Dia Mengaku Pacarku di Depan Mantanku - Bab 2
Suasana restoran Jepang malam itu cukup ramai, tapi meja kami terasa seperti medan perang yang dingin. Di hadapanku, Fikri menatap kami berdua dengan mata menyelidik. Sementara di sampingku, Rivan duduk dengan tenang, sesekali menyumpitkan salmon sashimi ke piringku.
“Kamu kan nggak suka jahe, Ra,” kata Rivan lembut, lalu mengambil potongan jahe dari piringku dan memindahkannya ke piringnya sendiri.
Aku mengerutkan dahi. Sejak kapan Rivan tahu aku tidak suka jahe? Kami memang sering makan bareng bersama teman-teman yang lain, tapi aku tidak pernah secara khusus memberitahunya hal sespesifik ini.
“Kalian udah pacaran berapa lama?” tanya Fikri tiba-tiba. Matanya menatap Rivan tajam.
“Dua bulan,” jawab Rivan tanpa ragu sedikit pun.
“Tiga bulan,” jawabku di saat yang bersamaan.
Fikri menyilangkan tangan, tersenyum penuh kemenangan. “Tuh kan. Cerita kalian aja beda.”
Rivan tertawa kecil. Dia merangkul bahuku erat, menarikku mendekat hingga bahu kami bersentuhan rapat. “Dua bulan resmi pacaran, tiga bulan PDKT-nya. Ya kan, Sayang? Kamu selalu ngitung dari masa pendekatan, sih.”
Rivan menoleh padaku, menepuk pipiku pelan dengan jemarinya. Sentuhannya hangat. Terlalu hangat sampai membuat dadaku berdebar aneh.
“I-iya,” jawabku gagap, mencoba menyembunyikan rasa gugup. “Masa PDKT kan juga berharga.”
Fikri mengepalkan tangan di atas meja. “Kalian kelihatan kaku banget. Nggak seperti orang pacaran pada umumnya.”
“Oh ya?” Rivan menaikkan sebelah alisnya. “Mau bukti yang lebih jelas?”
Sebelum aku sempat menoleh untuk bertanya apa maksudnya, Rivan menggenggam tengkukku pelan, memiringkan kepalanya, dan mendaratkan ciuman lembut di pipi kananku. Bibirnya menempel cukup lama—sekitar tiga detik—sebelum dia menarik diri kembali sambil tersenyum manis padaku.
Wajahku terasa terbakar. Napasku tertahan di tenggorokan. Ini sama sekali tidak ada dalam rencana!
Fikri mendengkus keras. Dia berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam. “Cukup. Aku muak.” Dia menatapku dingin. “Semoga kamu bahagia sama dia, Ra.”
Fikri melangkah pergi meninggalkan restoran tanpa menoleh lagi. Kali ini, langkahnya mantap dan penuh keputusasaan.
Begitu Fikri benar-benar keluar, aku langsung menepis tangan Rivan dari bahuku. “Rivan! Kamu keterlaluan! Kenapa pakai mencium pipiku segala?”
Rivan mengusap tengkuknya, tertawa pelan. “Kan dia minta bukti. Kalau nggak gitu, dia nggak bakal percaya, Ra.”
“Tapi itu kelewatan!” bentakku pelan. “Permainan ini udah selesai. Fikri udah pergi. Jadi stop!”
“Oke, oke. Maaf,” ujar Rivan santai, meski matanya menunjukkan kilat jenaka yang tak berkurang.
Ternyata, kata “stop” tidak pernah ada dalam kamus Rivan.
Keesokan harinya, saat aku baru tiba di kantor, sebuah kurir membawakan kotak makan siang favoritku dari kedai langgananku. Di atasnya ada catatan kecil berisi tulisan tangan Rivan: Jangan lupa makan siang, Pacar.
Aku langsung meneleponnya.
“Rivan! Maksudnya apa ini?”
“Udah makan?” suara Rivan terdengar santai dari seberang telepon.
“Kenapa kamu kirim makanan ke kantorku? Fikri nggak ada di sini!”
“Pacarku belum makan, makanya aku kirim,” jawabnya tanpa beban.
Aku menghela napas berat, memijit pelipis. “Aku bukan pacar kamu, Rivan. Cuma pura-pura kemarin.”
Hening sejenak di seberang telepon.
“Oh iya. Lupa. Maaf,” katanya.
Tapi kalimat itu bohong besar. Hari-hari berikutnya justru semakin parah.
Saat aku harus lembur hingga pukul sembilan malam, mobil Rivan sudah terparkir manis di depan lobby kantor. Saat aku terserang flu di akhir pekan, Rivan muncul di depan pintu apartemenku membawa bubur ayam hangat dan kantong plastik penuh obat. Dia bahkan dengan luwesnya menyapa Sasa, sahabatku yang sedang berkunjung.
“Gila sih, Ra,” kata Sasa sore itu saat kami sedang minum kopi di pantry apartemen, sementara Rivan sedang membeli air mineral di minimarket bawah. “Menurutku dia nggak pura-pura.”
“Dia cuma terlalu menjiwai perannya, Sa,” sanggahku cepat, meski hatiku mulai goyah. “Dia emang gitu orangnya, suka bercanda.”
“Bercanda kepala mu!” Sasa menoyor jidatku pelan. “Kalau cuma pura-pura buat mengusir Fikri, kenapa dia masih melakukan semua ini padahal Fikri udah nggak ada? Kenapa dia jemput kamu lembur? Kenapa dia tahu kamu cuma mau bubur yang nggak pakai tongcai?”
Aku bungkam. Pertanyaan Sasa menghantamku tepat di dada.
Sore harinya, saat Rivan mengantarku pulang dari minimarket, takdir seolah mempermainkan kami lagi. Fikri berdiri di depan gerbang kompeks apartemenku. Pria itu tampak berantakan, memegang buket bunga.
“Ra,” panggil Fikri saat aku dan Rivan keluar dari mobil. “Aku mau bicara sebentar. Cuma berdua.”
Aku melangkah maju, tapi Rivan berdiri sedikit di depanku, menghalangi jalan Fikri secara protektif.
“Masih belum kapok?” tanya Rivan dingin. Nada santainya mendadak hilang, berganti dengan intonasi tajam yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Fikri menatap Rivan penuh dendam. “Ra, kamu yakin dia benar-benar pacarmu? Kenapa aku merasa kamu cuma manfaatin dia buat bikin aku cemburu?”
Rivan maju satu langkah, menatap Fikri dari dekat. “Kalau kamu masih ragu,” kata Rivan pelan namun sarat ancaman, “aku bisa bikin kamu lebih yakin lagi sekarang.”
Aura persaingan di antara mereka begitu pekat. Aku panik. Aku tahu Rivan bukan tipe pria yang suka kekerasan, tapi raut wajahnya saat ini sangat serius.
Aku langsung menarik lengan baju Rivan, memaksanya mundur. “Jangan keterlaluan, Riv! Ayo masuk!”
Fikri menatapku dengan pandangan terluka sebelum akhirnya berbalik dan pergi dengan menyisakan kekecewaan mendalam.
Aku menarik Rivan menuju taman kecil yang sepi di sudut kompleks apartemen. Mataku menatapnya tajam, napasku terengah-engah karena emosi dan kebingungan yang berkecamuk.
“Kenapa kamu harus bertindak sejauh itu, sih?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Kenapa?” Rivan balik bertanya. Matanya menatapku dalam, tanpa ada riak humor sama sekali.
“Karena kita cuma pura-pura, Rivan!” teriakku pelan, mencoba menyadarkannya—atau mungkin menyadarkan diriku sendiri. “Ini cuma akting! Kamu nggak perlu seposesif itu di depan dia!”
Rivan terdiam. Angin sore bertiup pelan, memainkan helai rambut kami. Tatapan Rivan mengunci mataku, membuat seluruh argumen yang sudah kususun di kepala mendadak menguap.
“Awalnya iya,” kata Rivan pelan.
Jantungku berdegup kencang secara tidak teratur. “Sekarang?”
Rivan tidak langsung menjawab. Dia membuang pandangan sebentar ke arah jalanan, lalu menatapku kembali dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Aku sendiri belum tahu,” jawabnya dingin.
Tanpa mengaitkan jemarinya lagi padaku, Rivan berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Dia masuk, menyalakan mesin, dan mengendarai mobilnya menjauh, meninggalkanku sendirian di bawah pendar lampu taman.
Untuk pertama kalinya, aku justru merasa sangat takut mendengar jawaban yang sebenarnya.
-BERSAMBUNG-