Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku - Bab 1
- Home
- Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku
- Bab 1 - Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku
Layar ponsel di genggaman Mira memancarkan pendar cahaya biru yang terasa menusuk mata. Di atas kasur busa kamar kosnya yang sempit, jari-jemarinya membeku di atas aplikasi perbankan digital yang baru saja ia perbarui.
Dua ratus empat puluh juta rupiah.
Itu adalah angka yang seharusnya tertera di sana. Angka yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah selama lima tahun terakhir. Hasil menahan seleranya dari baju-baju bagus, liburan akhir pekan bersama teman-teman kantor, atau sekadar memesan secangkir kopi mahal di akhir bulan.
Namun, angka yang menatapnya malam ini di layar ponsel hanya tersisa empat puluh juta rupiah.
Dua ratus juta rupiah lenyap.
Napas Mira tercekat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Dengan tangan gemetaran, ia menekan menu riwayat transaksi. Sebuah penarikan tunai berkala dan pemindahbukuan dalam jumlah besar telah terjadi tiga hari yang lalu melalui rekening bersama—rekening yang dulu ia buat atas nama dirinya dan ibunya untuk memudahkan pengiriman uang bulanan rumah.
Mira langsung meraih kunci mbil dan tasnya. Ia tidak menunggu besok. Malam itu juga, ia melaju menembus malam menuju rumah ibunya di kawasan pinggiran kota.
Suara pintu depan yang didorong kasar membuat Lestari yang sedang menonton televisi di ruang tamu terkejut. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu membetulkan letak kacamata bacanya saat melihat anak perempuannya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan napas memburu.
“Mira? Kok malam-malam begini pulang nggak kasih tahu Ibu dulu?” tanya Lestari heran, menatapi anak perempuannya yang masih mengenakan kemeja kerja.
Mira melangkah mendekat. Ia meletakkan ponselnya yang masih menyala di atas meja kayu di depan ibunya.
“Uang tabungan Mira di rekening bersama hilang dua ratus juta, Bu,” suara Mira bergetar, berusaha menahan gelombang emosi yang mendesak dadanya. “Ibu tahu uang itu ke mana?”
Lestari tertegun sejenak. Sorot matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus anak perempuannya. Ia mengusap pangkuannya pelan sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Ibu yang ambil, Mir,” jawab Lestari pelan, suaranya terdengar sangat santai seolah-olah ia baru saja mengambil uang kembalian belanja dari dompet.
Dada Mira serasa dihantam batu besar. “Ibu yang ambil? Dua ratus juta?”
“Iya. Ibu pakai buat bantu adikmu, Reno,” lanjut Lestari tanpa ragu. “Reno itu lagi butuh uang muka buat beli mobil operasional kateringnya. Bisnisnya lagi mau maju, Mir. Dia butuh mobil itu sekarang.”
“Bu…” Mira menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, membakar kelopak matanya. “Itu uang tabungan rumah Mira. Ibu tahu persis Mira nabung lima tahun buat DP rumah kecil yang kemarin kita lihat. Kenapa Ibu ambil tanpa izin Mira?”
“Kenapa harus minta izin dulu?” respons Lestari, keningnya berkerut heran. “Kalau Ibu bilang sama kamu, kamu pasti banyak alasan dan keberatan, kan? Kamu pasti nggak akan kasih.”
Kalimat itu terucap begitu mudah dari bibir ibunya, menusuk jantung Mira lebih dalam daripada kenyataan bahwa uangnya telah hilang.
“Tentu saja Mira keberatan, Bu!” suara Mira meninggi, air matanya menetes membasahi pipi. “Itu uang hasil keringat Mira sendiri! Mira nggak pernah minta uang sepeser pun sama Ibu sejak lulus kuliah. Mira yang bantu bayar listrik rumah ini, Mira yang bantu beli obat Ibu tiap bulan. Kenapa Ibu tega nguras tabungan hidup Mira cuma demi Reno?”
Lestari berdiri dari duduknya, raut wajahnya berubah menjadi tegang dan bersikap defensif. “Mira, jangan pelit sama adik sendiri! Reno itu adik kandungmu! Dia sedang berjuang membangun usahanya. Kamu kan sudah punya pekerjaan tetap, gajimu aman tiap bulan. Kamu masih bisa nabung lagi dari awal!”
“Masih bisa nabung lagi?” Mira tertawa sumbang di tengah tangisnya, rasa sakit hati melingkupi seluruh dadanya. “Ibu pikir gampang ngumpulin dua ratus juta? Lima tahun Mira nahan lapar, Bu! Lima tahun Mira nggak pernah beli apa-apa buat diri sendiri demi punya rumah! Dan Ibu bilang ‘masih bisa nabung lagi’ seolah-olah uang itu cuma pecahan lima ribuan?!”
“Kamu ini kenapa sih jadi perhitungan begitu sama keluarga?” tegur Lestari tajam, merasa martabatnya sebagai ibu dipertanyakan. “Reno itu belum tentu punya kesempatan bisnis sebagus ini lagi. Sebagai kakak, harusnya kamu senang lihat adikmu mau maju!”
“Bukan masalah perhitungannya, Bu!” jerit Mira, dadanya naik turun meluapkan kekecewaan yang tertahan bertahun-tahun. “Masalahnya Ibu nggak pernah anggap Mira penting! Ibu selalu anggap pengorbanan Mira itu kewajiban, sementara Reno melakukan hal kecil saja langsung Ibu dewa-dewakan!”
Tanpa menunggu balasan ibunya, Mira membalikkan badan. Ia menyambar ponselnya di meja dan berlari keluar rumah, mengabaikan panggilan ibunya yang menggema di teras.
Mira duduk di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan tak jauh dari rumah ibunya. Tangannya gemetaran saat menekan tombol telepon pada kontak adiknya.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
“Halo, Kak Mira? Ada apa malam-malam telfon?” suara Reno terdengar santai dari ujung telepon, diiringi sayup-sayup suara dentang peralatan dapur dari tempat usaha kateringnya.
“Ren,” suara Mira serak dan dingin. “Kamu tega ya sama Kakak?”
Hening sejenak di ujung telepon. “Maksud Kak Mira apa? Tega kenapa?”
“Uang DP mobil kateringmu yang dua ratus juta itu… kamu pikir uang dari mana, Ren?” tanya Mira dengan nada menuduh. “Itu uang tabungan rumah Kakak yang diambil Ibu tanpa izin!”
Di ujung telepon, derap langkah Reno mendadak berhenti. Suara benturan peralatan dapur tak lagi terdengar.
“Tunggu… apa?” suara Reno berubah panik dan kebingungan. “Uang Kak Mira? Maksud Kakak apa sih? Ibu bilang uang dua ratus juta itu uang simpanan arisan dan tabungan lama Ibu sendiri!”
Mira membeku di kursi pengemudi. Tangisnya terhenti sejenak saat menangkap nada terkejut yang teramat jujur dari suara adiknya.
“Kamu… kamu nggak tahu kalau itu uang tabungan Kakak?” tanyanya pelan.
“Demi Allah, Kak! Aku nggak tahu sama sekali!” balas Reno setengah berteriak. “Ibu cuma bilang dia ada uang dingin yang bisa dipakai buat bantuin aku! Kalau aku tahu itu uang tabungan rumah Kak Mira, aku nggak bakal mau terima!”
Mira terdiam di kegelapan dalam mobilnya. Jika Reno sama sekali tidak tahu asal-usul uang itu… lalu mengapa ibunya berbohong kepada mereka berdua dan dengan tega mengambil keputusan sepihak yang menghancurkan impian anak perempuannya?
-BERSAMBUNG-