederhana, dan tentang bagaimana dia merasa akhirnya menemukan orang yang tepat untuk membina rumah tangga. Aku mendengarkan semuanya. Aku mengangguk, aku tersenyum pada waktu yang tepat, dan aku memberikan pendapat saat diminta.
Namun di dalam hatiku, di balik dada yang terasa sesak dan berat, hanya ada satu pertanyaan asing yang mendadak muncul dan terus bergema tanpa henti.
*Kenapa aku merasa seperti baru saja kehilangan seseorang yang bahkan belum pergi?*
-BERSAMBUNG-