Dia Mengaku Pacarku di Depan Mantanku - Bab 1
“Aku tahu kamu masih punya perasaan sama aku, Ra.”
Suara Fikri menggema di antara hiruk-pikuk kedai kopi tempatku duduk. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap pria di hadapanku ini dengan tatapan lelah. Sudah lima bulan kami putus, tapi dia masih saja bersikap seolah keputusan itu cuma jeda iklan.
“Fik, tolong,” kataku pelan tapi tegas. “Berapa kali aku harus bilang? Kita udah selesai. Hubungan kita udah berakhir dari lima bulan yang lalu.”
“Tapi kita bisa coba lagi,” potong Fikri cepat. Dia menggeser cangkir kopinya, mencoba meraih tanganku yang langsung aku tarik ke pangkuan. “Kamu cuma masih emosi. Kita udah pacaran dua tahun, Ra. Kamu nggak mungkin bisa semudah itu melupakan aku.”
Aku terkekeh sinis. Rasa percayadirinya benar-benar memuakkan. “Aku nggak emosi. Aku sadar seratus persen. Dan aku nggak berniat buat balikan sama kamu.”
“Kenapa?” Fikri memajukan tubuhnya. Matanya menatapku menuntut. “Kamu nggak mungkin udah punya orang lain, kan?”
“Kenapa nggak?” jawabku spontan, menyilangkan dada.
Fikri menyandarkan punggungnya ke kursi, tersenyum remeh. “Jangan bohong, Ra. Aku tahu kamu. Kamu nggak gampang buka hati buat cowok baru. Kalau memang kamu udah punya pacar baru, mana orangnya? Suruh dia datang ke sini sekarang.”
Aku membisu. Tenggorokanku mendadak kering. Aku cuma gertak sambal, tidak menyangka Fikri akan menantangku seperti ini. Di saat aku bingung mencari alasan untuk kabur dari meja ini, sebuah lengan berkaus hitam santai mendadak mendarat merangkul bahuku.
“Sayang?”
Suara berat yang sangat kukenal itu mengalun tepat di samping telingaku. Wewangi aroma sandalwood yang familiar langsung menyeruak. Aku membeku, menoleh patah-patah ke samping.
Rivan.
Temanku sejak zaman kuliah itu berdiri tangguh di sampingku. Dia mengenakan kemeja flanel longgar yang tergulung hingga siku, tersenyum manis ke arahku seolah kami baru saja berjanji kencan.
“Kamu kok di sini?” tanya Rivan lembut. Tangannya bergerak santai merapikan helai rambutku yang terurai. “Kan tadi bilangnya cuma mau beli kopi sebentar, terus nunggu aku selesai rapat.”
Fikri melompat berdiri. Wajahnya yang semula penuh percaya diri berubah menjadi pucat pasi. “Kalian… pacaran?”
Aku membuka mulut, hendak membantah. “Riv, kamu—”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, usapan halus jemari Rivan di bahuku berubah menjadi remasan pelan—sebuah isyarat tegas agar aku menutup mulut.
“Iya,” jawab Rivan tenang. Dia menatap Fikri dari atas ke bawah tanpa ekspresi intimidasi berlebihan, tapi cukup untuk membuat Fikri terintimidasi. “Aku pacarnya Tara. Masalah?”
“Pacar?” Fikri menunjuk Rivan dengan jari gemetar. “Ra, kamu bercanda? Dia kan cuma teman kamu! Aku tahu dia!”
“Dulu teman,” sahut Rivan cepat. Dialeknya mengalir santai tanpa nada ragu sedikit pun. “Sekarang udah beda. Maaf ya, bro, kalau kamu ada urusan pekerjaan sama Tara, bisa diselesaikan lain kali aja? Soalnya kami mau jalan.”
Fikri menatapku, mencari kepastian di mataku. Aku hanya bisa mengatupkan bibir rapat-rapat, membiarkan kebohongan Rivan menggantung di udara. Mengaku punya pacar terasa jauh lebih baik daripada harus melayani ocehan Fikri selama dua jam ke depan.
“Gak mungkin,” gumam Fikri mengepalkan tangan. Wajahnya memerah menahan malu karena beberapa pengunjung kedai mulai memperhatikan kami. “Ini pasti cuma settingan.”
“Terserah kamu mau percaya atau enggak,” balasan Rivan santai sambil menarik kursi di sebelahku dan duduk. Tangannya kini berpindah mengelus punggung tanganku di atas meja. “Tapi aku nggak suka pacarku diganggu mantan yang susah move on. Jadi, tolong hargai ruang pribadi kami.”
Fikri menyambar jaketnya kasar. Dia menatapku tajam. “Kamu berubah, Ra.”
Tanpa menunggu balasan lagi, Fikri berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kedai kopi.
Begitu bayangan Fikri menghilang di balik pintu kaca, aku langsung menarik tanganku dari genggaman Rivan dan mendaratkan satu pukulan keras di lengan atasnya.
PLAK!
“Aduh! Sakit, Ra!” Rivan meringis sambil mengelus lengannya.
“Kamu gila?” desisku setengah berbisik. Mataku melotot menatapnya. “Apa-apaan tadi itu?!”
“Aku nyelametin kamu,” jawab Rivan polos. Dia memanggil pelayan dan memesan iced Americano tanpa rasa bersalah.
“Dengan mengaku jadi pacarku?” tanyaku penuh penekanan di setiap kata.
“Daripada aku bilang aku sepupumu?” Rivan terkekeh. Dia bersandar santai di kursinya. “Lagian ekspresi mukamu tadi udah kayak orang mau tenggelam. Muka Fikri juga makin ngeselin. Jadi ya… kebetulan aku lewat, sekalian aja aku bantu.”
“Bantu sih bantu, tapi nggak gini caranya, Rivan!” aku mengusap wajahku frustrasi. “Fikri itu pendendam. Kalau dia tahu kita bohong, dia bakal makin ngerjain aku.”
“Makanya, jangan sampai dia tahu kita bohong.” Rivan tersenyum jahil. Matanya berbinar jenaka.
“Maksud kamu?”
“Ya bikin kebohongan ini kelihatan nyata.”
“Gak mau!” tegasku cepat. “Ini cuma kebohongan sekali pakai. Titik. Setelah ini kita balik jadi teman biasa.”
“Pikir lagi, Tara,” Rivan memajukan tubuhnya, menatapku lurus. “Fikri itu tipe cowok yang nggak bakal berhenti sebelum dia dapat bukti konkret. Kamu yakin dia bakal percaya gitu aja cuma karena kita gertak sekali?”
Kata-kata Rivan membuat dadaku mendadak sesak. Apa yang dibilangnya ada benarnya. Fikri sangat keras kepala.
Dink!
Ponselku yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Fikri muncul di layar. Aku langsung menyambar ponsel itu dan membelalakkan mata membaca pesannya.
Fikri: Kalau dia memang pacar barumu, aku mau kita bertiga ketemu lagi besok malam. Aku mau buktikan kalian bukan cuma akting.
“Nah! Sekarang gimana?” tanyaku panik sambil menyodorkan layar ponsel ke depan wajah Rivan. “Lihat kan? Dia nggak percaya!”
Rivan membaca pesan singkat itu dengan teliti. Bukannya panik, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman tipis yang membuat jantungku berdetak tak karuan.
“Ya sudah,” kata Rivan santai.
“Ya sudah apanya?!” teriakku pelan.
Rivan menatap mataku dalam-dalam, senyumnya makin lebar.
“Besok aku jadi pacar kamu lagi.”
“Rivan, ini cuma sekali!” tegasku dengan napas memburu.
Rivan menyilangkan tangannya di dada, lalu berbisik pelan.
“Siapa bilang?”
-BERSAMBUNG-