Dia Mengaku Pacarku di Depan Mantanku - Bab 3
- Home
- Dia Mengaku Pacarku di Depan Mantanku
- Bab 3 - Kalau Berhenti Pura-Pura, Aku Masih Boleh Jadi Pacarmu?
Tiga hari.
Sudah tiga hari Rivan menghilang dari hidupku.
Dia benar-benar menghormati perkataannya. Tidak ada lagi pesan selamat pagi, tidak ada kiriman makanan ke kantor, tidak ada tumpangan pulang lembur, dan tidak ada lagi panggilan “sayang” yang biasanya sukses membuat mukaku memerah.
Awalnya, aku merasa lega. Aku berpikir ini adalah hal terbaik. Persahabatan kami selamat, dan Fikri pun sudah tidak pernah muncul lagi. Tapi memasuki hari ketiga, keheningan di ponselku terasa membingungkan. Aku mendapati diriku berkali-kali memeriksa layar ponsel, berharap ada satu pesan masuk dari nama Rivan.
“Kamu tuh kangen sama dia,” kata Sasa saat kami sedang makan siang di kantin kantor.
“Nggak,” sanggahku cepat, memutar-mutar sedotan di gelas es tehku. “Aku cuma merasa aneh aja. Biasanya dia berisik.”
“Ra, jujur sama diri sendiri,” Sasa menatapku serius. “Yang bikin kamu gelisah tiga hari ini bukan karena Fikri kan? Tapi karena Rivan berhenti perhatian sama kamu?”
Aku membisu. Kata-kata Sasa menghantam kesadaranku. Perhatian Rivan, candaannya, usahanya menyebalkan untuk melindungiku—semuanya sudah menyusup ke dalam keseharianku tanpa kusadari. Aku tidak lagi memikirkan Fikri. Yang ada di otakku sekarang sepenuhnya adalah Rivan.
Malam itu, aku tidak bisa menahannya lagi. Dengan keberanian yang tersisa, aku mendatangi kafe langganan Rivan. Benar saja, dia sedang duduk di sudut ruangan, mengetik sesuatu di laptopnya dengan secangkir kopi hitam di sampingnya.
Aku melangkah mendekat dan langsung duduk di kursi kosong di hadapannya.
Rivan mendongak. Ada kilat terkejut di matanya, tapi dia dengan cepat menguasai diri. Dia menutup laptopnya pelan. “Hai, Ra.”
Suaranya datar. Tidak ada godaan. Tidak ada senyum usil. Dan itu menyakitkan.
“Kamu beneran mau berhenti?” tanyaku langsung pada inti permasalahan, tanpa basa-basi.
Rivan menatapku tenang. “Kamu yang minta, kan? Kamu bilang kita cuma pura-pura, dan kamu nggak nyaman.”
“Aku cuma takut, Riv!” kataku, suara sedikit meninggi hingga beberapa pengunjung menoleh. Aku menunduk, menurunkan intonasi suaraku. “Aku cuma takut.”
Rivan memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. “Takut apa?”
Aku menggigit bibir bawahku, menyatukan jemariku yang gemetar di atas meja. “Takut kalau ternyata semua ini bukan pura-pura lagi buat kamu. Dan takut… kalau aku juga ngerasa hal yang sama.”
Pengakuan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Mataku menatap Rivan, mencari reaksi di wajahnya.
Rivan menghela napas panjang. Tatapan dinginnya mengendur, berganti dengan kehangatan yang sangat kumerindukan selama tiga hari terakhir.
“Memang bukan,” ujar Rivan pelan namun sangat jelas.
“Maksud kamu?”
“Memang bukan pura-pura lagi, Tara,” Rivan menggeser cangkir kopinya, lalu meraih tanganku yang saling bertaut di atas meja. Tangannya hangat, persis seperti yang kuingat. “Awalnya aku cuma mau bantu kamu lepas dari Fikri. Aku ngeselin, aku tahu. Tapi semakin aku meranin posisi jadi pacar kamu, semakin aku sadar…”
Rivan menggantung kalimatnya, menatap mataku dalam-dalam. “Aku sadar kalau aku memang mau berada di posisi itu beneran. Bukan karena Fikri. Bukan karena mau pamer. Tapi karena aku emang suka sama kamu. Udah lama, Ra. Cuma akunya aja yang terlalu pengecut buat bilang sebelum ada kejadian Fikri kemarin.”
Jantungku berdegup kencang, seolah mau melompat keluar dari dada. Kebenarannya akhirnya terungkap.
“Tapi…” aku menatapnya ragu. “Bagaimana kalau aku belum siap? Kalau aku bilang aku nggak mau pacaran?”
Rivan tersenyum tipis. Senyum hangat khas dirinya kembali. “Aku tetap teman kamu. Aku nggak bakal memaksa. Aku bakal balik jadi Rivan yang dulu.”
Aku menatap jemari kami yang bertaut. Rasa takut yang menggelayutiku selama ini perlahan sirna, berganti dengan rasa hangat yang membuncah.
“Kalau aku bilang aku mau?” bisikku pelan.
Rivan membeku sejenak. Matanya melebar. “Apa?”
Aku mendongak, menatapnya lurus sambil tersenyum tipis. “Kalau aku bilang… aku mau jadi pacar kamu beneran?”
Rivan terkekeh pendek, lalu menggenggam tanganku lebih erat dari sebelumnya.
“Berarti aku berhenti pura-pura,” jawab Rivan dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
“Berarti selama ini kamu bohong dong?” godaku, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.
Rivan tertawa pelan. “Bagian mana?”
“Bagian ngaku-ngaku jadi pacarku di depan Fikri hari itu.”
“Oh, yang itu jelas bohong,” aku Rivan tanpa rasa dosa.
“Ngeselin,” gumamku, tapi aku tidak bisa menahan senyum yang terukir di bibirku. “Terus sekarang gimana?”
Rivan melepaskan genggaman tangannya, lalu menggeser kursinya agar lebih dekat denganku. Dia menatapku dengan binar mata yang penuh kasih sayang.
“Sekarang aku mau minta izin.”
“Izin apa?”
“Boleh nggak aku jadi pacar kamu beneran? Tanpa ada syarat Fikri, tanpa ada syarat sandiwara.”
Aku menatap pria di hadapanku ini. Pria yang dulunya cuma teman biasa, yang tiba-tiba masuk ke dalam kerumitan hidupku, dan tanpa sadar telah mencuri seluruh hatiku.
“Kalau aku bilang boleh?” tanyaku lembut.
Rivan tersenyum lebar, senyuman paling tulus yang pernah kulihat darinya.
“Berarti mulai hari ini,” kata Rivan pelan, “aku nggak perlu pura-pura lagi buat mencintai kamu.”
Aku tertawa kecil, merasakan kebahagiaan yang meluap di dalam dada. Di luar sana, masa lalu mungkin pernah membuatku ragu untuk melangkah. Tapi malam ini, di depan Rivan, aku tahu aku telah membuat keputusan yang paling tepat.
-TAMAT-