Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku - Bab 2

  1. Home
  2. Ibuku Memberikan Tabunganku kepada Adikku
  3. Bab 2 - Ternyata Adikku Tidak Pernah Meminta Uang Itu
Next

Warung makan di dekat stasiun menjadi tempat Mira dan Reno bertemu satu jam kemudian. Di hadapan Mira, Reno duduk dengan wajah tegang. Dua cangkir teh hangat di atas meja tak tersentuh sama sekali.

“Aku beneran nggak tahu, Kak,” bisik Reno, menatap kakaknya dengan mata penuh penyesalan. “Bulan lalu aku memang cerita ke Ibu kalau kateringku dapat penawaran kontrak dari perusahaan tambang buat suplai makan siang karyawan mereka selama dua tahun. Nilai kontraknya besar sekali, Kak. Tapi syarat utamanya, kita harus punya armada mobil boks sendiri buat pengantaran.”

Mira mendengarkan dengan bibir terkatup rapat.

“Aku waktu itu cuma bilang ke Ibu kalau aku mau cari pinjaman bank atau sewa mobil boks mingguan,” lanjut Reno cepat, jemarinya meremas kain celananya. “Tapi Ibu melarang. Ibu bilang sewa mobil itu buang-buang uang. Dua hari kemudian, Ibu datang bawa uang dua ratus juta dalam bentuk transferan dan bilang itu uang simpanan Ibu. Ibu maksa aku pakai uang itu buat DP beli mobil baru atas nama katering.”

Mira memejamkan mata rapat-rapat. Kebenarannya terasa semakin menyakitkan. Adiknya tidak berniat jahat atau memanfaatkannya. Masalahnya ada pada ibunya—Lestari—yang merasa berhak memutar dan mengeksekusi uang milik Mira demi melapangkan jalan bagi anak laki-laki kesayangannya, tanpa peduli bahwa uang itu dibayar dengan impian masa depan Mira.

“Kita pulang ke rumah Ibu sekarang,” kata Mira dingin, langsung berdiri dari kursi.

Pintu rumah dibuka lebar oleh Reno. Di ruang tamu, Lestari masih duduk dengan wajah tegang. Ketika melihat kedua anaknya masuk bersamaan, raut wajah wanita tua itu semakin serba salah.

“Reno? Kamu kok sama Kakakmu?” tanya Lestari berdiri pelan.

“Kenapa Ibu bohong sama Reno?” potong Reno langsung. Suaranya terdengar bergetar menahan amarah dan kecewa. “Kenapa Ibu bilang uang dua ratus juta itu uang simpanan Ibu? Ibu tahu nggak, gara-gara ini Kak Mira ngira Reno yang minta-minta uang tabungan rumahnya!”

Lestari tertegun, pandangannya beralih antara Reno dan Mira. “I-Ibu cuma mau bantu kamu, Ren! Penawaran kontrak bisnis itu kan kesempatan seumur hidup buat kamu!”

“Tapi bukan dengan cara mencuri uang Kak Mira, Bu!” tegas Reno, suaranya meninggi. “Uang itu hasil kerja keras Kak Mira bertahun-tahun!”

“Ibu nggak mencuri!” bantah Lestari dengan suara gemetaran, matanya mulai berkaca-kaca karena terdesak. “Ibu ini ibunya Mira! Rekening itu kan rekening bersama atas nama Ibu juga! Lagipula, Mira itu kakaknya! Sudah kewajiban kakak untuk bantu adiknya kalau lagi ada kesempatan bagus!”

“Kewajiban?”

Mira melangkah maju, berdiri tepat di hadapan ibunya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Lestari dengan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

“Setiap kali Reno butuh sesuatu, aku yang selalu diminta mengerti,” kata Mira pelan, namun setiap kata yang keluar terasa menekan udara di ruangan itu. “Waktu Reno mau masuk kuliah swasta mahal, aku yang disuruh nunda beli laptop kerja. Waktu Reno mau buka usaha katering dan butuh modal awal, aku yang disuruh potong uang bulanan kosku. Terus sekarang, waktu aku hampir mencapai impianku punya rumah sendiri… Ibu kuras uangku begitu saja.”

Mira menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya. “Kapan Ibu pernah tanya aku butuh apa, Bu? Kapan Ibu pernah peduli sama impian Mira?”

Lestari terdiam. Wajahnya pucat. “Mira… Ibu tahu kamu anak yang mandiri. Kamu itu kuat, kamu punya pekerjaan bagus. Kamu pasti selalu bisa cari jalan keluar sendiri. Tapi adikmu… adikmu itu masih butuh pegangan supaya nggak gagal.”

“Jadi supaya Reno nggak gagal, hidupku yang harus dikorbankan?” tanya Mira menusuk. “Jadi rasa sayang Ibu ke aku itu cuma diukur dari seberapa banyak aku bisa mengalah buat Reno?”

“Kak…” Reno memegang bahu Mira, matanya basah oleh rasa bersalah yang teramat sangat. “Maafin aku, Kak. Aku beneran nggak tahu. Aku bakal kembalikan uang itu. Besok aku bakal batalkan pembelian mobilnya di dealer. Biar uang DP-nya ditarik lagi.”

Reno berbalik menuju kamarnya dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa amplop dokumen dari dealer mobil.

“Nggak bisa langsung ditarik 100%, Ren,” kata Reno lesu sambil membuka berkas itu di atas meja. “Di surat perjanjian ini tertulis kalau pembatalan sepihak bakal dipotong denda 30%. Uang Kak Mira bakal hilang enam puluh juta kalau dibatalkan begitu saja.”

Mira memegang keningnya yang terasa pening luar biasa. Rumah impiannya makin menjauh, sementara uangnya kini terjebak di antara denda pembatalan dan keputusan sembrono ibunya.

Namun, saat Reno membalik halaman berkas pembiayaan dari pihak bank dan dealer, jemari adiknya mendadak berhenti. Reno membaca sebuah tabel di lembar ketiga dengan cermat.

“Tunggu…” Reno menunjuk salah satu poin opsi pembayaran di kertas tersebut. Matanya melebar. “Lihat ini, Kak.”

Mira dan Lestari mendekat ke meja.

“Di sini tertulis ada skema leasing khusus untuk UMKM dengan uang muka minimal cuma 15% atau sekitar empat puluh juta rupiah, asal ada surat kontrak kerja sama bisnis dari perusahaan mitra,” kata Reno cepat, menatap kakaknya dengan mata berbinar. “Waktu itu sales dealer-nya nawarin ini, tapi Ibu langsung nolak dan maksa bayar DP dua ratus juta tunai supaya angsuran bulananku kecil!”

Reno menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. “Bu… berarti uang DP-nya sebenarnya cuma butuh empat puluh juta! Kenapa Ibu malah kasih semua dua ratus juta uang Kak Mira ke mereka?!”

Mira membeku. Ia menatap ibunya yang kini menunduk dalam-dalam, tak mampu lagi memberikan sepatah kata pun alasan.

Next
Tags:
Drama Keluarga, Free Novel, Konflik Keluarga, Pengkhianatan, Saudara Kandung
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita