Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku - Bab 3
- Home
- Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku
- Bab 3 - Kali Ini Aku Tidak Akan Mengalah
Keheningan di ruang tamu itu terasa begitu berat. Lestari terduduk perlahan di tepi sofa, menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangannya yang gemetar.
“Kenapa, Bu?” tanya Mira pelan, suaranya dingin tanpa emosi tersisa. “Kenapa harus ambil semuanya kalau sebenarnya cuma butuh empat puluh juta?”
Lestari perlahan menurunkan tangannya. Air mata sudah membasahi pipinya yang berkerut.
“Karena… Ibu takut angsuran bulanan Reno terlalu besar kalau DP-nya cuma sedikit,” tangis Lestari pecah, menyuarakan alasan konyol yang selama ini tersimpan di kepalanya. “Ibu takut bisnis adikmu keteteran bayar cicilan tiap bulan… Ibu pikir, kalau DP-nya besar, Reno nggak akan beban. Dan Ibu pikir… kamu kan kakaknya, kamu selalu punya tabungan lagi, kamu selalu bisa diandalkan kalau ada apa-apa…”
Mira menghela napas panjang, sebuah senyum pahit terukir di bibirnya.
“Ibu tahu kenapa aku selalu punya tabungan dan kelihatan selalu bisa diandalkan?” tanya Mira menatap ibunya lurus. “Bukan karena aku kaya, Bu. Tapi karena aku sadar, kalau aku jatuh, nggak ada seorang pun di keluarga ini yang bakal ulurkan tangan buat bantu aku. Aku harus kuat karena terpaksa, Bu. Bukan karena aku nggak pernah capek!”
Kata-kata Mira menghantam kesadaran Lestari begitu keras. Ibu tua itu tertunduk menangis terisak-isak, menyadari betapa kejamnya prasangka dan perlakuan pilih kasih yang selama ini ia normalisasikan atas nama ‘kemandirian’ anak perempuannya.
Reno melangkah tegas ke depan meja. Ia mengambil pulpen dan dokumen tersebut.
“Reno yang bakal urus ke dealer besok pagi,” kata Reno mantap, menatap kakaknya. “Reno bakal revisi skema pembeliannya pakai DP minimal empat puluh juta saja. Sisa uang seratus enam puluh juta milik Kak Mira bakal dikembalikan ke rekening Kakak besok juga.”
Reno lalu memandang ibunya dengan raut wajah dewasa yang belum pernah terlihat sebelumnya. “Dan buat sisa uang empat puluh juta yang terpakai untuk DP… itu bakal jadi utang resmi Reno ke Kak Mira. Reno bakal cicil dua juta setiap bulan langsung dari hasil keuntungan kontrak katering ke rekening Kak Mira, lengkap dengan bukti transfernya tiap tanggal satu.”
“Ren…” Mira menatap adiknya.
“Nggak ada bantahan, Kak,” potong Reno mantap. “Selama ini aku terlalu nyaman dibantu tanpa mau tahu dari mana bantuan itu datang. Aku adik Kakak, tapi aku laki-laki. Aku harus belajar tanggung jawab sama bisnis dan hidupku sendiri. Maafin aku ya, Kak.”
Mira menatap adiknya lama, lalu perlahan menganggukkan kepala. Rasa bangga dan haru sedikit mengobati kekecewaan di hatinya. Adiknya telah tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab, tidak seperti kekhawatiran berlebihan ibunya.
Mira kemudian berbalik menatap ibunya yang masih terisak.
“Ibu…” panggilan Mira membuat Lestari mendongak pelan. “Mira maafin Ibu. Tapi mulai malam ini, ada hal-hal yang harus berubah.”
Lestari mengusap air matanya, mendengarkan anak perempuannya.
“Pertama, besok pagi rekening bersama atas nama kita akan Mira tutup. Semua tabungan Mira akan dipindah penuh ke rekening pribadi yang cuma Mira yang pegang aksesnya,” kata Mira dengan nada tenang namun tak tergoyahkan. “Kedua, Mira akan tetap bantu uang bulanan rumah dan obat Ibu seperti biasa. Tapi kalau ada kebutuhan di luar itu—entah buat Reno atau keluarga besar—jangan pernah minta atau ambil uang Mira tanpa bicara jujur dari awal.”
Mira mengambil tasnya. “Mira sayang sama Ibu dan Reno. Tapi sayang bukan berarti Mira harus hancurin impian dan masa depan Mira sendiri demi menutupi ketakutan Ibu.”
Lestari mengangguk pasrah di tengah tangisnya. “Iya, Nak… Ibu paham. Maafin Ibu… Maafin salah Ibu selama ini…”
Enam bulan kemudian.
Matahari sore menyinari sebuah rumah mungil tipe 36 berbalut cat warna krem di sebuah komplek perumahan baru. Di halaman depan yang berumput hijau, sebuah plang kecil bertuliskan ‘Rumah Mira’ berdiri anggun.
Mobil boks katering milik Reno terparkir di depan pagar. Reno baru saja selesai menurunkan dua kardus besar berisi perlengkapan dapur dan syukuran rumah baru kakaknya.
Dari dalam rumah, Mira keluar membawa segelas es teh manis untuk adiknya. “Makasih ya, Ren, sudah dibantuin angkut barang-barang dari kosan.”
“Santai saja, Kak! Lagipula ini kan rumah Kakak yang diperjuangkan berdarah-darah,” sahut Reno sambil menerima gelas minumannya. “Oh ya, Kak, transferan cicilan bulan ke-enam untuk DP kemarin sudah masuk, kan?”
Mira tersenyum tipis. “Sudah masuk tadi pagi. Makasih ya.”
Sebuah mobil taksi berhenti di depan pagar. Pintu mobil terbuka dan Lestari turun perlahan sambil membawa satu rantang makanan kesukaan Mira. Wanita tua itu melangkah ragu-ragu di depan pintu pagar yang terbuka.
Mira melangkah mendekati ibunya.
Lestari menatap bangunan rumah kecil itu dengan rasa haru, lalu pandangannya beralih menatap anak perempuannya dengan canggung.
“Rumahnya cantik sekali, Mir…” bisik Lestari pelan. Ia lalu memegang rantang di tangannya dengan ragu. “Ibu… Ibu boleh masuk?”
Mira memandang ibunya. Hubungan mereka memang belum sepenuhnya pulih seperti dulu. Masih ada jarak dan ketegasan batas yang dibangun Mira demi menjaga harga dirinya. Namun, di dalam mata ibunya, tak ada lagi pandangan meremehkan. Yang ada kini hanyalah rasa hormat dan penyesalan yang tulus.
Mira tersenyum lembut dan mengangguk pelan.
“Boleh, Bu. Silakan masuk,” jawab Mira.
Lestari menghembuskan napas lega, matanya berkaca-kaca saat melangkah melewati pintu teras.
Mira menatap langit sore yang terang di atas rumah barunya. Ia telah belajar sebuah pelajaran paling berharga dalam hidupnya: bahwa mencintai keluarga tidak harus dilakukan dengan cara melupakan cara mencintai diri sendiri. Dan keberanian untuk berkata “tidak” pada ketidakadilan justru menjadi awal dari hubungan keluarga yang jauh lebih sehat dan saling menghargai.
-TAMAT-